Travel with you…

gambar dari: upload.wikimedia.org

gambar dari: upload.wikimedia.org

 

“I want to travel around the world only with @zhienjie.”

Jie terkaget saat membaca kalimat tersebut di tab mention. Satu kalimat yang cukup membuat darah di sekujur tubuh Jie berdesir dan memberi sensasi hangat di kedua pipinya yang mulai merona. Jie membalas mention tersebut.

“I do too.”
Reply

Beberapa saat kemudian, LED merah berkelap-kelip di sudut kanan atas BlackBerrynya. Bukan mention baru di twitter, tapi satu pesan di BBM.

“So, will you travel around the world only with me?”

Jie hanya tersenyum simpul dan mengetik, “For sure!”

Percakapan di BBM berlanjut, dan Jie semakin terlarut. Ia seakan lupa pada bentang jarak yang memisahkan dirinya dengan Zack. Jie juga mulai mengabaikan kalau Zack hanyalah teman baiknya di dunia maya yang belum pernah bertemu sekali pun di dunia nyata. Ia berpikir bahwa percakapan tersebut hanya sekadar keisengan pengisi waktu luang. Bagaimana mungkin dia dan Zack bisa berkeliling dunia bersama — sementara mereka belum pernah bertemu sebelumnya?

Jam  sudah menunjukkan pukul satu tengah malam, dan Jie baru saja ‘berpamitan’ dengan Zack di BBM. Ia merebahkan tubuhnya, tapi masih memikirkan Zack dan rencana mereka untuk keliling dunia bersama. Apa itu mungkin?Apa Zack sebaik yang kukenal di dunia maya? Bagaimana kalo Zack hanya ingin memperdayaiku? Berbagai pertanyaan dalam benaknya berkelebat, menahan kantuknya.

Tahun 2009, Jie menemukan Zack Wijaya — sosok asing yang meminta pertemanan dengannya di akun Facebook. Dengan sembarangan dan tanpa maksud apa-apa, Jie menerima pertemanan itu. Mulanya mereka sekadar saling menyapa, kemudian saling bercerita, membagi apa saja. Apalagi foto profil Zack terlihat begitu tampan. Jie semakin merasa nyaman dengan kehadiran Zack. Seiring waktu, dan seiring bertambahnya kedekatan mereka di dunia maya, Jie dan Zack tak hanya sekadar dihubungkan oleh Facebook semata, tapi mulai merambah ke Twitter, hingga BBM. Zack pun semakin sering meneleponnya, setidaknya seminggu sekali.

Jie semakin merasa bahwa kehadiran Zack memiliki arti yang istimewa dalam mengisi hari-harinya. Saat sedang gundah, Zack adalah orang pertama yang menjadi tempat curahan hatinya. Saat sedang sakit, Zack pun tak segan memberi perhatian intens melalui telepon-teleponnya. Zack seolah memiliki kepekaan yang tinggi saat ia sedang senang ataupun sedih, tanpa Jie perlu memberi tahunya terlebih dulu. Jie merasakan sebuah ikatan batin di antara mereka berdua. Lamat-lamat, muncul keraguan dan kegundahan dalam hati Jie. Apakah ia benar sedang jatuh cinta pada Zack? Perempuan mana yang tidak akan terbuai dengan perhatian berlebihan dari seorang lelaki yang secara intens menjadi bagian dari hidupnya selama lebih dari 3 tahun? Batinnya tak henti-henti bertanya-tanya dan menjawab-jawab sesuai prasangkanya sendiri.



Namun kisah cinta ini seolah begitu sederhana. Gayung bersambut, karena pada akhirnya Zack pun mengungkapkan perasaan cintanya pada Jie.

“Bagaimana mungkin kamu bisa jatuh cinta pada seseorang yang belum pernah sekali pun bertatap muka denganmu? Bagaimana jika aku bukanlah seperti yang kamu bayangkan selama ini? Bagaimana kita bisa menjalin hubungan yang absurd?” Berbagai pertanyaan berhamburan dari mulut Jie, sesaat setelah Zack mengakui perasaan cintanya di telepon. Akal sehatnya yang menggiring sikapnya untuk menampik cinta Zack. Jie masih merasa tak siap dengan hubungan yang di matanya terasa absurd.

