Travel with you…

gambar dari: upload.wikimedia.org

gambar dari: upload.wikimedia.org

 

“I want to travel around the world only with @zhienjie.”

Jie terkaget saat membaca kalimat tersebut di tab mention. Satu kalimat yang cukup membuat darah di sekujur tubuh Jie berdesir dan memberi sensasi hangat di kedua pipinya yang mulai merona. Jie membalas mention tersebut.

“I do too.”
Reply

Beberapa saat kemudian, LED merah berkelap-kelip di sudut kanan atas BlackBerrynya. Bukan mention baru di twitter, tapi satu pesan di BBM.

“So, will you travel around the world only with me?”

Jie hanya tersenyum simpul dan mengetik, “For sure!”

Percakapan di BBM berlanjut, dan Jie semakin terlarut. Ia seakan lupa pada bentang jarak yang memisahkan dirinya dengan Zack. Jie juga mulai mengabaikan kalau Zack hanyalah teman baiknya di dunia maya yang belum pernah bertemu sekali pun di dunia nyata. Ia berpikir bahwa percakapan tersebut hanya sekadar keisengan pengisi waktu luang. Bagaimana mungkin dia dan Zack bisa berkeliling dunia bersama — sementara mereka belum pernah bertemu sebelumnya?

Jam  sudah menunjukkan pukul satu tengah malam, dan Jie baru saja ‘berpamitan’ dengan Zack di BBM. Ia merebahkan tubuhnya, tapi masih memikirkan Zack dan rencana mereka untuk keliling dunia bersama. Apa itu mungkin?Apa Zack sebaik yang kukenal di dunia maya? Bagaimana kalo Zack hanya ingin memperdayaiku? Berbagai pertanyaan dalam benaknya berkelebat, menahan kantuknya.

Tahun 2009, Jie menemukan Zack Wijaya — sosok asing yang meminta pertemanan dengannya di akun Facebook. Dengan sembarangan dan tanpa maksud apa-apa, Jie menerima pertemanan itu. Mulanya mereka sekadar saling menyapa, kemudian saling bercerita, membagi apa saja. Apalagi foto profil Zack terlihat begitu tampan. Jie semakin merasa nyaman dengan kehadiran Zack. Seiring waktu, dan seiring bertambahnya kedekatan mereka di dunia maya, Jie dan Zack tak hanya sekadar dihubungkan oleh Facebook semata, tapi mulai merambah ke Twitter, hingga BBM. Zack pun semakin sering meneleponnya, setidaknya seminggu sekali.

Jie semakin merasa bahwa kehadiran Zack memiliki arti yang istimewa dalam mengisi hari-harinya. Saat sedang gundah, Zack adalah orang pertama yang menjadi tempat curahan hatinya. Saat sedang sakit, Zack pun tak segan memberi perhatian intens melalui telepon-teleponnya. Zack seolah memiliki kepekaan yang tinggi saat ia sedang senang ataupun sedih, tanpa Jie perlu memberi tahunya terlebih dulu. Jie merasakan sebuah ikatan batin di antara mereka berdua. Lamat-lamat, muncul keraguan dan kegundahan dalam hati Jie. Apakah ia benar sedang jatuh cinta pada Zack? Perempuan mana yang tidak akan terbuai dengan perhatian berlebihan dari seorang lelaki yang secara intens menjadi bagian dari hidupnya selama lebih dari 3 tahun? Batinnya tak henti-henti bertanya-tanya dan menjawab-jawab sesuai prasangkanya sendiri.



Namun kisah cinta ini seolah begitu sederhana. Gayung bersambut, karena pada akhirnya Zack pun mengungkapkan perasaan cintanya pada Jie.

“Bagaimana mungkin kamu bisa jatuh cinta pada seseorang yang belum pernah sekali pun bertatap muka denganmu? Bagaimana jika aku bukanlah seperti yang kamu bayangkan selama ini? Bagaimana kita bisa menjalin hubungan yang absurd?” Berbagai pertanyaan berhamburan dari mulut Jie, sesaat setelah Zack mengakui perasaan cintanya di telepon. Akal sehatnya yang menggiring sikapnya untuk menampik cinta Zack. Jie masih merasa tak siap dengan hubungan yang di matanya terasa absurd.

Tapi rupanya Zack mampu bersikap dewasa. Dia bukanlah lelaki yang memperlakukan Jie sebagai musuhnya ketika cintanya ditolak. Mereka berdua malah bersepakat untuk merasa cukup dengan sekadar menjadi teman baik. Kenyataannya, hubungan pertemanan mereka memang menjadi semakin baik, semakin dekat. Setidaknya sampai malam ini, ketika Zie dibuatnya tak bisa tidur memikirkan keseriusan rencana traveling bersama Zack.

“Kita ke Batam lalu menyeberang ke Singapura dengan kapal ferry. Setelah itu naik sleeping bus ke Malaysia, lalu ke Thailand,” jelas Zack, dalam pembicaraan telepon mereka.

“Kenapa rutenya panjang begitu? Aku bisa mabuk laut loh kalo harus nyebrang ke Singapura naik kapal ferry.”

“Tenang saja, Jie. Kalau di sampingku, kamu pasti nggak bakal mabuk laut. Bahuku ini akan menjadi tempatmu bersandar saat menikmati sapuan ombak di laut.” Zack mulai mengeluarkan jurus rayuannya.

“Ihh apaan sih? Aku memang nggak suka naik kapal. Dulu, waktu SD, aku…”

“Iya, dulu waktu SD kamu pernah mabuk laut parah sampe muntah-muntah kan?”

“Kok kamu tahu sih?”

“Kamu kan udah pernah cerita, Jie. Waktu SMA juga kamu urung ikutan study tour karena harus naik kapal laut. Waktu itu kamu sampai dimarahi wali kelas dan dikasih nilai merah di raport. Hihii…”

Ihh ngeledek! Ngeselin tahu gak?” Jie pura-pura merasa kesal.

“Hahahaha, becanda kok, Jie. Becanda. Lagian udah gede masih aja takut naik kapal laut? Gimana mo ngarungi bahtera rumah tangga bareng aku?”

“Apa? Kamu barusan ngomong apa? Ihh! Aku  delete dari kontak BBM, lho ya…”

“Hihihi… judes banget. Becanda, sayang, eh Jie. Jadi, intinya kamu tenang aja, ntar aku jamin kamu gak bakalan mabuk laut. Bukan traveler namanya kalo maunya naik alat transportasi yang enak-enak aja. Malah dengan merasakan semua jenis alat transportasi, perjalanan itu akan semakin hidup dan berkesan. Don’t you think so?”

