Lomba Resensi #SCUK

Dear kawan,

Sudah membaca novel terbaru saya Surat Cinta untuk Kisha? Jika belum, segera dapatkan di toko-toko buku terdekat, atau dapat dipesan melalui online disini.

Selain lomba menulis surat balasan untuk Ramu, Saya pun mengadakan lomba membuat resensi/review untuk novel tersebut.

Syaratnya :

  • Silakan berteman dahulu dengan Bintang Berkisah di akun FaceBook.
  • Tulis resensi/review #SCUK mu di note facebook, kemudian tagging minimal 10 kawanmu (termasuk Bintang Berkisah). Ini syarat wajib.
  • Atau posting resensi/review #SCUK mu di blog, kemudian mention link pada @bintangberkisah (twitter). Ini syarat tak wajib, tapi punya nilai tambah jika dipenuhi. 😀
  • Akan lebih bagus lagi jika menyertakan fotomu bersama novel #SCUK di resensimu. Ini bukan syarat wajib, tapi punya nilai tambah jika dipenuhi. 😀
  • Deadline hingga 15 Mei 2013.
  • Pengumuman pemenang pada 20 Mei 2013.

 

Khusus lomba ini, saya menyediakan hadiah uang tunai Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) untuk satu orang pemenang.

 

Selamat meresensi! 😀

Advertisements

samsara

Cerpen menulis duet @greennsubmarine dan @bintangberkisah 

Katakan padaku, kau tak akan hidup selamanya. Bilang padaku, kau tak akan menjadi baik selamanya. Bilang padaku, kau akan berbuat kejahatan. Berjanjilah padaku, kau akan mengotori lembar putih hidupmu dengan coretan dosa besar. Tak perlu banyak-banyak. Satu saja. Cukup satu dosa besar, sayangku.

Diremasnya surat itu. Tidak cukup sekali, tidak cukup dengan satu tangan. Kedua tangannya meremas kuat-kuat, seolah dengan meremasnya, semua kata dan huruf yang ada di sana akan remuk tak berbentuk. Seolah dengan meremukkannya, peluru dan pecahan granat itu tak jadi menggores paru-parunya. Seolah dengan itu si pengirim surat akan kembali ke dunia fana.

Tentu saja dia akan kembali. Entah kapan dan dimana, dia pasti akan kembali. Mereka berdua percaya itu. Mereka membuai diri sendiri dengan harapan. Mereka menghidupkannya dari hari ke hari. Hingga suatu hari, dia ingin menjadi lembar putih tanpa noda. Tanpa dosa.

Ralat. Itu bukan keinginannya. Itu paksaan perang saudara yang biadab ini.

Tapi kata orang-orang, mereka bukan saudara.  Dua propinsi yang bertetangga belum tentu bersaudara, kan? Bahasanya saja beda. Yang satu tidak mau bicara memakai bahasa tetangganya. Yang satu lagi juga ogah ngomong pakai bahasa yang bukan bahasanya. Padahal mereka sama-sama bisa mengerti bahasa masing-masing.

Saudara atau bukan, perang tetap perang. Tetap biadab dan kejam. Tetap abai pada cinta. Oh ya, jangan sampai kau menyebut-nyebut cinta. Salah-salah kau dianggap gila.

Cinta itu milik masa lalu. Milik bayangan teduh di bawah pohon, di sisi Barat halaman kampus, tempat untuk sembunyi dari silaunya pancaran matahari sore yang enggan pulang. Milik anak-anak muda yang bicara tentang energi kehidupan yang mengambang di setiap molekul senyum, tentang perjalanan roh setelah meninggalkan jasad membusuk, tentang kelahiran kembali, dan tentang keabadian.

**

“Siapa juga mau hidup abadi.”

“Kalau aku hidup abadi, kamu nggak mau ikutan?”

“Pertanyaan bodoh.”

“Jawaban bodoh.”

Dan mereka berdua tertawa berderai-derai.

“Aku yakin kamu dulunya kucing. Di kehidupanmu sebelum ini, kamu pasti kucing yang baiiiik banget. Setia pada tuannya. Lalu setelah mati tertabrak mobil, kebaikanmu selama menjadi kucing membuat kamu menitis ke tubuh bayi perempuan cantik bermata indah.”

“Rayuan gombal dan bertele-tele. Poinmu lima setengah.”

“Jangan pelit-pelit dong, Cinta. Ntar di kehidupanmu selanjutnya, kamu turun pangkat, lho. Menitis jadi binatang lagi. Trus gimana aku bakal mencarimu?”

“Makanya jangan bodoh-bodoh banget dong, Sayang. Ntar di kehidupanmu selanjutnya kamu menitis jadi keledai atau udang.”

“Nggak apa-apa. Selama kamu jadi udang juga.”

“Tapi kalau aku jadi manusia? Jadi koki seafood, misalnya?” godanya. Mata kucingnya mengedip jahil.

“Sebagai udang yang baik, aku mati demi melanggengkan karir sang koki. Maka ketika rohku lepas dari tubuh udang, aku segera menitis ke dalam tubuh bayi tampan. Dan kau koki manis,” dia mengangkat dagu gadisnya dengan lembut, “Jangan buru-buru mati. Tunggu aku. Aku akan datang membawa cinta.”

“Lalu aku, koki setengah baya, pacaran dengan cowok ingusan ini?” katanya sambil mencubit pipi sang kekasih.

“Cinta tidak kenal usia.”

“Cinta itu abadi. Cinta kita abadi.”

Keduanya saling bertukar senyum. Matahari meluncur di ufuk Barat, cahayanya pelan-pelan disedot senja. Tak lama lagi senyum sepasang kekasih itu ditelan pula oleh gelapnya, menyisakan sekedar siluet kelabu. Tak lebih dan tak kurang.

“Gimana kalau kita ganti skenario?”

“Maksudmu?”

Si gadis menoleh ke arah matahari yang lenyap di cakrawala.

“Gimana kalau kita berdua jadi orang baik, suci tanpa dosa, lalu kita tak perlu lahir kembali ke dunia? Kita cari keabadian di nirwana.”

“Kau tahu tingkat kemustahilan skenariomu? Sepuluh dari skala 1 – 10. Kita manusia biasa. Dosa itu wajar buat manusia. Tanpa dosa? Ah …” matanya menelusuri siluet gadis yang dicintainya, “aku mau menanggung dosa apa saja asal bisa bersamamu.”

Kini giliran mata si gadis yang menapaki siluet kekasihnya.

“Kalau begitu, tidak ada cara lain. Kita harus kompak. Jangan ada yang main malaikat di antara kita.”

“Dan jangan ada yang main setan di antara kita. Dosa kita harus sama besarnya.”

“Jangan ada yang coba-coba nyasar ke nirwana.”

“Kita berdua akan abadi di dunia fana.”

“Mati dan hidup lagi, dan mati lagi…”

“… dan hidup lagi…”

“… untuk mencarimu…”

“… untuk bersamamu…”

“… selamanya.”

Tapi adakah hak manusia untuk berkata ‘selamanya’?

Maukah dunia fana menjamin bahwa janji akan ditepati? Perang merusak segalanya tanpa sisa. Tak terkecuali janji yang terucap di bawah pohon kala senja tak bernama. Apalah artinya janji itu dibanding konflik etnis panjang dan sporadis? Sepenting apakah dia dibanding euphoria setelah lepas dari kuasa rezim otoriter? Seberapa berartikah dia dibanding urusan politik propinsi-propinsi yang menjelma menjadi negara-negara merdeka?

Dia menjadi tak lebih berarti daripada debu mesiu. Dan keabadian di dunia fana menjadi utopia.

**

 

Aku tak bisa menghitung berapa kali aku lolos melewati perbatasan dan kembali lagi ke negaraku. Sudah terlalu sering. Penjagaan mereka ketat? Omong kosong. Mereka memang menggeledah barang bawaan dan pakaian setiap orang yang mau lewat, melecehkan wanita-wanita kami di sela-sela penggeledahan, dan menembaki siapa saja yang nekat lari menerobos pagar berduri. Tapi aku bisa berhasil menyeberang. Aku dan belasan pemuda lain selalu lolos.

Awalnya kami cuma ingin melanggar jam malam dan menjajal penjagaan perbatasan mereka. Setelah sampai di negara keparat ini, kami jadi punya ide baru. Kami tulis kebiadaban mereka di dinding-dinding kota dan jalan aspal mereka. Biar mereka tahu kalau kami bukan bangsa rendahan yang bisa seenaknya mereka hina. Bahkan pintu-pintu rumah kami coret dengan tanda X besar-besar. Penghuninya pasti ketakutan, menyangka mereka bakal menjadi korban terror kami. Padahal kami sama sekali tak kenal mereka. Kami tak ada urusan dengan mereka. Kami hanya anak-anak muda bersenjata cat semprot. Kami habiskan isi cat dengan menulis semua kata makian yang kami tahu. Puas sekali rasanya malam itu.

Tentu saja mereka marah. Penjagaan perbatasan diperketat. Penggeledahan dipertegas. Jam malam diperpanjang. Tank-tank wara-wiri dan puluhan tembakan diobral. Kami mendidih.

Kami kembali ke sana. Tak puas hanya dengan mencoret tembok, kami merobek bendera mereka menjadi serpihan-serpihan kecil. Kalian kira kami takut pada peluru dan tank-tank kalian? Puah. Kami bakal bikin kalian seperti sobekan bendera konyolmu itu!

Kami kembali dan kembali lagi. Kami lumuri patung pahlawan mereka dengan tai kambing. Kamu tak pantas disebut pahlawan. Apa jasamu? Kamu menyerah ke rezim setan itu. Kamu bahkan menyeret kami. Kamu yang bikin diktator bajingan itu memerah darah kami. Pahlawan? Kambing kami lebih mulia dibanding kamu. Dan sekarang, anak cucumu tak juga berhenti menembaki kami. Maka terimalah ini.

Kami kencingi bangku-bangku rumah ibadahmu. Kami robek dan cacah kitab suci agamamu. Dan kau, kalian semua lihat sendiri kan? Tuhan kalian tidak bisa apa-apa. Tuhan kalian yang menyebut kami sesat, kafir, bodoh, lalu membunuhi kami satu per satu itu tidak bisa apa-apa.

Bukan kami yang sesat. Kalianlah yang iblis. Kalian semua iblis!!!

Kecuali dia.

Tanpa setahu teman-teman, aku selalu mengawasi rumahnya. Tapi rumah itu kosong. Perkampungan kecil itu kosong. Ke mana kau pergi, kekasih? Kenapa kau buru-buru pergi? Kenapa kau tak menunggu aku datang menjemputmu? Akan kubawa kau pergi dari negeri biadab ini. Kita berdua akan meninggalkan perang terkutuk ini.