Tapi rupanya Zack mampu bersikap dewasa. Dia bukanlah lelaki yang memperlakukan Jie sebagai musuhnya ketika cintanya ditolak. Mereka berdua malah bersepakat untuk merasa cukup dengan sekadar menjadi teman baik. Kenyataannya, hubungan pertemanan mereka memang menjadi semakin baik, semakin dekat. Setidaknya sampai malam ini, ketika Zie dibuatnya tak bisa tidur memikirkan keseriusan rencana traveling bersama Zack.

“Kita ke Batam lalu menyeberang ke Singapura dengan kapal ferry. Setelah itu naik sleeping bus ke Malaysia, lalu ke Thailand,” jelas Zack, dalam pembicaraan telepon mereka.

“Kenapa rutenya panjang begitu? Aku bisa mabuk laut loh kalo harus nyebrang ke Singapura naik kapal ferry.”

“Tenang saja, Jie. Kalau di sampingku, kamu pasti nggak bakal mabuk laut. Bahuku ini akan menjadi tempatmu bersandar saat menikmati sapuan ombak di laut.” Zack mulai mengeluarkan jurus rayuannya.

“Ihh apaan sih? Aku memang nggak suka naik kapal. Dulu, waktu SD, aku…”

“Iya, dulu waktu SD kamu pernah mabuk laut parah sampe muntah-muntah kan?”

“Kok kamu tahu sih?”

“Kamu kan udah pernah cerita, Jie. Waktu SMA juga kamu urung ikutan study tour karena harus naik kapal laut. Waktu itu kamu sampai dimarahi wali kelas dan dikasih nilai merah di raport. Hihii…”

Ihh ngeledek! Ngeselin tahu gak?” Jie pura-pura merasa kesal.

“Hahahaha, becanda kok, Jie. Becanda. Lagian udah gede masih aja takut naik kapal laut? Gimana mo ngarungi bahtera rumah tangga bareng aku?”

“Apa? Kamu barusan ngomong apa? Ihh! Aku  delete dari kontak BBM, lho ya…”

“Hihihi… judes banget. Becanda, sayang, eh Jie. Jadi, intinya kamu tenang aja, ntar aku jamin kamu gak bakalan mabuk laut. Bukan traveler namanya kalo maunya naik alat transportasi yang enak-enak aja. Malah dengan merasakan semua jenis alat transportasi, perjalanan itu akan semakin hidup dan berkesan. Don’t you think so?”

“Iya deh iya. Aku mau aja naik kapal laut. Tapi janji yah aku gak bakalan mabuk laut.”

“Yap! Cinta ini jaminannya. Eh..”

“Ihh!”

“Becanda! Bobo gih sana, besok pagi aku telepon, yah. Mimpi indah, Jie. Semoga gak mabuk laut di mimpinya.”

“Iya, kapten!”

Jie masih tersenyum-senyum sendiri setelah membaca lagi kutipan percakapan dengan Zack di BBM.

“Ke Thailand bareng dia, mungkinkah?” — Itulah twit terakhir yang diposting Jie sebelum memutuskan untuk tidur.

“Hooooaaam… Semoga gak mabuk laut di mimpi.” Ucap Jie pelan, mengutip kembali ucapan Zack di BBM, sambil menyelimuti badannya.

Jie terlonjak dari atas kasur saat mendengar handphone berdering. “Sial! Siapa yang sepagi ini udah nelpon? Ganggu orang lagi tidur aja.” Umpatnya dalam hati.
Dengan gerakan malas, diraihnya handphone yang diletakkan di atas meja belajar di sebelah kasur.

***

“Hallo, selamat pagi, Jie. Gimana mimpinya? Gak mabuk laut, kan?” Suara yang tak asing terdengar di ujung telepon.

“Ihh! Masih pagi loh, Zack! Kenapa udah ngajak orang berantem sih?” Jawab Jie ketus sambil menguap.

“Hmm, aku cuma mo minta kepastian aja nih tentang rencana traveling kita. Kalau deal, pagi ini aku bisa atur itinerary-nya supaya ntar gak ribet. Dua minggu lagi kita berangkat.”

“Hah? Dua minggu lagi? Duh, Zack! Aku mikir-mikir dulu, yah. Gak mungkin lah secepat ini aku langsung jawab iya.”

“Oke, kamu mikir-mikir dulu aja yah, Jie. Ntar jam 10 aku telepon kamu lagi dan kepastiannya harus sudah ada. Oke?”

