Sampai kapan menjadi ikan hias?

Image

Ini sungguhan amat menggangguku.

Maksudku berita-berita di televisi itu. Tak hanya sekadar berita, tapi segala hal yang ditayangkan oleh televisi itu. Entah sejak kapan tepatnya, aku mulai sedikit demi sedikit menjauh dari televisi. Setidaknya, untuk menjaga kewarasanku sendiri. Mengetahui terlalu banyak hal yang terjadi di dunia ini membuatku gila. Atau kupikir dapat menularkan semacam penyakit fatal yang merusak semua syarafku, sampai akhirnya membunuhku. Tidak, aku tidak ingin mati konyol seperti itu. Menurutku, itu cara mati yang tidak elegan.

Perubahan ini kuanggap cukup progresif. Karena aku sadar betul, dulunya tidak seperti ini. Sebelum manusia-manusia jaman sekarang terjangkiti penyakit ini, aku sudah mengidapnya lebih dulu. Ya, hanya ingin terlihat lebih cerdas — adalah penyakit yang dulu pernah kuderita dengan bangga diri. Nyaris setiap saat aku mengunyah segala berita di koran, televisi, kemudian membuat  catatan-catatan bak seorang kritikus brilian atau mengangkat topik-topiknya di antara sekawananku yang jauh tak mengerti apapun — hanya supaya terlihat lebih cerdas. Mungkin karena kecerdasan memiliki daya pesona yang luar biasa memikat untuk menyelamatkanku dari selubung pergaulan yang semakin kejam dan pemilih. Supaya orang lain melihatku sebagai sosok yang punya nilai jual mentereng di lini-lini sosial.

Tapi jiwaku yang renta ini sudah sampai pada suatu kesimpulan; bahwa mengkilapkan pamor melalui nutrisi intelektualita adalah menyesatkan. Maaf-maaf saja, aku justru merasa lebih segan dengan orang-orang yang tinggal di pegunungan dan hanya mengetahui sedikit banyak tentang kambing atau itik mereka. Meski yang mereka bicarakan hanyalah seputar kebiasaan-kebiasaan kambing dan jenis-jenis rumput paling baik untuk dijadikan pakan — dan tidak membicarakan tentang aib artis papan atas, jadwal studi banding anggota dewan rakyat, keputusan hakim agung, atau kebijakan pemerintah mengenai harga sembako, tapi mereka adalah penyelam-penyelam kolam kehidupan yang hebat dan dapat dipercaya. Ya, tak ada gunanya mengetahui semua hal yang terjadi di dunia ini. Tak ada gunanya menjadi ikan hias yang hanya sekadar berenang-renang di permukaan untuk melahap plankton-plankton yang mengambang. Ikan-ikan hias itu hanya bisa berlenggak-lenggok memamerkan warna-warni tubuhnya. Mungkin mereka bermaksud supaya siapapun yang melihat akan terpesona dan segera menangkap mereka. Otak mereka takkan mampu berpikir lebih jauh, apakah nasibnya akan berlanjut ke penggorengan atau sekadar dipindahkan ke kolam yang lebih kecil. Mengenaskan, bukan?

Pada saat tertentu, maaf jika aku menjulukimu sebagai ikan hias, Sayang… Dan menurutku, ini bukanlah sesuatu yang baik di mataku — meski kamu tak peduli apa yang baik atau buruk di mataku. Makanya, aku sekadar dapat menghela nafas berkali-kali tiap melihat polah tingkahmu.

Saat menjumpaimu pertama kali, kau begitu sederhana, namun saat itu tak terlalu membuatku terpesona. Ya, kau tahu bahwa saat itu aku masih sedang berada dalam fase berambisi untuk  ‘hanya ingin terlihat cerdas’. Kau bahkan kerap menanyakan banyak hal kepadaku, yang mungkin memang lebih banyak tahu daripadamu. Dulu, senantiasa kuanggap bahwa segala hal yang ada di kepalamu hanya hal-hal yang tidak bermutu dan menggelikan. Sementara aku memikirkan tentang perang Irak, hegemoni Amerika, bumper-bumper dalam pemilu, affair beberapa pejabat yang sedang diseret ke bui, dan lain sebagainya — yang terlihat begitu kompleks, kau justru sibuk mempertanyakan apa bedanya kesenangan dan kebahagiaan, mengapa manusia tak pernah merasa cukup, apa yang akan terjadi jika seseorang tak dikenal tiba-tiba mengajakmu menikah, dan lain sebagainya — yang terlihat begitu remeh dan seharusnya tak perlu dipertanyakan.

Namun kini aku menyadari, betapa sebenarnya aku jauh lebih mencintai sosokmu yang dulu daripada yang sekarang — yang sekonyong-konyong menjelma menjadi ikan hias yang ingin terlihat lebih cerdas. Namun sayang, yang hanya dapat kulakukan adalah berteriak-teriak seperti orang kebakaran di belakang punggungmu, sementara kamu tetap menjadi ikan hias yang terus dan semakin ingin terlihat lebih cerdas — tanpa pernah tahu ada yang sedang kebakaran di belakang punggungmu. Jangan dulu menertawaiku, ini adalah semacam bentuk kepedulian yang teramat besar terhadapmu.

Terus terang, sikapmu yang kini menjelma menjadi ikan hias itu sedikit menggangguku. Kutekankan, hanya sedikit menggangguku. Ah, andai saja aku dapat benar-benar menganggapmu sebagai seorang yang cerdas. Masalahnya, kau tidaklah secerdas barometer standarku. Jadi, aku hanya sekadar menghargai usahamu saja.

Di permukaan, mungkin kau berhasil membuat banyak ikan-ikan lainnya menatap takjub padamu. Ah, betapa cerdasnya kamu! Betapa kritisnya kamu! Betapa inteleknya kamu! Tapi pada kedalaman tertentu, kau sungguh-sungguh seorang penyelam yang amat payah, dan kesoktahuanmu itu justru membuatmu ditertawakan diam-diam, atau mereka akan mengatakan bahwa kau terlalu banyak bicara tapi tak paham dengan pokok persoalannya.

Kukatakan demikian karena kau bukanlah pakar yang telah berpuluh-puluh tahun berkecimpung di suatu ilmu tertentu. Kau hanya sekadar penikmat televisi dan surat kabar-surat kabar yang menyesatkan itu. Televisi dan surat kabar tak pernah jujur menyampaikan apapun, dan juga bentuk media yang ‘agak’ pemalas. Itu semua dikarenakan mereka hanya punya space-space terbatas, dan juga selalu tergesa-gesa. Coba kau bayangkan, ada sekian ribu kejadian menarik yang berduyun-duyun ingin menjadi headline, jadi tak akan ada kesempatan untuk mengupas segala sesuatu secara lebih mendalam dan lebih jujur. Jadi, mereka memilih menyebar gosip demi keuntungan materialis semata. Sementara kau memiliki sedikit tipikal yang mudah memamah gosip dan sedikit lemah untuk bersikap obyektif, melainkan cenderung condong pada segala hal yang menyelamatkanmu atau membuatmu merasa tenang, aman, tentram, dan tentu terlihat lebih cerdas.