“Iya deh iya. Aku mau aja naik kapal laut. Tapi janji yah aku gak bakalan mabuk laut.”

“Yap! Cinta ini jaminannya. Eh..”

“Ihh!”

“Becanda! Bobo gih sana, besok pagi aku telepon, yah. Mimpi indah, Jie. Semoga gak mabuk laut di mimpinya.”

“Iya, kapten!”

Jie masih tersenyum-senyum sendiri setelah membaca lagi kutipan percakapan dengan Zack di BBM.

“Ke Thailand bareng dia, mungkinkah?” — Itulah twit terakhir yang diposting Jie sebelum memutuskan untuk tidur.

“Hooooaaam… Semoga gak mabuk laut di mimpi.” Ucap Jie pelan, mengutip kembali ucapan Zack di BBM, sambil menyelimuti badannya.

Jie terlonjak dari atas kasur saat mendengar handphone berdering. “Sial! Siapa yang sepagi ini udah nelpon? Ganggu orang lagi tidur aja.” Umpatnya dalam hati.
Dengan gerakan malas, diraihnya handphone yang diletakkan di atas meja belajar di sebelah kasur.

***

“Hallo, selamat pagi, Jie. Gimana mimpinya? Gak mabuk laut, kan?” Suara yang tak asing terdengar di ujung telepon.

“Ihh! Masih pagi loh, Zack! Kenapa udah ngajak orang berantem sih?” Jawab Jie ketus sambil menguap.

“Hmm, aku cuma mo minta kepastian aja nih tentang rencana traveling kita. Kalau deal, pagi ini aku bisa atur itinerary-nya supaya ntar gak ribet. Dua minggu lagi kita berangkat.”

“Hah? Dua minggu lagi? Duh, Zack! Aku mikir-mikir dulu, yah. Gak mungkin lah secepat ini aku langsung jawab iya.”

“Oke, kamu mikir-mikir dulu aja yah, Jie. Ntar jam 10 aku telepon kamu lagi dan kepastiannya harus sudah ada. Oke?”

“Iya…iya.”

Percakapan di telepon berakhir seiring hilangnya rasa kantuk Jie. Dia mulai memikirkan tentang rencana traveling ini.
2 minggu lagi? Duh! Apa aku sudah siap? Batin Jie, masih merasa bimbang dengan rencana yang baginya sedikit gila.

***

 

Satu hari sebelum keberangkatan…

Jie kaget karena mendengar dering handphone nyaring di sebelahnya. Pasalnya, ia sedang asyik melamun, membayangkan kisah perjalanan yang menyenangkan bersama Zack.

“Hallo, Jie… Lagi di mana?” Seperti biasa, suara Zack yang menyapanya terdengar lembut di telinga.

“Lagi di rumah aja. Tumben, masih sore sudah nelpon. Biasanya…”

“Sedang sibuk?” Zack cepat-cepat memotong ucapan Jie.

“Nggak, kok. Lagi nonton Korea aja…” Jawab Jie berbohong, karena nyatanya ia sedang tak menonton televisi.

“Oke sip! Kalau begitu, aku tunggu sekarang juga di kafe Waroeng Kopi, ya… Sudah pasti kamu tahu tempatnya, kan? Cepat, ya… SEKARANG!”

“Eh, tapi….” Jie semakin terkejut dan keheranan. Tentu saja ia tahu betul kafe Waroeng Kopi, sebuah kafe yang cukup terkenal di kotanya, terutama di kalangan anak muda. Yang membuat Jie terkejut, bagaimana mungkin Zack tiba-tiba menyuruhnya ke sana? Apakah Zack sedang berada di sana saat ini? Mengapa mendadak sekali? Mengapa tak memberi tahunya lebih dulu? Tapi… bukankah tempat tinggal Zack sangat jauh dari kota tempat tinggal Jie? Berbagai tanda tanya meruapi benak Jie tak sudah-sudah. Namun demi segera mendapat jawaban, akhirnya Jie memutuskan untuk bersiap dan segera meluncur ke tempat yang dijanjikan Zack.

Sosok pria jangkung dengan kepalanya yang nyaris plontos melambai ke arah Jie yang sedang berdiri di tengah deretan meja kursi café sambil celingak-celinguk menyapu ruangan, mencari seseorang. Jie sempat merasa tak yakin, namun toh ia pun melangkah mendekat ke arah lelaki yang melambai itu, yang duduk sendirian di salah satu kursi di deretan utara café, bersebelahan dengan jendela besar. Pancaran keemasan matahari sore membuat siluet tubuhnya tampak kokoh. Jie tersenyum. Ia mulai merasa yakin bahwa sosok tersebut adalah Zack, yang sedang menunggunya.

Detik-detik pertama, Jie sedikit kikuk di hadapan Zack. Namun lekas ia dapat menguasai diri dan segera duduk. Kedua mata mereka sempat bertatap-tatapan, dan dalam hati, Jie merasa sedikit girang. Setidaknya, kini ia tahu bahwa ternyata Zack bukanlah seorang penipu. Foto-foto yang pernah dilihatnya di halaman Facebook Zack tak terlalu jauh berbeda. Penampilan Zack secara nyata tak terlalu buruk, bahkan boleh dibilang cukup tampan. Meski demikian, Jie masih merasa ragu. Seolah-olah Zack menjelma menjadi seorang yang benar-benar asing. Jie merasa, dunia nyata yang sedang dirasakannya kali ini terpisah begitu jauh dengan dunia maya yang telah sekian lama diselaminya.

“Kenapa bengong begitu, Cantik? Ah, jangan-jangan kamu mulai naksir aku, ya… heheee….” Zack yang pertama kali memecahkan keheningan di antara mereka. Dan tak jauh dari dunia maya, ternyata Zack pun masih senang menggodanya. Jie sedikit gugup, terutama setelah Zack melemparkan senyum menggoda ke arahnya.

“Ih, GeeR banget sih, kamu! Siapa yang naksir? Aku cuman kaget aja… Nggak nyangka kalau pertemuan kita begitu mendadak seperti ini… Kamu sengaja ke sini untuk menemui aku atau karena kebetulan ada acara di sini?” Jie mencoba untuk melenturkan kekakuannya, bersikap sewajar mungkin. Bagaimanapun, ia harus menjaga imagenya.

