Fei Lung dan Kho Ping (satu)

Aside

 

Fei Lung, anak perempuan Lin Xiang Ru, seorang pengrajin keramik terkenal di negeri Zhao, sedang sibuk merapikan buku-buku pelajarannya ke dalam almari kayu yang terletak di sudut kamarnya. Namun jika diamat-amati lebih jelas, ternyata air mata gadis delapan belas tahun itu sedang mengalir deras, menetes-netes membasahi pipinya yang putih kemerahan. Sementara itu, kedua tangannya sibuk meraih dan meletakkan bermacam-macam benda, juga buku-buku, dan apa saja yang tampak olehnya. Ia sedemikian gugup.  Siapapun yang melihatnya akan mahfum bahwa pikirannya sedang mengembara ke lembah-lembah kenangan yang tertutup kabut kelabu. Namun sayangnya, sedang tak ada siapapun disana. Ayahnya, Lin Xiang Ru, sedang pergi menawar bahan baku di pasar. Sebenarnya terlihat lucu sekali melihat seseorang yang tampak sibuk menata rapi sesuatu sementara hatinya berantakan. Tapi demikianlah Fei Lung; ia masih tak sanggup menggusur mendung dalam hatinya — meski buku-buku itu senantiasa mengingatkannya pada kenangan, pada sebuah masa yang tak mudah ia tanggalkan begitu saja.

Fei Lung baru saja tiba beberapa minggu yang lalu, merasakan kembali kehangatan rumahnya, tempat ia tinggal bersama ayahnya yang telah lama seorang diri. Ibunya meninggal karena penyakit serius yang menghantam paru-parunya. Saat itu, Fei Lung berusia enam tahun.  Namun ia sungguhlah gadis yang baik, yang segera mengerti bahwa posisinya akan menggantikan ibunya merawat ayahnya, juga membereskan segala tugas perempuan di rumah.

Lin Xiang Ru begitu sayang padanya. Maka ia bertekad untuk memberikan yang terbaik bagi anak perempuan satu-satunya. Di usia lima belas tahun, Lin Xiang Ru mengirim Fei Lung ke sebuah asrama pendidikan yang cukup terkenal, dengan harapan Fei Lung dapat belajar dengan baik dan mendapat kenalan orang-orang terpandang. Perempuan yang cerdas akan dipandang memiliki derajat yang tinggi dibanding perempuan jelata. Dan biasanya, hanya perempuan-perempuan dengan pendidikan tinggi yang memiliki suami pejabat atau orang-orang berderajat tinggi.

Tiga tahun di asrama, Fei Lung dinyatakan lulus dengan nilai yang memuaskan. Dengan prestasi yang diperolehnya, Lin Xiang Ru menjadi amat bangga pada putrinya. Fei Lung selalu merasa bahagia jika ayahnya pun bahagia. Namun di balik kebahagiaan itu, tak ada yang tahu bahwa sesungguhnya Fei Lung pun memikul sekarung kegundahan dan kenangan masa-masanya ketika tinggal di asrama. Bagi Fei Lung, kebahagiaannya adalah untuk semuanya, namun kesedihannya hanyalah miliknya sendiri.

Kehidupan asrama tidaklah mudah bagi siapa saja. Terlalu banyak aturan yang kaku, sehingga murid-murid senantiasa tegang dan serius. Juga banyak tugas-tugas sekolah, yang membuat mereka kerap diliputi rasa frustasi terpendam. Kendati demikian, tak ada perbedaan dalam perlakuan. Entah itu anak raja, anak pejabat, anak pedagang, atau bahkan anak pelayan bergaji rendah, semuanya diperlakukan sama. Satu sama lain saling bersaing untuk menjadi yang terbaik, juga untuk hal-hal yang lainnya. Jadi bukan hal yang mengherankan  jika seseorang menikam atau mengadu domba seseorang lainnya dengan berbagai strategi busuk demi mencapai keberhasilan, demi memperoleh perhatian.

Namun Fei Lung adalah seorang gadis yang tak memperdulikan ambisi, meski tak ada yang mengecewakan dari potensinya. Ia sudah merasa bahagia asal setiap hari dapat menikmati hidupnya dengan keceriaan dan kesederhanaan. Ia tak terpengaruh dengan kubu-kubu yang saling memperkuat, mengintimidasi, dan mengolok-olok satu sama lain. Juga tak mau menentukan sikap harus berteman dengan siapa, harus bermusuhan dengan siapa, harus membolos pada pelajaran apa, harus hadir pada pelajaran siapa. Bagi Fei Lung, tugasnya hanyalah belajar dengan baik, memenuhi harapan terbesar ayahnya. Herannya, Fei Lung tak pernah kesulitan bergaul dengan siapa saja. Ia senantiasa memiliki banyak kawan yang baik.

Andai saja semua murid seperti Fei Lung, dunia pasti akan indah seindah-indahnya. Namun sayang, tak semua murid seperti Fei Lung. Tak semua yang dapat bergembira dengan cara yang mereka temukan masing-masing. Salah satunya adalah Kho Ping, seorang murid laki-laki yang lebih sering menghabiskan waktu istirahatnya di bawah pohon Willow yang rindang di samping perpustakaan sembari membaca beberapa kisah dongeng yang ia pinjam. Namun ketika tidak sedang membaca, wajahnya selalu terlihat murung dan tak bersemangat. Pembawaanya cenderung menutup diri dan jarang bergaul dengan teman-teman lainnya. Ironisnya, ia kerap menjadi bahan olok-olok di antara kawan-kawannya.

“Hei, kaki ayam! Larilah dulu mengelilingi gedung asrama supaya kakimu sedikit lebih besar, baru kau akan kami angkat menjadi anggota geng kami, hahahaa….” demikian anak-anak lain mengolok dan menertawakannya tanpa pernah peduli pada perasaannya. Kadang ada pula anak yang mengusilinya dengan cara menyembunyikan alas kakinya di rerimbunan semak, hingga ia hanya bertelanjang kaki saat pulang menuju asrama.

Sebenarnya Kho Ping tergolong murid yang benderang otaknya, terutama ketika menghapal pelajaran. Sementara murid-murid lain membutuhkan dua-tiga hari untuk menghapal kitab-kitab baru, Kho Ping hanya membutuhkan waktu satu hari untuk mematrinya dalam ingatan. Setidaknya, kelebihan inilah yang membuatnya terlihat baik, terutama di mata para guru. Selain itu, Kho Ping pun pada dasarnya seorang yang cukup ramah dan senang membantu. Namun sayang, banyak murid-murid lain yang mendekatinya sekedar untuk memanfaatkan kepintarannya.

Adalah Fei Lung, yang merasa bersimpati terhadap Kho Ping. Sejak lama ia memperhatikan Kho Ping dari kejauhan, hingga ia merasa berbelas kasihan kepadanya. Tak sampai hati ia melihat Kho Ping yang senantiasa dipermainkan dan dipermalukan. Beberapa kali Fei Lung memergoki Kho Ping tersedu sendirian. Barangkali ia merasa sangat sedih karena sering diperlakukan tak adil dan semena-mena. Maka suatu hari, Fei Lung pun mencoba untuk diam-diam mendekatinya.

“Aku mengerti jika kau merasa sangat bersedih. Tapi tersenyumlah! Kamu harus melihat matahari yang senantiasa tegar menyinari dunia meski manusia semakin lama semakin tak ramah dan berkata seenaknya mengenainya. Suatu saat, kita pasti menyadari bahwa kehadiran matahari adalah segalanya bagi kehidupan kita. Yang kita perlukan hanya bersabar… Maka sabar dan tegarlah, Kho Ping…” kata Fei Lung dengan lemah lembut.

Kho Ping yang segera menyadari kehadiran Fei Lung cepat-cepat menghapus air matanya. Ia memaksakan dirinya untuk tersenyum karena malu terlihat lemah di mata Fei Lung. Sejenak ia merasa kikuk, tak tahu apa yang harus dikatakan demi mencairkan suasana yang sedang ia rasakan muram. Namun Fei Lung adalah seorang gadis yang mudah menciptakan suasana sekehendak hatinya. Andaikata kemuraman adalah sebuah batu, ia mampu menghancurkannya dengan tetesan air yang menjelma keceriaannya.

“Apa kau sudah siap menghadapi ujian akhir musim dingin ini, Kho Ping?” Fei Lung mengalihkan pembicaraan, dengan harapan Kho Ping merasa tak terlalu terbebani.

“Eh… emmm… entahlah, masih ada beberapa kitab yang belum kubaca tuntas…” Kho Ping menjawab sekenanya.

“Tapi kupikir akan mudah bagimu menghapal rumus-rumus itu. Sebaliknya, aku benar-benar kewalahan dan rasanya aku tak sanggup menghapal dan mempelajari sebanyak itu. Wah, banyak sekali yang belum kumengerti.” Fei Lung tampak sungguh-sungguh berkeluh kesah. “Andai kau mau berbaik hati padaku, ajarilah aku beberapa. Atau jika kau tak keberatan, barangkali kita bisa belajar bersama-sama. Bagaimana?”

“Oh, eh… Aku sama sekali tak keberatan, kok. Aku senang bisa membantumu.” Jawab Kho Ping malu-malu.

“Kalau begitu, bagaimana jika besok sore kita belajar bersama setelah kelas usai? Kita bertemu di serambi kelas, ya… Setelah itu kita bisa tentukan dimana akan belajar. Hmm… Sepertinya di bawah pohon Willow samping perpustakaan itu akan cukup menyenangkan, sembari melihat danau yang tenang. Biasanya pada sore hari beberapa bangau terbang dan menangkap ikan di sana. Kau sering kesana, bukan?”

Kho Ping hanya mengangguk sambil tersenyum. Kini, kesedihannya sedikit tersamarkan. Ia merasa senang jika seseorang membutuhkannya, menganggap dirinya lebih berarti. Apalagi jika orang tersebut adalah Fei Lung.

“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa nanti, Kho Ping..”

**

Pada waktu yang telah disepakati, mereka pun bertemu di tempat yang disepakati pula — di bawah pohon Willow, di samping perpustakaan. Pada hari-hari kemudian, mereka semakin kerap bertemu di tempat yang indah itu, yang tak pernah membuat mereka bosan berlama-lama disana. Pemandangannya memang mengagumkan. Sembari duduk di atas rerumputan yang halus, mereka dapat menikmati danau seluas mata memandang, juga deretan gunung yang berdiri megah di kejauhan. Memandang hamparan alam itu membuat pandangan mata mereka senantiasa terasa sejuk, juga membawa perasaan damai. Pada sore hari, acapkali beberapa bangau berbulu putih terbang dan menukik memburu ikan-ikan di permukaan air yang tenang. Sementara beberapa burung yang menghias angkasa berkelepak kesana-kemari, bersaing dengan pesona gulungan awan tipis yang menjadi pemanis. Matahari tak pernah garang sejak mereka senantiasa berteduh di bawah pohon Willow yang besar dan kokoh, yang entah telah berumur berapa tahun — sepertinya jauh lebih tua dari usia mereka.