Aku sudah memperingatkanmu. Maksudku memberimu pandangan yang lebih sopan, untuk tak lagi terlalu ceriwis dan kritis dengan banyak hal — seolah-olah semua asap di seluruh penjuru dunia ingin kau sedot habis dengan paru-parumu. Itu tak menyehatkanmu. Bukan semata karena lika-liku dunia dapat membuat siapapun yang mengikutinya terjerembab pada kubangan nista yang tak membawa kemana-mana selain kesesatan, melainkan karena kapasitasmu pun masih standar saja, sebatas di permukaan. Sekali lagi, perlu kuingatkan bahwa kau bukanlah pakar yang mengetahui semua kedalaman sehingga kekritisannya dianggap berbobot dan berkualitas. Kau hanyalah ikan hias yang menghibur bocah hingga berdecak kagum, sedangkan sebagian lagi tertawa terpingkal-pingkal atas sikapmu. Apa sih, nyamannya menjadi komentator yang ceriwis terhadap masalah skor pertandingan sekaligus harga bawang?

Tuduhanku ini membuatmu sedikit kesal, ya? Apa kau merasa tak bersikap ‘ingin sekadar terlihat cerdas’? Lantas, mengapa kau tampak sulit ikhlas dan rendah hati? Tentu saja aku punya alasan mengapa hingga menjulukimu seperti ikan hias ‘yang sekadar ingin terlihat cerdas’. Ketika ada orang lain yang kemudian mengungkapkan argumen tandingan pada opini-opini omong kosongmu, egomu tak sudi untuk menerimanya sebagai masukan yang menjadi tambahan perbendaharaanmu. Kau jarang sekali, atau mungkin bahkan nyaris tak pernah menyatakan pernyataan yang bersifat jalan tengah. Pikiranmu melulu disibukkan dengan bagaimana cara menyanggah yang terlihat lebih keren. Jadi, orang lain akan segera merasa lelah atau mereka akan berkata dalam hatinya, betapa sia-sianya berargumen dengan orang yang sok tahu dan ngotot merasa paling benar — hanya supaya terlihat sebagai seorang yang (amat) kritis.

Oh ya, saranku, jika kau memang benar-benar ingin terlihat sebenar-benarnya cerdas, jauh lebih baik jika kau mencoba menulis sesuatu semacam ulasan dalam makalah yang disertai dengan uji sample lapangan dan beberapa pandangan dari pakar-pakar yang jauh lebih kompeten dan lahir lebih dulu daripadamu. Itu lebih baik… Sungguh, itu lebih baik… Setidaknya, belajar menjadi seorang ilmuwan jauh lebih bermartabat daripada memupuk diri menjadi seorang kritikus yang kerap mencericit seperti tikus.

Ah, lihatlah! Pencapaianmu sekarang membuatku menjadi terus menggerutu sepanjang waktu, dan ini sama sekali bukan pertanda yang baik. Tulisan ini hanya berisi perasaan kesalku terhadapmu. Tapi aku yang sekarang menjadi sedikit lebih sederhana (ingat, hanya sedikit — lebih sederhana) ini punya keyakinan bahwa segala sesuatunya bisa diubah menjadi lebih baik lagi.

Aku tidak merasa dengki padamu. Sama sekali tidak. Aku pernah mengalami masa-masa sepertimu — yang kuanggap sebagai masa puber dari pertumbuhan dan perkembangan hidup seorang manusia. Mungkin kau merasa bahwa terlihat lebih cerdas akan membawamu pada kepuasan diri. Tapi itu adalah kebohongan besar yang akan kau temui di belakang hari. Semakin tua manusia, semakin ia menyadari bahwa sebenarnya kebutuhannya hanyalah menjadi sederhana. Kurangi sikap skeptismu dan belajarlah untuk menempa pikiran positif pada segala hal — terutama di atas sampah dunia yang bertebaran. Hidup tak pernah memberi banyak, kecuali ketika engkau menjadi lebih baik.

—-

Nah, apakah aku terlihat cukup jengkel padamu?

Terima kasih, tapi kau pun telah meredakan kejengkelanku dengan cukup mengingat-ingat keberadaanmu di sisiku. 🙂

Masa SMA, Masa yang barangkali kucintai… atau kutangisi…?

Sekolah itu bukan sekolah terbaik. Padahal seharusnya aku berada di sekolah terbaik di kota itu. Hanya selisih koma sekian saja telah mampu menghempaskan seluruh asa dan harapanku dengan cara yang menyakitkan. Hancur lebur dengan perasaan malu dan tak berarti. Aku memilih menghindar dari lingkungan sekitarku. Kukatakan pada ayah ibu bahwa aku akan tinggal bersama seorang kerabat kami yang kebetulan rumahnya tak jauh dari sekolah baru yang menyesakkan dadaku.

 

Aku tak pernah benar-benar mendapat teman sehati, apalagi sejati. Paling-paling mereka lah yang merasa dekat denganku atau aku yang dekat dengan mereka dikarenakan situasi. Aku tak lihai dalam berteman, lebih banyak diam dan terasing. Aku menciptakan dunia sendiri dalam diriku yang lebih semarak — sementara kawan-kawanku yang dekat denganku kebanyakan adalah sosok-sosok yang mudah untuk populer. Mereka yang demikian mudah hinggap kesana-kemari. Aku tak dapat menyimpulkan, apakah aku ini terselamatkan atau bagaimana…

 

Salah satu pelajaran selalu membuatku unggul di antara yang lain. Setidaknya, aku masih memiliki potensi untuk terkenal atau dikenal karena kejeniusanku pada mata pelajaran itu. Bagiku, meski memang sedikit membanggakan, namun tak terlalu memuaskan. Kadangkala aku merasa tereksploitasi kawan-kawanku sendiri. Namun terpaksa kunikmati, karena jika tidak demikian maka aku bukan siapa-siapa. Bukankah dunia SMA itu juga berlaku kejam — kadangkala?

 

Aku tahu dia mencintaiku. Tapi aku tak berselera padanya. Dia pernah mengungkapkan perasaannya ketika kami duduk di bangku SMP. Rupanya kami bertemu kembali, terdampar di sekolah yang sama. Untunglah tak ditakdirkan menghirup udara di kelas yang sama. Tapi kami sudah tak pernah berkomunikasi, mencoba saling melupakan meski setiap hari dijejali oleh pertemuan.