“Tentu saja aku ke sini hanya untuk menemui kamu, Sayang… Aku ingin bersama-sama kamu sejak awal pemberangkatan travelling kita. Besok, kan?”

“Eh, mmm….”

“Kamu mau makan atau minum aja di sini?” Zack tak memberi kesempatan Jie untuk berkata-kata lebih banyak. Inisiatifnya begitu menggebu-gebu, seolah tak peduli pada perasaan Jie.

“Minum saja. Aku nggak lapar, kok.”

“Oke. Setelah itu kita ke mana? Ayo dong! Ajak aku ke tempat paling romantis di kota ini. Duduk-duduk di kafe aja mah nggak seru!” Zack terlihat makin agresif. Ia mengerling ke arah Jie, sambil sebelah alisnya dinaik-naikkan demi menggoda Jie. Senyumnya pun tak ketinggalan.

“Mau kemana?”

“Lha, kok malah nanya aku? Kan kamu yang punya kota…”

“Mmmm… kemana yaa…” Jie mulai berpikir mencari ide. “Oh ya, aku tahu! Bagaimana kalau ke pantai saja? Nggak jauh, kok. Hanya 15 menit. Apalagi sore-sore begini, asyik banget, deh!” kata Jie dengan mata berbinar-binar. Kini, ia mulai terbiasa dengan kehadiran Zack, tak lagi merasa canggung.

“Oke sip! Kalau begitu cepat minumnya, ya… Eh, pelan-pelan, ding… Soalnya nanti bisa berabe kalau kamu pingsan di sini karena kesedak cappuchinno, hahahaa….” Kelakar Zack, yang diakhiri dengan derai  tawanya yang terdengar renyah di telinga Jie.

 

“Kok kamu nggak pernah cerita sih, kalau ada pantai yang indah begini di sini.” Kata Zack, usai mereka berjalan-jalan menyusuri bibir pantai, dan kemudian memilih duduk di atas pasir hitam yang bersih sambil memandangi anak-anak nelayan yang sedang bermain layangan. Tinggi matahari sudah sepenggalah, sehingga mata mereka tak mau beralih dari cakrawala, menunggu saat-saat matahari tenggelam sempurna.

“Abis kamu nggak nanya juga, sih…” jawab Jie asal-asalan.

“Idiih… Masa kamu nggak punya inisiatif untuk mempromosikan kotamu, sih… Payah!”
“Hahahaa… Soalnya aku nggak merasa punya kepentingan untuk mempromosikan keindahan kotaku sama kamu.” Sekarang giliran Jie yang mempermainkan Zack. Tentu saja maksudnya hanya bercanda.

“Oh, gitu! Awas, yaa…! Eh, tapi ngomong-ngomong sejauh mana persiapan kamu besok? Aku sudah bawa ranselku sekalian lho…”

“Oh ya? Di mana ranselmu?”

“Di hotel, lah… Nanti kubuktikan, kalau kamu nggak percaya. Tapi nanti malam kamu temani aku tidur di hotel, ya…”

“Eh, maksudmu apa?” Tiba-tiba Jie mulai merasa was-was. Ia menangkap maksud tak baik dari ucapan Zack.

“Hehee… nggak ada maksud apa-apa. Tapi masa sih, kamu tega biarin aku tidur sendirian di hotel? Orang seganteng aku kalau sendirian bisa diculik, loh… Memangnya kamu mau tanggung jawab, gituh? Jadi, temani aku, ya… Oke, Sayang?”

Setelah berkata demikian, Zack bergeser semakin merapatkan duduknya di samping Jie. Kini, ia bahkan tak segan melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Jie. Redupnya cahaya senja yang memayungi mereka membuat Zack selangkah lebih berani. Ia bermaksud untuk mengecup pipi kanan Jie, namun Jie buru-buru berdiri dan menepis Zack.

“Maaf, Zack… Kurasa kita baru benar-benar saling mengenal meski kita sudah saling berhubungan di dunia maya cukup lama. Jadi, maukah kau menghormatiku?” Jie mulai berkata-kata tegas.

Sejenak Zack tertegun memandangi Jie yang kini sudah berdiri di hadapannya. Namun lekas ia menetralisir keadaan dengan mengukir senyum di wajahnya. Ia berharap sikap Jie sedikit melunak.

“Oh, maaf kalo gitu… Tentu saja aku menghormatimu. Tapi aku mencintai kamu, Jie. Kau kan tahu, sejak awal mula aku mencintai kamu. Dan sampai sekarang kita bertemu, aku juga masih tetap mencintai kamu.” Kali ini, kata-kata Zack terdengar lebih serius.

“Terima kasih atas cintamu, Zack. Tapi please… Sudikah kamu mencintai aku dengan cara yang baik? Bersikaplah yang baik terhadapku. Aku juga akan menghormatimu.”

Sejenak ada jeda kesenyapan di antara mereka. Kemudian Zack bangkit berdiri setelah membersihkan bagian belakangnya dari pasir. Sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, tatapan Zack beralih ke arah cakrawala. Setelah menarik nafas dalam, kemudian ia berkata, “Apakah kalau aku mencintaimu dengan cara yang baik kau akan menerimaku?”

Jie tak segera menjawab. Ia seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu dalam hatinya.

“Terlalu dini untuk memutuskannya, Zack… Tapi, apa kamu akan menyerah kalau aku tak dapat memberikan jawaban itu sekarang?” tanya Jie lirih. “Oh ya, soal rencana travelling kita, maafkan aku, Zack. Sepertinya aku belum bisa… Tapi jika kamu sudah membeli tiket-tiketnya, nanti aku ganti. Jangan khawatir. Memang salahku yang tak memberi tahu kamu jauh-jauh hari…” tutur Jie. Kali ini, Jie merasa lebih mantap membuat sebuah keputusan meski ada sedikit perasaan tak enak di hatinya. Sebuah keputusan spontan yang ia yakin adalah yang terbaik baginya.

Semula Jie menduga bahwa ia akan segera mendapati seraut kekecewaan di wajah Zack. Namun rupanya Zack justru memberikan sikap berbeda.

“Tak apa, Jie… Aku mengerti, kok… Kamu nggak perlu ganti tiketnya.” Kata Zack dengan suara yang lunak. “Aku juga nggak akan menyerah, Jie. Meski ini adalah penolakan kedua darimu, aku tetap nggak akan menyerah. Aku justru mendapat banyak pelajaran darimu. Aku jadi semakin yakin, bahwa kamu adalah sosok perempuan yang harus kukejar hingga penghabisan. Aku janji akan mengikuti semua aturan mainmu asal kau masih memberiku kesempatan.”