Kho Ping dan Fei Lung semakin giat belajar. Namun adakalanya mereka membicarakan hal-hal lain, misalnya dongeng atau kampung halaman mereka. Kho Ping memang senang dengan cerita-cerita dongeng. Ia telah membaca banyak dongeng dari berbagai negeri. Acapkali ia mengkisahkan beberapa dongeng pada Fei Lung, yang selalu mendengarkan dengan penuh perhatian dan ketakjuban. Kadang-kadang, Kho Ping mendengarkan Fei Lung menyanyi dengan suaranya yang merdu, atau membaca sajak-sajak yang dibuatnya. Jika tak ada lagi hal-hal menarik yang bisa dibicarakan, maka biasanya mereka akan berbincang-bincang tentang sekolah mereka sendiri — sebuah pembicaraan yang tak habis-habis.

“Tak terasa libur panjang musim semi sebentar lagi tiba. Sudahkah kau menghubungi orang tuamu untuk menjemputmu?” tanya Fei Lung sembari mengibaskan beberapa semut yang menjalari kakinya.

“Belum. Sepertinya aku berencana untuk pulang sendirian. Aku ingin memberi kejutan kedua orang tuaku.”

“Wah, kau hebat jika bisa melakukannya. Aku berharap orang tuamu tak marah ketika mengetahui kau pulang sendirian.” kata Fei Lung, yang tak bisa menyembunyikan kekagumannya. “Dan kebetulan tahun baru nanti masih dalam masa liburan. Sangat menyenangkan jika merayakannya bersama keluarga.”

“Ya, betul… Ada banyak makanan dan hadiah-hadiah yang membuatku berangan-angan andai saja setiap hari adalah tahun baru, hahahaa… Bagaimana dengan perayaan tahun barumu?”

“Sepertinya kurang lebih sama. Ada banyak tamu yang berkunjung ke rumahku, karena ayah dan mendiang ibuku memiliki banyak saudara. Biasanya, mereka membawa buah tangan yang menarik untukku” .

“Bersyukur kita selalu dapat menikmati tahun baru dengan baik. Ngomong-ngomong, apa kau tahu dongeng asal usul tahun baru Cina itu sendiri?”

“Ceritakanlah!” pinta Fei Lung dengan antusias.

“Konon di zaman dahulu kala hidup seekor monster bertanduk tunggal, bermata besar dan berkuku tajam, bernama Nian.” Kho Ping memulai dongengnya. “Monster tersebut tinggal di dalam lautan, dan sepanjang tahun dia habiskan waktunya untuk tidur. Dia hanya bangun saat musim semi tiba untuk mencari makanan. Makanan kesukaan monster Nian tersebut adalah manusia. Bukan hanya memburuh manusia, monster tersebut juga memporak-porandakan ladang penduduk dan merusak panen.”

“Wah, apakah tidak ada cara untuk menghentikan ulah monster Nian? Kasihan sekali manusia-manusia itu…” Fei Lung mulai terbawa oleh imajinasinya.

“Tak ada yang berani padanya. Tapi untuk menghindari korban jiwa, penduduk selalu mengungsi ke dataran tinggi di setiap awal musim semi. Mereka menyiapkan bekal makanan yang cukup. Pada suatu hari di musim semi, seorang pengemis melewati desa tersebut untuk meminta makanan. Ternyata ia mendapatkan desa tersebut dalam keadaan kosong. Saat ia bertemu dengan seorang nenek, ia bertanya kemana gerangan semua warga desa. Nenek tersebut menjelaskan soal monster Nian dan pengungsian penduduk. Sang nenek yang baik hati itu pun memberikan makanan kepada si pengemis. Pengemis itu lalu bertanya, kenapa nenek tidak ikut mengungsi. Nenek tersebut berkata, ‘Anak dan cucu saya telah menjadi korban tahun lalu, dan saya sudah terlalu tua untuk ikut mengungsi. Jika monster Nian datang, saya akan melawan sebisa saya’.

“Si pengemis menjadi iba pada sang nenek, lalu mengatakan pada sang nenek bahwa sesungguhnya mahluk tersebut takut pada tiga hal, yakni mahluk yang lebih besar dan seram daripada dia, suara keras dan bising, juga warna merah. Lalu si pengemis meminta sang nenek menyediakan kain besar untuk membuat binatang-binatangan dan mencat depan rumah menjadi merah. Ia pun menyuruh nenek tersebutberpakaian merah, lalu dia mengumpulkan batang-batang bambu supaya menimbulkan suara ledakan saat dibakar.

“Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya monster Nian muncul. Si pengemis bergegas memakai kain yang telah dibuat menyerupai monster. Ia juga meminta sang nenek membakar batang bambu yang sudah disediakan serta memukul benda apa saja yang bisa menimbulkan suara bising. Mendapat sambutan demikian, monster Nian sangat kaget. Ia pun lari terbirit-birit dan terbang, tak pernah kembali lagi.

“Sejak peristiwa kemenangan ini, penduduk desa merayakannya setiap tahun sebagai hari raya besar serta perayaan panen. Perayaan diadakan dengan cara meniru apa yang telah dilakukan oleh si pengemis dan sang nenek, juga sebagai tindakan pencegahan akan kembalinya monster Nian. Para penduduk mendatangi rumah-rumah kerabat untuk mengucapkan selamat atas terbebasnya mereka dari ancaman monster nian. Sebagai balasan, setiap keluarga menyediakan minuman dan kue-kue untuk tamu mereka. Selain itu, mereka pun memakai berbagai hiasan yang berwarna merah. Itulah sebabnya, sampai sekarang, setiap tahun baru, kita tak asing dengan warna merah, kue-kue, dan juga petasan.” Kho Ping mengakhiri ceritanya.

“Wow! Aku tak menyangka jika ternyata asal usulnya demikian. Terima kasih sudah menceritakannya padaku, Kho Ping!” Fei Lung tampak berbinar-binar setelah mendengar kisah yang diceritakan oleh Kho Ping.

Kho Ping selalu merasa puas setelah ia usai bercerita pada Fei Lung. Hanya Fei Lung, satu-satunya yang mau mendengarnya dengan penuh perhatian. Dan hanya pada Fei Lung, Kho Ping menceritakan banyak hal. Sedikit demi sedikit, ia mulai merasa memiliki rasa percaya diri.  Tapi di sisi lain, ia pun menyimpan rasa tersendiri di hati yang tersembunyi. Seperti ada percikan api dalam dirinya saat jantungnya berdegup kencang, saat ia menatap binar mata Fei Lung yang menurutnya paling indah di dunia ini. Kadangkala ia sampai merasa salah tingkah saat Fei Lung mendapati dirinya sedang memandanginya. Juga pada waktu-waktu yang lain, saat rembulan mulai bersinar dan kesendiriannya mulai terpapar, Kho Ping kerap memikirkan Fei Lung dan mengangan-angankannya.

Pada suatu hari, beberapa hari sebelum libur usai ujian tiba, Kho Ping menghampiri Fei Lung dan berkata, “Bolehkah pada tahun baru nanti aku berkunjung ke rumahmu, Fei Lung?”

Benarkah? Apakah kau serius? Tentu saja boleh, Kho Ping! Aku akan senang sekali!” pekik Fei Lung karena terkejut sekaligus girang.

Maka saat libur musim semi tiba, berpisahlah mereka. Fei Lung pulang ke kampung halamannya saat ayahnya datang menjemputnya. Demikian pula Kho Ping, pulang ke kampung halamannya dengan berangkat seorang diri, sesuai dengan niatnya sejak awal mula.

***

Saat perayaan tahun baru tiba, Fei Lung jauh lebih antusias daripada tahun-tahun sebelumnya. Ia memilih cheongsam merah dari sutra terbaik yang dijual di kotanya, juga jeruk-jeruk yang paling segar yang ada di pasar. Bahkan Fei Lung pun membuat sendiri kue keranjang dalam jumlah yang cukup banyak, juga menyiapkan beberapa lampion merah yang indah di bagian depan beranda rumahnya. Pada ayahnya, ia mengatakan bahwa akan ada seorang kawan sekolahnya yang berkunjung.

Memang benar, Kho Ping datang berkunjung ke rumah Fei Lung saat langit sedang merah, saat matahari sudah sepenggalah dan hendak meluncur ke peraduan. Bukan main senangnya hati Fei Lung saat mendapati sahabatnya menepati janji. Setelah berkenalan dengan Lin Xiang Ru, ayah Fei Lung, dan menyantap penganan-penganan lezat yang disajikan, mereka berjalan-jalan menyusuri sepanjang sungai dan sepanjang jembatan yang ramai dengan muda-mudi maupun anak-anak. Gemintang sedang bertaburan, memantulkan bayangannya di permukaan sungai yang mengalir tenang.

“Tak terasa, sekolah kita tinggal satu tahun lagi. Aku berharap semoga kita lulus dengan nilai yang memuaskan…” Kho Ping berusaha memecah keheningan di antara mereka.

“Ya, tentu aku pun berharap demikian. Setelah lulus nanti, kau hendak kemana, Kho Ping?” tanya Fei Lung penasaran.

“Sepertinya aku akan mendaftar ujian untuk menjadi pejabat kerajaan. Ayahku berharap demikian. Doakan aku lulus, ya… Kau sendiri bagaimana?” Kho Ping balik bertanya.

“Entahlah… sepertinya aku akan meneruskan usaha ayahku membuat keramik. Aku sudah belajar cara membuat keramik yang baik. Kuharap aku bisa mewarisi keahlian dan nama besarnya…”

“Semoga kau sukses. Aku yakin kau bahkan bisa melebihi ayahmu jika bekerja dan belajar lebih keras. Tapi jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan, ya… Aku tak ingin mendengar kabar kau jatuh sakit karena terlalu memforsir diri membuat keramik.”

Fei Lung jadi tersipu oleh perhatian Kho Ping. Tak banyak yang memperhatikannya hingga sedemikian rupa, sehingga di mata Fei Lung, Kho Ping adalah sosok yang memiliki kebaikan hati yang sempurna.

Malam itu, Kho Ping menginap di rumah Fei Lung. Ia tidur di ruang tengah setelah beberapa jam menghabiskan waktu minum teh bersama Lin Xiang Ru. Keesokan paginya, Kho Ping bersiap untuk pulang ke kampung halamannya yang berjarak sekitar seratus mil ke selatan.

“Sampai jumpa lagi di sekolah, Fei Lung. Aku pasti tak sabar untuk segera bertemu kembali,” pamit Kho Ping sebelum pergi meninggalkan Fei Lung.