“Iya…iya.”

Percakapan di telepon berakhir seiring hilangnya rasa kantuk Jie. Dia mulai memikirkan tentang rencana traveling ini.
2 minggu lagi? Duh! Apa aku sudah siap? Batin Jie, masih merasa bimbang dengan rencana yang baginya sedikit gila.

***

 

Satu hari sebelum keberangkatan…

Jie kaget karena mendengar dering handphone nyaring di sebelahnya. Pasalnya, ia sedang asyik melamun, membayangkan kisah perjalanan yang menyenangkan bersama Zack.

“Hallo, Jie… Lagi di mana?” Seperti biasa, suara Zack yang menyapanya terdengar lembut di telinga.

“Lagi di rumah aja. Tumben, masih sore sudah nelpon. Biasanya…”

“Sedang sibuk?” Zack cepat-cepat memotong ucapan Jie.

“Nggak, kok. Lagi nonton Korea aja…” Jawab Jie berbohong, karena nyatanya ia sedang tak menonton televisi.

“Oke sip! Kalau begitu, aku tunggu sekarang juga di kafe Waroeng Kopi, ya… Sudah pasti kamu tahu tempatnya, kan? Cepat, ya… SEKARANG!”

“Eh, tapi….” Jie semakin terkejut dan keheranan. Tentu saja ia tahu betul kafe Waroeng Kopi, sebuah kafe yang cukup terkenal di kotanya, terutama di kalangan anak muda. Yang membuat Jie terkejut, bagaimana mungkin Zack tiba-tiba menyuruhnya ke sana? Apakah Zack sedang berada di sana saat ini? Mengapa mendadak sekali? Mengapa tak memberi tahunya lebih dulu? Tapi… bukankah tempat tinggal Zack sangat jauh dari kota tempat tinggal Jie? Berbagai tanda tanya meruapi benak Jie tak sudah-sudah. Namun demi segera mendapat jawaban, akhirnya Jie memutuskan untuk bersiap dan segera meluncur ke tempat yang dijanjikan Zack.

Sosok pria jangkung dengan kepalanya yang nyaris plontos melambai ke arah Jie yang sedang berdiri di tengah deretan meja kursi café sambil celingak-celinguk menyapu ruangan, mencari seseorang. Jie sempat merasa tak yakin, namun toh ia pun melangkah mendekat ke arah lelaki yang melambai itu, yang duduk sendirian di salah satu kursi di deretan utara café, bersebelahan dengan jendela besar. Pancaran keemasan matahari sore membuat siluet tubuhnya tampak kokoh. Jie tersenyum. Ia mulai merasa yakin bahwa sosok tersebut adalah Zack, yang sedang menunggunya.

Detik-detik pertama, Jie sedikit kikuk di hadapan Zack. Namun lekas ia dapat menguasai diri dan segera duduk. Kedua mata mereka sempat bertatap-tatapan, dan dalam hati, Jie merasa sedikit girang. Setidaknya, kini ia tahu bahwa ternyata Zack bukanlah seorang penipu. Foto-foto yang pernah dilihatnya di halaman Facebook Zack tak terlalu jauh berbeda. Penampilan Zack secara nyata tak terlalu buruk, bahkan boleh dibilang cukup tampan. Meski demikian, Jie masih merasa ragu. Seolah-olah Zack menjelma menjadi seorang yang benar-benar asing. Jie merasa, dunia nyata yang sedang dirasakannya kali ini terpisah begitu jauh dengan dunia maya yang telah sekian lama diselaminya.

“Kenapa bengong begitu, Cantik? Ah, jangan-jangan kamu mulai naksir aku, ya… heheee….” Zack yang pertama kali memecahkan keheningan di antara mereka. Dan tak jauh dari dunia maya, ternyata Zack pun masih senang menggodanya. Jie sedikit gugup, terutama setelah Zack melemparkan senyum menggoda ke arahnya.

“Ih, GeeR banget sih, kamu! Siapa yang naksir? Aku cuman kaget aja… Nggak nyangka kalau pertemuan kita begitu mendadak seperti ini… Kamu sengaja ke sini untuk menemui aku atau karena kebetulan ada acara di sini?” Jie mencoba untuk melenturkan kekakuannya, bersikap sewajar mungkin. Bagaimanapun, ia harus menjaga imagenya.