 

Aku terpilih masuk dalam klub pengibar bendera di sekolah. Di antara sekian banyak ekstra kurikuler yang siswa manapun bebas memilih, hanya pengibar bendera lah yang dipilih. Para senior itu berkeliling kelas, memeriksa kami satu persatu saat berbaris di lapangan upacara, kemudian memberi tahu kami tentang keberuntungan kami terpilih masuk dalam tim pengibar bendera sekolah, satu-satunya tim paling bergengsi di sekolah.  Barangkali seharusnya aku bangga… Tapi jika aku boleh jujur, aku tak terlalu menikmatinya. Bahkan setengah tersiksa! Setiap Minggu pagi harus berkumpul di sekolah dan tunduk pada aturan atau perintah-perintah mereka yang menurutku… tak menyenangkan. Aku sama sekali tak hobi berlari mengelilingi sekolah hingga tujuh atau delapan kali meski toh aku berhasil melakukannya. Aku bosan dengan bentakan-bentakan mereka yang jujur saja, sebenarnya sama sekali tak mempengaruhi nyaliku. Kenyataannya, akhirnya aku memilih untuk menyudahi kegiatan yang menguras tenaga ini setelah satu tahun menjelang.

 

Aku menemukan kesenangan dan kebebasanku ketika kemudian memilih kegiatan karya ilmiah remaja dan teater. Tapi bukan kesenangan di dalam laboratorium IPA yang membuatku bergairah. Itu sama sekali bukan bidangku. Aku hanya senang ketika membuat majalah dinding, buletin, membuat kuis psikologi, menulis cerita pendek, atau karya-karya tulis dan aneka kreativitas lainnya. Demikian juga di teater; aku belajar berteriak-teriak, mengeluarkan bunyi vokal atau konsonan melalui suara perut atau kerongkongan. Tapi semua itu sedikit lebih menyenangkan.

 

Seorang adik kelas menggugah hatiku. Semakin lama, ia bahkan semakin sering menjajah mimpi-mimpiku, mengemudikan angan dan imajinasiku. Sungguh, aku tak bisa lagi menahan hasrat untuk memimpikan sebuah hubungan yang kurasa dapat lebih indah. Namun sayang, ia tak menghiraukanku. Padahal aku telah menggunakan banyak cara, seribu cara, untuk menarik hatinya. Kukerahkan semua yang kupunya, yang kubisa. Kupengaruhi semua orang yang kupikir dapat membantuku, melancarkan misiku. Mulai dari kawan-kawan yang populer, sahabat-sahabatku, para guru praktek, bahkan hingga seorang guru senior yang juga sekaligus guru kelasnya. Kususun skenario sedemikian rupa supaya seorang kawanku pun dapat menjadi kawannya, yang mengetahui betul apa perasaannya, bagaimana hari-harinya, hingga apa saja kebutuhannya. Namun nyatanya ia lebih senang berdiri angkuh atau menyembunyikan diri dariku. Aku patah hati. Patah sejadi-jadinya. Aku tak dapat tidur. Malam-malamku tergulung oleh kepedihan dan kesedihan, serta mimpi buruk yang bahkan telah kurancang sebelum mata terpejam.

 

Aku mulai berkenalan dengan minuman beralkohol. Namun saat itu masih sebatas bir. Seringkali aku menyembunyikannya di beberapa tempat yang kukira takkan dapat diketemukan orang lain, atau menyelipkannya di almari pakaian. Ada saat-saat dimana aku demikian menghayati prosesi menelan tegukan demi tegukan minuman fermentasi itu. Barangkali polahku lah yang berlebihan. Meski awalnya merasa tak enak dengan rasa, namun kunikmati saja. Bukan lidahku yang membutuhkan sensasinya, melainkan jiwaku yang kian rapuh.
Kawan yang tak terlalu dekat menawariku beberapa butir pil yang katanya sanggup membuatku nyaman sejenak, melupakan keresahan hati. Waktu itu, nama kerennya adalah pil koplo. Aku sempat menjadi pelanggan untuk beberapa saat.

 

Kekasih sahabatku memaksa sahabatku supaya aku menerima cinta sahabat kekasihnya. Jika tidak, hubungan mereka putus. Rasa sayangku pada sahabatku melebihi apapun, sehingga kulakukan saja kemauan konyol mereka — meski hanya bertahan beberapa bulan.

 

Album-album The Cranberries diputar berulang-ulang…

 

Tepat di saat usia 17 tahun, kakekku meninggal…

 

Seorang guru berkata pada ibu yang waktu itu mengambil raporku, bahwa aku adalah anak yang aneh… Barangkali karena pada beberapa kesempatan sikapku sedikit menjengkelkan mereka; seperti tak memperhatikan saat guru mengajar, makan snack saat guru mengajar, atau menyontek saat ulangan, gemar membolos, dll. Nyatanya, prestasiku selalu dapatlah dianggap cukup membanggakan.

 

Saat semua siswa sibuk dengan orientasi ujian nasional, fokus dan konsentrasiku justru tertuju pada ujian masuk perguruan tinggi. Aku mulai rajin mengkonsumsi minuman botol penambah stamina supaya dapat bertahan belajar dari malam hingga pagi menjelang.

 

Saat pengumuman nilai kelulusan, aku termasuk salah satu dari mereka yang sedang berbangga hati. Entahlah… apakah ini adalah sebuah hikmah — atau cukup sekedar penghiburan…

 

Demikian banyak kenangan-kenangan yang melintas saat ingatanku tertuju pada seragam putih abu-abu itu… Entah itu kepedihan, ataukah kesenangan, yang dapat kusimpulkan saat ini adalah sebuah keindahan, sebuah pembelajaran, sebuah perjalanan….

 

Kisah Sebuah Pengabdian

Sudah sepuluh tahun lamanya aku bekerja pada keluarga Comrad, salah seorang  golongan bangsawan yang memiliki tanah seluas sepuluh ribu hektar, tersebar di seantero negeri. Aku, pelayan-pelayan lainnya, juga keluarga tersebut berdiam di sebuah kastil peninggalan jaman lampau yang terbuat dari campuran batu bata dan semen kualitas tinggi. Konon bangunan ini didirikan tiga abad lalu. Dengan segenap siluet keangkuhannya, kastil ini masih menjulang kokoh di tengah taman dan padang rumput, beberapa ratus meter dari perumahan penduduk yang kumuh dan miskin.

Kastil ini dikelola dan diurus oleh dua puluh pelayan, termasuk aku salah satunya. Kebanyakan dari mereka adalah para pelayan profesional yang telah menempuh pendidikan kepelayanan dan rumah tangga bangsawan. Kendati demikian, para pelayan itu pun memiliki jam terbang serta masa kerja yang bebeda-beda. Aku sendiri telah mengabdi selama sepuluh tahun, meneruskan karir ayahku yang juga seorang pelayan di kastil ini. Ada yang megabdi lebih lama dariku, ada pula yang baru beberapa bulan lalu menginjakkan kaki di teras kastil.

