Fei Lung dan Kho Ping (satu)

Aside

 

Fei Lung, anak perempuan Lin Xiang Ru, seorang pengrajin keramik terkenal di negeri Zhao, sedang sibuk merapikan buku-buku pelajarannya ke dalam almari kayu yang terletak di sudut kamarnya. Namun jika diamat-amati lebih jelas, ternyata air mata gadis delapan belas tahun itu sedang mengalir deras, menetes-netes membasahi pipinya yang putih kemerahan. Sementara itu, kedua tangannya sibuk meraih dan meletakkan bermacam-macam benda, juga buku-buku, dan apa saja yang tampak olehnya. Ia sedemikian gugup.  Siapapun yang melihatnya akan mahfum bahwa pikirannya sedang mengembara ke lembah-lembah kenangan yang tertutup kabut kelabu. Namun sayangnya, sedang tak ada siapapun disana. Ayahnya, Lin Xiang Ru, sedang pergi menawar bahan baku di pasar. Sebenarnya terlihat lucu sekali melihat seseorang yang tampak sibuk menata rapi sesuatu sementara hatinya berantakan. Tapi demikianlah Fei Lung; ia masih tak sanggup menggusur mendung dalam hatinya — meski buku-buku itu senantiasa mengingatkannya pada kenangan, pada sebuah masa yang tak mudah ia tanggalkan begitu saja.

Fei Lung baru saja tiba beberapa minggu yang lalu, merasakan kembali kehangatan rumahnya, tempat ia tinggal bersama ayahnya yang telah lama seorang diri. Ibunya meninggal karena penyakit serius yang menghantam paru-parunya. Saat itu, Fei Lung berusia enam tahun.  Namun ia sungguhlah gadis yang baik, yang segera mengerti bahwa posisinya akan menggantikan ibunya merawat ayahnya, juga membereskan segala tugas perempuan di rumah.

Lin Xiang Ru begitu sayang padanya. Maka ia bertekad untuk memberikan yang terbaik bagi anak perempuan satu-satunya. Di usia lima belas tahun, Lin Xiang Ru mengirim Fei Lung ke sebuah asrama pendidikan yang cukup terkenal, dengan harapan Fei Lung dapat belajar dengan baik dan mendapat kenalan orang-orang terpandang. Perempuan yang cerdas akan dipandang memiliki derajat yang tinggi dibanding perempuan jelata. Dan biasanya, hanya perempuan-perempuan dengan pendidikan tinggi yang memiliki suami pejabat atau orang-orang berderajat tinggi.

Tiga tahun di asrama, Fei Lung dinyatakan lulus dengan nilai yang memuaskan. Dengan prestasi yang diperolehnya, Lin Xiang Ru menjadi amat bangga pada putrinya. Fei Lung selalu merasa bahagia jika ayahnya pun bahagia. Namun di balik kebahagiaan itu, tak ada yang tahu bahwa sesungguhnya Fei Lung pun memikul sekarung kegundahan dan kenangan masa-masanya ketika tinggal di asrama. Bagi Fei Lung, kebahagiaannya adalah untuk semuanya, namun kesedihannya hanyalah miliknya sendiri.

Kehidupan asrama tidaklah mudah bagi siapa saja. Terlalu banyak aturan yang kaku, sehingga murid-murid senantiasa tegang dan serius. Juga banyak tugas-tugas sekolah, yang membuat mereka kerap diliputi rasa frustasi terpendam. Kendati demikian, tak ada perbedaan dalam perlakuan. Entah itu anak raja, anak pejabat, anak pedagang, atau bahkan anak pelayan bergaji rendah, semuanya diperlakukan sama. Satu sama lain saling bersaing untuk menjadi yang terbaik, juga untuk hal-hal yang lainnya. Jadi bukan hal yang mengherankan  jika seseorang menikam atau mengadu domba seseorang lainnya dengan berbagai strategi busuk demi mencapai keberhasilan, demi memperoleh perhatian.

Namun Fei Lung adalah seorang gadis yang tak memperdulikan ambisi, meski tak ada yang mengecewakan dari potensinya. Ia sudah merasa bahagia asal setiap hari dapat menikmati hidupnya dengan keceriaan dan kesederhanaan. Ia tak terpengaruh dengan kubu-kubu yang saling memperkuat, mengintimidasi, dan mengolok-olok satu sama lain. Juga tak mau menentukan sikap harus berteman dengan siapa, harus bermusuhan dengan siapa, harus membolos pada pelajaran apa, harus hadir pada pelajaran siapa. Bagi Fei Lung, tugasnya hanyalah belajar dengan baik, memenuhi harapan terbesar ayahnya. Herannya, Fei Lung tak pernah kesulitan bergaul dengan siapa saja. Ia senantiasa memiliki banyak kawan yang baik.