“Tentu saja! Aku berharap segera dapat mendengar dongeng-dongengmu yang terbaru. Ceritakan yang lebih hebat lagi, ya!” kata Fei Lung sambil tersenyum lebar.

Namun tiba-tiba saja, Kho Ping mengeluarkan sepucuk surat dari balik mantelnya. “Fei Lung, sebenarnya tujuanku kemari adalah menyampaikan surat ini. Ini surat dariku. Ada beberapa hal yang membuatku merasa lebih nyaman jika kusampaikan melalui surat. Maafkan aku, semoga kau tak keberatan. Bukalah nanti. Namun sebelum kau membacanya, aku minta maaf kepadamu. Semoga kau memaafkanku.”

Fei Lung agak terkejut menerima surat dari Kho Ping. Terutama dengan sikap Kho Ping yang tiba-tiba menjadi begitu serius. Ia pun tak mengerti mengapa Kho Ping menyampaikan kata maaf berkali-kali. Setelah menerima surat itu, mereka pun saling berpisah dan melambaikan tangan.

Sesegera setelah Kho Ping menghilang dari pandangan, Fei Lung membuka surat yang tersegel rapi. Tampaklah tulisan indah Kho Ping tersemat di atas kertas merang yang sedang dipegangnya.

Maafkan aku, jika aku menjadi lancang terhadapmu, Fei Lung… Tapi aku tak dapat membiarkan diriku sendiri terus menerus tak jujur pada perasaanku sendiri. Maka kuputuskan untuk mengatakannya padamu setelah memikirkan ini beribu-ribu kali sebelumnya. Terpaksa melalui surat ini karena aku terlalu pemalu untuk menyampaikannya langsung di hadapanmu.

Fei Lung, aku mencintaimu… Sungguh aku mencintaimu… Dan yang hanya dapat kukatakan selanjutnya adalah, maukah kau menjadi pendampingku kelak setelah kita lulus dan aku mendapat pekerjaan? Aku yakin aku akan segera mendapatkan pekerjaan dengan pengaruh jabatan ayahku. Yang kupikirkan saat ini, aku hanya ingin hidup bahagia bersamamu. 

Semoga kau masih memiliki kebaikan hati dengan segera menjawab suratku — apapun jawabannya. Aku akan mencoba untuk senantiasa tegar, matahariku… 

Kho Ping

Fei Lung terhenyak setelah membaca surat itu. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Kho Ping menyimpan perasaan cinta di hatinya. Sejauh prasangkanya, Kho Ping adalah sekedar sebagai sahabat yang baik baginya. Kini, mau tak mau, hatinya dilanda kebimbangan. Terlebih, beberapa minggu yang lalu, ayahnya mengajukan seorang kerabat jauh sebagai calon suaminya. Fei Lung sangat mencintai ayahnya dan senantiasa patuh. Ia bahkan seringkali rela mengabaikan perasaannya sendiri demi kebahagiaan ayahnya. Bahkan jika ayahnya memintanya menikah dengan seseorang yang telah dipilihkan untuknya, barangkali Fei Lung pun takkan merasa terlalu keberatan. Namun kini, hatinya benar-benar diliputi kebimbangan. Ia masih belum memiliki keyakinan hendak memberikan menjawab apa pada Kho Ping.

Bersambung………..

Pilihan

Satu-satunya uang yang tersisa di dompetku hanya selembar dua puluh ribu rupiah, sementara aku harus bertahan hidup hingga delapan hari ke depan, saat gajian tiba. Sekarang perutku sangat keroncongan. Seharian ini hanya terisi sebungkus indomie tanpa tambahan lauk apapun, yang kusantap pagi tadi. Sungguh, mau mati saja rasanya! Tapi om di hadapanku ini terus saja menggodaku, mendesakku, menyudutkan keadaanku yang tragis.

“Sudah, ayo ikut saja… Nanti aku kasih uang. Pokoknya enak deh! Kamu lapar, to? Belum makan? Nanti kita cari makan yang enak… Yang penting kamu ikut aku…”

“Mmm…. tapi om, saya nggak biasa gituan… Saya…. saya nggak pernah gituan…”

“Kalau kamu nggak mau gituan, trus ngapain kamu bengong disini, heh? Jangan sok bego deh! Memangnya kamu nggak tahu kalau disini tempat mangkalnya bencong-bencong??!”

“Tapi saya kan bukan bencong, Om…”

“Hahahaa…. Maka itu aku suka sama kamu…” katanya sambil mengerling nakal padaku.

Sebenarnya apa dikatakan om tambun setengah tua itu tidaklah salah. Aku pun telah mendengar bahwa taman kota ini sering digunakan sebagai tempat mangkal waria ataupun perek-perek untuk mencari mangsa. Tapi entah mengapa, kakiku justru melangkah menuju kemari. Mungkin alam bawah sadarku yang menggiringnya. Atau bisa jadi karena hanya tempat ini satu-satunya yang paling dekat dengan salon tempatku bekerja. Aku lelah. Aku merasa parah. Akalku terasa berdarah. Aku tak tahu lagi harus bagaimana untuk menyiasati hidup yang sedemikian keras dan tak berpihak. Sepanjang tapak-tapak kakiku melangkah, aku telah meneteskan bulir-bulir airmata yang kurasa sia-sia. Remang lampu jalanan ataupun rembulan di kejauhan hanya sekedar sanggup memandangku prihatin – atau barangkali mereka malah menertawakanku sinis ataupun diam-diam.

Sudah dua bulan aku menginjak kota keparat ini. Kota yang kata orang-orang menjanjikan masa depan gemilang. Ah, aku jadi ingat perkataan Aryo, sahabatku, yang berapi-api. “Sayang sekali kalau orang yang memiliki potensi besar seperti kamu terkubur sia-sia di kota mati. Kamu harus punya keberanian. Melanglanglah mencari petualangan, menambah bekalku untuk berkehidupan di masa depan. Kamu ingin menjadi besar, bukan? Maka pergilah dulu ke kota besar. Barangkali kamu bisa coba ke Surabaya. Aku yakin, kalau kamu mampu menundukkan kota itu, jalan menuju kesuksesanmu akan terbentang lebih lebar.”

Meski saat ini keadaanku serasa berada di tengah pertarungan hidup dan mati, tapi aku tak juga menyalahkan Aryo yang kupikir turut andil mengomporiku untuk pada akhirnya menjejakkan kaki di kota metropolitan ini. Barangkali dia benar, bahwa kota ini memang menjanjikan. Tapi dengan konsekuensi yang gila-gilaan seperti ini, rasanya aku tak lagi punya tenaga untuk melanjutkan pertarungan. Mungkin piala kebesaran itu adalah pintu kesuksesanku. Aku benar-benar ingin menjadi seorang stylish hebat yang terkenal. Sukur-sukur jika suatu saat nanti aku mampu membuka salon, pun memiliki pelanggan orang-orang besar. Ah, betapa indahnya impian itu… Tapi sungguh, aku sudah merasa sekarat di seperempat perjalanan menuju kemenangan. Barangkali aku akan mati…

“Kalau kamu nggak pernah gituan, nanti aku ajarin gituan, deh… Nanti kamu pasti ketagihan…” Bisik om yang tak jua beranjak menjauhiku. Ia semakin mendekat padaku, semakin gigih menanti keputusanku. Entah, apa yang membuatnya begitu yakin. Mungkin benaknya sudah membayangkan yang bukan-bukan…

Andai saja aku dapat mengais ceruk muara airmata, mungkin saat ini akan kutumpahkan semuanya. Kuhabiskan saja penanda kesedihan itu supaya tak lagi ada airmata di kemudian hari. Tapi siapa pula yang sudi menyodorkan tisu untukku? Siapa pula yang mau menyediakan bahu untuk menyandarkan keluh kesahku? Tak ada siapapun disini selain om-om yang gerak geriknya semakin mengkhawatirkan ini. Tak ada teman, tak juga saudara.

Ah, aku jadi teringat pada ibuku. Sebulan sebelum merantau, kami sudah saling beradu mulut. “Pokoknya kamu tak boleh ke Surabaya! Jadi anak tak usah macam-macam. Apa jadinya nanti kalau kamu disana? Kalau cuma sekedar uang yang kau cari, disini pun tak kurang-kurang. Bapak ibumu tak menuntut apapun darimu selain ketenangan kami melihatmu hidup tenang!” kata ibuku dengan urat menegang. Tapi waktu itu aku masih memiliki segunung nyali dan keberanian untuk menentang larangan orang tuaku. “Aku hanya ingin cari pengalaman, Bu… Percayalah kalau aku akan baik-baik saja di sana,” tukasku gigih.

Kadang aku bertanya-tanya dalam diri, apakah semua penderitaanku disini disebabkan karena tiadanya restu dari orang tua? Sebenarnya tampak konyol jika aku mempercayai mitos macam itu karena aku sama sekali tak dapat menarik hubungan yang berkaitan di antara kedua hal tersebut. Tentu saja aku lebih meyakini bahwa penyebab penderitaan dan kelelahanku saat ini dikarenakan salon tak tahu diri itu hanya menggajiku empat ratus ribu rupiah sebulan dengan alasan bahwa aku masih dalam tahap training. Namun sungguh gila siapapun yang dapat bertahan dengan uang sekecil itu di kota sebesar ini.

Kendati demikian, saat kurasakan hidupku sedemikian susah di sini, tak sedikit pun keceritakan pada keluarga di rumah mengenai penderitaanku. Kalau aku berkeluh kesah pada mereka, maka mereka pasti akan memperolokku dan semakin getol untuk menyuruhku menyudahi petualanganku, pulang ke rumah dan mengambil pekerjaan yang damai di dekat rumah. Namun kurasa untuk sementara ini bukan hal itu yang kuinginkan. Aku masih enggan pulang ke rumah. Dahagaku pada petualangan masih belum terpuaskan. Rasa penasaranku pada dunia baru yang lebih luas masih belum terpenuhi sempurna. Pada kepulanganku mengunjungi ibu kemarin, hanya kukatakan yang baik-baik saja mengenai apapun yang ada di sini. Bahkan sebagian kukarang-karang sendiri. Namun sepertinya ibuku dapat merasakan kegundahanku meski tak sempat terkatakan. Saat aku berkemas untuk kembali, ibu berniat memberiku uang saku sebesar seratus ribu. Namun dengan berkeras hati kutolak kebaikan ibu. Kukatakan bahwa uangku masih mencukupi dan aku akan baik-baik saja. Tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa sesungguhnya seluruh uang yang tersisa yang kupunya hanya sebesar empat puluh ribu rupiah saja.