Kita akan mati dan hidup lagi bukan sebagai musuh.

Ah, kenapa kau mesti terlahir dari bangsa mereka? Lima tahun lalu itu tak ada artinya. Kita masih bisa bercanda di halaman kampusmu. Kau masih ingat teman-teman kita yang suka berpuisi panjang-panjang itu? Kita tetap saling memuji meskipun satu-dua dari kita makan rumput. Kita saling ledek meskipun tahu satu-dua dari kita berdarah biru. Kita bicara dengan dua bahasa. Kita lupa kalau kita berbeda bangsa dan agama.

Dan bagian hidup kita yang itu bukan mimpi. Sulit dipercaya memang. Perang ini juga bukan mimpi. Perang ini sangat nyata.

Ia menjadi semakin nyata saat kumasuki rumahmu yang kini dihuni laba-laba. Ke mana kau pergi? Apakah pemerintahmu membunuhi orang-orang sepertimu? Orang-orang yang pernah berjabat mesra dengan bangsaku? Semoga kau terlahir kembali bukan sebagai bayi mereka. Aku telanjur membenci bangsa itu dengan seluruh nafasku. Jangan mati selagi kau masih bayi. Tunggu aku. Aku akan menemukanmu, sayang.

**

Bau anyir dan obat. Anyir darah bisa ada di jalan atau di pematang sawah. Tapi bau obat hanya ada di rumah sakit. Ngapain aku di rumah sakit?

Samar-samar terdengar suara raungan dan jeritan. Di sela-sela itu, samar kudengar suara perempuan. Suara itu seperti kukenal. Tapi telingaku tidak bisa mendengarnya jelas. Mungkin aku harus mencari sumber suara itu.

Aku menoleh ke kanan. Tidak ada perempuan di sana. Yang kulihat adalah seorang lelaki terbaring. Tangannya dibebat perban putih. Rambutnya panjang, kemerahan bekas disengat matahari. Sepertinya aku kenal dia. Tahi lalat besar di daun telinga … ah ya. Dia tetanggaku, temanku melempar bom. Lemparannya sering meleset. Dia cuma pintar melumuri patung dengan tahi kambing dan merobek bendera. Dan sekarang dia cuma pintar merintih dan mengutuki bangsa mereka.

Anehnya, aku tak terlalu ingin mengutuk mereka saat ini. Setidaknya mereka menyerang saat kami benar-benar siap. Paling tidak ada pertempuran sejati, bukan sekedar mereka melempari sawah dan kebun dengan granat atau menembaki wanita-wanita kami. Cukup sepadan dengan bom yang kami lempar selama dua bulan terakhir. Tapi sekarang giliran granat mereka yang menggasak kampung kami.

Aku ingat desisnya di kolong meja. Nyaring seperti ular marah. Aku melompat lewat jendela ketika desisnya habis. Mungkin juga aku tak sempat melompat. Entahlah. Yang jelas, kini sudut bibir dan pipi kiriku perih dan …oh, ternyata hanya satu mataku yang terbuka. Dunia di sebelah kiriku gelap gulita. Kenapa ya? Aku menoleh ke kiri. Perih menyengat leherku seketika. Tak perlu diterangkan. Aku sudah bisa menebak bagian mana yang terkoyak.  Melihat dengan satu mata itu tidak mudah. Tapi aku harus melihat semua yang terjadi di sini.

Disana kulihat teman sekolahku. Wajahnya masih tampan, meskipun kulitnya tergores di sana-sini. Selimut yang bagian bawah tubuhnya tampak menyembunyikan sesuatu di tempat kakinya seharusnya berada. Sesuatu itu tampak gemuk dan … pendek. Pendek bukan kata yang tepat untuk menggambarkan dia. Dari dulu, sejak kami masih kecil, dia pelari tercepat. Apalagi kalau soal mengejar layang-layang putus. Dia juga yang mengenalkan aku pada benang gelasan tertajam di langit. Dia memang jagoan. Dia tak pernah membeli layang-layang, karena yang dia pakai adalah milik lawan-lawan yang ditaklukkannya. Tanda tangannya menari-nari di angkasa. Tiga bulan lalu, dia mengenalkan aku pada benda baru. Bubuk mesiu. Kami pun langsung akrab.

Di samping tempat tidurnya, kulihat gadis berbaju perawat berdiri memunggungiku. Rambut coklatnya diikat asal-asalan, ujungnya menyentuh tengkuk putih. Aku kenal warna rambut itu. Aku pernah kenal tengkuk itu. Itu tengkuk yang dulu kugelitik dengan ujung rumput. Itu tengkuk yang dulu kukalungi lengan setiap aku ingin berbisik, dan pemiliknya mendorongku sambil berkata, “Aku tahu kau mau bilang apa. Tidak perlu bilang lagi, aku sudah percaya kok. Dan nggak perlu bisik-bisik, kan?” Ah, dia selalu bisa membaca pikiranku. Bisakah dia membaca pikiranku sekarang?

Dia berbalik. Tubuh yang dibungkus seragam kedodoran itu menghadap ke arahku. Dengan satu mata, aku berusaha mengingat-ingat logo yang ada di dada seragamnya. Sebetulnya tidak terlalu sulit. Logo itu beberapa kali mampir di ingatanku pada berbagai warna seragam petugas medis yang wira-wiri di sini sejak perang berkobar. Oh ya. Logo Palang Merah Internasional.

Bosan dengan logo itu, mataku menapaki leher, dagu, ke atas, mencari tanda lain yang kukenal. Mau tak mau, mataku berhenti di matanya. Aku kenal mata itu, sangat kenal. Mungkin jauh sebelum aku lahir di sini, di negeri ini, aku telah mengenal mata itu. Mata itu masih seindah dulu. Mata kucing yang sedang mengamati lengan kiriku.

Sekilas kulihat bibirnya bergerak, tapi aku tak bisa mendengarnya dengan jelas. Tak masalah. Aku bisa membaca gerak bibir. Itu warisan tak ternilai dari ibuku yang tuli.

“Sudah saatnya diganti,” kata bibir itu.

Dia menoleh ke samping, ada semacam meja dorong kecil berisi perban dan mungkin obat-obatan. Tangannya sibuk disana. Aku juga kenal tangan itu. Aku kenal tanda lahir di punggung tangan, memanjang dari bawah pangkal ibu jari hingga pergelangan tangan. Dulu aku suka menggambarinya dengan spidol, membuatnya mirip peta kedua propinsi kami.

Pemilik tangan itu bergerak ke arahku. Mata kananku menelusuri lengan putih pucat itu hingga ke wajahnya. Ia melihat senyum di sana. Apakah senyum itu mengenaliku?

Kulihat senyum itu menghilang bersamaan dengan mata indah yang berubah membelalak.

Bibirnya membentuk kata, “Kau?”

“Hai,” jawabku.

**

 

Bintang-bintang tampak menari dengan gemerlapan di atas sehamparan permadani gulita, namun tak juga sanggup menggusur kegalauanku. Meski tubuhku terbaring tengadah di atas rerumputan di bukit ini, sebenarnya aku tak benar-benar merasa rileks. Pikiranku seperti seekor kucing yang bermain-main dengan benang ruwet yang terulur panjang. Kegelisahanku kian menggejolak. Setelah lima hari mendekam di camp perawatan,  menikmati senyumnya, mereguk keramahannya, mendekap kelembutannya, tiba-tiba tadi sore dia berbisik padaku bahwa aku harus segera berkemas untuk pergi. Yang lebih mengejutkan lagi, dia bahkan telah mempersiapkan semuanya; menata perbekalanku, hingga menggambarkan peta ‘jalur aman’ padaku.

“Kamu nggak bisa terus-terusan disini. Kamu bukan bagian dari kami, meski kami adalah netral. Aku mohon, pergilah besok, pagi-pagi sekali, sebelum mereka datang untuk menginspeksi. Jadwalnya besok. Jadi jangan sampai kau diketemukan oleh mereka. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu. Percayalah, dengarkan aku.” Raut wajahnya demikian memelas, seolah-olah tiap katanya adalah permohonan, sementara hanya aku yang sanggup memberi permakbulan.

“Tapi… tapi… aku harus pergi kemana? Aku sudah tak lagi punya tujuan. Kupikir aku sudah menemukan tujuanku, disini. Kamu adalah tujuan hidupku. Aku tak lagi butuh kemana-mana. Biar saja mereka menemukanku, aku tak gentar. Oke?”

“Jangan berkata begitu. Kamu terlalu berharga untuk menjadi mangsa mereka. Kalau memang aku adalah tujuan hidupmu, maka turuti semua kata-kataku,” katanya sembari membeliakkan kedua mata kucingnya, seolah-olah aku adalah anak nakal yang kedapatan membuat keonaran. “Aku sudah menyiapkan semuanya. Pergilah melalui jalur aman yang sudah kutunjukkan padamu, sampai kau tiba di sebuah rumah bercat kelabu, tak terlalu jauh dari peternakan. Disana masih aman. Kau akan menemui Josan disana. Setelah kau menyerahkan suratku padanya, biarkan dia yang mengurusmu. Percayakan saja semua padanya.”

“Tunggu… Siapa Josan?”

Tiba-tiba wajahnya semburat merah. Ia seperti merasa kikuk ketika aku bertanya tentang sebuah nama yang tiba-tiba dia sebutkan, kemudian bergaung-gaung di antara pembicaraan kami. Sejenak ia tertunduk, seperti menyembunyikan kilap perasaannya di hadapanku. Setelah terdiam beberapa lama, baru ia sudi menjawabku.

“Maafkan aku… Tapi kita sudah berpisah sedemikian lama. Aku tak bisa mengelak dari takdir. Tak ada waktu untuk menjelaskan semuanya. Josan adalah suamiku. Tapi percayalah, dia laki-laki yang baik…”

Mendengarnya menyebut kata suami, aku serasa lupa dengan pedihnya serpihan bom molotov yang menggores kulitku, juga lupa dengan segala rasa sakit yang kudapat sepanjang perang berkecamuk. Sebuah luka baru menghunjam tepat di ulu hatiku. Kali ini, rasa sakit yang kurasakan seolah nyaris membunuhku. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh kenyataan pahit yang baru saja kudengar dari mulutnya sendiri. Ingin rasanya aku menghancurluluhkan dia yang telah menghancurluluhkan hatiku. Sudah sekian lama aku mencarinya, berjuang untuk mendapatkannya, namun dia malah mengkhianatiku dengan menikah bersama orang lain. Tapi lagi-lagi aku tak bisa berbuat apa-apa padanya selain diam terpaku dengan rasa terbakar di dalam hati. Rasa cintaku yang mengalahkan kemarahanku.