Andai saja semua murid seperti Fei Lung, dunia pasti akan indah seindah-indahnya. Namun sayang, tak semua murid seperti Fei Lung. Tak semua yang dapat bergembira dengan cara yang mereka temukan masing-masing. Salah satunya adalah Kho Ping, seorang murid laki-laki yang lebih sering menghabiskan waktu istirahatnya di bawah pohon Willow yang rindang di samping perpustakaan sembari membaca beberapa kisah dongeng yang ia pinjam. Namun ketika tidak sedang membaca, wajahnya selalu terlihat murung dan tak bersemangat. Pembawaanya cenderung menutup diri dan jarang bergaul dengan teman-teman lainnya. Ironisnya, ia kerap menjadi bahan olok-olok di antara kawan-kawannya.

“Hei, kaki ayam! Larilah dulu mengelilingi gedung asrama supaya kakimu sedikit lebih besar, baru kau akan kami angkat menjadi anggota geng kami, hahahaa….” demikian anak-anak lain mengolok dan menertawakannya tanpa pernah peduli pada perasaannya. Kadang ada pula anak yang mengusilinya dengan cara menyembunyikan alas kakinya di rerimbunan semak, hingga ia hanya bertelanjang kaki saat pulang menuju asrama.

Sebenarnya Kho Ping tergolong murid yang benderang otaknya, terutama ketika menghapal pelajaran. Sementara murid-murid lain membutuhkan dua-tiga hari untuk menghapal kitab-kitab baru, Kho Ping hanya membutuhkan waktu satu hari untuk mematrinya dalam ingatan. Setidaknya, kelebihan inilah yang membuatnya terlihat baik, terutama di mata para guru. Selain itu, Kho Ping pun pada dasarnya seorang yang cukup ramah dan senang membantu. Namun sayang, banyak murid-murid lain yang mendekatinya sekedar untuk memanfaatkan kepintarannya.

Adalah Fei Lung, yang merasa bersimpati terhadap Kho Ping. Sejak lama ia memperhatikan Kho Ping dari kejauhan, hingga ia merasa berbelas kasihan kepadanya. Tak sampai hati ia melihat Kho Ping yang senantiasa dipermainkan dan dipermalukan. Beberapa kali Fei Lung memergoki Kho Ping tersedu sendirian. Barangkali ia merasa sangat sedih karena sering diperlakukan tak adil dan semena-mena. Maka suatu hari, Fei Lung pun mencoba untuk diam-diam mendekatinya.

“Aku mengerti jika kau merasa sangat bersedih. Tapi tersenyumlah! Kamu harus melihat matahari yang senantiasa tegar menyinari dunia meski manusia semakin lama semakin tak ramah dan berkata seenaknya mengenainya. Suatu saat, kita pasti menyadari bahwa kehadiran matahari adalah segalanya bagi kehidupan kita. Yang kita perlukan hanya bersabar… Maka sabar dan tegarlah, Kho Ping…” kata Fei Lung dengan lemah lembut.

Kho Ping yang segera menyadari kehadiran Fei Lung cepat-cepat menghapus air matanya. Ia memaksakan dirinya untuk tersenyum karena malu terlihat lemah di mata Fei Lung. Sejenak ia merasa kikuk, tak tahu apa yang harus dikatakan demi mencairkan suasana yang sedang ia rasakan muram. Namun Fei Lung adalah seorang gadis yang mudah menciptakan suasana sekehendak hatinya. Andaikata kemuraman adalah sebuah batu, ia mampu menghancurkannya dengan tetesan air yang menjelma keceriaannya.

“Apa kau sudah siap menghadapi ujian akhir musim dingin ini, Kho Ping?” Fei Lung mengalihkan pembicaraan, dengan harapan Kho Ping merasa tak terlalu terbebani.

“Eh… emmm… entahlah, masih ada beberapa kitab yang belum kubaca tuntas…” Kho Ping menjawab sekenanya.