“Wah, mikirnya jangan kelamaan, dong… Nanti keburu penuh tempatnya… Kalau semakin malam susah nyari tempat…” Suara bariton om berambut klimis itu membuyarkan lamunanku. Sesaat aku masih diliputi kebimbangan. Tapi ketika mengingat kembali kenestapaanku, juga perutku yang melilit, maka sepertinya aku harus segera mengambil keputusan yang menyelamatkan. Aku semakin lelah.

“Mmm…. tapi nanti saya diantar pulang ya, Om….”

Senyum pria keladi itu pun terbit, bahkan lebih lebar dari panjang bulan sabit. Aku segera beranjak dari bangku taman yang sedari tadi menemani perenunganku, kemudian segera masuk dan duduk di jok depan sebuah Avanza hitam milik om tak dikenal itu. Jantungku berdegup keras, tak sabar membayangkan mimpi buruk macam apa yang akan terjadi padaku. Telapak tanganku terasa dingin dan berkeringat. Sementara mobil melaju ke arah timur, aku berusaha keras menghapus bayangan Bapak, Ibu, saudara-saudaraku, ataupun Aryo dalam benakku yang sedari tadi rajin melintas-lintas. Kupikir ada baiknya jika aku mencoba berbaik-baik dengan pria asing di sampingku ini, atau sekedar mencairkan suasana supaya tak sebeku hatiku. Hati kecilku masih berharap adanya sebuah keberuntungan yang menyelamatkanku…

Kami sampai di sebuah losmen kecil bersuasana muram. Terlihat beberapa pasangan kencan hilir mudik keluar masuk. Sepertinya losmen ini cukup laris meski penampilannya tampak tak menjanjikan keindahan sama sekali. Kami terkungkung di sebuah kamar sempit berbau apek, dengan penerangan temaram.

Pria itu membuka bungkusan kresek hitam berisi beberapa botol; Topi Miring, Mansion, dan Bintang, yang tadi sempat kami beli di tengah perjalanan. Ia meletakkannya di meja samping ranjang, di sebelah sebuah cerek berisi air putih dan dua gelas bersih yang telah disediakan pihak losmen. Ia mengambil gelas dan menuangkan minumannya, memberikannya padaku, tapi aku menolak. Aku tak terbiasa minum minuman keras. Akhirnya pria itu minum sendirian sembari menanyaiku macam-macam dan bercerita apa saja. Kurasa lebih baik aku meladeni pembicaraannya supaya niatnya teralihkan. Ia memang sempat beberapa kali memaksaku, tapi sebisa mungkin kutolak dengan halus supaya ia tak mengasariku.

“Ayolah….”

Sebenarnya, kalau boleh jujur, kuakui bahwa sempat pula terbersit hasrat untuk mencoba-coba. Kurasakan hormonku pun mengalir deras. Ada yang berdenyut-denyut dalam diriku. Andai itu pembuluh darah, barangkali tak lama lagi akan pecah, menghamburkan aliran nafsu yang menguasai diriku.

“Ayolah…”

Nyaris saja aku tak tahan, mempersetankan segala ingatan. Namun nyatanya akal sehatku masih membelenggu. Sungguh, ketakutanku jauh lebih besar daripada sekedar nyali petualanganku. Bayangan ayah ibuku berkelebat-kelebat. Juga bayangan guru-guruku di pondok pesantren tempatku belajar semasa kecil. Juga bayangan wajah penyakit-penyakit yang menjijikkan. Juga bayangan malaikat yang menghujamkan penanya dalam buku dosa milikku. Sungguh, ketakutanku masih jauh lebih besar daripada hasratku menuruti nafsu.

“Ayolah….”

Dengan susah payah, aku berusaha sekeras mungkin mengendalikan diri. Mengendalikan pria mabuk tak dikenal di hadapanku, yang hingga dapat kurasakan hembusan nafasnya semakin memburu. Juga mengendalikan diriku sendiri. Aku takut untuk terjerumus, meski pemikiran ini terdengar begitu naif kali ini.

Malam semakin larut, kulihat jarum di jam tanganku menunjukkan pukul dua dini hari. Pria itu semakin mabuk. Ocehannya semakin limbung dan menceracau. Aku senang karena sejauh ini kami tak jua melakukan apa-apa selain sekedar mengobrol, atau ia yang merayuku habis-habisan.

“Om, sudah hampir pagi nih… Antarkan saya pulang dong, Om… Besok saya harus kerja… Nanti saya dimarahi bos kalau telat….” Dengan takut-takut, aku mencoba merayunya. Kuperhalus nada suaraku supaya ia menaruh iba padaku.

Benar-benar mukjizat bahwa pria itu akhirnya luluh dan bersedia keluar dari losmen itu. Kami berlalu, meninggalkan jejak-jejak ganjil kami di sana. Menembus remang-remang malam kota Surabaya, hatiku terasa syahdu. Entah, apakah aku harus bersedih atau bergembira, jiwaku seperti telah kehilangan arah. Sementara itu, pria tersebut memutuskan untuk menurunkanku di pertigaan jalan yang tak terlalu jauh dari mess asramaku. Dengan tergesa, ia memberiku tiga puluh ribu rupiah — yang ia selipkan dalam kantong celanaku.

“Maaf, hanya segitu yang bisa saya kasih… Kamu baik-baik, ya… Kapan-kapan kita ketemu lagi,” ujarnya dengan nada suara limbung karena efek minuman keras. Kemudian ia berlalu begitu saja.

***

Aku tak bisa tidur. Kulihat beberapa kawan yang juga tinggal di mess asrama pun belum tidur. Mereka memilih mencumbui gitar tuanya yang mengalunkan lagu-lagu sendu, sementara yang lainnya mengobrol ringan atau sekedar melamun bersama hembusan asap rokok. Sementara ruang kamarku terasa begitu penuh, begitu sesak, begitu memuakkan. Kamar sesempit itu harus dihuni oleh lima orang yang memiliki kebiasaan tidur tak tahu aturan. Melihat tabiat mereka saja sudah membuat stresku bertambah-tambah. Akhirnya kuhabiskan sisa hari itu dengan bermain-main laptop dua belas inch-ku, satu-satunya harta berharga yang kupunya dan selalu kubawa kemana-mana.

Sudah pukul delapan pagi, sudah waktunya berangkat ke tempat kerja. Tak membutuhkan waktu lama bagiku untuk bersiap-siap setelah menyantap sebungkus mie instan yang kumasak dengan heater yang kubawa dari kampung halaman. Perjalanan menuju tempat kerja harus kutempuh dengan menggunakan satu angkutan umum sejenis mikrolet. Pada pagi hari, jalanan kota Surabaya sangat hiruk pikuk. Kemacetan terjadi disana-sini. Angkutan umum macam bis yang besar-besar pun penuh sesak. Namun untunglah aku menemukan angkutan mikrolet ke arah tempat kerjaku yang masih lowong. Setidaknya aku gembira karena bisa leluasa duduk, tak berhimpit-himpitan seperti biasanya.

Biasanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di tempat kerjaku yang terletak di salah satu mall besar, di lantai empat, tepatnya. Tak ada yang menarik hatiku di sepanjang perjalanan. Pikiranku justru lebih disibukkan oleh khayalan dan ingatan pada segala hal. Selebihnya, aku hanya sekedar mengeja rasa lelah yang kian mendera. Aku tak tahu sampai kapan sanggup bertahan. Kelelahan ini makin lama akan dapat membuatku semakin lengah.

Kelengahan pertamaku – sekaligus kelengahan yang paling fatal adalah meninggalkan laptopku di kursi angkutan umum yang tadi kutumpangi. Aku baru sadar setelah turun, selang beberapa jam ketika aku berniat membuka laptop karena ada hal yang ingin kucari. Saat menyadari kebodohanku, badanku langsung terasa lemas. Bahkan kupikir kakiku tak lagi dapat menyangga tubuhku. Seharian itu aku histeris. Aku menangis. Sungguh, aku menangis bahkan di hadapan teman-temanku, juga di hadapan atasanku sendiri. Aku tak lagi peduli. Seluruh dunia harus tahu kemalanganku, tragisnya nasibku. Ingin rasanya aku merutuki dunia seharian, kalau perlu berbulan-bulan, karena hidup telah sangat tak adil padaku. Apa salahku hingga ditimpa kemalangan senaas ini?

Aku tak lagi dapat konsentrasi bekerja. Beberapa tamu mengeluh karena kepanasan saat aku mem-blow rambut mereka. Juga ada yang mengeluh karena pijatanku sama sekali tak terasa nyaman. Juga ada yang mengeluh karena hasil kerjaku membubuhkan kuteks berantakan. Padahal biasanya akulah yang paling dapat diandalkan di antara kawan-kawan training seangkatan.

Meski tergolong baru, namun akulah satu-satunya pemecah rekor yang lekas mendapatkan pelanggan. Banyak tamu yang lebih senang memilihku. Mungkin karena kecakapan hasil kerjaku, kecakapan pelayananku, atau barangkali juga karena kacakapan wajahku. Setidaknya, itulah yang dikatakan beberapa orang mengenaiku. Tak heran jika banyak pegawai yang mendengki padaku. Tapi yang paling kuingat jeas adalah perlakuan sinis Amanda, seorang seniorku, padaku. Ia benar-benar terang-terangan mendengki padaku.

“Heh, kamu anak baru kok udah banyak pelanggannya sih! Kita yang udah lama aja baru punya pelanggan segelintir. Kamu pasti pasang susuk di bibirmu, ya. Makanya jadi pinter ngomong… Sini, aku periksa bibir kamu!” ujarnya ketus sembari tanpa tedeng aling-aling mencengkram rahangku dan menarik-narik ujung bibirku. Ia melakukannya dengan rasa gemas, seolah berhasrat untuk menamparku dan melemparkanku dari tingkat tertinggi gedung ini. Aku benar-benar tak berdaya, meringkuk dalam kepasrahan. Bibirku kelu sekedar untuk membalas cemoohan mereka. Kadang tak segan mereka mendorong tubuhku saat mereka melewatiku, hingga aku nyaris terjatuh. Tapi kemudian mereka malah memarahiku dengan dalih aku yang tak becus berjalan atau menempatkan diri. Nah, kira-kira, siapa yang mampu bertahan dengan suasana demikian? Sejauh ini aku mencoba untuk bersabar, terus-menerus mengulang tujuan dan tekadku untuk menggali ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Sekeras mungkin kucoba untuk mengabaikan segala hal yang menyakitiku. Kuhimpun seluruh konsentrasiku hanya untuk pekerjaan.

Namun selama beberapa hari ini, aku tak lagi sanggup memasang wajah ramah pada siapapun. Kesupelanku, satu-satunya yang menjadi asetku, tiba-tiba menghilang begitu saja. Laptop hasil jerih payahku berbulan-bulan saat aku bekerja di kampung halaman itu terngiang-ngiang di benak.