Kali ini, Jie menatap lembut ke arah Zack. Ia merasa lega mendengar perkataan Zack. Pelan-pelan, Jie mulai mengembangkan senyumnya. Senyum yang menyaingi pesona jingga keemasan yang sedang ditebar lelangit tak berbatas. “Kesempatan itu selalu ada, Zack… Menjadi teman atau sahabat adalah kesempatan terbaik dari sebuah cinta yang diperjuangkan. Manfaatkanlah kesempatan itu. Lagipula, kau kan suka travelling. Anggap saja bahwa kesempatan kita berteman ini adalah sebuah travelling hati sebelum sampai pada titik cinta, sebagai tujuan akhir.”

I Love you, Jie. I love the way you do… So, let’s travel to the love, Dear…” kata Zack sambil tersenyum. Kali ini, senyumnya bahkan tinggal lebih lama di kedua bibir tipisnya.

“Jie, kau lihat karang yang tinggi di sebelah sana?” kata Zack tiba-tiba sambil menunjuk ke barat, dimana terdapat sebuah batu karang yang menjulang di tengah lautan. “Seperti itulah kamu. Indah, namun kokoh dan kuat. Jie, aku akan menjadi lautan untuk dapat memelukmu dan meluluhkan hatimu.”

“Hahaha…. gombal aja, teruuuusss…” Tawa Jie meledak mendengar kata-kata puitis yang diucapkan Zack.

Seiring cahaya yang makin memudar, mereka mulai beranjak meninggalkan hamparan pantai yang kini hanya diriuhkan oleh suara debur ombak. Anak-anak nelayan itu sudah pulang, burung-burung itu pun tak lagi kelihatan. Namun tawa mereka masih menjadi penawar kesenyapan semesta. Tawa yang tak lagi mengandung beban selain ketulusan. ***

 

 

Cerpen kolaborasi @sindyshaen dan Bintang Berkisah

Editor : Bintang Berkisah

Advertisements

Cinta Lelaki Pencangkul Batu

Jika aku tak punya kelamin, apakah ia akan tertarik untuk mencintaiku?

Dada lelaki itu bergemuruh meski raut wajahnya tampak tegar dan baik-baik saja. Hatinya dirundung gundah gulana lantaran kebimbangan yang menggelayuti pikirannya. Ia sedang mencintai. Namun ia menemukan bahwa mencintai seperti bertahan menggenggam belati, ketika menyadari hal pahit yang menjadi aral rintangan untuknya mendapatkan cinta dari sang pujaan hati.

Lelaki itu terlahir cacat karena tak punya kelamin. Ayah ibunya miskin, sehingga tak mampu merawat kandungan sedemikian rupa, seperti layaknya ayah ibu lain yang mengharapkan bayi sepenuh hati. Dulu, ibunya bahkan sempat berusaha untuk menggugurkan kandungannya, meski gagal. Maka lahirlah ia dengan kondisi yang memprihatinkan. Tabib hebat yang baik hatinya telah berhasil membuatkan saluran pembuangan di bagian tubuhnya. Meski demikian, ia divonis tak dapat melakukan proses pemenuhan kebutuhan biologis, apalagi menghasilkan keturunan. Kecacatannya adalah aib bagi keluarganya. Namun mereka semua berhasil merahasiakannya dari kuping dan bibir yang senantiasa haus pergunjingan.

Hidup lelaki itu sangat sederhana. Ia mencangkul batu di bukit sebelah selatan hutan, yang kemudian ia jual pada mereka yang sedang mendirikan bangunan. Saat senja, ia menyudahi pekerjaannya, menuruni bukit dan menuju ke pasar. Disanalah ia mengistirahatkan raga lelahnya, membaringkan tubuh perkasanya di salah satu dipan di sudut pasar yang biasanya dipergunakan untuk berjualan sayur pada pagi hari. Menjelang malam, pasar begitu sepi tanpa penghuni. Hanya terdapat lapak dipan kosong yang berjajar dalam kegelapan, dan kucing ataupun anjing kampung yang berkeliaran atau tidur melingkar di beranda toko-toko yang tutup.

Namun sejak lima belas tahun belakangan, ia tak lagi mudah memejamkan kesadaran supaya lekas mendarat di alam mimpi. Angan dan pikirannya masih berkelana, membayangkan sosok perempuan yang dicintainya, namun tak sudi disentuhnya. Acapkali linangan airmata mengiringi lamunannya. Suatu saat, ia pasti akan dapat menyentuh hati perempuan itu, yang barangkali saat ini masih menjadi batu di hadapannya. Lamat-lamat, ia tertidur di antara gumam bibirnya yang merapal doa, menerjemahkan keyakinan.

Sebelum fajar menyingsing, lelaki itu harus membuka matanya supaya tak didahului oleh para pedagang yang tiba di pasar. Biasanya, ia terbangun saat mendengar gemerincing lonceng di leher sapi dan derit roda pedati yang mengangkut bahan-bahan pokok para pedagang melewati jalanan yang masih lengang. Segera ia meraih sapu korek dan membersihkan lapak-lapak yang berceceran remah dan sisa-sisa tulang ikan, bungkus-bungkus makanan, ataupun debu-debu jalanan. Nanti, ia akan menerima upah dari para pedagang yang berbaik hati padanya. Beberapa keping uang, atau sekedar nasi dan lauk pauk untuk kebutuhan perutnya dalam sehari.

Usai dengan kegiatannya di pasar, lelaki itu berangkat menuju bukit, menjinjing cangkul dan linggisnya. Namun sebelumnya ia mampir sebentar ke sebuah kedai yang menjual bunga-bunga segar. Si pemilik kedai sudah hapal betul dengan kedatangan dan permintaannya. Setangkai mawar putih telah dipersiapkan untuknya meski hanya membayar separuh harga.

Dengan hati-hati, dibawanya setangkai mawar putih itu menuju sebuah rumah tua di salah satu sisi perkampungan. Disanalah tempat tinggal perempuan yang dipujainya. Seorang perempuan yang dulunya cantik dan cakap menari. Diletakkannya mawar putih di depan pintu, di beranda rumahnya. Kemudian ia pergi melanjutkan perjalanannya menuju bukit, tempat ia mencangkul batu. Demikianlah kebiasaannya setiap hari. Tak ada yang menahannya, tak ada yang menggubrisnya, tak ada pula yang mempergunjingkannya. Perjalanan waktu mengantar semua orang melupakannya. Tapi perjalanan cintanya tak pernah mengantarnya pada pilihan untuk melupakan.