Mengenai latar belakang tuanku, gelarnya adalah seorang baron berkat kejayaan dan nama harum para leluhurnya. Baron Comrad masih tergolong muda. Usianya baru memasuki kepala empat delapan bulan yang lalu. Bersama istrinya yang jelita namun berpembawaan dingin, ia dikaruniai empat anak. Yang terakhir baru berusia delapan bulan, seorang bayi laki-laki yang montok dengan kulit putihnya yang kemerahan. Sedangkan yang tertua berusia sembilan tahun, seorang anak laki-laki yang sangat aktif dan mengesalkan. Kejahilannya nyaris setara dengan setan berkat keahliannya membuat onar dan kerusuhan, terutama di antara kami para pelayan, yang adalah sasaran empuknya.

Di hari libur yang cerah, keluarga terpandang itu biasa menghabiskan pagi hingga siang di taman samping timur kastil yang dipenuhi barisan anemone, daffodil, dandelion, dan mawar yang merekah sempurna. Para pelayan harus sigap menyiapkan bekal sekaligus peralatan piknik. Secara bergantian, mereka — termasuk aku, menyertai kebersamaan keluarga kecil itu. Kami berdiri tegak sembari mengawasi anak-anak yang berlarian atau sesekali menggoda kami dengan mengolok-olok. Kesiapsediaan kami ditujukan untuk keperluan mereka yang mendesak sewaktu-waktu. Semisal mengambil asbak atau es krim tambahan yang disukai anak-anak.

Seperti pada piknik kali ini, para pelayan atas persetujuan majikan menyetujui untuk menghidangkan sajian barbeque segar. Pesta barbeque ini telah lama tidak diselenggarakan. Terakhir kali kurang lebih lima bulan lalu. Kami pun menyediakan bebek, ikan salmon, hingga daging segar dari lembu yang baru tadi pagi dipotong. Aku sediri menyiapkan berbagai peralatan barbeque termasuk arang. Yang membuatku sangat antusias adalah, alat panggang yang akan digunakan kali ini adalah model terbaru yang masih belum terpakai sama sekali. Semalaman aku telah membaca buku petunjuknya hingga benar-benar yakin bahwa pesta barbeque kali ini akan akan membuat majikanku puas.

Dua orang pelayan membantuku menyiapkan bahan makanan yang akan segera dibakar, sedang aku sendiri memusatkan perhatian pada alat panggang baru. Semua nyaris terpasang sempurna. Kutuangkan beberapa butir arang yang sebelumnya telah kubakar dan sedikit menyisakan nyala api. Namun tiba-tiba aku dikagetkan oleh sesuatu. Nampaknya sebuah benda atau entah apa telah memukul punggungku dengan keras. Ada yang melempar sesuatu padaku. Merasa terganggu, aku mencari tahu apa gerangan yang telah mengenai punggungku. Kulihat Dave sedang tertawa terbahak-bahak menatap kebingunganku. Tangannya penuh dengan buah-buah blueberry yang ia lempar-lemparkan pada para pelayan termasuk aku. Ia berpikir bahwa perbuatannya itu sungguh lucu! Baju putih kami yang sebelumnya terlihat suci tak bernoda kini dipenuhi dengan jejak-jejak lendir keunguan yang menjijikkan. Namun apa daya, kami ditakdirkan tak bisa protes, melainkan hanya diam menerima perlakuan kurang ajar majikan cilik yang mengesalkan.

Dave adalah anak kedua sang baron. Usianya masih enam tahun, tapi tingkahnya bahkan melampaui kakaknya. Dialah yang paling nakal diantara semua saudaranya. Tak ada seorang pun yang sanggup mengaturnya, kendati ia takut pada ayahnya. Sementara ibunya begitu menyayangi dan memanjakannya sedemikian rupa. Luapan kasih sayang yang berlebihan inilah yang membuatnya selalu merasa di atas angin. Di usianya yang sedemikian muda, ia telah berhasil membuat masing-masing pelayan wanita di tempat kami menangis atas ulahnya yang gemar memperdaya. Namun setan cilik itu sama sekali tak pernah merasakan pahitnya hukuman karena sang ayah hanya sekedar menggertaknya. Dari hari ke hari, kesukaannya hanya mengganggu siapa saja yang dijumpainya. Tak puas dengan cara yang kekanak-kanakan, ia pun tak segan mencoba cara brutal yang melampaui batas. Lacio, salah seorang pelayan, pernah ia suruh membersihkan sepatu kulitnya dengan menggunakan lidahnya. Jadilah Lacio benar-benar tiada beda dengan anjing yang menjulur-julurkan lidahnya. Dave terpingkal-pingkal, seolah sedang menonton sebuah pertunjukan komedi buah karyanya.

Kembali ke soal lemparan buah blueberry Dave, kali ini aku benar-benar was-was. Sepertinya ia sedang mengincarku. Dan benar saja, aku telah menjadi sasaran empuk buah-buah blueberry sialan itu. Perbuatan tercela Dave benar-benar membuatku kehilangan konsentrasi menyiapkan alat pembakaran. Yang amat membuatku gemas, kedua orang tuanya sama sekali tak peduli. Seolah perbuatan anaknya sama seperti berlompat-lompatan demi mengejar kelinci. Tak membahayakan.

Saat aku mencoba untuk membenahi arang-arang yang tak kunjung melepaskan baranya, Dave mengendap-endap menuju ke arahku. Aku sedang sangat berkonsentrasi pada alat pembakaran itu sehingga sama sekali tak menyadari kehadiran Dave di balik punggungku. Sekonyong-konyong Dave menepuk keras-keras pantatku. Aku yang sama sekali tak siap dan tak menduga akan kejutan itu benar-benar dibuat kaget tak alang kepalang. Padahal saat itu aku sedang hendak menuangkan minyak gas di sebuah botol ke atas arang-arang tersebut. Akibatnya, aku menjadi sedikit limbung saat berbalik. Aku sama sekali tak menduga jika Dave masih berdiri tepat di belakangku. Dan naasnya, secara tak sengaja botol minyak tanah yang kupegang tumpah mengguyur badan Dave yang berada di sampingku. Aku kehilangan keseimbangan hingga tak sengaja justru mendorong Dave ke arah alat pembakaran yang sedang menyala-nyala.  Dave terjerembab tepat menimpa alat pembakaran tersebut. Seketika itu juga, api yang menyala-nyala memanggang tubuh kecil Dave yang telah terguyur minyak tanah.

Dave melolong dan meronta-ronta. Ia berlari meloncat-loncat karena kepanikan dan rasa sakit akibat api yang sedang menjalar di tubuhnya. Kejadian itu begitu cepat dan mengerikan. Api melalap habis rambut pirangnya yang halus. Tubuh kecilnya benar-benar tak berdaya melawan api yang sedang berkuasa.