“Kau… Kau mengkhianatiku…” gumamku lirih. Tapi aku pun tak bermaksud untuk menyalahkannya.

“Apa kau anggap bahwa apa yang kulakukan adalah sebuah dosa? Maafkan aku, kalau begitu…” katanya lagi. Aku sama sekali tak habis pikir, dia dapat mengatakan itu dengan entengnya. “Tapi asal kau tahu, tak sedetikpun aku melupakanmu. Tak sedetikpun aku mengkhianati cinta kita. Keadaanlah yang memaksa… Mengertilah…”

Aku terdiam. Kami terdiam. Bisu menjadi satu-satunya penyelamat kami atas rasa bersalah yang mulai menggerogoti kesadaran kami.

**

Ada alasan yang kuat mengapa pada akhirnya aku mengalah untuk menuruti semua kata-katanya. Pelarianku bukan sekedar untuk penyelamatanku semata. Aku penasaran. Aku ingin melihat seperti apakah sosok Josan, yang sebegitu hebatnya hingga berhasil merebut hati Anna, kekasihku. Jika perlu, aku akan menghabisinya. Dia adalah musuhku. Musuh negaraku. Musuh bagi cintaku. Lagipula, ini jaman perang. Sah-sah saja jika aku membunuhnya, kan? Aku bisa membuat berbagai alasan hingga Anna dapat kembali lagi bersamaku. Cintaku yang telah lama menghilang akan segera kudapatkan.

Jalur aman yang diberikan Anna benar-benar membuat perjalananku terasa aman. Dua hari mengandalkan tapak-tapak kaki, akhirnya sampai juga aku ke tempat tujuan. Rumah tua bercat kelabu yang sangat sederhana itu tampak sepi. Hanya asap membumbung yang kulihat, berasal dari tumpukan sampah daun kering dan jerami yang dibakar di sisi timur pekarangan. Tak ada tanda-tanda keberadaan manusia, sehingga kesenyapan kawasan yang jauh dari perkampungan penduduk itu hanya diramaikan oleh ayam-ayam ternak yang berseliweran di halaman dan membuang kotoran seenaknya di lantai teras yang penuh debu. Kuputuskan untuk melangkah mendekat, mengetuk pintu kayu yang terlihat lapuk dan kusam.

Seorang laki-laki tegap bercambang tipis membuka pintu. Usianya tampak sedikit lebih tua dariku. Ia sembari menggendong seorang bocah berusia sekitar dua tahunan, yang sedikit terisak-isak entah karena apa. Bola matanya yang tajam menatap curiga padaku.  Tapi kubalasi dia dengan senyuman, dan segera kurogoh saku celanaku, mengambil titipan surat untuknya.

“Surat ini untuk Josan…” kataku sambil menunduk memberi hormat.

Dia masih memandangiku dengan curiga meski tangan kanannya meraih surat itu dariku. Segera ia robek amplopnya dengan agak kesusahan, karena tangan kirinya harus menggendong bocah yang masih terisak-isak itu. Setelah membuka lembar surat, ia membacanya dengan singkat. Kemudian kembali menatapku. Kali ini tatapannya sedikit lebih ramah.

“Masuklah…” Ia mempersilakanku.

Hanya ada satu lampu yang tak terlalu terang di rumah itu, terletak di ruang tengah yang tertata serampangan. Suasana di rumah itu benar-benar terlihat muram, seperti telah lama tak mendapat sentuhan perempuan. Begitu kusam, hingga terlihat kawanan laba-laba mendekam di beberapa sudut ruangan. Aku duduk di sofa usang yang telah dihiasi beberapa lobang hingga busanya mencuat keluar. Meja di hadapanku tak tertutup taplak, dan hanya ada sebuah mangkuk bekas makanan balita di atasnya. Dia pamit sejenak, berlalu meninggalkanku menuju ruang belakang, kemudian kembali sembari membawakan segelas teh hangat untukku.

“Nyamankan dulu dirimu, aku akan menyiapkan makanan terlebih dulu,” ujarnya sambil tersenyum. Kemudian lagi-lagi dia meninggalkanku, masuk ke sebuah kamar. Tak lama, beberapa menit kemudian, ia keluar sambil mendorong hati-hati seorang lelaki tua yang kurus dan pucat di kursi roda. Mereka menuju kamar mandi.

Baru setelah menyelesaikan segala urusan ‘rumah tangganya’, lelaki yang kuduga bernama Josan itu kembali menemuiku, mengajakku makan siang dengan menu ala kadarnya. Setelah itu kami bercakap-cakap sambil berharap kantuk segera datang. Sembari mengobrol, dia kembali meraih bocah yang semula bermain-main di atas ambin di pojok ruangan. Dipangkunya bocah itu sambil menyodorkan sebotol susu. Bocah itu menghisap dot dengan rakus. Susunya tandas tak bersisa. Kemudian tak lama, kulihat mata bocah itu sudah mulai mengantuk.

“Siapa anak itu?” tanyaku, dengan nada sedikit kaku.

“Oh, tentu saja dia anakku dengan Anna,” jawabnya sambil tersenyum tipis. “Dia adalah anak paling tabah karena harus berpisah dengan ibunya yang sibuk menjalankan tugas,” jelasnya. Tak ada rasa sesal sedikitpun dalam tiap katanya, sehingga aku hanya bisa mengangguk-angguk.

“Lantas, siapakah lelaki tua yang duduk di kursi roda itu?” selidikku, masih dengan rasa penasaran.

“Dia adalah ayah Anna. Kedua kakinya pernah menginjak ranjau sehingga beliau tak lagi bisa berjalan. Padahal beliau hanya sekedar peternak yang hendak menghalau kambing-kambingnya. Tapi demikianlah perang, tak pandang bulu pada siapapun. Tak ada yang bisa disalahkan meski aku terpaksa harus berjauhan dengan istriku. Apapun bisa terenggut sewaktu-waktu.”

Setiap penuturan lelaki sederhana di hadapanku ini membuatku terhenyak. Pengetahuan baru yang kuketahui bahkan membuatku lupa dengan tujuan awal mulaku – ingin menghabisinya. Bagaimana mungkin aku dapat membunuh lelaki yang memilih berjuang dengan caranya sendiri untuk menghidupi istrinya – yang adalah kekasihku? Benar kata Anna, dia adalah laki-laki yang baik. Tak seharusnya aku memupuk dendam padanya. Apapun alasan pernikahan mereka, kenyataan sekarang membuatku bertekuk lutut pada kemanusiaan. Aku merasa malu pada diriku sendiri. Josan memang lebih tepat bagi Anna ketimbang diriku. Setidaknya, dia tak egois sepertiku. Aku hanyalah seorang tak berguna, pecundang perang, budak nafsu, manusia iblis, generasi terkutuk. Seharusnya aku mati saja tertembak. Seharusnya Anna tak perlu menyelamatkanku, mengobatiku. Tapi Andai aku punya kesempatan menitis kembali ke kehidupan selanjutnya, aku akan memperbaiki semuanya. Aku takkan membiarkannya pergi meninggalkanku dan hidup menderita. Persetan dengan segala jenis perang dan kemunafikan.

Dua hari kemudian, bahkan sebelum fajar menyingsing, aku memutuskan pergi diam-diam. Tak ada gunanya bagiku menjadi beban bagi Josan, meski dia berjanji hendak mengantarkanku ke perbatasan dengan selamat. Aku tak lagi butuh keselamatan. Aku tak lagi berhasrat dengan misi awalku. Satu-satunya yang kuinginkan adalah segera menemui Anna, membawanya pergi dari daerah rawan itu, dan mempertemukannya kembali dengan keluarganya.

Namun alangkah terkejutnya aku ketika akhir perjalananku justru mempertemukanku dengan keadaan camp medis yang telah hancur berantakan, porak poranda. Barak-barak yang dulu kujumpai telah roboh, sekadar menyisakan puing-puing kayu dan batu bata yang berserakan. Debu-debu kotor membumbung memenuhi udara senja, seolah mengabarkan banyak tangis dan kematian yang sempat kulewatkan. Ini sungguhan biadab. Bukankah seharusnya camp ini netral? Jika mereka sampai merusak tempat ini, berarti mereka adalah pihakku.

Tulang-tulang lututku seperti terlepas dari persendian. Yang bisa kulakukan sekedar menggigit bibirku hingga berdarah. Mataku serasa terbakar oleh pedihnya amarah yang kutahan-tahan. Nafasku bahkan terasa sesak, aku tercekik oleh kenyataan pahit. Tak ada seorangpun yang dapat kutemui untuk menjelaskan semua ini. Aku hanya dapat terpekur menatap langit yang kemerahan, menghitung kawanan burung yang pulang ke sarang dengan pikiran kosong. Hari beranjak malam, tapi aku tak lagi peduli dengan suasana yang mulai terasa mencekam. Aku telah kehilangan semuanya. Aku telah mati rasa. Tapi kesadaranku segera pulih saat tiba-tiba kudengar suara peluru berdesingan menyerbuku. Refleks aku lari terbirit-birit menyelamatkan diri. Sialnya, salah satu peluru itu menyerempet pelipisku, juga menghunjam dada kiriku. Aku tak lagi kuat bertahan. Perlahan aku roboh. Aku akan mati. Pergi. Siapa tahu akan hidup lagi. Menjumpai dia yang tersemat di hati. Mati. Mati. Ma ti.

**

picture taken from : fineartamerica.com

picture taken from : fineartamerica.com

Tapi aku hidup lagi. Atau sepertinya tak jadi mati. Saat pertama kali membuka mata, suasana di sekitarku masih mengembalikan ingatan terakhirku. Deretan ranjang darurat yang berisi pasien perang, mangkuk-mangkuk aluminium berisi bubur beras dan sebutir telur rebus, hilir mudik petugas medis dengan langkah kaki terburu-buru, bau penicilin bercampur amoniak, tempat sampah yang penuh dengan perban-perban bernoda darah, namun tak sekalipun kulihat Anna. Dimanakah dia berada? Bukankah seharusnya dia ada disini?

Seorang petugas medis perempuan dengan raut wajahnya yang manis datang menghampiriku. Ia bermurah hati menyediakan sesungging senyuman untukku. Tapi aku bahkan tak sanggup membalasnya. Bibirku kaku demi menahan luka yang hampir mengering.

