Tobat

“Te, hari ini rame, ya?” tanya Dahlia alias Darsih, pada Mawar alias Marni. Tapi Dahlia cukup memanggil Mawar dengan sebutan ‘Lonte’; sebuah panggilan akrab yang sudah lazim dan tak memberatkan hati.

“Wah, payahh… Cuma dapet lima buntut! Itupun nawar abis-abisan… Kalau begini terus, bisa-bisa kita cuman makan daun nih…” keluh Mawar. “Kamu sendiri, Rek?” Mawar balik bertanya pada Dahlia, yang biasa dipanggil ‘Perek’.

“Hari ini aku nggak dinas. Biasalah…. periksa ke klinik,” jawab Dahlia sembari mengipas-ngipasi dirinya dengan sebuah kipas plastik. Hari yang begitu panas membuatnya kegerahan teramat sangat.

“Kalau nggak salah baru minggu kemarin kamu ke klinik. Kok sekarang ke klinik lagi? Kamu nggak sampai kena raja singa kan, Rek?” Tanya Mawar penasaran dan antusias. Berbeda dengan Dahlia, Mawar tak lagi merasa terlalu gerah karena ia bahkan hanya memakai kutangnya saja.

“Nggak lah… Steril, tahu….” Kilah Dahlia. “Eh, ngomong-ngomong, mulai minggu depan dinas sosial mau mendatangkan pak kiai dan suruh kita-kita ikut pengajian. Sudah dengar, kan?” Dahlia mengalihkan pembicaraan. Ia menyelonjorkan kedua kakinya di ambin sempit, apek, dan keras yang biasa mereka tiduri berdua.

“Wah… modarrr kita! Bisa kobong nih… Makin lama makin kurang kerjaan amat sih orang-orang dinas sosial itu. Percumaa nggak bergunaaa!!! Kalo cuman mau bikin kita tobat, kenapa nggak sekalian kawinin kita-kita sama pak kiai aja, huh!” Mawar mulai sewot. Raut wajahnya sampai berkerut-merut, tak indah sama sekali. Usia tuanya yang sudah nyaris empat puluh tahun tak lagi dapat ia sembunyikan.

“Ya maklum lah, Te… Harga bensin sekarang sudah selangit. Tapi kabarnya gaji pegawai nggak naik. Makanya, mereka makin sibuk bikin proyek. Yaahh, kayak begini ini nih macam proyeknya. Kita-kita mah cuman bisa pasrah jadi obyek garapan proyek…”

“Memang nasib, Rek… Sekali jadi lonte pasar, selamanya jadi lonte pasar. Biar jaman berubah jadi surga, kita toh tetap cari makan dari selangkangan yang udah basi. Masih untung bisa beli makan, asal nggak ngunyah kutu aja, hahahaa…”

“Iya, kutu kupret yang bisanya cuman ngutang, hahahaa….”

***

Satu bulan kemudian…

“Lho… lho… Mau kemana, Rek? Kok kemas-kemas masukin baju ke koper segala… Mau pulang kampung? Sudah lapor sama mami?” Mawar terkejut saat masuk ke dalam kamar dan melihat Dahlia sedang memasukkan pakaian-pakaiannya di lemari ke dalam koper butut.

“Aku mau hidup di pesantren, Te…” jawab Dahlia singkat, masih sambil memberesi barang-barangnya yang hanya sedikit.

“Heh, kamu nggak sedang ngigau kan? Maksudmu apa? Bener serius?? Apa gara-gara kamu rajin ikut pengajian pak kiai itu? Wah, kamu pasti sudah naksir dan jatuh cinta sama pak kiai itu, ya… Memang sih, dia ganteng. Tapi harusnya kamu ngaca, dong… Eling, hal yang mustahil kalau dia sampai mau ngelirik kamu!” Mawar tampak tidak suka dengan gelagat Dahlia.

“Yaa… siapa tahu dengan hidup di pesantren bisa jodoh sama pak kiai, hihihii…” jawab Dahlia asal, sambil terkikik. “Wong pak kiai sendiri yang nawarin aku buat hidup di pesantren, kok… Janjinya, aku nggak bakal dianiaya. Lagian, aku sudah capek hidup begini-begini terus. Pengen ganti suasana lah…” sambungnya, kali ini sambil menatap serius ke arah Mawar. Ia sudah selesai mengemasi barangnya dan bersiap hendak pergi meninggalkan Mawar yang masih terperangah.

“Eh.. eh.. eh.. tapi nggak bisa begitu juga, dong… Trus, gimana dengan Darman? Masa kamu rela mengkhianati dia? Sudah dua tahun dia jadi pelanggan setiamu. Katanya, minggu depan dia mau ngelamar kamu, lho! Kalau kamu pergi, aku harus bilang apa ke Darman? Aku nggak enak sama dia. Selama ini kan dia selalu baik sama kita…” Mawar mulai merajuk. Ia tampak amat khawatir.

“Bilang aja kalau aku sudah tobat. Gitu aja kok repot,” kata Dahlia tanpa beban. Ia beranjak memeluk Mawar yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar, mencium pipi kanan kirinya, kemudian mengeloyor pergi begitu saja.

“Wahh… Modaarr akuu!!!” ujar Mawar sambil menepuk jidatnya. Ia benar-benar shock dengan kepergian Dahlia, terutama karena teringat dengan segepok uang yang pernah Darman berikan untuk membuat Dahlia mau menerima Darman, duda 60 tahun yang kaya raya dan punya banyak anak buah, sebagai suaminya. Mawar pun teringat sebuah ancaman yang mengincar keselamatannya. Pasalnya, uang itu telah ludes di meja judi.***

Note :
Kobong : Terbakar (bahasa Jawa)
Modar  aku!: Mati aku! (prokem; bahasa Jawa)
Eling : Ingat (bahasa Jawa)