Dengan sigap, aku dan para pelayan lain segera meraih ember-ember air demi menyelamatkan Dave. Sedangkan majikan kami, terutama istri baron bersikap panik tak terhingga.  Jeritannya tak henti-henti, menambah keruh suasana. Tangisnya menyesak-nyesak. Ia benar-benar terpukul atas kejadian itu. Bayi yang digendongnya pun ikut menangis mengikuti suasana hati ibunya.

Tak seberapa lama, api yang membakar badan Dave akhirnya dapat dipadamkan. Namun Dave nyaris tak terselamatkan. Ia tak sadarkan diri. Kulit tangan dan wajahnya gosong, sebagian melepuh. Luka bakar itu telah merusak kulitnya. Rambutnya habis. Keadaannya sungguh memprihatinkan.

Dave segera dibawa ke ruang tidur utama, yang terdekat dengan taman sebelah timur. Lucio telah memanggil dokter keluarga terbaik. Anak-anak yang lain telah digiring ke ruangan lain oleh para pengasuhnya masing-masing. Sementara sang baron berusaha untuk tenang meski dilanda kecemasan, istrinya masih begitu terpukul dan trauma atas kejadian itu. Tangisnya makin menjadi, terus memanggil-manggil nama Dave. Namun acapkali ia menghujamkan pandangan penuh kebencian terhadapku. Siapapun dapat membaca roman mukanya yang  menyalahkanku, seolah-olah mengatakan bahwa akulah yang harus bertanggung jawab atas semua kejadian ini.

Dokter datang dan segera memeriksa Dave. Luka bakarnya parah. Namun yang perlu dikhawatirkan lagi adalah sisi psikologis Dave yang menderita shock berat. Nadinya berdetak dengan teramat lemah. Dave berada dalam masa koma, dimana segala kemungkinan dapat terjadi. Dengan cukup bijak, dokter tersebut memberikan semangat dan harapan pada keluarga yang sedang dirundung kesedihan itu.

Namun nyawa dan usia seseorang memang tak dapat ditebak. Di hari keempat, Dave tak lagi dapat diselamatkan. Ia meninggal dunia tanpa sempat terbangun sekalipun sejak tak sadarkan diri. Menelan kenyataan itu, ibunya meraung-raung. Ia benar-benar terpukul. Kesedihan yang sarat pun terbungkus pada raut wajah sang baron. Kami para pelayan justru membuat suasana kesedihan itu semakin biru. Tak ada seorang pun yang berani saling berbicara di waktu-waktu yang senggang sekalipun. Mereka lebih memilih tenggelam dalam pekerjaan dan segera memasuki bilik kamar dalam kesenyapan.

Tapi perasaanku benar-benar tidak enak. Bagaimanapun, semua orang tahu bahwaaku memiliki andil atas sebab kematian Dave. Istri sang baron tak bosan menuduhku atas musibah yang dialami putranya. Kata-kata yang ia lontarkan di hadapanku semakin hari semakin menyakitkan. Dan aku hanya sekedar tertunduk menelan bulat-bulat makian, cemoohan, dan tuduhan-tuduhannya yang membabi-buta.

Sejak Dave terbaring koma tak sadarkan diri, aku menjadi lebih rajin berdoa semoga Dave cepat pulih. Bagaimanapun, aku dirongrong kecemasan akan keselamatan Dave karena ini pun menyangkut jiwaku, kelangsungan hidup dan pekerjaanku. Aku telah mengabdi disini cukup lama berkat pendahulu-pendahuluku yang sebelumnya pun mengabdi di kastil ini. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya aku tanpa pekerjaan ini, karena seumur hidupku telah terbiasa dengan pekerjaan dan lingkungan ini. Andai aku kehilangan semuanya, maka ini benar-benar sebuah mimpi yang amat buruk bagiku.

Tapi nasib baik tak lagi berpihak kepadaku. Kenyataannya justru jauh lebih buruk dari perkiraanku. Dave benar-benar tak bisa diselamatkan. Ia meninggal dengan sukses dan membiarkanku dicekam oleh ancaman. Paulo, kepala pelayan, yang mengerti akan kecemasanku, mencoba untuk menghibur dan memberikan simpatinya. Namun tak sedikit pula pelayan-pelayan berhati hitam yang tertawa di balik punggungku. Mereka yang senantiasa dengki pada posisiku mencoba menghembuskan rumor-rumor yang menakutkanku. Menurut gosip mereka, aku akan segera dibawa ke tiang gantungan demi menebus kesalahanku.

Hingga suatu hari, seusai makan malam, sang baron memanggilku secara pribadi ke ruangannya. Aku sudah menangkap firasat yang tak bagus mengenai ini. Tapi apa yang bisa kulakukan selain menghadapinya? Sepertinya aku memang benar-benar tak punya pilihan. Sang baron mengatakan bahwa ia tak sanggup lagi menahan desakan istrinya untuk menyeretku ke pengadilan. Istrinya yang jelita namun diam-diam berkuasa itu bahkan telah mengancam bahwa jika aku tak diadili dan dihukum setimpal, ia akan menggugat perceraian. Bagi sang baron, tentu ini masalah yang cukup serius karena ia sedemikian cinta pada istrinya.

Pagi harinya, empat orang polisi sudah berada di serambi depan. Mereka telah bersiap menjemputku. Hanya beberapa pelayan saja yang menyampaikan simpati dan selamat tinggal padaku. Selebihnya sekedar memandangiku di balik tirai-tirai berumbai. Pada detik ini, aku sudah kehilangan semua asa dan harapanku. Neraka sudah ada di depan mataku, di kiri kananku. Apa yng bisa kulakukan selain menceburkan diri? Karena kalaupun aku tetap berdiam, toh pasti akan ada tangan-tangan yang mendorongku hingga tercebur. Apalagi mengingat siapa aku dan siapa yang menggugatku membuatku semakin pesimis bahwa pengadilan akan memenangkan dan membebaskanku.

—————————

 

Tujuh hari di dalam sel sempit bawah tanah yang begitu lembab dan kotor justru membuatku lebih siap menghadapi tiang gantungan yang akan didirikan dua hari lagi. Aku tak lagi memikirkan apapun selain membayangkan keadaan surga atau neraka yang akan kutempati setelah ini. Kucoba menghibur diri diantara keheningan yang mencekam, bahwa setidaknya aku telah terbiasa dengan rasa sepi saat aku telah sampai di liang kuburku sendiri. Tak ada seorang pun yang menjengukku karena di hari-hari terakhir ini aku tak lagi diperbolehkan untuk dijenguk siapapun. Lagipula, yang kupunya hanyalah keluarga jauh dan saudara-saudara yang tak terlalu peduli padaku. Semasa aku hidup saja mereka tak menganggapku benar-benar ada. Jadi kurasa mereka takkan keberatan sedikitpun dengan kematianku.