“Ah, rupanya kau sudah sadar… Bersyukurlah karena ternyata kau selamat. Ketika kami menemukanmu, kami pikir kau takkan selamat. Keadaanmu sangat kritis. Tapi dokter bekerja keras untuk menolongmu mengeluarkan peluru yang sempat bercokol di dadamu. Kau akan segera baik-baik saja.”
Tatapan petugas medis itu begitu lembut, namun aku seolah kehilangan kewarasan untuk sekedar membalas sikap baiknya. Ingatan-ingatan dalam kepalaku berloncatan, membuatku merasa sedikit pusing dan tak bisa berpikir lebih banyak.

“Hei, kau masih ingat semuanya, bukan? Apa kau masih mengenalku? Aku adalah sahabat Anna, dan aku tahu bahwa kau pun adalah teman Anna… Kau pernah dirawat di camp sana, bukan?” katanya lagi, kali ini terlihat sedikit khawatir karena aku tak juga merespon seperti yang diharapkannya. Mungkin dia pikir kejiwaanku telah terganggu.

Mendengar nama Anna disebut, aku nyaris terlonjak. Bahkan namanya saja membuat jantungku berdetak-detak, dan nyaris tersedak oleh nafasku sendiri.

“Anna… Dimana dia?” Tanyaku tergesa, dengan suara parau.

Perempuan itu tak segera menjawab, melainkan malah diam sejenak sembari menghela nafas berat. Seketika firasatku merasa tak enak.

“Rupanya Anna tahu bahwa harinya akan segera tiba. Dia pun seperti punya firasat bahwa kau akan kembali kesini. Maafkan, Anna telah lebih dulu pergi ke surga. Dia tak terselamatkan saat peristiwa mengerikan itu terjadi. Mereka benar-benar membabi buta. Anna sempat sekarat, tapi dia sempatkan pula menuliskan surat untukmu, yang kemudian dia titipkan padaku. Tunggu sebentar, aku akan segera mengambilnya.”

Setelah mengatakan kabar duka yang merobek-robek harapanku, perempuan muda itu segera berlalu dari hadapanku. Tak lama, ia kembali lagi sambil membawa sepucuk surat yang segera diserahkannya padaku. Lekas kubaca surat dengan beberapa baris tulisan tangan Anna. Selanjutnya, aku tak lagi ingat semuanya. Dunia ini tiba-tiba senyap, gelap, sementara aku terjerembab dan hanya mendengar suaraku sendiri yang melolong-lolong. Aku tahu ini bukan akhir dari segalanya. Anna akan hidup kembali. Saat ini, jiwanya pasti sedang mencari tubuh baru untuknya menitis, supaya kami dapat bertemu kembali. Bukankah demikian janji kami?

Seketika itu juga, aku tahu apa yang harus segera kulakukan. Aku tak lagi sudi menyia-nyiakan waktu. ****

 

 

Pertanyaan

Selain dipenuhi darah, rupanya manusia pun (kerap) dipenuhi oleh pertanyaan.

Saya, juga salah satu yang dipenuhi pertanyaan. Bahkan saya pun mempertanyakan mengapa saya terus-terusan bertanya.

Satu yang luput adalah, mengapa saya perlu bertanya.

Tapi rupanya di dunia ini tak hanya saya semata yang (pernah) dipenuhi pertanyaan. Nyaris semua manusia di dunia ini dihinggapi pertanyaan dalam benaknya. Tak terkecuali dengan kawan-kawan saya di twitter yang juga memiliki pertanyaan :

@dyahatam : dia
@HaryatiRya : Apakah aku berbakat menjadi seorang penulis?
@arazliastania : Menghabiskan sisa umur dengan orang yang salah ? (˘̩̩̩╭╮˘̩̩̩)
@aendeikaa : Mau jadi apa aku saat aku besar nanti? 😮
@intanamps : Siapa yg akan jadi teman hidup kelak?
@Yohanakuncup : Apa yg akan terjadi besok?
@GunKuarve : Apa tujuan kita diciptakan di dunia ini?
@diemazbanggala : Siapa admin bintang berkisah?
@chi_richita : Akan seperti apa kehidupanku setelah kematian menjemputku nanti?
@ranggaasatriaa : Menjadi orang kaya, kaya mana pun cara nya harus jadi orang kaya
@tiktwit : Siapakah aku
@koesmethics : Apa arti dari kebahagiaan itu…?
@dienabelo : sudah bermanfaat kah hidup kita ?
@NinnaAyuLestari : Apa keajaiban itu ada ?
@dickyrenaldy : Kenapa tidak ada yg tertulis hari ini ?
@Maulana_Gustti9 : Apa saya bisa membuat sebuah novel dan diterbitkan di toko” buku setiap kota?
@araapratiwi apakah saya sudah menjadi orang yg baik?
@Puspitasarri : Kenapa kakak satu ini ga pernah tersenyum ma kami ?
@dontjudgemyrule : where do we go when we die?
@ranggaasatriaa : Ingin menjadi ayah yang baik
@erdekarini : Kapan nikah?
@widifitriana : Seperti apa nantinya aku akan dikenang?
@MissCoepid : who is my soulmate?
@beingbalqies : berapa lamakah sisa umur saya?
@ZrG_r4zza : Kenapa wanita hanya menginginkan kekayaan dan ketampanan saya saja ?
@rukkariku : Seberapa besar kau ingin tahu?
@ranggaasatriaa : Pengen jadi yg terbaik dari yang baik
@diemazbanggala : Apa aku bisa dgn dia selamanya, seperti harapan ini?
@edelweisbasah : Kapan Persib menjadi juara..
@Irsanramdany hidup untuk belajar/belajar untuk hidup ?
@zaujahmuth : Mengapa bintang bersinar? mengapa air mengalir?
@annisasenja : Aku bisa apa?
@radeakarna : Jadi salah gue? Salah temen-temen gue?
@swannysaja : Bagaimana agar saya bisa melagukan notasi musik?

 

Saya jadi teringat pada sebuah kejadian. Pada suatu kesempatan, saya bertanya pada seorang tokoh, yang konon senantiasa terbuka pada segala macam pertanyaan.
“Boleh saya bertanya?” Saya memulai dengan penuh kesopanan dan rasa hormat.
“Silakan. Apa yang mau ditanyakan?” Beliau menjawab tak kalah sopan.
“Bagaimana hukumnya bertanya?”
……………..
Sampai detik ini saya tak menerima balasan/jawaban apapun dari Beliau.
Waktu itu, saya merasa amat pedih karena diabaikan. Mungkin beliau menganggap saya mempermainkannya. Padahal sungguh, pertanyaan tersebut adalah pertanyaan terbesar yang bergelayut di benak saya. Pertanyaan yang senantiasa membuat saya gelisah.
Mungkin bagi generasi pembaharuan, banyak bertanya atau bersikap kritis adalah indikasi dari kecerdasan, bahwa seseorang itu memiliki hasrat dan kemauan untuk maju. Lagipula, di jaman yang semakin tidak jelas ini, hidup senantiasa dipenuhi pertanyaan. Pertanyaan adalah tanda kehidupan. Dengan pertanyaan, manusia dapat menggapai jenjang yang lebih tinggi lagi — setelah mendapat jawaban.
Separuh diri saya menyetujui persepsi tersebut. Memang benar, bahwa pertanyaan (pun) dapat membimbing kita menuju inti kehidupan.
Namun di sisi lain, terdapat pula budaya yang menganjurkan untuk meminimalisir pertanyaan. Jangan banyak bertanya, ikuti saja, patuhi saja, nikmati saja! Sekilas memang terlihat sangat menekan. Anti keterbukaan. Namun sesungguhnya ada makna filosofis di balik itu. Ada kebijaksanaan yang terselip di dalamnya.
Dan separuh diri saya yang lain mengamini sikap seperti ini.
Pertanyaan itu ibarat sebuah bumerang. Bisa menyelamatkan (hidup) tuannya dari musuh, namun juga dapat melukai diri sendiri — jika tak lihai menggunakannya. Jika tak proporsional mengelola pertanyaan, maka pertanyaan justru akan menyesatkanmu.
Diakui atau tidak, pertanyaan adalah sebagian besar dari penyebab kegalauan manusia. Apalagi akhir-akhir ini, kita begitu mudah dikelilingi oleh situasi dan kondisi yang menciptakan atmosfer kegalauan. Fatalnya adalah, ketika output tak seimbang dengan input. Ketika kepala kita nyaris diledakkan oleh berbagai pertanyaan yang beranak pinak namun tak kunjung menemukan jawaban yang memuaskan. Bagi jiwa yang dirongrong ketidaksabaran, hal ini hanya akan menimbulkan kekecewaan, apatisme, dan membuat asumsi-asumsi berdasarkan kehendak hati (jika bukan kenaifan diri) — yang belum tentu benar.

Padahal bisa jadi munculnya (banyak) pertanyaan adalah indikasi dari ketidaksabaran manusia. Tidak sabar untuk segera mengetahui jawaban, misteri dari semesta. Ibarat seorang penonton film yang bawel, ribut sendiri bertanya ini dan itu, hingga ia pun lupa cara menikmati film yang terpapar di hadapannya. Padahal toh pada akhirnya film itu berjalan dari permulaan hingga penghabisan. Segala hal yang menjadi pertanyaannya terjawab tuntas melalui alur cerita.

Pertanyaan pun bisa menjadi tanda kemalasan manusia. Terburu-buru bertanya tanpa ada usaha untuk mencari jawaban atau belajar terlebih dahulu. Bukankah fenomena yang sering terjadi saat ini adalah demikian? Ibarat seorang murid yang terus bertanya pada gurunya sementara ia menggenggam buku yang sesungguhnya berisi segala hal yang ia tanyakan. Andaikan kita lebih rajin belajar, niscaya kita akan mengetahui lebih banyak, tak sekedar hal-hal yang hanya kita tanyakan. Sayangnya, kita seringkali malas membuka buku. Kalaupun sekali membuka buku, terbit lagi ribuan pertanyaan. Jika tak berselera, maka kita akan berhenti membuka buku. Tak menyadari bahwa buku yang sedang dipelajari tersusun berjilid-jilid.

Bagi seseorang yang mampu mengelola emosinya,  maka ia akan lebih memilih rajin dan sabar mengikuti proses belajar daripada sekedar bertanya. Hanya melalui belajar ia mendapat lebih banyak pengetahuan. Dan semakin banyak pengetahuan justru memicunya untuk berhasrat mengetahui lebih banyak lagi. Sekali menemukan kunci nikmatnya belajar dan mereguk pengetahuan, maka ia akan senantiasa merasa bodoh karena rasa hausnya pada pengetahuan.

Satu yang perlu digarisbawahi, bahwa mengikuti proses belajar jauh lebih bermanfaat daripada sekedar (terus) bertanya tanpa ada kemauan mencari jawaban atau malah abai dengan jawaban atau sekedar menghabiskan waktu dengan berbagai pertanyaan yang tak ada habisnya. Padahal hidup ini singkat saja, dan banyak hal positif yang bisa kita lakukan.