 

Kisah cintanya bermula ketika ia menemukan sosok perempuan yang sedang berlatih menari di tanah lapang di pinggir sungai tepi hutan. Melalui semak-semak, ia mengintipnya sedang berputar-putar, melentingkan tungkai-tungkai kakinya yang panjang ramping, meliukkan jemari tangannya yang lentik, menata tatap matanya yang bersinar. Tiap gerakannya menyalakan gairah. Bibir mungilnya menyiulkan melodi yang bahkan membuat burung-burung ikut berdendang. Baju yang dipakainya tampak basah oleh keringat, sementara anak-anak rambutnya menghiasi pelipis dan lehernya yang jenjang. Ia menjadi bercahaya di mata lelaki itu.

“Keluarlah! Aku tahu kau mengintipku sedari tadi.”

Tanpa dinyana, perempuan itu berteriak ke arahnya. Lelaki itu jadi tersipu, namun akhirnya ia memutuskan untuk menampakkan diri di hadapan perempuan itu, memperkenalkan diri.

“Siapakah kamu?” tanya perempuan itu penuh selidik.

“Aku hanyalah pencangkul batu di bukit sana yang kebetulan lewat dan melihat kau menari dengan indahnya…” jawab lelaki itu sambil menunjuk ke arah selatan, letak bukit tempat ia mencangkul batu. “Maaf jika aku mengganggumu…” ucapnya lirih.

“Takkan mengganggu jika kau tidak mengintipku diam-diam. Duduklah disana, kau boleh melihatku menari.”

“Terima kasih… Tarianmu indah sekali. Aku tak pernah melihat seorang perempuan menari sehebat itu. Gerakanmu seolah berpadu dengan keindahan alam di sekitar.” Ujar lelaki itu dengan berbinar.

“Aku sedang berlatih menari untuk mempersiapkan pertunjukanku pekan depan. Aku harus menghibur banyak tamu penting yang datang dari berbagai penjuru negeri,” jelasnya tanpa terkesan sombong.

“Semoga pertunjukanmu sukses… Beruntung sekali aku dapat berkenalan dengan penari hebat negeri ini…”

Perempuan itu hanya melempar senyum sekilas, kemudian melanjutkan gerakan tariannya. Sementara lelaki itu duduk di atas batu tak jauh dari perempuan itu, menikmati setiap gerak dan keindahan yang tersaji di hadapannya.

 

Hari berganti, bulan berselang, tahun bergulung, lelaki dan perempuan itu menjadi sepasang kawan yang cukup menyenangkan, saling pengertian, dan penuh penghargaan. Lelaki itu dapat merasakan gelora dalam dada perempuan itu, yang dipenuhi impian untuk menjadi satu-satunya pengindah dunia.

Namun siapa yang mengetahui suara hati sebenarnya di balik permukaan yang tersembul? Jauh di lubuk hati, lelaki itu menyimpan perasaan yang istimewa terhadap perempuan itu.

“Engkau telah menjadi satu-satunya yang terindah dalam semesta diriku…” kata suara hati yang tak dapat disangkalnya. Kegelisahannya bergemuruh dalam dadanya sendiri.

Ia ingin memeluk impian perempuan itu, namun akal sehatnya senantiasa menyampaikan realita pahit mengenai kemungkinan-kemungkinan yang membuatnya bermuram durja. Akhirnya, lelaki itu sekedar membumbung kegalauannya ke atas langit-langit imajinasinya, kemudian menangkapnya kembali dengan kedua tangannya yang kasar dan kekar.

“Sampaikan rasa cintamu dengan baik. Jadilah lelaki yang kuat dengan cara tegar menerima resiko apapun,” nasehat nuraninya.

“Andai saja aku benar-benar kuat…” gumam akal lelaki itu.

“Apa yang kau takutkan? Apakah kau khawatir perempuan itu menolakmu karena kemiskinanmu?” sanggah nurani.

“Andaikan dapat sesederhana itu… Jika ia membenci kemiskinanku, aku masih memiliki tenaga dan seribu cara untuk memperkaya diri supaya ia mencintaiku. Tapi aku adalah manusia cacat. Manusia yang terlahir tanpa kelamin seperti normalnya para lelaki atau perempuan…”

Lelaki itu hampir menangis. Kenyataan menjelma sembilu yang mengiris-iris nadi harapannya.  “Dengan keadaan seperti ini, apakah aku masih memiliki kemungkinan diinginkan oleh perempuan itu?” ratapnya menghiba.

 

Keesokan harinya, lelaki itu telah membulatkan tekad. Maka berangkatlah ia menemui perempuan itu demi menyatakan segenap perasaan cintanya. Ia pun bertekad untuk membeberkan kejujuran tentang keadaannya. Segala kemungkinan yang terjadi sudah tak membuatnya gentar.

Namun sejak peristiwa itu, sikap perempuan itu mulai berubah. Ia menjauhi lelaki itu, enggan bersua, tak lagi sudi saling bicara. Lelaki itu mahfum dengan perubahan tersebut. Tapi tak dapat dipungkiri bahwa hatinya pilu, rautnya sedih, perasaannya senantiasa resah. Kendati demikian, ia tak pernah gamang dan menyerah untuk menghidupkan cintanya pada perempuan itu. Ketabahannya melebihi batu karang yang bertahan dari terjangan ombak. Hanya usia yang terkikis, sedang kecintaannya tak pernah bergeming. Wujud kesetiaannya tercermin dari bertangkai-tangkai mawar putih yang ia persembahkan untuk pujaan hatinya selama lima belas tahun lamanya.

“Akulah lelaki yang drama cintanya melebihi Majnun ataupun Shah jahan. Oh Bulan, jika kau hendak limpahkan kesengsaraan karena mencintainya, maka biarlah aku mereguk siksa abadi …”  sesumbar lelaki itu saat mata sayunya memandang bulan dalam remang malam.

“Dia lelaki gila. Seharusnya ia cukup tahu diri bahwa aku takkan pernah menjadikannya kekasih. Aku tidak mencintainya. Hanya itu satu-satunya persoalannya, namun juga yang paling besar dan utama. Bagaimana aku bisa bergairah dengan manusia yang tak punya kelamin? Aku hanya manusia biasa yang masih ingin mengecap kenikmatan, juga memperoleh keturunan. Lagipula, banyak sekali pria normal yang memikat yang menginginkanku. Mudah bagiku mendapatkan benih terbaik. Sementara dia hanya akan menjadi aib bagiku. Kupikir saat ini dia hanya menyiksa dirinya sendiri. Kalau dia mau mati, aku takkan peduli…” Perempuan itu berkata dengan mimik masam disertai cibiran.