Karena sikapku yang semakin lama semakin tak dapat ditolerir, akhirnya atasanku pun memanggilku, bermaksud memperingatkanku.

“Adakalanya manusia tertimpa musibah, juga merasakan kesedihan. Itu wajar, siapapun pasti pernah mengalaminya. Tapi saya berharap, kamu bisa profesional bekerja. Akhir-akhir ini kamu sangat mengecewakan, Jo…”

Sejenak aku mencoba meresapi lamat-lamat suara atasanku yang ia ucapkan dengan nada keras dan dingin. Bukannya merasa takut, tapi aku justru muak. Aku benci dengan caranya mengeksploitasiku. Aku benci tempat kerjaku ini.

“Maaf… Saya sedang sedih sekarang… Saya tak bisa mengendalikan perasaan saya… Sebenarnya saya tak ingin mengecewakan. Tapi apa daya, saya tak bisa… Mungkin lebih baik saya mundur saja… Saya mau berhenti dan pulang ke kampung halaman…”

Entah, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Seolah hatiku lah yang mengatakannya sementara akal pikiranku sibuk di tempat yang lain. Tapi kalau kupikir-pikir, mungkin keputusan yang kuambil ini adalah sebuah langkah tepat. Inilah waktu yang kutunggu-tunggu, menyudahi semua kesengsaraan.

Semula atasanku merasa keberatan dengan keputusanku. Sedapat mungkin ia membujukku supaya aku menangguhkan niatku. Namun kurasa keputusanku tidaklah salah. Tekadku telah bulat. Aku bersikukuh untuk mengundurkan diri. Aku tak mau lagi memperpanjang kepedihan hidupku. Namun demi menghentikan agresi atasanku yang membombardirku dengan segala bujuk rayu, terpaksa kukeluarkan jurus airmata dan ratap pilu di hadapannya supaya ia tak lagi memberatiku. Sandiwaraku berhasil.

“Ya sudah. Apa boleh buat… Kalau maumu begitu, ya terserah saja. Saya bingung musti ngomong apa lagi sama kamu yang keras kepala…” katanya putus asa.

Satu-satunya yang menjadi masalah besar adalah, mereka menahan ijasahku. Dengan liciknya, mereka telah mengikatku dengan kontrak yang menyudutkan. Sebelum masa kontrak yang dua tahun itu habis, maka aku harus menebus ijasah dengan sekian juta rupiah. Ini benar-benar gila! Jangankan satu juta, bahkan seratus ribu pun saat ini aku tak punya… Bahkan membeli sebungkus nasi ayam lalapan saja aku tak bisa… Tapi aku telah terlanjur berucap. Satu-satunya akal warasku mengatakan bahwa aku harus segera mencari pekerjaan baru dan mendapatkan uang untuk menebus ijasahku.

***

Mereka memberiku waktu sisa satu hari untuk tinggal di mess asrama sebelum mengusirku. Aku harus segera mengatur strategi. Pekerjaan baru, satu-satunya yang berkecamuk di kepalaku. Kuniatkan pagi-pagi buta untuk bergerilya, mencari salon-salon yang membutuhkan karyawan baru tanpa memerlukan ijasah. Apapun yang terjadi, aku harus segera mendapatkannya. Kalau perlu, aku akan berjalan kaki menyisir tiap-tiap ruas jalan di kota Surabaya. Aku sudah tak lagi peduli dengan apapun macam pekerjaannya, yang penting mendapatkan uang dan sekedar tempat tinggal. Aku pun tak lagi memikirkan laptopku yang hilang. Mengingatnya hanya membuatku berlinangan air mata.

Langkahku terhenti di sebuah ruko mungil di kawasan Pucang Anom. Sebuah salon yang memasang papan ‘dibutuhkan karyawan salon’. Tanpa ragu, kumasuki bangunan bercat kuning tua itu. Sejenak aku merasa canggung karena kupikir penampilanku tak lagi menjanjikan. Namun sejenak hawa dingin AC yang kurasakan menyejukkan diriku, menenangkan hatiku. Kuamati sosok-sosok yang berada dalamnya. Ada beberapa tamu; wanita-wanita setengah baya dari etnis Tionghoa, beberapa laki-laki dengan gaya perlente. Sementara para pegawai salon yang terlihat, nyaris sebagian besar adalah para waria. Wanita setengah pria dengan pembawaan gemulai, dengan dandanan yang aduhai.

“Saya mau melamar kerja….” Kusampaikan niatku dengan tutur kata dan sikap sesopan mungkin di hadapan seorang waria berkulit putih semampai yang berdiri di balik meja kasir.

Sejenak ia tertegun melihatku. Tak beberapa lama, kemudian ia menyunggingkan senyum lebarnya. “Sudah pernah kerja di salon?” tanyanya dengan nada sedikit genit.
“Sudah.”
“Bisa apa aja?”
“Apa saja bisa… Tapi mungkin tak terlalu ahli… Tapi saya cepat belajar…”
“Ouch… okee! Mari ikut eike ketemu bos, ya…”

Aku mengikuti arah langkahnya masuk ke bagian dalam, menjajaki lantai dua, kemudian masuk di sebuah ruangan luas yang mirip dengan ruang fitting karena terdapat begitu banyak kostum yang berjajar di rak yang mengelilingi sepanjang sisi dinding ruangan. Kulihat seorang perempuan berambut panjang dan pirang dengan celana jeans yang demikian pas di tubuh langsingnya sedang sibuk mencatat sesuatu dalam buku tulisnya. Kemudian ia memeriksa kostum-kostum yang berserakan di sekitarnya. Waria penjaga kasir itu mendekatinya, mengatakan padanya tentang keberadaanku. Perempuan itu beralih dari aktivitasnya, menoleh padaku, dan sesaat melempar senyum kecil yang disertai dengan sorot mata ramah. Sejenak aku terpaku oleh kecantikannya. Namun kian lama memandanginya, aku jadi mulai meragukan keperempuanannya. Mungkin dia bukan benar-benar perempuan… dan mungkin memang benar demikian…

***

Tak terasa, sudah lima bulan berlalu sejak hari pertamaku bekerja. Dan jujur saja, aku merasa jauh lebih dapat menikmati hidupku disini ketimbang di tempat kerjaku dulu. Banyak sekali perbedaan yang kurasakan. Mulai dari penghasilan yang amat jauh berbeda, hingga kebebasan berkreativitas yang bagiku adalah segalanya. Aku tak suka menjadi terkekang. Aku pun selalu butuh media untuk terus mengasah kreativitasku. Di tempat baru ini, aku merasa nyaman dan bebas menjadi diri sendiri, mengeluarkan sisi-sisi lain dari diriku tanpa merasa canggung lagi. Seluruh potensi positifku terasah sempurna, dan hal ini pun cukup menguntungkan tempat kerjaku. Salon semakin ramai. Beberapa tamu bahkan telah menjadi pelanggan fanatikku. Setiap kali datang, mereka hanya mau padaku. Di samping itu, kawan-kawan kerjaku pun cukup menyenangkan meski awal mulanya bersikap sedikit sinis padaku. Kudekati mereka perlahan-lahan, akhirnya lumer juga hatinya. Bahkan mereka pun terpacu untuk berlomba menggali kreativitas dan ilmu-ilmu baru setelah melihatku yang cukup rajin, cukup banyak tahu, pun cukup banyak mendapat bonus bulanan. Aku bahagia jika keberadaanku membawa manfaat positif untuk sekitarku.

Namun satu hal yang sangat membanggakanku; beberapa minggu yang lalu, aku menyabet gelar juara satu dalam sebuah lomba di ajang road-show waria tingkat propinsi. Menurut juri, selain cantik, aku juga kreatif. Mereka terkesima dengan pertunjukan teater monolog multi-karakter yang kupersembahkan. Hanya butuh waktu satu minggu untuk mempersiapkan konsep dan pengerjaan kostum sekaligus narasi, dan jerih payahku membuahkan hasil yang memuaskan. Semuanya bangga padaku.

Nah, andai kau hendak mencariku untuk menggunakan jasaku atau sekedar mengobrol ringan denganku, maka kau dapat menjumpaiku di salah satu sudut ruang salon, di sebuah ruko kawasan Pucang Anom, Surabaya. Aku selalu sibuk di sana. Namun jangan lagi kau mencari nama Johan, karena kini aku telah menggantinya – atau barangkali hendak melupakannya. Carilah Joanna, waria tercantik di salon itu, yang juga akan memukau penglihatanmu. ***

 

Agustus 2012

Bintang di Surga

Namaku Anjali Bintari. Ah, masa tak mengenalku? Betapa engkau terkurung dalam tempurung jika benar-benar tak pernah mengetahui atau mengenal sosok diriku yang kerap muncul di film-film nasional, sinetron ber-rating tinggi, atau iklan-iklan produk ternama. Aku ini seorang artis. Artis ternama. Artis papan atas. Artis yang takkan mudah tergeser oleh berondongan pendatang-pendatang baru yang lebih muda dan tak kalah cantik. Sebabnya, aku pun berwajah cantik, sekaligus berbakat. Multitalenta, demikian ungkapan orang-orang ketika menggambarkan kemampuanku. Eh, tapi bisa saja kau tak mengenalku meski aku telah mengakui beberapa kenyataan tentangku. Mungkin disebabkan karena nama yang kukatakan padamu sekarang adalah nama asliku yang sebelumnya tak pernah seorangpun tahu. Aku yakin kau takkan pernah menduga bahwa artis ini atau artis yang itu ternyata adalah aku. Yah… kau pasti takkan dapat menduganya. Aku yakin itu. Karena memang tak ada seorang pun yang mengenal, mengetahui, dan mengerti tentangku.

Kecuali dia. Namanya Damar. Lengkapnya Damar Pikatan. Lelaki yang bagiku adalah ‘kehidupan’ baru setahun setengah menginjak dunia gemerlap kota metropolitan. Juga baru menyentuh lika-liku hidupku selama setahun. Masih setahun. Tapi ia sudah menorehkan coretan warna yang sedemikian tajam dalam kanvas hidupku – bahkan paling tajam yang pernah kurasakan.

Akulah Anjali Bintari. Siapa pula yang tak mengenalku? Seluruh pejabat negeri ini, bahkan presiden sekalipun pasti akrab mendengar namaku. Maksudku nama bekenku. Aku bahkan pernah mewakili negeri ini dalam banyak pagelaran seni dan festival bergengsi di berbagai negara di dunia. Akulah sang dewi, sang primadona negeri. Mataku telah kebal dengan kilatan blitz. Telingaku terlampau akrab dengan tepuk tangan dan puja-puji. Bibirku hanya terus menerus mengatakan keinginan. Lidahku hanya melulu mencecap kenikmatan. Tubuhku senantiasa termanjakan kenyamanan. Bagiku, ketenaran adalah topeng terindah meski untuk memilikinya perlu menggadaikan seluruh ruang dalam hidupku. Apapun dan siapapun yang kutemui selalu memberikan apapun yang kuinginkan.