“Tentu saja aku ke sini hanya untuk menemui kamu, Sayang… Aku ingin bersama-sama kamu sejak awal pemberangkatan travelling kita. Besok, kan?”

“Eh, mmm….”

“Kamu mau makan atau minum aja di sini?” Zack tak memberi kesempatan Jie untuk berkata-kata lebih banyak. Inisiatifnya begitu menggebu-gebu, seolah tak peduli pada perasaan Jie.

“Minum saja. Aku nggak lapar, kok.”

“Oke. Setelah itu kita ke mana? Ayo dong! Ajak aku ke tempat paling romantis di kota ini. Duduk-duduk di kafe aja mah nggak seru!” Zack terlihat makin agresif. Ia mengerling ke arah Jie, sambil sebelah alisnya dinaik-naikkan demi menggoda Jie. Senyumnya pun tak ketinggalan.

“Mau kemana?”

“Lha, kok malah nanya aku? Kan kamu yang punya kota…”

“Mmmm… kemana yaa…” Jie mulai berpikir mencari ide. “Oh ya, aku tahu! Bagaimana kalau ke pantai saja? Nggak jauh, kok. Hanya 15 menit. Apalagi sore-sore begini, asyik banget, deh!” kata Jie dengan mata berbinar-binar. Kini, ia mulai terbiasa dengan kehadiran Zack, tak lagi merasa canggung.

“Oke sip! Kalau begitu cepat minumnya, ya… Eh, pelan-pelan, ding… Soalnya nanti bisa berabe kalau kamu pingsan di sini karena kesedak cappuchinno, hahahaa….” Kelakar Zack, yang diakhiri dengan derai  tawanya yang terdengar renyah di telinga Jie.

 

“Kok kamu nggak pernah cerita sih, kalau ada pantai yang indah begini di sini.” Kata Zack, usai mereka berjalan-jalan menyusuri bibir pantai, dan kemudian memilih duduk di atas pasir hitam yang bersih sambil memandangi anak-anak nelayan yang sedang bermain layangan. Tinggi matahari sudah sepenggalah, sehingga mata mereka tak mau beralih dari cakrawala, menunggu saat-saat matahari tenggelam sempurna.

“Abis kamu nggak nanya juga, sih…” jawab Jie asal-asalan.

“Idiih… Masa kamu nggak punya inisiatif untuk mempromosikan kotamu, sih… Payah!”
“Hahahaa… Soalnya aku nggak merasa punya kepentingan untuk mempromosikan keindahan kotaku sama kamu.” Sekarang giliran Jie yang mempermainkan Zack. Tentu saja maksudnya hanya bercanda.

“Oh, gitu! Awas, yaa…! Eh, tapi ngomong-ngomong sejauh mana persiapan kamu besok? Aku sudah bawa ranselku sekalian lho…”

“Oh ya? Di mana ranselmu?”

“Di hotel, lah… Nanti kubuktikan, kalau kamu nggak percaya. Tapi nanti malam kamu temani aku tidur di hotel, ya…”

“Eh, maksudmu apa?” Tiba-tiba Jie mulai merasa was-was. Ia menangkap maksud tak baik dari ucapan Zack.

“Hehee… nggak ada maksud apa-apa. Tapi masa sih, kamu tega biarin aku tidur sendirian di hotel? Orang seganteng aku kalau sendirian bisa diculik, loh… Memangnya kamu mau tanggung jawab, gituh? Jadi, temani aku, ya… Oke, Sayang?”

Setelah berkata demikian, Zack bergeser semakin merapatkan duduknya di samping Jie. Kini, ia bahkan tak segan melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Jie. Redupnya cahaya senja yang memayungi mereka membuat Zack selangkah lebih berani. Ia bermaksud untuk mengecup pipi kanan Jie, namun Jie buru-buru berdiri dan menepis Zack.

“Maaf, Zack… Kurasa kita baru benar-benar saling mengenal meski kita sudah saling berhubungan di dunia maya cukup lama. Jadi, maukah kau menghormatiku?” Jie mulai berkata-kata tegas.

Sejenak Zack tertegun memandangi Jie yang kini sudah berdiri di hadapannya. Namun lekas ia menetralisir keadaan dengan mengukir senyum di wajahnya. Ia berharap sikap Jie sedikit melunak.