Hanya bintang-bintang yang berkerlap-kelip di balik jeruji selku yang setia menemani dan mendengar kisah dan sisa tawaku. Aku tahu mereka sedang tak sabar menanti kedatanganku disana. Kudengar pula bisik mereka yang begitu syahdu, “Seharusnya kau bahagia karena sebentar lagi kau tak lagi terjebak dalam kutukan menjadi pelayan seumur hidupmu, berikut dengan generasi-generasimu.”

 

 

 

Terkhusus untuk : para TKI korban tiang gantungan… R.I.P.

Kisah negeri dengan toilet termewah

Laiknya kerajaan manusia, kerajaan bintang pun kerap melakukan misi imperialisme ke daerah-daerah lain yang kira-kira memiliki potensi untuk dijajah. Tak pelak, peperangan seringkali tak terhindarkan. Tapi kami, rakyat kerajaan Bintang Timur, tak terlalu khawatir dengan hal-hal yang menjadi urusan kenegaraan macam itu. Kami ini memang bukanlah negeri yang paling maju. Tapi kami pun bukanlah negeri yang amat terbelakang. Jadi dalam tiap peperangan yang terjadi, kami tak terlalu menampilkan ekspresi yang berlebihan kala menang ataupun kalah.

Contohnya seperti saat ini. Negeri kami sedang berperang dengan kerajaan Bintang Tenggara. Sudah lebih dari tiga pekan perang berlangsung, namun masih belum juga dipastikan siapa gerangan yang akan menjadi pemenang. Tapi sempat kami mendengar gosip dan kasak-kusuk dari dalam istana bahwa beberapa batalyon pasukan kami terpukul mundur oleh musuh. Wah, sepertinya kali ini kami harus bersiap-siap menerima kekalahan. Artinya, jika negeri kami kalah, maka kami akan menerima beberapa petisi yang mengharuskan kerajaan membayar denda dan upeti perang.

Jika itu sampai terjadi, maka betapa naasnya negeri kami. Apalagi saat ini kerajaan sedang mengalami defisit besar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sejak tiga dekade lalu, negeri Bintang Timur digerogoti oleh para pejabat istana licik yang tak segan melakukan korupsi besar dan kecil. Mereka itu ibarat wabah tikus. Tak bisa dihentikan dengan membunuh satu dua tikus, melainkan justru semakin bertambah banyak. Makin hari, para pejabat istana itu semakin kaya raya berkelimpahan harta benda. Sedangkan rakyat kecil justru semakin melarat akibat pembayaran pajak yang terlampau tinggi hingga membuat mereka sekarat.

Namun raja Xaverius, yang sedang bertahta saat ini, tak terlalu memperdulikan urusan-urusan pelik negerinya. Barangkali karena ia terbiasa dengan pola hidup demikian semenjak dilahirkan oleh raja terdahulu: selalu berlimpahkan kesenangan, kejayaan, dan kekuasaan. Maka, sepanjang ia masih dapat menduduki singgasananya dengan nyaman, ia takkan mengkhawatirkan apapun – termasuk laporan-laporan perang dari pejabat istananya yang makin hari makin memburuk.

Namun sudah satu pekan ini tingkah laku raja Xaverius berubah. Mukanya kerap merah padam. Pembawaannya gampang senewen di setiap kesempatan. Hampir siapapun yang mendekat padanya akan mendapat cela. Dari waktu ke waktu, mulutnya tak henti merutuk dan mengumpat.

Usut punya usut, ternyata bukan soal perkembangan jalannya perang yang membuat sang raja berubah menjengkelkan. Itu diketahui oleh seorang pengawal yang tiba-tiba kena semprot saat raja usai menuntaskan hajatnya di toilet pesanggrahan agung. Awal mulanya terjadi di suatu hari, ketika raja sedang sibuk melayani audensi beberapa pejabat yang membawa beberapa kabar untuknya — seperti biasa. Namun tiba-tiba raja tak bisa duduk tenang di atas singgasananya. Entah karena apa, perutnya melilit tak tertanggungkan. Keringat dingin mengucur deras, mukanya merah padam. Barangkali menu sarapan yang disajikan juru masak istana pada hari itu adalah cumi saus merah yang pedasnya membakar lidah. Perut raja mulas tak keruan. Sontak sang raja yang tak lagi tahan segera berlari ke toilet terdekat, yakni sebuah toilet yang terletak di sayap kiri pesanggrahan agung.

Namun siapa yang menyangka ketika raja keluar dari toilet, bukannya kelegaan yang tergambar pada raut wajahnya yang tembam, melainkan justru kemurkaan yang mencuat tiba-tiba. Seorang pengawal – yang kemudian dengan rasa penuh dendam menyebarkan rumor soal ini – dia lah yang pertama kali kena semprot sang raja.

“Toilet apa ini! Aku sama sekali tidak menduga kalau toilet disini begitu buruk! Air yang mengalir kecil sekali! Aromanya pun memuakkan! Apakah mereka tak menyediakan parfum seperti toilet di tempat peristirahatanku?? Aku jijik sekali membasuh kedua tanganku diatas poselen murahan yang warnanya kusam. Seharusnya ada wastafel yang berhiaskan batu koral dan zamrud seperti yang biasa kupakai! Toilet seperti ini sama sekali tidak layak berada di dalam istanaku!”

Maklumlah, sang raja memang sebelumnya tak pernah menggunakan toilet umum seperti yang terdapat di pesanggrahan agung. Beliau hanya menggunakan toilet pribadi yang terletak di kediamannya, di kamar pribadinya. Toilet umum itu biasa dipakai oleh para pejabat dan tamu-tamu istana jika sewaktu-waktu mereka kebelet saat sedang menghadiri audensi atau acara-acara kerajaan lainnya. Sedangkan toilet raja sendiri diketahui adalah sebuah toilet paling mewah yang pernah dibuat di jagat raya. Dibuat demikian karena toilet adalah salah satu ruang favorit raja. Selain ruangannya yang luas, perabotan yang sangat mewah, hiasan dan ornamennya pun dipenuhi dengan batu-batu mulia semacam zamrud, berlian, safir atau opal. Terdapat pula ukir-ukiran rumit di sekeliling dindingnya yang terbuat dari marmer putih dengan gaya seni tingkat tinggi yang tak tertandingi.

Sudah menjadi tabiat raja bahwa jika satu kali suasana hatinya terganggu, maka jangan mengharap bahwa sikap raja akan menyenangkan. Seharian itu kemuraman dan kedongkolan menguasai jiwanya. Jika sudah begini, maka takkan ada seorangpun yang sudi mengusiknya – termasuk sang putera mahkota kesayangan sekalipun.