Kecuali dia. Namanya Damar. Nama lengkapnya Damar Pikatan. Lelaki tegap bermata elang itu tak pernah sedikitpun tunduk dalam kekuasaanku, melainkan akulah yang dengan sukses bertekuk lutut tanpa syarat di hadapannya, meringkuk lemah tak berdaya dalam dekapnya. Tapi kadang ia membiarkanku merana sendiri di sudut dunia, meratapi kekalahan dan kegagalanku yang menghunus pilu. Aku menjerit. Aku lelah. Aku lapar. Namun Damar sama sekali tak bergeming. Bayangannya masih terpaku di sekelilingku, hanya menatap nanar dengan tubuh angkuhnya yang tak gentar.

Dulu, jika tak sedang sibuk dengan parade pameran lukisannya atau tak sedang memerankan tokoh dalam pagelaran teaternya, ia akan lebih senang menghubungiku. Dengan kata manisnya yang singkat, ia akan memintaku datang ke sebuah kedai kopi kecil favorit yang mampu menyembunyikan identitas ketenaran kami. Biasanya aku akan segera bergegas, kadang tak lagi peduli dengan jadwal-jadwal bajingan yang mengikatku erat-erat. Sesampai di lorong pelataran kedai yang tersembunyi itu, aku akan berlari-lari kecil – sesekali merogoh parfum dan menyemprotkannya di beberapa bagian tubuhku, kemudian menemuinya dengan raut wajah berbinar-binar – setelah melepas kacamata hitam maupun syal kerudungku. Seperti biasa, Damar yang tak banyak kata akan tersenyum padaku, mengembangkan kedua lengannya demi menyambut segenap pelukku. Meski gemericik pancuran yang menjadi dekorasi kedai itu terdengar mendominasi, tapi aku masih dapat mendengar jelas suara baritonnya berbisik lirih di telingaku, ‘aku kangen kamu, Sayang….’

Dulu, jika tak sedang sibuk dengan jadwal syuting ataupun undangan acara-acara sosialita, aku akan lebih senang mengurung diri di apartemen, mempraktekkan resep-resep menu spesial, menata meja makan seromantis mungkin, menata tempat tidur seindah dan senyaman mungkin, juga menata segala sudut di ruangan yang telah kutinggali sendiri bertahun-tahun. Ketika bel pintu berbunyi, aku yang telah merasa cantik dan wangi akan berlari-lari kecil dengan wajah berbinar, kemudian membuka pintu. Sosok Damar yang terbungkus jaket kulit berdiri tegap dengan senyum menawan. Rambut ikalnya yang sepanjang bahu terurai dan tampak sedikit acak-acakan, namun kurasa ia justru semakin tampan. Cepat-cepat kuseret ia masuk sebelum menutup rapat pintu apartemen. Aku menghujaninya dengan seribu ciuman, menguncinya dengan sejuta pelukan. Selanjutnya, kami hanya menghabiskan waktu seharian dengan hal-hal yang menyenangkan. Juga menikmati sajian senja yang membuka panggung malam. Juga menikmati kerlip lampu berwarna-warni di kejauhan. Juga menikmati erangan perasaan yang sedang kasmaran.

Tapi kalau boleh kukatakan, sebenarnya ada beberapa hal yang membuatku sedikit galau. Pada akhirnya aku menemukan sebuah foto dalam dompetnya. Foto yang memperlihatkan dua anak seusia kurang dari lima tahun yang sedang memamerkan deretan giginya, tersenyum ceria dan tampak bahagia. ‘Siapa?’ tanyaku, memberondongnya. Damar tak langsung menjawabnya, melainkan segera mengambil foto dan dompet di tanganku kemudian menaruhnya kembali di atas laci meja samping tempat tidurku. Dengan penuh kelembutan, ia meraihku, mengecup pelipisku, memelukku tanpa hasrat. Kudengar hembusan nafasnya yang terasa berat.

“Itu… foto anak-anakku…” jawabnya lirih, namun seolah tanpa beban ketika membisikkannya di telingaku.

“Jadi… kau sudah punya anak? Kau punya istri? Dimana mereka?” Suaraku mulai terdengar parau, nyaris tersedak ketika memuntahkan pertanyaan-pertanyaan itu. Tubuhku serasa menegang, nyaris memutuskan semua urat-urat syarafku.

“Aku meninggalkan mereka…” jawab Damar datar. Ada jeda diam yang hambar sebelum ia meneruskan kata-katanya. “Sudah, jangan bicarakan itu lagi, ya… Yang penting saat ini aku bersamamu…” Dan ia tak lagi memberiku kesempatan untuk memperpanjang persoalan.

Aku mencintainya. Mencintai sepenuhnya tanpa syarat. Ia menjajah seluruh hatiku. Aku tak mau tahu lagi apapun tentangnya selain cinta dan kasih sayangnya kepadaku. Aku tak peduli pula dengan segala asal-usulnya dan kisah-kisah hitam putihnya. Bagiku, kehidupan dimulai ketika kami bersama. ‘Toh ia sudah cerai…’ demikian asumsiku, yang kemudian membuatku tenang, merasa nyaman. Kini keberadaannya adalah untukku. Damar adalah sinar terang bagi hidupku yang lorong-lorongnya temaram. Aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk menghadirkan sosok Damar yang masih misterius dan rahasia bagi duniaku.

Hingga sebuah tabloid mendarat manis di sudut mejaku. Hingga rumor yang semula bisik-bisik santer itu kemudian meledak menjadi gosip dan konsumsi hangat tayangan-tayangan infotainment televisi. Hingga saat itulah kurasakan musibah yang meluluhlantakkan hidupku – tanpa seorangpun tahu.

‘Artis senior xxxxxxxxxxxx yang popularitasnya sedang meroket berkat kesuksesannya dalam film terbarunya xxxxxxxxxxx ternyata tak luput dari masalah berkat beredar foto-foto mesum di dunia maya yang diduga dirinya bersama seorang pejabat ternama. Foto-foto yang telah beredar luas tersebut sejauh ini masih diteliti pakar telematika untuk mengetahui keasliannya. Namun karena permasalahan ini, xxxxxxxx terancam dicopot dari jabatannya. ……………………….. (sch)

Kulempar tabloid ketiga puluh yang mengabarkan berita busuk tentangku yang kuterima sepanjang seminggu yang kelabu. Kumatikan televisi itu. Kubunuh juga dering ponselku. Kuhidupkan sunyi hingga tangisku menguasai sepi. Aku terisak. Merasa sendiri. Ingin segera mengakhiri. Namun hanya sosok Damar yang berkelebat di hati. Apa yang bisa kulakukan? Dengan jiwaku yang sekarat, bahkan menghubungi nomor ponsel Damar pun adalah sebuah kesalahan. Keputusan yang terangkai dalam penuturan suratnya beberapa hari lalu lalu masih terngiang jelas di benak. Apa yang bisa kulakukan? Apa lagi yang bisa kulakukan, Jahanam!!!

Aku takkan munafik bahwa aku sayang kamu. Aku cinta kamu, Anjali. Tapi kuharap kau dapat mengerti bahwa kita tak bisa bersama. Dunia kita berbeda. Meski aku bisa mendekap tubuhmu, tapi aku tak sanggup merengkuh duniamu, hidupmu. Aku sama sekali tak membicarakan atau terpengaruh gosip yang sedang menerpamu. Bersabar dan tegarlah. Aku percaya kamu.

Hanya saja, kali ini aku harus jujur semata-mata karena aku sayang padamu. Aku akan pergi, Anjali. Pergi meninggalkan kota ini, meninggalkan kamu, juga mengakhiri percintaan kita. Aku akan kembali pada duniaku yang dulu, mencoba merakit kembali jalan yang benar bersama mereka yang telah kutinggalkan. Tak perlu kau tanya mengapa jika kau memang mencintaiku.

 Kau masih muda, punya segalanya, dan masih memiliki peluang untuk hidup bahagia. Pilihlah jalan yang mampu membahagiakanmu, karena aku membebaskanmu. Maafkan aku jika hal ini terjadi… Tapi sungguh, aku cinta kamu. Setelah aku pergi, kumohon untuk jangan pernah menghubungiku, ya… Kumohon dengan sangat… Jika kau benar-benar mencintaiku, maka berdoalah untuk perjalanan bahagia yang akan kutempuh di hari depan…

Selalu akan ada doa untukmu…

                                                                    Always love you,

 

                                                                  Damar Pikatan

Aku mengerang, aku meratap, aku mengamuk sejadi-jadinya. Gempa di tubuhku meledakkan amarahku. Genangan airmataku tak lagi berarti. Damar tak bergeming. Ia tetap pergi dengan hanya meninggalkan sisa kehangatan terakhir yang kemudian kuingat dengan keras. Kecupannya yang sempat kurasakan manis mulai terasa seperti menghunjam ulu hatiku, memuncratkan darah hidupku yang kini kuketahui telah menghitam.

Damar meninggalkanku tepat di saat lukaku sedang menganga lebar, saat kedua kaki semangatku patah, saat seluruh asa dan harapanku kandas menjadi arang. Ingin rasanya aku memohon pada bumi untuk menguburku dalam-dalam. Namun televisi dan perbincangan orang-orang terus membumbungku ke langit tertinggi. Mereka pikir aku akan baik-baik saja meski beberapa hari ke depan aku harus memenuhi panggilan polisi untuk penyidikan. Namun mereka tak pernah berpikir bahwa aku masihlah seorang Anjali Bintari yang menatap ilusi bayangan Damar, yang berpendar tak terjangkau bagai bintang di surga — sementara diri sendiri tersuruk mencium bumi, mencoba menyatu dengan tanah, merumuskan rasa bersalah, dan menyerah kalah.  ***

Masih ku merasa angkuh
Terbangkan anganku jauh
Langit kan menangkapku
Walau ku terjatuh

Dan bila semua tercipta
Hanya untukku merasakan
Semua yang tercipta
Hampa hidup terasa

Lelah tatapku mencari
hati untukku membagi
Menemani langkahku namun tak berarti

Dan bila semua tercipta
Tanpa harus ku merasakan
Cinta yang tersisa
Hampa hidup terasa

Bagai bintang di surga
Dan seluruh warna
Dan kasih yang setia
Dan cahaya nyata

Oh bintang di surga
Berikan cerita
Dan kasih yang setia
Dan cahaya nyata

 (Bintang di Surga – Peterpan)

Juli 2012

(dalam rangka meramaikan ajang menulis hore #cerpenpeterpan via @wira_panda)

Penjaga Kubur

Kira-kira, apa yang akan terjadi padamu jika selama beberapa hari berturut-turut berjumpa dengan seorang wanita cantik di sebuah pemakaman? Bukan sembarang wanita, karena kalau boleh kukatakan, ia mampu menggetarkan urat jantungmu.