Sesungguhnya semesta senantiasa memberi jawaban kepada ( segala pertanyaan) manusia. Bahkan tak perlu ditanya pun semesta memiliki kebaikan paling agung, yakni memberi beragam pengetahuan — yang bahkan tak pernah sempat terpikir di benak kita.

Yang kita perlukan hanya sekedar terus berjalan, tak berhenti untuk terus melakukan, tanpa perlu tenggelam dalam ranjau pertanyaan. Apalagi manusia adalah ciptaan yang diberi limpahan berkah arahan bagaimana cara mencari jawaban yang benar, tak sekedar melalui berbagai prasangka.

Memang, pertanyaan tak membuat kita mati atau terjerumus dosa. Namun ketika pertanyaan itu memicu ketidaksabaran hingga apatisme, maka segala kemungkinan (terburuk) pun bisa terjadi.

Segala kemungkinan memang baik. Namun di antara yang baik tentu ada yang terbaik. Terkungkung dalam jutaan pertanyaan dan kegalauan memang baik. Namun sepertinya hati saya jauh lebih tenang jika memilih sikap menjalani saja kehidupan dengan segala kejutan pengetahuannya, dan yang terpenting adalah terus berusaha melakukan yang terbaik, larut dengan kesibukan yang baik.

Yang kita perlukan hanya sekedar kesabaran. Karena hanya orang-orang yang sabar yang memperoleh keuntungan. 😀

Mengapa saya menulis…

Kalau dipikir-pikir, mungkin hidup saya ditakdirkan untuk tak jauh-jauh dari jejak aksara dan kata…

Saya senang membaca sejak pertama kali saya dapat mengeja. Pun rupanya  cenderung menyukai sastra, dan beruntung memiliki sedikit kesempatan untuk bergelut di dalamnya. Dulu, dulu sekali, di saat-saat tersembunyi, saya senang menulis puisi. Kecenderungan menyukai puisi ini beralasan. Pikir saya, itu lebih aman. Saya bisa bersembunyi di balik deretan kata-kata berkias, kalimat-kalimat bersayap. Ketelanjangan membuat saya gugup.

Saya pun bersyukur memiliki kesempatan bersua dengan orang-orang yang membuat  saya semakin cinta pada dunia sastra. Seorang guru saya menjadi salah satu figur bagi saya di dunia tulis-menulis. Juga beberapa orang yang pernah dekat dengan saya, menjadi sumber inspirasi tulisan maupun perjalanan hidup.

Dan saya juga bersyukur memiliki kesempatan berkecimpung di dunia tulis-menulis secara profesional. Menulis sebagai profesi. Kiprah kepenulisan (profesi) itu boleh dibilang bermula dari cabang bidang jurnalistik. Menulis untuk media. Menyajikan cerita dan berita kepada publik. Saya cenderung lebih senang menulis feature, meski dituntut dapat menulis banyak hal. Tapi kadang saya ingin menulis apapun yang ingin saya tulis. Maka adakalanya saya pun memperuntukkan tulisan-tulisan saya yang berbeda untuk media lain. Cara seperti ini membuat saya merasa jauh lebih puas. Sejenak, saya berpikir, inilah sebab mengapa saya menulis.

Namun di balik kiprah tersebut, ada sisi temaram yang terus membuat saya gelisah. Jurnalisme memang membesarkan sebagian dari diri saya, namun saya masih terbelenggu oleh ketidakpuasan. Sekian lama saya memelihara keresahan dalam diri, dan keresahan itu menuntut kawan baik. Sementara itu, hanya aksara lah yang menjadi kawan terbaik saya. Maka saya pun menulis lebih banyak untuk diri sendiri. Terutama, saya mulai lebih banyak menulis fiksi.

Tapi saya masih ingat betul, seseorang pernah mengatai begini pada saya; “kau menulis untuk terapi dirimu sendiri…”. 

Saya sempat menanggapi sinis padanya. Ah, berani-beraninya dia! Jika dia mengatakan bahwa saya sedang ‘terapi’, artinya (secara tidak langsung) dia menganggap saya sakit (jiwa). Saya jadi merasa tersudut.

Namun di sela-sela waktu, ketika saya termangu-mangu sambil menelaah kembali perjalanan diri sendiri, sesungguhnya saya tak terlalu mengelak bahwa barangkali memang betul, saya menulis untuk terapi. Jika ditelusuri kembali tulisan-tulisan saya, terutama fiksi-fiksi yang telah saya buat, saya tersentak oleh sebuah kesimpulan; bahwa saya kerap menulis hal-hal yang muram — meski saya sangat jarang menulis kisah hidup saya sendiri dengan menggunakan kedok fiksi. Sebagai misal, saya kerap membunuh tokoh saya sendiri — jika tidak memerosokkannya dalam kekalahan, kebencian, ataupun kehampaan. Ternyata saya lebih sering merayakan kesedihan dan kegelapan bersama tulisan. Penemuan ini membuat saya tersenyum kecut. Barangkali bagi beberapa penulis, hal ini dianggap sebagai salah satu variasi gaya. Jika mungkin, bahkan boleh lah dianggap sebagai tren — ketika happy ending yang (sempat menjadi) arus utama tak lagi ‘menarik perhatian’.

Sempat pula saya mampir pada fase dimana menulis adalah bagian dari obsesi. Namun perjalanan (hidup) membuat saya telah meninggalkan fase itu ke belakang. Saya tak hendak mati dalam ketegangan.

Hingga sampailah saya disini, yang mana kemudian saya berpikir bahwa sebenarnya kebahagiaan hidup pun bisa ditempuh dengan jalan berbagi. Andaikan saya memang hanya sanggup menulis, maka yang bisa sekedar saya usahakan adalah berbagi melalui tulisan. Terutama tentang hal-hal yang positif. Entah itu semangat, inspirasi, ataupun informasi.

Acapkali tulisan memang adalah cermin dari pemikiran/kehidupan penulisnya. Maka saya pikir, barangkali akan jauh lebih bijak jika saya menulis lebih variatif supaya diri ini seimbang. Saya belajar untuk menciptakan atmosfer yang lebih berwarna, terutama kepada pembaca yang saya muliakan. Saya belajar untuk tak lagi (melulu) menulis tentang kemuraman. Andaipun ingin menampilkan demikian, setidaknya saya berusaha untuk menyampaikan makna positif. Sejauh ini mungkin tak selalu berhasil. Saya memang masih banyak belajar karena saya adalah seorang dengan begitu banyak kekurangan.

Saya pun belajar untuk tak lagi membebani tulisan-tulisan dengan obsesi yang keterlaluan supaya saya tak terlalu kelelahan. Pikirkan dan lakukan saja apa yang bisa saya lakukan saat ini, hari ini. Jika saya hanya bisa menulis, maka tantangan saya hanya sekedar menulis (yang baik) untuk hari ini. Andai hidup saya berakhir sekarang, toh saya tak peduli dengan apa yang terjadi setelah itu, juga tak mau terbebani memikirkan nasib jejak sejarah diri saya sendiri. Sudah bukan menjadi urusan saya, karena semesta ini lebih berkuasa menentukan jalan cerita bagi setiap hidup manusia. Kita hanya sekedar wayang yang tak bisa bebas mewujudkan kemauan menjadi kenyataan. Maka biarlah saya menulis karena hari ini saya ingin menulis. Jika lelah, itu tanda bagi saya bahwa sudah saatnya untuk tidur, untuk berhenti sejenak sambil menikmati hijaunya dedaunan, lapangnya angkasa malam, dan riuhnya arena kehidupan.

Memang, bahkan proses menulis pun adalah refleksi perjalanan yang kita lalui. Sah-sah saja memiliki alasan apapun untuk menulis. Manusia tidak statis. Saya percaya, bahkan dengan menulis pun manusia mampu membesarkan dirinya sendiri — jiwa dan batinnya. Seperti halnya kawan-kawan saya di twitter, yang mengemukakan alasan mengapa mereka menulis :

@AA_Muizz : Seneng aja, sekalian curhat.
@Ikafff : karena pengen. Hehe.. Lagipula, menulis itu kan jejak bahwa kita pernah hidup dan menghidupkan..
@Maulana_Gustti9 : Karena angin dapat membaca
@NPandela : Suka.. Ungkapan kata dan imajinasi bisa dituangkan dalam bentuk tulisan sesuka hati
@shantyadhitya : buat meditasi diri
@tiaraauliaa : Karna lisan tak lihai seperti tangan
@widifitriana : krn ga ada alasan buat gak menulis, jd kenapa harus enggak menulis?
@sindyshaen : karena menulis membuat saya tetap hidup dan ‘gila’
@sarahgarcias : Writing for healing :p
@SuryawanWP : Karena menulis itu mengabadikan.
@annisasenja : Biasanya krn pengen lari dr carut marut dunia nyata
@kisahkasih_ : karena banyak rasa yg tidak terucap..
@ydkzk : Karena lebih baik menulis daripada mencuri.
@Uss_2392 : Karna sulit bicara,. Eh
@Chalinop : karena ada kumpulan kisah yg ingin diceritakan
@astarindah : Karena menyenangkan dan membebaskan….
@eroscaaa : Karna banyak yg tak terungkap dg kata, tp mampu terjabar dlm tulisan
@slmaslma : utk saat ini,buat komunikasi sm diri sendiri
@siputriwidi : karena sudah terbukti, aksara tertulis melambungkan rasa & imajinasi lebih hebat daripada gambar atau film sekalipun!
@haryasti : Karna lbh bebas menulis
@FebrianaLubis : karena terkadang pikiran tidak bisa kita ungkapkan melainkan dituangkan dlm pena tulis.
@miamels : Karena menulis itu mengalihkan perhatian
@ayuaryaaryo : Melatih otak mengungkapkan apa yang tdk bs dikatakan secara langsung
@fayihade : Menyalurkan kegilaan…drpd gila beneran
@koesmethics : Karena ada yg mau ditulis
@araapratiwi : karena ada beberapa hal yg kita tdk bisa ucapkan, tp kita bisa tuliskan. jadi, buat memorable jg buat diri kita sendiri
@intanamps : karena nulis itu curhat (mostly)
@nyinyanyi : karena butuh..
@adedek90 : karna ingin menuangkan imajinasi yg tengah melanglang buana…
@lolaorett : Untuk memberikan rumah bagi imajinasi yang mengembara
@chi_richita : Karena lebih leluasa berbicara lewat aksara
@_edenia_ : Karena asik!
@chocodit : karna terlalu banyak kata2 yg tercecer di otak. Jadi keluar diluapkan lewat tulisan aja
@RestuSA_ : Menulis itu mengaktualisasikan diri. Atau mengabadikan diri.
@child_smurf : menulis itu melegakan hati, dan membantu membekukan kenangan
@nenibintang : biar legaa..
@swannysaja : Karena suka sensasinya ketika bisa menyusun kata-kata biasa menjadi kalimat yang tak biasa.
@dienabelo : karena menulis itu bagian dari hidup
@SeiraAiren : Karena dengan menulis aku bisa menjadi apapun yang kumau.. Bahkan membunuh orang pun dihalalkan.
@titonas : karena aku bisa melihat bulan, tanpa menatap langit. mendengar ombak tanpa pergi ke laut.
@da_armstrong : Karna banyak hal yang baru bisa dimengerti kalau ditulis terlebih dahulu
@Rahmi_AprilR19 : Karena dengan menulis aq bisa melepas rasa yg terpendam di hati, hidup adlh sejarah n sejarah itu dpt dilihat melalui tulisan
@DestyDasril : karena menulis adalah terapi yg plng dahsyat untuk mengeluarkan semua rasa yg mengendap di dada, meski duka, luka dan juga suka.
@mumuu_taro : cuz i can make my own world and i’ll be everything i want there.