Namun perkara toilet ini ternyata bukanlah persoalan sederhana yang lekas terlupakan seiring waktu berlalu. Sudah nyaris sepekan, raja tak kunjung henti mengomel, menggerutu, dan mengungkit-ungkit soal toilet. Katanya, kondisi toilet di pesanggrahan agung yang pernah dimasukinya itu sungguh dapat mempermalukan dan menurunkan martabatnya di depan para tamu atau siapapun yang memasuki toilet tersebut. Soal gengsi adalah hal paling utama bagi sang raja.

Puncaknya, di saat pertemuan agung dengan para pejabat istana yang biasa terjadwal rutin dua minggu sekali, raja mengeluarkan ultimatum untuk merenovasi seluruh toilet yang ada di istana. Tak harus menyamai toilet pribadinya, namun setidaknya kondisi toilet baru nantinya tidak terlalu merendahkan harga dirinya. Kendati demikian, yang menjadi patokan kualitas tentunya adalah menurut ukuran penilaian sang raja.

Lahirnya proyek baru ini tentu disambut sukacita oleh beberapa pejabat yang bertabiat licik. Mereka telah dapat memetakan peluang untuk mendapatkan keuntungan di dalam kesempitan. Apalagi raja tak terlalu peduli, sepanjang kepentingannya tak terganggu.

Beberapa perancang toilet kenamaan dari berbagai negeri didatangkan. Mereka saling berlomba mengajukan desain toilet yang sekiranya mampu menarik perhatian sang raja. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa jikalau raja dapat disenangkan hatinya, maka ia akan menjadi begitu royal pada siapapun yang memikatnya. Tak heran jika orang-orang di sekelilingnya banyak yang memiliki tabiat sebagai penjilat.

Desain toilet baru telah ditetapkan. Waktu perombakan dan renovasi pun telah ditentukan. Toilet-toilet istana yang seluruhnya berjumlah dua ratus toilet itu kabarnya akan menjadi jauh lebih baik dari gaya toilet lama. Ubin dan dinding yang semula terbuat dari porselen diganti dengan marmer maupun granit kualitas terbaik. Bahkan beberapa perabotan pun terbuat dari emas, perak, dan batu pualam. Ornamen-ornamen diberi sentuhan batu-batuan mulia yang tertata apik nan eksotik – membuat toilet tersebut bersinar gemerlap. Parfum-parfum terbaik pun didatangkan dari negeri paling jauh. Bahkan pilihan air pun tak hanya sekedar air panas dan air dingin, pun juga ada air susu.

Sebenarnya proyek renovasi toilet ini sempat menimbulkan pro dan kontra di kalangan pejabat istana. Beberapa kubu memperingatkan bahwa proyek toilet ini terlalu menghambur-hamburkan anggaran kerajaan, karena di sisi lain kerajaan sedang mengalami defisit, pun masih harus membiayai perang yang jumlahnya tak sedikit. Rakyat kecil kerap datang secara berkelompok di batas luar benteng istana untuk menjerit, berteriak, dan menyuarakan kelaparan serta penderitaan mereka. Sungguh, alangkah tidak bijaksananya jika raja justru menghambur-hamburkan uang negara demi merenovasi toilet. Padahal toh sesungguhnya rupa toilet sebelumnya tak buruk-buruk amat. Setidaknya masih dapat dipakai dengan baik, pun tak meninggalkan kesan merendahkan martabat kerajaan. Pikiran sang raja lah yang terlalu berlebih-lebihan.

Namun apa lacur, ketika raja berkehendak, maka tak ada siapapun yang mampu menghalangi. Raja yang telah dibutakan dan ditulikan oleh kubu pejabat istana yang lihai menjilat demi kepentingan pribadi justru semakin murka. Amarahnya berkobar, emosinya meledak. Para pejabat istana yang berseberangan dengan kehendaknya dihukum berat dan dicopot dari jabatannya. Hingga tinggallah kini sang raja bersama tikus-tikus istana yang sesungguhnya justru menggerogotinya tanpa ia sadari — yakni para pejabat penjilat yang gemar korupsi.

Negeri Bintang Timur semakin kacau balau – meski memiliki toilet istana terindah sejagat bintang. Pemberontakan rakyat banyak terjadi. Kekalahan perang pun bertubi-tubi. Hingga pada satu hari yang naas, akhirnya musuh dapat merangsek masuk ke wilayah istana. Negeri Bintang Timur dihancurleburkan. Pembakaran terjadi dimana-mana. Bau kematian merebak di setiap penjuru istana. Para pejabat dan prajurit pun telah banyak yang lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Hingga tinggallah raja seorang diri. Naasnya, keadaan genting yang sedemikian mendadak ini membuatnya tak sempat mempersiapkan diri. Maka di saat musuh merangsek ke dalam istana, tak lagi ada pilihan bagi sang raja untuk menyembunyikan diri. Pada kondisi yang sangat terdesak itulah raja melihat bahwa toilet adala h satu-satunya tempat persembunyian yang aman baginya. Maka bersembunyilah raja di salah satu toilet istana yang terkenal mewah itu.

Kependudukan musuh di dalam istana ternyata berlangsung selama berhari-hari. Nyaris di setiap sudut, lorong, maupun sisi-sisi istana dijaga ketat oleh prajurit pihak musuh. Keadaan ini tentu sama sekali tak menguntungkan bagi sang raja yang terjebak di dalam toilet. Tiada pilihan baginya selain menunggu dan menunggu hingga situasi aman untuk keluar dan menyelamatkan diri.

Namun siapa yang betah berlama-lama di toilet? Meski dikelilingi keindahan dan kemewahan, namun tak ada satupun yang dapat dimakan. Apalagi aliran air sengaja dimatikan oleh pihak musuh. Raja yang terbiasa mengumbar nafsu makannya menjadi tak lagi sanggup bertahan. Makin hari badannya makin lemas. Wajahnya pias, harapannya pun kandas. Hingga malaikat maut mengunjunginya, maka ia pun tewas.

Beberapa hari setelah kematiannya yang mengenaskan, jenasah raja baru ditemukan oleh seorang prajurit musuh yang kebetulan sedang kebelet dan hendak ke toilet. ***

Kisah sandal jepit yang menggiring sengsara

Kelembaban udara yang membungkus kota  Palu, Sulawesi Tengah di  awal tahun 2012 ini tergolong cukup pekat. Belum lagi dengan hawa panas yang menguar, membuat gerah. Akhir-akhir ini mendung terlalu sering datang. Meski demikian, acapkali  ribuan bintang tak terlalu merasa terganggu. Mereka berunjuk gemerlap di hamparan hitam langit tak berbatas. Yang sempat kutahu, kali ini mereka, para bintang itu,  ramai menggosipkan nasib AAL — bocah lima belas tahun yang divonis penjara lima tahun hanya karena mengutil sandal jepit milik seorang anggota brimob yang gagah perkasa.