Baiklah, aku akan memberitahumu apa yang sudah kulakukan saat kejadian itu berlangsung. Dengan segala kecerdikan dan kesempatan yang kupunya, aku menyamar menjadi tukang bersih-bersih kuburan! Profesi itu memang tak terlalu bagus meski sebenarnya memiliki nilai jasa yang tak bisa disepelekan. Namun jika tidak menggunakan cara ini, tentu saja aku takkan dapat lebih mendekati wanita cantik itu. Aku benar-benar cerdik, bukan?

Asal kau tahu, hatiku kerap berdebar-debar tiap berada di pemakaman yang letaknya persis di depan rumahku itu. Tapi jangan pula kau terheran-heran untuk apa aku ada di pemakaman itu, dan jangan pula asal menuduh bahwa aku rajin kesana hanya untuk menemui wanita cantik itu. Meski tampaknya aku tak dapat mengelak bahwa aku menjadi rajin memang karena wanita itu, namun sebenarnya tak semata-mata demi bertemu dengannya.

Makam ayahku berada di pemakaman itu. Sebagai satu-satunya anak lelaki, aku berkewajiban menjaga dan merawat makam beliau. Terutama demi menghibur ibuku, supaya hatinya senantiasa merasa tenang dan senang. Kesetiaan ibuku memang mengagumkan, meski kematian telah menggusur sebagian kebahagiaannya. Baginya, ayah sekedar pindah rumah, dan aku harus benar-benar menjadi pengurus rumah yang baik. Rumah ibuku yang masih hidup, dan juga rumah ayahku yang telah meninggal.

Sejak meninggalnya ayah lima belas tahun lalu, pohon kamboja dan deretan nisan-nisan itu menjadi sahabat terdekatku. Jika sedang gundah, atau merasa lelah, tak jarang aku bercakap-cakap dengan mereka sementara tangan-tanganku sibuk menyiangi rumput dan semak liar yang bertumbuhan di sekitar. Apa saja yang kupercakapkan? Biasanya lebih banyak keluhan hidup, selebihnya mengenai ketidakmengertian tentang apa saja. Rutinitas macam ini kulakukan dua minggu sekali. Nyaris menyaingi juru kunci yang kemudian merasa senang memiliki sekutu.

Namun kira-kira sejak empat bulan lalu, frekuensiku mengunjungi pemakaman itu semakin menggila. Pasalnya, tiba-tiba muncul sosok yang sebelumnya tak pernah kulihat, dan kemudian ia nyaris mengalahkan kerajinanku. Bukan saja soal begitu seringnya ia mengunjungi makam itu yang menyedot perhatianku, pun karena sosok itu adalah seorang wanita yang cantiknya luar biasa. Setidaknya menurut penilaian dan seleraku.

Memang banyak sosok-sosok asing yang kutemui sepanjang berada di pekuburan umum itu. Maklumlah, pekuburan itu tak hanya dipakai oleh warga yang tinggal di sekitar saja. Penduduk yang berdomisili lebih jauh pun dapat memilih pekuburan itu asalkan ‘harga’ terpenuhi. Akhir-akhir ini, lahan kuburan memang mulai menjadi problema. Saat lahan-lahan di tengah kota dan kawasan padat penduduk telah habis oleh pembangunan ruang-ruang yang lebih bernilai komersil, hanya lahan di wilayah kami lah yang masih memiliki beberapa jengkal tanah yang masih lowong beberapa petak.

Wanita semampai itu tampak perlente dengan gayanya yang anggun sekaligus mempesona penglihatanku. Kacamata hitam besarnya cukup berhasil mengelabui mendung yang bermuara dari kedua bola matanya. Namun aku dapat melihatnya dengan hatiku, bahwa ia menyimpan sebongkah kesenduan yang membiru.

Dari jarak yang tak terlalu mencolok perhatiannya, kulihat ia bersimpuh khusyuk di samping pusara yang lama tak terurus, namun masih memiliki nisan yang tegak lurus. Ia bersimpuh cukup lama disana. Kadang kulihat bibirnya gemetar, seolah ia sedang bercakap-cakap dengan nisan yang diam. Jika tidak, ia hanya menabur beberapa genggam kelopak bunga yang dibawanya atau sekedar meletakkan seikat kembang segar bertangkai di atas gundukan pusara. Ritualnya berlangsung sekitar tiga puluh menit, kemudian ia pergi begitu saja.

Dua hari kemudian ia datang lagi. Seperti hari pertama, seikat kembang yang masih segar menjadi buah tangan untuk sebuah pusara. Ia meletakkan ikatan indah itu dengan jemari putihnya yang lentik dan lemah gemulai. Dugaanku, ia adalah wanita ningrat jika bukan golongan kaya yang tak pernah bersentuhan dengan rumput dan tanah sepertiku. Penampilannya selalu terjaga, kecantikannya senantiasa tertata. Siapa yang takkan terpesona oleh auranya? Seperti kali ini, ia mengenakan gaun hijau tua sepanjang betis, sedang kerudungnya masih setia berwarna hitam. Tapi kali ini aku beruntung telah berhasil mencuri lihat paras wajahnya tanpa kacamata hitam besar itu – yakni saat ia sedang berusaha mengusap tetesan air mata yang sepertinya tak hendak ia tampakkan. Wow! Benar dugaanku, ia wanita yang teramat cantik, meski rona wajahnya terlihat pucat. Barangkali karena kulitnya demikian putih tak serasi dengan mendung yang sedang menjadi make-upnya.

Sementara ia duduk terpekur menghadap pusara, aku jadi merasa enggan untuk meninggalkan makam ayahku, padahal benar-benar sudah tak ada sebatang rumput pun yang tumbuh mengotori makam ayah. Tapi pintarnya aku, yang kemudian berpura-pura menggali dan mengorek tanah-tanah sekitar dengan jari-jari kasarku, seolah sedang menelusuri cikal bakal rumput liar supaya tak sempat mengakar.

Wanita itu tampak kerasan, tak kunjung beranjak hingga langit yang menggantung mendung menggugahnya untuk segera meninggalkan pemakaman itu. Namun sungguh sebuah kesempatan ketika akhirnya ia sempat menoleh padaku, dan olalaa… ia pun tersenyum manis, meski kecil saja. Refleks aku membalas senyumnya dengan tingkah sedikit kikuk. Dalam hati, aku berdoa supaya tak terlihat memalukan di matanya.

Jangan terkejut jika kemudian kukatakan bahwa wanita itu mengunjungi pemakaman nyaris setiap hari, dan ini sudah hari kelima. Tentu saja aku sudah mengetahui namanya. Ceritanya begini. Pada hari keempat, sewaktu ia hendak pulang, akhirnya perhatiannya pun tertumbuk padaku. Setelah sekian lama, memang baru kemarin ia memperhatikan keberadaanku. Tapi itu sungguh tak mengapa. Diperhatikan wanita cantik macam dia, meski harus menunggu demikian lama pun bukanlah masalah.

Saat itu, seperti biasa, aku membersihkan makam ayah yang sebetulnya sudah bersih. Namun demi terlihat tak dibuat-buat, aku pun bergeser ke tempat lain, membersihkan makam orang lain yang bersebelahan dengan makam ayahku. Sejenak ia memandangiku, barangkali sedikit tertarik dengan aktivitasku.

“Eh… maaf, apakah Anda yang berjaga di pemakaman ini? Saya sedang membutuhkan orang yang bersedia membersihkan makam itu,” katanya, seraya menunjuk pada pusara yang senantiasa diajaknya bercakap-cakap saban hari.

Aku tak segera menjawab karena terlampau kaget dengan keramahannya yang sekonyong-konyong. Tepatnya merasa gugup. Namun untunglah senyumku terbit secara refleks, mengimbangi kekikukanku yang tak tertolong. Aku benar-benar merasa malu padanya lantaran penampilanku yang tak dapat dikatakan bagus. Ia pasti menganggapku sebagai tukang bersih-bersih kuburan, karena selama ini tanganku pun tak pernah lepas dari sabit, sapu korek, dan rumput-rumput liar. Memikirkan dugaan ini, sebenarnya ada sedikit rasa gusar karena kurasa ia telah menganggap kedudukanku sedemikian rendah. Tidakkah ia dapat melihat pancaran auraku yang seharusnya terlihat jelas lebih berbobot daripada Mang Ujang, tukang bersih-bersih betulan yang hanya jebolan sekolah dasar? Tapi aku harus berpikir cepat dan segera bertindak. Kesempatan seperti ini nyaris seperti keajaiban. Sempat kupikir ia hanyalah seorang wanita cantik yang angkuh seperti kebanyakan. Namun lihat! Dia benar-benar menyapaku! Oke, tepatnya bukan menyapaku dengan cara ramah seperti yang kuimpikan, melainkan sekedar bertanya — apakah ada seseorang yang bersedia ia pekerjakan untuk merawat dan membersihkan makam yang dikunjunginya itu.

Kegeniusanku dalam berpikir cepat melahirkan tindakan yang sebenarnya di luar sangkaanku. Setelah membalas senyumnya seramah mungkin, aku rela merendahkan diri dengan mengatakan bahwa ia dapat mengandalkanku jika memang menghendakiku membersihkan makam yang dikunjunginya dengan teramat rajin itu.

“Terima kasih, ya…” katanya dengan ekspresi yang terlihat lega. Kemudian ia merogoh tas hitam perlentenya dan mengeluarkan selembar seratus ribu yang kemudian ia berikan padaku.

“Ah, jangan dulu, Neng… Saya masih belum melakukan apa-apa. Nanti saja kalau saya sudah terbukti bekerja. Kalau dikasih sekarang, saya jadi merasa tidak enak …” Dengan segala keramahtamahan dan kerendahatianku yang kubuat sedemikian mengagumkan, aku berupaya untuk menolak upah darinya.

“Baiklah, terima kasih, ya… Besok saya akan kemari lagi. Mmm.. barangkali akan setiap hari.” katanya sembari memasukkan kembali uangnya ke dalam tas. “Oh ya, ngomong-ngomong, siapa namamu?” Ah, akhirnya ia penasaran juga denganku.

“Riswan, Neng…” jawabku lirih.

“Riswan, apa kamu tinggal di dekat sini?”

“Rumah saya tepat di depan pemakaman ini, Neng… Itu, yang bercat hijau… Pasti kelihatan kalau dari gerbang pemakaman.” jawabku seraya menunjuk sopan ke arah posisi rumahku.