“Oh, maaf kalo gitu… Tentu saja aku menghormatimu. Tapi aku mencintai kamu, Jie. Kau kan tahu, sejak awal mula aku mencintai kamu. Dan sampai sekarang kita bertemu, aku juga masih tetap mencintai kamu.” Kali ini, kata-kata Zack terdengar lebih serius.

“Terima kasih atas cintamu, Zack. Tapi please… Sudikah kamu mencintai aku dengan cara yang baik? Bersikaplah yang baik terhadapku. Aku juga akan menghormatimu.”

Sejenak ada jeda kesenyapan di antara mereka. Kemudian Zack bangkit berdiri setelah membersihkan bagian belakangnya dari pasir. Sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, tatapan Zack beralih ke arah cakrawala. Setelah menarik nafas dalam, kemudian ia berkata, “Apakah kalau aku mencintaimu dengan cara yang baik kau akan menerimaku?”

Jie tak segera menjawab. Ia seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu dalam hatinya.

“Terlalu dini untuk memutuskannya, Zack… Tapi, apa kamu akan menyerah kalau aku tak dapat memberikan jawaban itu sekarang?” tanya Jie lirih. “Oh ya, soal rencana travelling kita, maafkan aku, Zack. Sepertinya aku belum bisa… Tapi jika kamu sudah membeli tiket-tiketnya, nanti aku ganti. Jangan khawatir. Memang salahku yang tak memberi tahu kamu jauh-jauh hari…” tutur Jie. Kali ini, Jie merasa lebih mantap membuat sebuah keputusan meski ada sedikit perasaan tak enak di hatinya. Sebuah keputusan spontan yang ia yakin adalah yang terbaik baginya.

Semula Jie menduga bahwa ia akan segera mendapati seraut kekecewaan di wajah Zack. Namun rupanya Zack justru memberikan sikap berbeda.

“Tak apa, Jie… Aku mengerti, kok… Kamu nggak perlu ganti tiketnya.” Kata Zack dengan suara yang lunak. “Aku juga nggak akan menyerah, Jie. Meski ini adalah penolakan kedua darimu, aku tetap nggak akan menyerah. Aku justru mendapat banyak pelajaran darimu. Aku jadi semakin yakin, bahwa kamu adalah sosok perempuan yang harus kukejar hingga penghabisan. Aku janji akan mengikuti semua aturan mainmu asal kau masih memberiku kesempatan.”

Kali ini, Jie menatap lembut ke arah Zack. Ia merasa lega mendengar perkataan Zack. Pelan-pelan, Jie mulai mengembangkan senyumnya. Senyum yang menyaingi pesona jingga keemasan yang sedang ditebar lelangit tak berbatas. “Kesempatan itu selalu ada, Zack… Menjadi teman atau sahabat adalah kesempatan terbaik dari sebuah cinta yang diperjuangkan. Manfaatkanlah kesempatan itu. Lagipula, kau kan suka travelling. Anggap saja bahwa kesempatan kita berteman ini adalah sebuah travelling hati sebelum sampai pada titik cinta, sebagai tujuan akhir.”

I Love you, Jie. I love the way you do… So, let’s travel to the love, Dear…” kata Zack sambil tersenyum. Kali ini, senyumnya bahkan tinggal lebih lama di kedua bibir tipisnya.

“Jie, kau lihat karang yang tinggi di sebelah sana?” kata Zack tiba-tiba sambil menunjuk ke barat, dimana terdapat sebuah batu karang yang menjulang di tengah lautan. “Seperti itulah kamu. Indah, namun kokoh dan kuat. Jie, aku akan menjadi lautan untuk dapat memelukmu dan meluluhkan hatimu.”

“Hahaha…. gombal aja, teruuuusss…” Tawa Jie meledak mendengar kata-kata puitis yang diucapkan Zack.

Seiring cahaya yang makin memudar, mereka mulai beranjak meninggalkan hamparan pantai yang kini hanya diriuhkan oleh suara debur ombak. Anak-anak nelayan itu sudah pulang, burung-burung itu pun tak lagi kelihatan. Namun tawa mereka masih menjadi penawar kesenyapan semesta. Tawa yang tak lagi mengandung beban selain ketulusan. ***

 

 

Cerpen kolaborasi @sindyshaen dan Bintang Berkisah

Editor : Bintang Berkisah

Advertisements