Kebesaran namanya sebagai penari hebat seantero negeri membuatnya senantiasa dilimpahi senyum dan tawa. Kekasih-kekasih yang membanggakan datang dan pergi bak cuaca dalam satu musim, menawarkan pelukan dan kenikmatan yang menjadi candu. Kekayaannya bertumpuk-tumpuk, menjadikannya tak pernah kekurangan, tak pernah kelaparan. Bibirnya telah kesat mereguk anggur dari berbagai penjuru negeri. Daging-daging anak domba hanya menjadi makanan para pelayannya. Dan sutera-sutera warna-warni terus saja berdatangan memenuhi gudang dan almari pakaiannya.

awesome-art.biz Man Digging

Sementara lelaki itu masih setia mencangkul batu di bukit, masih setia membersihkan pasar sebelum terbit fajar, dan juga masih setia mengiriminya mawar putih yang ia letakkan di beranda rumahnya. Waktu tak jua menggerakkan roda nasibnya kemanapun.

 

Berbeda dengan nasib perempuan itu, yang berputar bak gasing bertenaga penuh. Keadaan cepat berubah. Ternyata kejayaannya tak selamanya berada dalam genggaman. Sepuluh tahun berselang mengantarnya pada gerbang kegelapan. Tubuhnya renta dengan cepat karena terkikis sebuah penyakit langka yang datang tiba-tiba. Tak ada yang mampu menyembuhkannya, padahal kekayaannya semakin terkikis habis, dan kemampuan menarinya sekedar menjelma menjadi kenangan. Ia tak berdaya. Tak lagi ada yang mempedulikannya, yang menyanjung-nyanjungnya. Kemiskinan datang bersuka ria menjadi selimutnya.

Namun laki-laki itu, tak jua berubah perasaannya, kebiasaannya. Ia masih menaruh bunga mawar putih di beranda rumah perempuan yang telah menjadi buruk dan dilupakan. Kesetiaannya ini lambat laun mulai mencairkan hati perempuan itu. Ia mulai dapat mengalirkan air mata dari mata air nuraninya. Linangan yang meremas-remas hati kecilnya, yang menciptakan bergunung-gunung penyesalan dalam lembah kesadarannya.

“Sesungguhnya aku tak lagi peduli apakah ia punya kelamin atau tidak… Tapi, mampukah ia menerima dan memaafkanku yang telah tercoreng cela dan aib, yang telah terbungkus oleh renta usia dan kekalahanku pada semesta?”

***

 Januari 2013

KEJUTAN

Maria nyaris terlonjak kaget saat matanya menangkap sosok lelaki jangkung berkacamata dan berparas wajah baik-baik duduk manis di pojok kafe. Sosok itu tampak sedang menunggu seseorang setelah melalui perjanjian yang dibuat sematang-matangnya. Sejenak Maria ragu, apakah ia akan mendekat atau menghindarinya. Namun ia pun telah terlanjur membuat janji dengan seseorang di kafe itu, seseorang yang sudah sangat lama dinantikannya. Seseorang, yang kemudian mulai ia ragukan lamat-lamat jati dirinya.

Dulu, lelaki yang sedang duduk di bagian pojok kafe itu amat dikenalnya. Ah, siapa yang tak mengenal luar dalam mantan kekasih sendiri? Sandy memiliki goresan kisah menarik di hatinya. Namun itu dulu, ketika mereka belum memutuskan hubungan, menyudahi untuk bersayang-sayangan. Tepatnya, Maria lah yang meminta putus. Tanpa alasan. Tanpa belas kasihan.

Kisah cinta Maria dan Sandy telah berlangsung dua tahun lamanya. Bosan, tentu saja. Tak lagi ada kejutan yang membuat hatinya riang berbunga-bunga. Tak lagi ada sengatan gairah dalam tiap perjumpaan. Mereka terlanjur terbiasa satu sama lain, sampai-sampai tak lagi merasakan beda ketika ada ataupun tiada. Jenuh, itulah ungkapan sesungguhnya. Apalagi, saat itu Maria mulai tergoda oleh sosok lain yang lebih memacu hasratnya. Ia punya insting bahwa lelaki baru yang sedang diincarnya akan menjadi sosok yang berpotensi meruapkan kembali semangat hidupnya. Maria yang sudah bosan sekaligus merasa bersalah, memutuskan untuk memutus hubungan. Sandy, biarlah menjadi sekedar masa lalunya, mencari sendiri kebahagiaan tanpa perlu melibatkan dirinya lagi.

Sudah lama sekali mereka tak lagi saling berhubungan. Sandy memang masih berusaha beberapa kali menghubunginya. Bagaimanapun, masih ada sisa cinta dan kesetiaan di hati pria nestapa itu. Namun Maria telah merasa enggan. Pikirnya, lebih baik menyudahi setuntas-tuntasnya daripada meninggalkan sisa-sisa akar yang nantinya malah membelitnya. Pikirnya, ia tak mau memberi harapan palsu pada Sandy, yang pikirnya, tak punya harapan untuk masa depannya. Maria semakin menjauh, tanpa pernah menyadari bahwa Sandy menjadi semakin rapuh.

Waktu bergulir setapak demi setapak. Merajut dan menghabisi hubungan cinta seperti membalik telapak tangan bagi Maria, yang punya sejuta pesona. Lelaki tampan nan menawan itu telah ia dapatkan, telah pula ia campakkan. Kisah cintanya berganti-ganti, namun tak jauh berbeda, melulu menuangkan warna yang sama.

Namun yang ini, yang sekarang, agak berbeda. Seseorang yang semula ia kenal secara asal di media sosial ternyata cukup mampu membetikkan rasa penasarannya. Bahkan diam-diam, hasratnya berdesir tiap kali mereka bertukar sapa tanpa perlu kehadiran. Rasa ini jauh berbeda dari yang sudah-sudah. Maria tertarik bukan karena ketampanan, bukan karena kejantanan. Ia terpesona oleh sebuah pembawaan yang tumbuh dalam imajinasinya.