 

Apapun sebab menulis, saya berdoa semoga segala sebab itu menjadi sebuah kursi roller-coaster yang mengantarkan kita pada tingkatan yang lebih baik. Pencapaian yang baik, kehidupan yang baik, dan semangat jiwa yang lebih baik.

Menulislah apapun yang ingin kau tulis. Selamat menulis! 😀 

Fei Lung dan Kho Ping (satu)

Aside

 

Fei Lung, anak perempuan Lin Xiang Ru, seorang pengrajin keramik terkenal di negeri Zhao, sedang sibuk merapikan buku-buku pelajarannya ke dalam almari kayu yang terletak di sudut kamarnya. Namun jika diamat-amati lebih jelas, ternyata air mata gadis delapan belas tahun itu sedang mengalir deras, menetes-netes membasahi pipinya yang putih kemerahan. Sementara itu, kedua tangannya sibuk meraih dan meletakkan bermacam-macam benda, juga buku-buku, dan apa saja yang tampak olehnya. Ia sedemikian gugup.  Siapapun yang melihatnya akan mahfum bahwa pikirannya sedang mengembara ke lembah-lembah kenangan yang tertutup kabut kelabu. Namun sayangnya, sedang tak ada siapapun disana. Ayahnya, Lin Xiang Ru, sedang pergi menawar bahan baku di pasar. Sebenarnya terlihat lucu sekali melihat seseorang yang tampak sibuk menata rapi sesuatu sementara hatinya berantakan. Tapi demikianlah Fei Lung; ia masih tak sanggup menggusur mendung dalam hatinya — meski buku-buku itu senantiasa mengingatkannya pada kenangan, pada sebuah masa yang tak mudah ia tanggalkan begitu saja.

Fei Lung baru saja tiba beberapa minggu yang lalu, merasakan kembali kehangatan rumahnya, tempat ia tinggal bersama ayahnya yang telah lama seorang diri. Ibunya meninggal karena penyakit serius yang menghantam paru-parunya. Saat itu, Fei Lung berusia enam tahun.  Namun ia sungguhlah gadis yang baik, yang segera mengerti bahwa posisinya akan menggantikan ibunya merawat ayahnya, juga membereskan segala tugas perempuan di rumah.

Lin Xiang Ru begitu sayang padanya. Maka ia bertekad untuk memberikan yang terbaik bagi anak perempuan satu-satunya. Di usia lima belas tahun, Lin Xiang Ru mengirim Fei Lung ke sebuah asrama pendidikan yang cukup terkenal, dengan harapan Fei Lung dapat belajar dengan baik dan mendapat kenalan orang-orang terpandang. Perempuan yang cerdas akan dipandang memiliki derajat yang tinggi dibanding perempuan jelata. Dan biasanya, hanya perempuan-perempuan dengan pendidikan tinggi yang memiliki suami pejabat atau orang-orang berderajat tinggi.

Tiga tahun di asrama, Fei Lung dinyatakan lulus dengan nilai yang memuaskan. Dengan prestasi yang diperolehnya, Lin Xiang Ru menjadi amat bangga pada putrinya. Fei Lung selalu merasa bahagia jika ayahnya pun bahagia. Namun di balik kebahagiaan itu, tak ada yang tahu bahwa sesungguhnya Fei Lung pun memikul sekarung kegundahan dan kenangan masa-masanya ketika tinggal di asrama. Bagi Fei Lung, kebahagiaannya adalah untuk semuanya, namun kesedihannya hanyalah miliknya sendiri.

Kehidupan asrama tidaklah mudah bagi siapa saja. Terlalu banyak aturan yang kaku, sehingga murid-murid senantiasa tegang dan serius. Juga banyak tugas-tugas sekolah, yang membuat mereka kerap diliputi rasa frustasi terpendam. Kendati demikian, tak ada perbedaan dalam perlakuan. Entah itu anak raja, anak pejabat, anak pedagang, atau bahkan anak pelayan bergaji rendah, semuanya diperlakukan sama. Satu sama lain saling bersaing untuk menjadi yang terbaik, juga untuk hal-hal yang lainnya. Jadi bukan hal yang mengherankan  jika seseorang menikam atau mengadu domba seseorang lainnya dengan berbagai strategi busuk demi mencapai keberhasilan, demi memperoleh perhatian.

Namun Fei Lung adalah seorang gadis yang tak memperdulikan ambisi, meski tak ada yang mengecewakan dari potensinya. Ia sudah merasa bahagia asal setiap hari dapat menikmati hidupnya dengan keceriaan dan kesederhanaan. Ia tak terpengaruh dengan kubu-kubu yang saling memperkuat, mengintimidasi, dan mengolok-olok satu sama lain. Juga tak mau menentukan sikap harus berteman dengan siapa, harus bermusuhan dengan siapa, harus membolos pada pelajaran apa, harus hadir pada pelajaran siapa. Bagi Fei Lung, tugasnya hanyalah belajar dengan baik, memenuhi harapan terbesar ayahnya. Herannya, Fei Lung tak pernah kesulitan bergaul dengan siapa saja. Ia senantiasa memiliki banyak kawan yang baik.

Andai saja semua murid seperti Fei Lung, dunia pasti akan indah seindah-indahnya. Namun sayang, tak semua murid seperti Fei Lung. Tak semua yang dapat bergembira dengan cara yang mereka temukan masing-masing. Salah satunya adalah Kho Ping, seorang murid laki-laki yang lebih sering menghabiskan waktu istirahatnya di bawah pohon Willow yang rindang di samping perpustakaan sembari membaca beberapa kisah dongeng yang ia pinjam. Namun ketika tidak sedang membaca, wajahnya selalu terlihat murung dan tak bersemangat. Pembawaanya cenderung menutup diri dan jarang bergaul dengan teman-teman lainnya. Ironisnya, ia kerap menjadi bahan olok-olok di antara kawan-kawannya.

“Hei, kaki ayam! Larilah dulu mengelilingi gedung asrama supaya kakimu sedikit lebih besar, baru kau akan kami angkat menjadi anggota geng kami, hahahaa….” demikian anak-anak lain mengolok dan menertawakannya tanpa pernah peduli pada perasaannya. Kadang ada pula anak yang mengusilinya dengan cara menyembunyikan alas kakinya di rerimbunan semak, hingga ia hanya bertelanjang kaki saat pulang menuju asrama.

Sebenarnya Kho Ping tergolong murid yang benderang otaknya, terutama ketika menghapal pelajaran. Sementara murid-murid lain membutuhkan dua-tiga hari untuk menghapal kitab-kitab baru, Kho Ping hanya membutuhkan waktu satu hari untuk mematrinya dalam ingatan. Setidaknya, kelebihan inilah yang membuatnya terlihat baik, terutama di mata para guru. Selain itu, Kho Ping pun pada dasarnya seorang yang cukup ramah dan senang membantu. Namun sayang, banyak murid-murid lain yang mendekatinya sekedar untuk memanfaatkan kepintarannya.

Adalah Fei Lung, yang merasa bersimpati terhadap Kho Ping. Sejak lama ia memperhatikan Kho Ping dari kejauhan, hingga ia merasa berbelas kasihan kepadanya. Tak sampai hati ia melihat Kho Ping yang senantiasa dipermainkan dan dipermalukan. Beberapa kali Fei Lung memergoki Kho Ping tersedu sendirian. Barangkali ia merasa sangat sedih karena sering diperlakukan tak adil dan semena-mena. Maka suatu hari, Fei Lung pun mencoba untuk diam-diam mendekatinya.

“Aku mengerti jika kau merasa sangat bersedih. Tapi tersenyumlah! Kamu harus melihat matahari yang senantiasa tegar menyinari dunia meski manusia semakin lama semakin tak ramah dan berkata seenaknya mengenainya. Suatu saat, kita pasti menyadari bahwa kehadiran matahari adalah segalanya bagi kehidupan kita. Yang kita perlukan hanya bersabar… Maka sabar dan tegarlah, Kho Ping…” kata Fei Lung dengan lemah lembut.

Kho Ping yang segera menyadari kehadiran Fei Lung cepat-cepat menghapus air matanya. Ia memaksakan dirinya untuk tersenyum karena malu terlihat lemah di mata Fei Lung. Sejenak ia merasa kikuk, tak tahu apa yang harus dikatakan demi mencairkan suasana yang sedang ia rasakan muram. Namun Fei Lung adalah seorang gadis yang mudah menciptakan suasana sekehendak hatinya. Andaikata kemuraman adalah sebuah batu, ia mampu menghancurkannya dengan tetesan air yang menjelma keceriaannya.

“Apa kau sudah siap menghadapi ujian akhir musim dingin ini, Kho Ping?” Fei Lung mengalihkan pembicaraan, dengan harapan Kho Ping merasa tak terlalu terbebani.

“Eh… emmm… entahlah, masih ada beberapa kitab yang belum kubaca tuntas…” Kho Ping menjawab sekenanya.

“Tapi kupikir akan mudah bagimu menghapal rumus-rumus itu. Sebaliknya, aku benar-benar kewalahan dan rasanya aku tak sanggup menghapal dan mempelajari sebanyak itu. Wah, banyak sekali yang belum kumengerti.” Fei Lung tampak sungguh-sungguh berkeluh kesah. “Andai kau mau berbaik hati padaku, ajarilah aku beberapa. Atau jika kau tak keberatan, barangkali kita bisa belajar bersama-sama. Bagaimana?”