“Oh, ya… Saya pernah tahu. Kalau ada perlu apa-apa, boleh saya mencari kamu di rumahmu?”

“Silakan saja, Neng… Rumah saya selalu terbuka. Saya pun jarang kemana-mana.” Dalam hati, aku semakin girang mengetahui bahwa aku akan lebih sering bertemu dengannya, wanita cantik ini.
Tapi kemudian lekas aku teringat bahwa aku masih belum tahu perihal namanya. Padahal ini benar-benar sangat penting. “Maaf, kalau boleh tahu, Nama Neng siapa?” Tanyaku sedikit malu-malu.

“Nama saya Kemala.”

Kalau boleh kuungkapkan keherananku, aku tak habis pikir mengapa Kemala setiap hari mengunjungi makam itu. Sudah nyaris dua minggu, dan ia menunjukkan kesetiaan yang memukau pada makam itu. Sungguh aku merasa penasaran, ada apa di balik perilakunya yang menurutku berlebihan. Sepanjang pengetahuanku, tak ada peziarah yang serajin itu. Sumpah, benar-benar tidak ada! Bahkan banyak makam-makam yang sama sekali tak pernah diziarahi, terbengkalai dengan mengenaskan.

Dugaanku, Makam yang diziarahinya saban hari itu adalah makam seseorang yang dikasihinya, dicintainya. Barangkali suaminya, karena ia tak pernah mengajak siapapun. Ia duduk dan berdiri sendirian saja. Kadang aku merasa kasihan, seolah-olah melihatnya sedang tertekan.

Maka pada suatu hari, dengan setengah keberanian yang berhasil tersamarkan oleh sore yang redup, aku mendekatinya. Hasrat ingin tahu lebih banyak tentangnya mendesak-desak egoku.
“Maaf, Neng… kalau boleh tanya, makam siapakah ini? Kok rajin benar ziarahnya…” tanyaku pelan, sesopan mungkin, dengan harapan tak terlalu mengganggunya.

Ia mendongakkan kepala, kemudian menatapku sambil tersenyum, seolah-olah ia telah benar-benar mempersiapkan diri untuk pertanyaan macam ini. “Ini makam suami saya. Sudah meninggal enam tahun lalu.” Setelah itu, ia kembali melanjutkan doa-doanya. Aku tak lagi berani mengganggu, memilih berlalu dari hadapannya.

Namun sejak saat itu, perkenalan kami jadi sedikit lebih luwes. Tak melulu sekedar sapa kering dan senyum basi. Adakalanya dia mengajakku bercakap-cakap, menanyakan beberapa hal padaku, tentangku. Yang jelas ia mulai tahu bahwa aku bukan tukang bersih-bersih kuburan betulan. Tapi untunglah ia tak memecatku. Dengan kebaikan hatinya, ia tetap membiarkanku membersihkan makam itu secara rutin. Kadang ia memberiku uang. Namun ketika kutolak, ia mengancam tak membolehkanku membersihkan makam lagi. Jadi terpaksa kuterima saja. Yang penting hatinya merasa lega. Karena jujur saja, aku mulai lebih banyak memikirkannya. Bahkan yang lebih jujur lagi, aku pernah memimpikannya.

Namun suatu kali aku mendapat lebih banyak informasi tentangnya. Tak perlu kau banyak tanya kapan itu terjadi, namun yang jelas terdapat satu hari dimana kami dapat mengobrol lebih panjang dan lebih dekat.

“Wah… pasti suami Neng Kemala adalah seorang yang sangat baik, sampai-sampai Neng sedemikian rajin berziarah ke makamnya. Betapa beruntungnya beliau. Ah, cinta bahkan seringkali melebihi kematian,” komentarku pada suatu hari, dengan harapan dapat membesarkan hatinya. Namun tiba-tiba aku teringat ibuku. Kurasa ibu pun adalah seorang yang setia meski tak setiap hari mengunjungi makam ayah.
“Kalau boleh tahu, meninggalnya karena apa, Neng? Apa sakit keras?”

Sejenak ia terdiam. Sorot matanya menerawang, bersaing dengan daun-daun kamboja yang terbang tanpa tujuan. Perubahan ekspresi wajahnya ini membuatku jadi merasa salah tingkah. Jangan-jangan pertanyaanku membuka kembali balutan kesedihannya. Buru-buru aku mencoba menetralisir perasaannya yang barangkali sedang mengharu biru. Aku tak ingin melihatnya semakin terlarut dalam kesedihan.

“Setiap manusia pasti akan menjumpai kematian. Yang menjadi perbedaan, apakah ia menjumpai kematian dengan tangan kosong atau dengan genggaman yang penuh bekal. Saya yakin, suami Neng akan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.”

“Entahlah… Aku selalu berdoa semoga Tuhan memaafkannya. Ia mati karena sakit. Hati dan jiwanya yang sakit. Jika tidak begitu, ia tidak akan memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara tragis.”

Aku sempat terkesiap oleh penuturannya. Kucoba untuk tak lagi terlalu mengorek banyak hal tentang masalah yang sepertinya sangat sensitif baginya, namun rupanya malah ia sendiri yang kemudian membuka tabir kenangannya di hadapanku.

“Semua itu adalah karenaku. Karena cintanya padaku yang gila…” sambungnya kemudian, setelah kesenyapan melingkupi kami untuk sesaat. “Apakah kau ingin mendengar ceritaku lebih banyak, Riswan?”
Aku tak menjawab. Kupikir ia sedang tak hendak diinterogasi dengan cara yang bodoh. Namun aku yakin bahwa jiwanya sedang ingin melampiaskan, ingin dilegakan. Maka kubiarkan saja ia yang mulai bercerita padaku.

“Ia begitu cinta padaku. Cintanya sangat berlebihan. Ia memuaskan dirinya dengan siksa, tangis, dan ketakutanku. Aku takkan pernah lupa kejadian itu. Pengabdianku tak pernah sempurna di matanya. Terlebih kesetiaanku, yang menurutnya adalah kamuflase belaka. Puncaknya, ia menuduhku menduakan cintanya. Kemudian ia nyaris membunuhku, mencekikku, setelah beragam siksa yang bertubi-tubi. Syukurlah Tuhan menyelamatkanku sehingga aku berhasil lolos. Tapi ia tak tahan dengan kesendirian sekaligus rongrongan. Ia tak biasa tanpaku. Akhirnya ia memilih caranya sendiri melalui tali yang menggantung lehernya.”

Sesaat ia terdiam, seperti hendak menunggu sesuatu. Kulihat ia menghirup nafas yang nampaknya mengalir berat dalam saluran pernafasannya. Sungguh, apa yang diceritakannya padaku benar-benar mengejutkan. Sebuah drama kehidupan yang membuatku merinding. Benar-benar tak kusangka bahwa wanita secantik dia menyimpan luka dari cerita horor yang menghantui tahun-tahun hidupnya kemudian.

“Meski ia suamiku, sulit bagiku untuk memaafkan segala perbuatan yang telah ia lakukan. Bertahun-tahun sudah berlalu, dan mimpi-mimpi buruk tentang cintanya masih senantiasa mendatangiku. Namun di sisi lain, waktu telah mengajarkanku banyak hal. Sia-sia saja terus-menerus menabur benci kepadanya, karena toh ia telah pergi. Sebenarnya kebencian itu bukan tertuju pada siapa-siapa, melainkan sekedar menggerogoti kewarasan diri kita sendiri. Waktu pula lah yang mengajariku lamat-lamat untuk menghargai cintanya yang demikian besar. Jika bukan aku, maka siapa lagi? Adakalanya kita terlampau sibuk mencintai sehingga menjadi manusia-manusia arogan yang tak pernah menghargai pemberian cinta.”

“Semoga Tuhan melapangkan jalannya….” gumamku lirih.

“Ya, aku juga berharap begitu. Semoga ia bahagia disana. Tapi barangkali ia akan bahagia.Tak lama lagi, sepertinya kami akan kembali bersama-sama. Jika Aku pun yakin ia takkan bertabiat seburuk dulu. Mungkin kami akan jatuh cinta dengan cara yang lebih indah.”

“Maksudnya bagaimana, Neng? Bagaimana caranya kembali bersama?” tanyaku penuh rasa penasaran. Kupikir ia hanya sekedar berangan-angan saja.

“Saat ini aku mengidap sebuah penyakit yang cukup serius. Usiaku diperkirakan takkan lama lagi. Sebenarnya aku tak lagi punya tenaga. Namun entah mengapa, tiap kali hendak menuju makam ini, kekuatanku berangsur-angsur pulih. Mungkin ini adalah sebuah keajaiban. Tapi perasaanku mengatakan bahwa aku takkan bertahan lebih lama. Aku pun akan segera menggenggam kematian…”

Seketika itu juga desir kekecewaan menggelegakkan darahku. Relung hatiku terasa hampa. Pengakuannya membuatku benar-benar terpukul. Mengapa aku seperti hendak merasa kehilangan? Padahal ia hanyalah seorang wanita yang selintas lewat dalam riuh kehidupanku. Tapi walau bagaimanapun, aku harus jujur bahwa ia sempat membuatku merona. Sempat pula membuat semangatku membara, hari-hariku berwarna. Namun kini, saat kebahagiaanku atas keberadaannya mulai jelas kueja, tiba-tiba saja ia mengatakan salam perpisahan! Ah, mengapa dunia ini lebih senang mempermainkan asa?

Selama dua minggu setelah pembicaraan itu, kami tak lagi membicarakan hal-hal yang begitu berat selain sekedar bergurau atau saling sapa. Sementara itu, kulihat makin hari ia semakin pucat. Tapi ia selalu menyembunyikan kelemahannya meski aku mulai sedemikian mengkhawatirkannya. Sejak saat itu, tiap-tiap kembang yang diletakkan di atas pusara suaminya selalu kuambil diam-diam ketika ia pulang. Kuraih batang-batang layu itu dalam genggaman dengan harapan sebagai pelipur kerinduan.

Tiga hari kemudian ia tak lagi menampakkan diri. Perasaanku mulai cemas, emosiku seperti diremas-remas. Ketidakhadirannya membuatku gelisah. Kecemasanku menuntut penjelasan. Namun tak ada yang lebih kuangankan selain sebuah penjelasan yang menenangkan hatiku.

Namun apa yang kutemui tidaklah seperti yang kuharapkan. Sebuah jawaban kudapatkan ketika iring-iringan kematian memasuki pemakaman. Orang-orang menggali pusara di tempat yang sering kami singgahi. Sore itu, kulihat sebuah nisan bertuliskan “Kemala”.

Seperti yang sudah kukatakan, dunia ini senang sekali mempermainkan asa. Sedangkan aku hanyalah sosok manusia yang sekedar pasrah menatap senja yang tertawa
.***

 

 

April 2012