Prasetya. Sedemikian sederhana nama akun yang mampu membuatnya berbunga-bunga. Sosok misterius itu hanya punya kata-kata, hanya punya pancaran semangat dan sedikit banyak keramahan yang mampu membuat kejenuhannya meleleh. Terlebih, ia sangat rendah hati meski banyak hal yang mampu membuatnya meninggikan diri. Kata-katanya adalah sumber inspirasi bagi jiwa-jiwa pencari. Karya-karyanya bahkan telah terbit berulang-ulang. Sungguh, ia sosok yang sangat layak dikagumi.

Namun satu hal yang membuat Maria teramat girang, teramat beruntung. Usahanya yang spekulatif membuahkan hasil yang menggembirakan. Posisinya bukan lagi sekedar seorang pengagum biasa. Mereka telah berteman lebih dekat, bersikap lebih akrab. Demikianlah anggapan Maria. Media-media yang lebih pribadi mulai menjadi pilihan. Surat-surat elektronik mulai kerap berbalas-balasan. Sekiranya, banyak hal yang mereka ceritakan. Mulai dari cara menulis yang baik, dukungan berimajinasi, kisah-kisah cinta, kompleksitas persahabatan, kesenjangan orang tua, masalah pendidikan, pemerintahan, hingga ternak peliharaan.

Pesan-pesan singkat pun mulai kerap berdatangan, memberi jeda pada kesibukan. Senyatanya, keintiman di antara mereka bukan tercipta dari bibit-bibit kemesuman, melainkan dari banyak tanya yang terlontar, banyak cerita yang tersiar. Diam-diam, Prasetya telah mengisi relung-relung imajinasi Maria sebagai sosok yang menerbitkan harapan cintanya. Sosok yang diharapkan mampu menggenapi jiwanya. Memang terlalu dini untuk mengatakan bahwa Maria jatuh cinta pada sosok Prasetya. Namun ia tak kuasa mangkir, bahwa perasaan kagum itu mulai sedikit berlebih. Memang, perempuan umumnya lebih mudah larut. Emosinya seperti air. Perasaannya seringkali berloncatan dan menari kesana-kemari. Maria adalah seorang matador yang gagal. Cinta dan kekaguman yang menyeruduknya hingga menjadi puing-puing berserakan.

Hingga tibalah saat pertemuan. Pada akhirnya, ide ini menuntut untuk dilontarkan. Maria setengah memaksa, setengah merayu, bahwa pertemuan itu akan menjadi sebuah peristiwa penting baginya.

“Ada hal yang sedikit kukhawatirkan, bahwa pertemuan akan membawa perubahan, atau perbedaan kedekatan kita yang sudah terjalin sedemikian manis dan tulus. Tak ada yang berani menjaminku…”  kata Prasetya melalui surat terakhirnya.

“Aku yang menjamin. Takkan ada yang berubah meski kita bertemu untuk pertama kali atau seribu kali ke depan. Apa kau dapat mempercayaiku?” balas Maria melalui pesan singkatnya.

“Aku yang seharusnya bertanya, apakah aku dapat mempercayaimu?” Prasetya mengembalikan pertanyaannya.

Namun detik-detik pertemuan itu justru memaparnya pada sebuah kejadian yang sama sekali tak terduga. Bukan Prasetya, sosok dalam imajinasinya, yang duduk di tempat yang telah disepakatinya. Maria tak habis pikir mengapa Sandy, mantan kekasihnya, yang justru mewujud nyata di hadapannya. Sempat ada keraguan, bahwa kejadian itu hanya sekedar kebetulan belaka. Barangkali Sandy memang kebetulan sedang berada di kafe tersebut, dan Prasetya kebetulan sedikit terlambat. Namun beragam pembuktian melemahkan prasangkanya. Sandy, yang memakai baju dengan warna yang Maria dan Prasetya sepakati. Sandy, yang meletakkan novel terbaru bertanda-tangan Prasetya pesanan Maria di atas meja, bersebelahan dengan secangkir kopi yang telah setengah dingin. Dan Sandy pula yang melempar senyum penuh arti ke arahnya saat menyadari kedatangannya.

Mari terpaku. Kakinya terasa begitu berat, seolah tak lagi punya kendali untuk bergerak ke arah tertentu. “Oh, apa yang harus kulakukan?” batin Maria menjerit. Ia mulai merasa panik. Maria salah tingkah, juga sedikit gelisah. Sungguh tidak mudah menghadapi kenyataan yang tiada disangka-sangka. Apalagi ia terlanjur melabuhkan hati pada sosok Prasetya, sosok imajiner yang selama ini hadir memenuhi relung hati dan jiwanya.

Maria masih berputar-putar dengan pikirannya sendiri, tak menyadari bahwa Sandy berjalan mendekat ke arahnya. Ia tak kuasa menggerakkan tubuhnya — bahkan sekedar untuk tersenyum menunjukkan keramahan. Ia tak kuasa. Gugupnya luar biasa. Perasaan dan emosinya bergolak — antara merasa malu sekaligus merasa sangat bersalah. Emosinya berkecamuk. Ingatannya tentang segala hal buruk yang pernah dilakukan di masa lalu terhadap Sandy mulai menyeruak. Maria ragu, Sandy mampu memaafkannya. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa ngeri dengan kemarahan dan kekecewaan Sandy.

Sandy sudah berada tepat di hadapannya, menatapnya yang sedang diliputi kekalutan. Sesungguhnya sorot mata itu tak terlalu tajam dan bersifat garang, melainkan sayu, penuh keteduhan. Namun Maria tak kuasa menantangnya. Ia menundukkan kepalanya, seperti prajurit yang kalah sebelum mengadu senjata. Tangan Sandy lah yang menegakkannya kembali.  Jemari kokoh itu menyentuh lembut dagunya. Beberapa detik kemudian, kedua mata mantan sepasang kekasih itu sempat saling beradu. Jiwa masing-masing berusaha saling menyelami melalui pancaran cahaya di kedua bola mata yang mencerminkan riuhnya rahasia kalbu.

“Kau masih mengingatku, kan?” sapa Sandy lembut. Kemudian ia menggamit perlahan tangan Maria, mengajaknya ke kursi yang telah dipesan dan mempersilakan duduk. Sandy memanggil seorang waitress. Tanpa pikir panjang, ia memesan cappuccino kesukaan Maria.

“Jadi, ternyata kamu Prasetya?” tanya Maria hati-hati, sedikit kikuk.

Sandy tak lekas menjawab, melainkan justru melempar senyum penuh arti.  Ia cukup menyadari bahwa terselip gurat kekecewaan di hati Maria.