“Oh, eh… Aku sama sekali tak keberatan, kok. Aku senang bisa membantumu.” Jawab Kho Ping malu-malu.

“Kalau begitu, bagaimana jika besok sore kita belajar bersama setelah kelas usai? Kita bertemu di serambi kelas, ya… Setelah itu kita bisa tentukan dimana akan belajar. Hmm… Sepertinya di bawah pohon Willow samping perpustakaan itu akan cukup menyenangkan, sembari melihat danau yang tenang. Biasanya pada sore hari beberapa bangau terbang dan menangkap ikan di sana. Kau sering kesana, bukan?”

Kho Ping hanya mengangguk sambil tersenyum. Kini, kesedihannya sedikit tersamarkan. Ia merasa senang jika seseorang membutuhkannya, menganggap dirinya lebih berarti. Apalagi jika orang tersebut adalah Fei Lung.

“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa nanti, Kho Ping..”

**

Pada waktu yang telah disepakati, mereka pun bertemu di tempat yang disepakati pula — di bawah pohon Willow, di samping perpustakaan. Pada hari-hari kemudian, mereka semakin kerap bertemu di tempat yang indah itu, yang tak pernah membuat mereka bosan berlama-lama disana. Pemandangannya memang mengagumkan. Sembari duduk di atas rerumputan yang halus, mereka dapat menikmati danau seluas mata memandang, juga deretan gunung yang berdiri megah di kejauhan. Memandang hamparan alam itu membuat pandangan mata mereka senantiasa terasa sejuk, juga membawa perasaan damai. Pada sore hari, acapkali beberapa bangau berbulu putih terbang dan menukik memburu ikan-ikan di permukaan air yang tenang. Sementara beberapa burung yang menghias angkasa berkelepak kesana-kemari, bersaing dengan pesona gulungan awan tipis yang menjadi pemanis. Matahari tak pernah garang sejak mereka senantiasa berteduh di bawah pohon Willow yang besar dan kokoh, yang entah telah berumur berapa tahun — sepertinya jauh lebih tua dari usia mereka.

Kho Ping dan Fei Lung semakin giat belajar. Namun adakalanya mereka membicarakan hal-hal lain, misalnya dongeng atau kampung halaman mereka. Kho Ping memang senang dengan cerita-cerita dongeng. Ia telah membaca banyak dongeng dari berbagai negeri. Acapkali ia mengkisahkan beberapa dongeng pada Fei Lung, yang selalu mendengarkan dengan penuh perhatian dan ketakjuban. Kadang-kadang, Kho Ping mendengarkan Fei Lung menyanyi dengan suaranya yang merdu, atau membaca sajak-sajak yang dibuatnya. Jika tak ada lagi hal-hal menarik yang bisa dibicarakan, maka biasanya mereka akan berbincang-bincang tentang sekolah mereka sendiri — sebuah pembicaraan yang tak habis-habis.

“Tak terasa libur panjang musim semi sebentar lagi tiba. Sudahkah kau menghubungi orang tuamu untuk menjemputmu?” tanya Fei Lung sembari mengibaskan beberapa semut yang menjalari kakinya.

“Belum. Sepertinya aku berencana untuk pulang sendirian. Aku ingin memberi kejutan kedua orang tuaku.”

“Wah, kau hebat jika bisa melakukannya. Aku berharap orang tuamu tak marah ketika mengetahui kau pulang sendirian.” kata Fei Lung, yang tak bisa menyembunyikan kekagumannya. “Dan kebetulan tahun baru nanti masih dalam masa liburan. Sangat menyenangkan jika merayakannya bersama keluarga.”

“Ya, betul… Ada banyak makanan dan hadiah-hadiah yang membuatku berangan-angan andai saja setiap hari adalah tahun baru, hahahaa… Bagaimana dengan perayaan tahun barumu?”

“Sepertinya kurang lebih sama. Ada banyak tamu yang berkunjung ke rumahku, karena ayah dan mendiang ibuku memiliki banyak saudara. Biasanya, mereka membawa buah tangan yang menarik untukku” .

“Bersyukur kita selalu dapat menikmati tahun baru dengan baik. Ngomong-ngomong, apa kau tahu dongeng asal usul tahun baru Cina itu sendiri?”

“Ceritakanlah!” pinta Fei Lung dengan antusias.

“Konon di zaman dahulu kala hidup seekor monster bertanduk tunggal, bermata besar dan berkuku tajam, bernama Nian.” Kho Ping memulai dongengnya. “Monster tersebut tinggal di dalam lautan, dan sepanjang tahun dia habiskan waktunya untuk tidur. Dia hanya bangun saat musim semi tiba untuk mencari makanan. Makanan kesukaan monster Nian tersebut adalah manusia. Bukan hanya memburuh manusia, monster tersebut juga memporak-porandakan ladang penduduk dan merusak panen.”

“Wah, apakah tidak ada cara untuk menghentikan ulah monster Nian? Kasihan sekali manusia-manusia itu…” Fei Lung mulai terbawa oleh imajinasinya.

“Tak ada yang berani padanya. Tapi untuk menghindari korban jiwa, penduduk selalu mengungsi ke dataran tinggi di setiap awal musim semi. Mereka menyiapkan bekal makanan yang cukup. Pada suatu hari di musim semi, seorang pengemis melewati desa tersebut untuk meminta makanan. Ternyata ia mendapatkan desa tersebut dalam keadaan kosong. Saat ia bertemu dengan seorang nenek, ia bertanya kemana gerangan semua warga desa. Nenek tersebut menjelaskan soal monster Nian dan pengungsian penduduk. Sang nenek yang baik hati itu pun memberikan makanan kepada si pengemis. Pengemis itu lalu bertanya, kenapa nenek tidak ikut mengungsi. Nenek tersebut berkata, ‘Anak dan cucu saya telah menjadi korban tahun lalu, dan saya sudah terlalu tua untuk ikut mengungsi. Jika monster Nian datang, saya akan melawan sebisa saya’.

“Si pengemis menjadi iba pada sang nenek, lalu mengatakan pada sang nenek bahwa sesungguhnya mahluk tersebut takut pada tiga hal, yakni mahluk yang lebih besar dan seram daripada dia, suara keras dan bising, juga warna merah. Lalu si pengemis meminta sang nenek menyediakan kain besar untuk membuat binatang-binatangan dan mencat depan rumah menjadi merah. Ia pun menyuruh nenek tersebutberpakaian merah, lalu dia mengumpulkan batang-batang bambu supaya menimbulkan suara ledakan saat dibakar.

“Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya monster Nian muncul. Si pengemis bergegas memakai kain yang telah dibuat menyerupai monster. Ia juga meminta sang nenek membakar batang bambu yang sudah disediakan serta memukul benda apa saja yang bisa menimbulkan suara bising. Mendapat sambutan demikian, monster Nian sangat kaget. Ia pun lari terbirit-birit dan terbang, tak pernah kembali lagi.

“Sejak peristiwa kemenangan ini, penduduk desa merayakannya setiap tahun sebagai hari raya besar serta perayaan panen. Perayaan diadakan dengan cara meniru apa yang telah dilakukan oleh si pengemis dan sang nenek, juga sebagai tindakan pencegahan akan kembalinya monster Nian. Para penduduk mendatangi rumah-rumah kerabat untuk mengucapkan selamat atas terbebasnya mereka dari ancaman monster nian. Sebagai balasan, setiap keluarga menyediakan minuman dan kue-kue untuk tamu mereka. Selain itu, mereka pun memakai berbagai hiasan yang berwarna merah. Itulah sebabnya, sampai sekarang, setiap tahun baru, kita tak asing dengan warna merah, kue-kue, dan juga petasan.” Kho Ping mengakhiri ceritanya.

“Wow! Aku tak menyangka jika ternyata asal usulnya demikian. Terima kasih sudah menceritakannya padaku, Kho Ping!” Fei Lung tampak berbinar-binar setelah mendengar kisah yang diceritakan oleh Kho Ping.

Kho Ping selalu merasa puas setelah ia usai bercerita pada Fei Lung. Hanya Fei Lung, satu-satunya yang mau mendengarnya dengan penuh perhatian. Dan hanya pada Fei Lung, Kho Ping menceritakan banyak hal. Sedikit demi sedikit, ia mulai merasa memiliki rasa percaya diri.  Tapi di sisi lain, ia pun menyimpan rasa tersendiri di hati yang tersembunyi. Seperti ada percikan api dalam dirinya saat jantungnya berdegup kencang, saat ia menatap binar mata Fei Lung yang menurutnya paling indah di dunia ini. Kadangkala ia sampai merasa salah tingkah saat Fei Lung mendapati dirinya sedang memandanginya. Juga pada waktu-waktu yang lain, saat rembulan mulai bersinar dan kesendiriannya mulai terpapar, Kho Ping kerap memikirkan Fei Lung dan mengangan-angankannya.

Pada suatu hari, beberapa hari sebelum libur usai ujian tiba, Kho Ping menghampiri Fei Lung dan berkata, “Bolehkah pada tahun baru nanti aku berkunjung ke rumahmu, Fei Lung?”

Benarkah? Apakah kau serius? Tentu saja boleh, Kho Ping! Aku akan senang sekali!” pekik Fei Lung karena terkejut sekaligus girang.

Maka saat libur musim semi tiba, berpisahlah mereka. Fei Lung pulang ke kampung halamannya saat ayahnya datang menjemputnya. Demikian pula Kho Ping, pulang ke kampung halamannya dengan berangkat seorang diri, sesuai dengan niatnya sejak awal mula.

***

Saat perayaan tahun baru tiba, Fei Lung jauh lebih antusias daripada tahun-tahun sebelumnya. Ia memilih cheongsam merah dari sutra terbaik yang dijual di kotanya, juga jeruk-jeruk yang paling segar yang ada di pasar. Bahkan Fei Lung pun membuat sendiri kue keranjang dalam jumlah yang cukup banyak, juga menyiapkan beberapa lampion merah yang indah di bagian depan beranda rumahnya. Pada ayahnya, ia mengatakan bahwa akan ada seorang kawan sekolahnya yang berkunjung.

Memang benar, Kho Ping datang berkunjung ke rumah Fei Lung saat langit sedang merah, saat matahari sudah sepenggalah dan hendak meluncur ke peraduan. Bukan main senangnya hati Fei Lung saat mendapati sahabatnya menepati janji. Setelah berkenalan dengan Lin Xiang Ru, ayah Fei Lung, dan menyantap penganan-penganan lezat yang disajikan, mereka berjalan-jalan menyusuri sepanjang sungai dan sepanjang jembatan yang ramai dengan muda-mudi maupun anak-anak. Gemintang sedang bertaburan, memantulkan bayangannya di permukaan sungai yang mengalir tenang.