 Soal tabiat para bintang ini, asal tahu saja, mereka tak jauh beda dengan manusia. Menggemari gosip dan intrik-intrik. Senang berkelakar, tak jarang juga menghujat.  Terutama di cuaca yang cerah, kau akan melihat mereka bertengger dengan cara bergerombol. Mereka bercengkerama tentang banyak hal. Baik itu tentang diri mereka sendiri, maupun tentang apapun yang terletak di bawah sana.

 Namun kali ini, meski mendung kerap menggelayut, para bintang itu tak surut jua dalam berkasak-kusuk. Sebagian terbahak, sebagian mengurut dada. Beberapa kata dan ungkapan mereka yang penuh ekspresi sempat pula kudengar.

“Sungguh keterlaluan manusia-manusia itu… Sekedar nyolong sandal saja kok sampai dikurung lima tahun…” kata bintang yang berbaju kuning.

“Tapi bagaimanapun, yang namanya kesalahan itu ya wajib diberi hukuman supaya menjadi pelajaran. Entah itu anak, remaja, atau orang dewasa. Kalau dibiarkan apalagi dilindungi, mereka justru akan semakin menjadi. Mencetak generasi rusak. Tak punya rasa hormat sama sekali.” sanggah bintang berbaju biru. Intonasi suaranya menghentak-hentak.

“Inilah efek dari jaman yang semakin membebaskan ekspresi. Salah sedikit sudah main tuntut. Main meja hijau. Main undang-undang. Main pasal-pasal. Mereka sekedar bermain-main dengan produk manusia yang bisa diciptakan sekaligus dimanipulasi sendiri. Lucu sekali, kan? Yang merasa lebih berkuasa dan benar enteng saja main tuntut sana-sini. Yang merasa berpunya tapi punya salah pun enteng saja berkelit dengan hukum. Tinggal bayar gerombolan kuasa hukum  yang lihai memanipulasi. ” sela bintang berbaju ungu yang terkenal sinis.

Tiba-tiba bintang berbaju merah muda datang menghampiri dengan terengah-engah. Tubuhnya yang kecil dan gerak geriknya yang lincah membuat kemunculannya nyaris serupa hantu.  Kehadirannya selalu menjadi pertanda datangnya gosip baru. Maklum, dia adalah ratu gosip.

“Hei, teman-teman! tahukah kau bahwa presiden negara itu pun cukup menaruh perhatian atas kasus sandal jepit itu. Di kota Jakarta malah lebih ramai lagi. Orang-orang yang mengaku peduli menggalang aneka aksi solidaritas dan keprihatinan. Mereka berbondong-bondong menumpuk sandal jepit usang di depan ruang sidang pengadilan. Sedangkan seorang pemerhati anak yang lumayan tenar juga sudah mulai sibuk memantau dan mengurusi proses hukum AAL. Ia meminta supaya kasus ini cukup diselesaikan dengan cara kekeluargaan saja. Pokoknya heboh banget dehh!!!”

“Jaman memang sudah semakin edann!!! Mereka bukannya ngurusi soal kasus korupsi dan kejahatan-kejahatan berat lainnya, tapi malah sibuk sama sandal jepit. Kukira mereka telah kehabisan tenaga karena harus mengurusi banyak hal termasuk kasus-kasus yang ruwet. Ee..eehh… ternyata masih merasa tak punya kerjaan juga, sampai-sampai sandal jepit saja menjadi headlines…weleh weleh weleh…” komentar bintang berbaju coklat.

Hmmm…. kalau terus-terusan menguping obrolan para bintang, maka tak akan pernah ada habisnya. Mungkin akan lebih menyenangkan jika kita turun ke bumi, menjumpai apa yang kira-kira menarik untuk dijumpai.

Aku ingin menjumpai sandal jepit itu.

“Hai pit, apa kabarmu? lagi ngapain kamu disitu?” sapaku mencoba diramah-ramahkan.

“Owh… hai tang… kamu mengagetkan saja. Aku lagi ngantuk berat nih… udah dua hari ini aku kurang tidur. Orang-orang itu membawaku kesana-kemari. Aku lelah terus-terusan berganti tangan. Mereka juga tak henti membicarakanku.” keluh si sandal jepit.

“hmm… kasian juga kamu, ya… tentu kamu sama sekali nggak pernah membayangkan akan mengalami hal macam ini.” aku mencoba berempati.

“Sebenarnya aku sih nggak terlalu masalah. Hanya capek saja. Kalau kau ingin menghamburkan rasa kasihan, mungkin bocah itulah yang patut kau kasihani. Akhir-akhir ini dia menjadi jauh lebih pendiam. Mungkin ia mengalami semacam shock atau trauma.”

“Kok sepertinya kamu lebih bersimpati sama si bocah itu sich? Bukannya dia yang mencoba memisahkanmu dari tuanmu…?”

“Hohoho… kupikir aku malah nyaris berterima kasih padanya! Kau tahu, kami kaum sandal ini terbiasa ditempatkan di bawah. Maka itu kami lebih senang merendah. Tapi sayangnya pemilik sahku itu sedikit tinggi hati dan sombong. Belas kasihnya tipis. Senyumnya pun jarang. Sungguh menyebalkan. Dan dia menginjak-injakku dengan rasa penuh kemenangan seperti seorang penjajah. Karakternya sama sekali tidak cocok denganku. Jujur saja, aku tidak menyukainya. Maka itu, ketika kulihat ada seorang bocah yang hendak membawaku diam-diam, aku nyaris bersorak-sorai. Siapa tahu tuanku yang baru sedikit lebih menyenangkan. Tapi sewaktu dia hendak mengambilku, sudah kucoba untuk memperingatkan. ‘Hoi! Hati-hatilah dengan pemilikku ini. Kalau kau mencoba berurusan dengannya, kau akan mendapat masalah besar!’ Sayangnya dia tidak mendengarku…”

“Ooo… begitu ya….”

“Sekarang aku mau tidur dulu. Pinggangku sudah pegal-pegal tak karuan. Pergilah sana!” pungkas si sandal jepit yang langsung merebahkan punggungnya. Tak selang beberapa lama, ia sudah ramai mendengkur. kurrrrr…..kurrrrrr……kurrrrrr…..

Aku ingin menjumpai AAL, si bocah itu.

Tapi rupanya saat itu ia sedang tidur melingkar di sebuah dipan berkasur tipis dalam sebuah sel. Badan kurusnya menatap tembok yang senantiasa bersikap dingin terhadapnya. Aku tahu ia hanya berpura-pura tidur. Kudengar sayup-sayup isak tangis yang tertahan. Ah, aku jadi tak enak hati untuk mengganggunya.

 Maka kuputuskan untuk pergi saja. Kubiarkan malam menyelimuti rasa resah dan gelisah yang terpancar dari hati yang berduka. Aku tahu bahwa fajar akan segera menyingsing. Selimut itu pasti akan segera tersingkap, berganti dengan kehangatan yang dibawa oleh harapan….