“Jadi itu sebabnya kau tak pernah sekalipun mengizinkanku melihat fotomu?” Maria kembali mencecarnya, namun lagi-lagi, Sandy hanya membalasnya dengan senyuman.

“Apa kau kecewa setelah mengetahui bahwa ternyata Prasetya adalah Sandy? Kini kau mengetahui kenyataan yang sesungguhnya. Meski kau sudah berjanji bahwa takkan ada yang berubah setelah kita bertemu, tapi aku tak berhak mengendalikan perasaanmu. Marahlah, jika kau ingin marah padaku.”  Sandy terlihat pasrah, namun sekilas intonasinya  terdengar seperti melemparkan tantangan pada Maria.

“Aku hanya….”

“Aku minta maaf karena yang kau temui adalah aku, yang tak sesuai dengan harapanmu…” potong Sandy.

“Bukan begitu. Dengarkan aku dulu…”

“Aku tahu bahwa aku hanyalah masa lalu untukmu. Yang kau harapkan adalah Prasetya, yang sedang mengisi relung-relung imajinasimu. Prasetya berhasil menarik hatimu, tapi kini kau menemukan kenyataan bahwa Prasetya adalah Sandy. Sementara Sandy adalah yang mati-matian kau hindari. Sekarang terserah padamu, dengan apa yang akan kau lakukan setelah ini. Ah, seharusnya aku tak perlu menurutimu untuk menciptakan pertemuan ini. Andai saja begitu, barangkali kita akan tetap bahagia di tempat masing-masing…” Sandy melemparkan pandangannya ke arah lain, demi mengucap hal-hal yang memedihkan hatinya.

Maria terdiam, membiarkan Sandy meluapkan segenap isi hatinya. Hal seperti itu tak pernah dilakukannya di masa lalu. Dulu, Maria yang terlampau cerewet, terlalu menuntut. Egonya menindas kepasrahan Sandy, yang lebih senang memilih bungkam.

Hingga Sandy mulai sedikit rileks, dengan hati-hati Maria mengatur diplomasi.

“Aku yang seharusnya meminta maaf, bukan kamu… Maafkan masa lalu kita… Barangkali aku memang bodoh sekaligus egois…” Sejenak Maria merasa mengambang, mencipta jeda. Ia menyadari bahwa keputusannya ada di ujung lidahnya. “Namun Prasetya ataupun Sandy, hal itu takkan mengubah sikap dan perasaanku. Bukankah aku sudah berjanji? Takkan ada yang berubah meski kita bertemu untuk pertama kali atau seribu kali ke depan. Jujur saja, ketika mengetahui bahwa ternyata Prasetya adalah kamu, sebenarnya aku justru merasa lega.  Takkan kupungkiri bahwa aku mengagumi sosok Prasetya hingga sangat penasaran dan ingin menemuinya. Namun ternyata aku menemukanmu. Separuh hatiku berharap engkau telah melupakan masa lalu dan memaafkanku. Tapi sepertinya itu sulit… Aku mengerti… Maafkan aku, Sandy… Maaf telah membuat luka yang dalam di hatimu…”

Sandy terdiam. Perasaannya berkecamuk, namun ia pu tak hendak mengamuk. Bagaimanapun, ia masih mencintai Maria. Rasa cinta itulah yang membuat mati rasa sakit di hatinya. Sejujurnya, Sandy masih senantiasa berharap bahwa cinta yang menghilang itu dapat hadir kembali dan terajut dengan lebih indah. Kala menatap Maria, harapannya terbit. Sandy tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas, kehilangan Maria untuk yang kesekian kali. Inisiatifnya yang menuntunnya berlutut di samping gadis itu. Tangannya meraih jemari gadis mungil itu, kemudian mendekap dan menciumnya dengan lembut.

“Aku mencintaimu Maria… Selalu begitu. Meski demikian, aku tak akan memaksamu untuk mencintaiku. Tapi aku pun tak bisa berpura-pura mengatakan bahwa aku bukan Prasetya. Aku Prasetya, sekaligus Sandy. Jika lebih baik bagimu memisahkan antara Sandy dan Prasetya, kumohon, kita hentikan saja semuanya. Itu akan membuat segalanya lebih baik untuk kita.”

Kemudian Sandy bangkit dan meraih novel yang ada di atas meja, menyerahkannya pada Maria. Sejenak ia memuaskan diri memandangi sosok Maria yang masih terpaku. Ia melihat air mata yang mengalir di pipi mantan kekasihnya. Namun Sandy tak hendak berbuat banyak. Ia memilih meninggalkan Maria yang tengah mengusap bulir-bulir bening di pelupuk mata dengan jemarinya.

Pandangan Maria beralih pada novel yang diberikan Sandy. Lamat-lamat ia membaca judul besar yang terpampang pada cover.

“Sandy..!”

Sandy menghentikan langkahnya, memberikan waktu pada Maria untuk meneruskan ucapannya. Hatinya semakin bergemuruh.

“Aku akan menerima novel ini jika kau melakukan hal yang sama…”

Sandy membalikkan tubuhnya.

“Maksudmu?”

“Ya, aku akan dengan senang hati menerima novel ini jika kau memberiku kesempatan kedua,” kata Maria lirih. Senyumnya terbit, sementara Sandy mencoba menangkap kedalaman makna di balik ucapan Maria. Seperti bisa membaca senyuman Maria, Sandy pun tersenyum bahagia, kembali menuju ke arah Maria. Lekas ia mendekap gadis mungil itu dengan pelukan hangat. Hanya lega yang tersisa di dadanya.

Ada yang berbeda di hati Maria. Perasaan indah yang membuatnya merasa sangat riang, berloncat-loncatan bak kupu-kupu di musim bunga. Perasaan yang sempat menghilang dalam dirinya, namun kini tiba-tiba hadir kembali dalam hatinya. Tak pernah terbersit sekalipun dalam pikiran, bahwa semesta akan membawanya kembali ke pelukan Sandy. Namun ia hanyalah mahluk kecil tak berdaya yang tak mampu menolak kejutan. Kejutan manis, demikian ia memaknainya dalam hati.

Maria tak ingin melepaskan Sandy, seperti halnya Sandy tak ingin melepaskan dekapannya pada Maria. Mereka tak menyadari ketika novel itu terjatuh di lantai. Novel berjudul ‘Kesempatan Kedua’ yang dipesan Maria pada Prasetya — atau Sandy. ***

 

 

Karya duet Bintang Berkisah & Rini Adhiatiningrum (@riniebee) #kisahkejutan

Editor naskah: Bintang Berkisah