“Tak terasa, sekolah kita tinggal satu tahun lagi. Aku berharap semoga kita lulus dengan nilai yang memuaskan…” Kho Ping berusaha memecah keheningan di antara mereka.

“Ya, tentu aku pun berharap demikian. Setelah lulus nanti, kau hendak kemana, Kho Ping?” tanya Fei Lung penasaran.

“Sepertinya aku akan mendaftar ujian untuk menjadi pejabat kerajaan. Ayahku berharap demikian. Doakan aku lulus, ya… Kau sendiri bagaimana?” Kho Ping balik bertanya.

“Entahlah… sepertinya aku akan meneruskan usaha ayahku membuat keramik. Aku sudah belajar cara membuat keramik yang baik. Kuharap aku bisa mewarisi keahlian dan nama besarnya…”

“Semoga kau sukses. Aku yakin kau bahkan bisa melebihi ayahmu jika bekerja dan belajar lebih keras. Tapi jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan, ya… Aku tak ingin mendengar kabar kau jatuh sakit karena terlalu memforsir diri membuat keramik.”

Fei Lung jadi tersipu oleh perhatian Kho Ping. Tak banyak yang memperhatikannya hingga sedemikian rupa, sehingga di mata Fei Lung, Kho Ping adalah sosok yang memiliki kebaikan hati yang sempurna.

Malam itu, Kho Ping menginap di rumah Fei Lung. Ia tidur di ruang tengah setelah beberapa jam menghabiskan waktu minum teh bersama Lin Xiang Ru. Keesokan paginya, Kho Ping bersiap untuk pulang ke kampung halamannya yang berjarak sekitar seratus mil ke selatan.

“Sampai jumpa lagi di sekolah, Fei Lung. Aku pasti tak sabar untuk segera bertemu kembali,” pamit Kho Ping sebelum pergi meninggalkan Fei Lung.

“Tentu saja! Aku berharap segera dapat mendengar dongeng-dongengmu yang terbaru. Ceritakan yang lebih hebat lagi, ya!” kata Fei Lung sambil tersenyum lebar.

Namun tiba-tiba saja, Kho Ping mengeluarkan sepucuk surat dari balik mantelnya. “Fei Lung, sebenarnya tujuanku kemari adalah menyampaikan surat ini. Ini surat dariku. Ada beberapa hal yang membuatku merasa lebih nyaman jika kusampaikan melalui surat. Maafkan aku, semoga kau tak keberatan. Bukalah nanti. Namun sebelum kau membacanya, aku minta maaf kepadamu. Semoga kau memaafkanku.”

Fei Lung agak terkejut menerima surat dari Kho Ping. Terutama dengan sikap Kho Ping yang tiba-tiba menjadi begitu serius. Ia pun tak mengerti mengapa Kho Ping menyampaikan kata maaf berkali-kali. Setelah menerima surat itu, mereka pun saling berpisah dan melambaikan tangan.

Sesegera setelah Kho Ping menghilang dari pandangan, Fei Lung membuka surat yang tersegel rapi. Tampaklah tulisan indah Kho Ping tersemat di atas kertas merang yang sedang dipegangnya.

Maafkan aku, jika aku menjadi lancang terhadapmu, Fei Lung… Tapi aku tak dapat membiarkan diriku sendiri terus menerus tak jujur pada perasaanku sendiri. Maka kuputuskan untuk mengatakannya padamu setelah memikirkan ini beribu-ribu kali sebelumnya. Terpaksa melalui surat ini karena aku terlalu pemalu untuk menyampaikannya langsung di hadapanmu.

Fei Lung, aku mencintaimu… Sungguh aku mencintaimu… Dan yang hanya dapat kukatakan selanjutnya adalah, maukah kau menjadi pendampingku kelak setelah kita lulus dan aku mendapat pekerjaan? Aku yakin aku akan segera mendapatkan pekerjaan dengan pengaruh jabatan ayahku. Yang kupikirkan saat ini, aku hanya ingin hidup bahagia bersamamu. 

Semoga kau masih memiliki kebaikan hati dengan segera menjawab suratku — apapun jawabannya. Aku akan mencoba untuk senantiasa tegar, matahariku… 

Kho Ping

Fei Lung terhenyak setelah membaca surat itu. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Kho Ping menyimpan perasaan cinta di hatinya. Sejauh prasangkanya, Kho Ping adalah sekedar sebagai sahabat yang baik baginya. Kini, mau tak mau, hatinya dilanda kebimbangan. Terlebih, beberapa minggu yang lalu, ayahnya mengajukan seorang kerabat jauh sebagai calon suaminya. Fei Lung sangat mencintai ayahnya dan senantiasa patuh. Ia bahkan seringkali rela mengabaikan perasaannya sendiri demi kebahagiaan ayahnya. Bahkan jika ayahnya memintanya menikah dengan seseorang yang telah dipilihkan untuknya, barangkali Fei Lung pun takkan merasa terlalu keberatan. Namun kini, hatinya benar-benar diliputi kebimbangan. Ia masih belum memiliki keyakinan hendak memberikan menjawab apa pada Kho Ping.

Bersambung………..

Ramu Sedang Menunggu Suratmu… (Lomba SCUK Berhadiah 500rb!)

Dear kawan,

Sudah mendapatkan atau membaca novel terbaru saya Surat Cinta untuk Kisha ?

Jika belum, segera dapatkan di toko-toko buku terdekat atau dapat langsung memesan via online dengan klik disini 

Karena saya, bekerja sama dengan penerbit Diva Press menyelenggarakan lomba menulis yang seru dan asyik untuk diikuti.

Caranya cukup mudah : 

  • Miliki terlebih dahulu novel Surat Cinta untuk Kisha (SCUK) 😀
  • Buatlah surat balasan kepada Ramu. Berpura-puralah menjadi Kisha.
  • Ketik surat balasan tersebut dalam MS Word, maks. 1.000 kata,  font Times New Roman, ukuran 12 pt, spasi ganda (spasi 2)
  • Jangan lupa lampirkan biodata diri di bagian bawah naskah (di halaman paling belakang)
  • Karya dikirimkan via attachment ke email ceritabintang@gmail.com dengan subjek: #SuratSCUK
  • Semua peserta pun wajib LIKE Fanpage Penerbit DIVA Press atau follow akun Twitter @divapress01
  • Selain itu, unggah/upload versi “surat balasan untuk Ramu” di catatatan/note Facebookmu, kemudian tandai/tag Penerbit DIVA Press dan minimal 10 temanmu
  • Kompetisi berlangsung mulai 21 Januari  s/d  21 April 2013
  • Juri dari Lomba #SuratSCUK ini adalah Bintang Berkisah 😀

Hadiah:

1. Satu orang juara pertama mendapatkan uang tunai Rp. 500.000,- dan paket buku-buku Diva Press.

2. Masing-masing satu orang juara kedua dan ketiga mendapatkan paket buku-buku Diva Press.
Atau info lomba pun dapat dilihat DISINI


Saya tunggu partisipasimu segera! 😀

k0pvqy

Mengisahkan cinta melalui surat yang bercerita ; Surat Cinta untuk Kisha

SURAT CINTA UNTUK KISHA (SCUK) adalah sebuah novel roman yang saya tulis dengan gaya monolog — karena berbentuk rangkaian surat-surat berantai dari seorang lelaki bernama Ramu kepada cinta masa kecilnya 30 tahun silam, bernama Kisha.

Karena adalah surat cinta, maka pembaca akan menghirup kentalnya udara romantika di tiap-tiap sudut pengisahannya. Novel ini mengajak kita untuk menyelami kontemplasi arti dan hakekat cinta — yang seharusnya sakral bagi setiap pencinta. Kendati demikian, Surat Cinta Untuk Kisha tak melulu dijejali dengan eksploitasi romantika yang datar dan membosankan, melainkan juga menelisik banyak sisi kehidupan manusia dengan segala kerumitannya yang kompleks. Tentang perpecahan, perkawinan, problematika remaja, hubungan orang tua, perjalanan spiritual, hingga carut-marut hukum dan pemerintahan. Melalui kisah-kisah yang mengalir, novel ini pun mengkritisi kondisi aktual di sekitar kita, juga mengungkap gambaran konflik batin dan kegelisahan pada manusia yang notabene tercipta tidak sempurna. SCUK menyajikan banyak kejutan tak terduga melalui perjalanan hidup Ramu yang dibeberkan secara kronologis melalui rentetan surat cintanya. Hingga pada halaman terakhir, saya telah menuangkan candu pada setiap babnya supaya pembaca enggan untuk menutup buku sebelum usai cerita. 😀

Novel ini saya tulis pada awal tahun 2012 lalu, pernah saya posting dalam blog meski saat itu masih dalam bentuk draft kasar. Dengan sekian banyak perbaikan sekaligus tambahan, maka Surat Cinta Untuk Kisha yang lebih sempurna hadir dalam bentuk novel cetak, diterbitkan oleh Penerbit Diva Press di awal tahun 2013. Silakan menuju ke toko-toko buku terdekat untuk mendapatkannya, atau bisa langsung memesannya melalui  —> http://divapress-online.com/product/view/2048/surat_cinta_untuk_kisha.html

Sebagai sneak-preview, maka Bab 1 SCUK saya tampilkan dan dapat dibaca di —> http://wp.me/p26rL1-U

 

Jangan lupa pula untuk mengikuti ajang kompetisi menulis surat balasan untuk Ramu dengan hadiah menarik! Simak ketentuannya DISINI


 

Selamat membaca, semoga tak kecewa! 😀

 

Salam,

Bintang Berkisah

 

 

 

Beberapa komentar kawan-kawan yang telah membaca SCUK versi draft blogpost :
@hurufkecil : dear @bintangberkisah, surat-suratmu itu betul satu draft fiksi luar biasa. saya kagum kamu punya energi menulis sebesar itu.

@ike_nike : Seneng baca surat surat cintanya @bintangberkisah, melodramatik 🙂

 @pung_kamaludin : recomended writer! ikuti surat2 cinta untuk Kisha dari @bintangberkisah

@hafiz_haku : Surat cinta untuk kisha, dari @bintangberkisah recomended bgt buat di baca.. Cerita yg menyentuh.. *kasihjempol

@Loysye Surat ini membuat aku menangis :’)

@putraPMA : sukses ya mas kisah Ramu-nya. benar benar ga bisa bayangin kalo itu benar-benar nyata. cinta dan kesedihan itu menyatu 🙂

@ahkeram  : Keren sekali ceritanya @bintangberkisah ini

……………………..

 

 

k0pvqy