“Tapi kupikir akan mudah bagimu menghapal rumus-rumus itu. Sebaliknya, aku benar-benar kewalahan dan rasanya aku tak sanggup menghapal dan mempelajari sebanyak itu. Wah, banyak sekali yang belum kumengerti.” Fei Lung tampak sungguh-sungguh berkeluh kesah. “Andai kau mau berbaik hati padaku, ajarilah aku beberapa. Atau jika kau tak keberatan, barangkali kita bisa belajar bersama-sama. Bagaimana?”

“Oh, eh… Aku sama sekali tak keberatan, kok. Aku senang bisa membantumu.” Jawab Kho Ping malu-malu.

“Kalau begitu, bagaimana jika besok sore kita belajar bersama setelah kelas usai? Kita bertemu di serambi kelas, ya… Setelah itu kita bisa tentukan dimana akan belajar. Hmm… Sepertinya di bawah pohon Willow samping perpustakaan itu akan cukup menyenangkan, sembari melihat danau yang tenang. Biasanya pada sore hari beberapa bangau terbang dan menangkap ikan di sana. Kau sering kesana, bukan?”

Kho Ping hanya mengangguk sambil tersenyum. Kini, kesedihannya sedikit tersamarkan. Ia merasa senang jika seseorang membutuhkannya, menganggap dirinya lebih berarti. Apalagi jika orang tersebut adalah Fei Lung.

“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa nanti, Kho Ping..”

**

Pada waktu yang telah disepakati, mereka pun bertemu di tempat yang disepakati pula — di bawah pohon Willow, di samping perpustakaan. Pada hari-hari kemudian, mereka semakin kerap bertemu di tempat yang indah itu, yang tak pernah membuat mereka bosan berlama-lama disana. Pemandangannya memang mengagumkan. Sembari duduk di atas rerumputan yang halus, mereka dapat menikmati danau seluas mata memandang, juga deretan gunung yang berdiri megah di kejauhan. Memandang hamparan alam itu membuat pandangan mata mereka senantiasa terasa sejuk, juga membawa perasaan damai. Pada sore hari, acapkali beberapa bangau berbulu putih terbang dan menukik memburu ikan-ikan di permukaan air yang tenang. Sementara beberapa burung yang menghias angkasa berkelepak kesana-kemari, bersaing dengan pesona gulungan awan tipis yang menjadi pemanis. Matahari tak pernah garang sejak mereka senantiasa berteduh di bawah pohon Willow yang besar dan kokoh, yang entah telah berumur berapa tahun — sepertinya jauh lebih tua dari usia mereka.

Kho Ping dan Fei Lung semakin giat belajar. Namun adakalanya mereka membicarakan hal-hal lain, misalnya dongeng atau kampung halaman mereka. Kho Ping memang senang dengan cerita-cerita dongeng. Ia telah membaca banyak dongeng dari berbagai negeri. Acapkali ia mengkisahkan beberapa dongeng pada Fei Lung, yang selalu mendengarkan dengan penuh perhatian dan ketakjuban. Kadang-kadang, Kho Ping mendengarkan Fei Lung menyanyi dengan suaranya yang merdu, atau membaca sajak-sajak yang dibuatnya. Jika tak ada lagi hal-hal menarik yang bisa dibicarakan, maka biasanya mereka akan berbincang-bincang tentang sekolah mereka sendiri — sebuah pembicaraan yang tak habis-habis.

“Tak terasa libur panjang musim semi sebentar lagi tiba. Sudahkah kau menghubungi orang tuamu untuk menjemputmu?” tanya Fei Lung sembari mengibaskan beberapa semut yang menjalari kakinya.

“Belum. Sepertinya aku berencana untuk pulang sendirian. Aku ingin memberi kejutan kedua orang tuaku.”

“Wah, kau hebat jika bisa melakukannya. Aku berharap orang tuamu tak marah ketika mengetahui kau pulang sendirian.” kata Fei Lung, yang tak bisa menyembunyikan kekagumannya. “Dan kebetulan tahun baru nanti masih dalam masa liburan. Sangat menyenangkan jika merayakannya bersama keluarga.”

“Ya, betul… Ada banyak makanan dan hadiah-hadiah yang membuatku berangan-angan andai saja setiap hari adalah tahun baru, hahahaa… Bagaimana dengan perayaan tahun barumu?”

“Sepertinya kurang lebih sama. Ada banyak tamu yang berkunjung ke rumahku, karena ayah dan mendiang ibuku memiliki banyak saudara. Biasanya, mereka membawa buah tangan yang menarik untukku” .

“Bersyukur kita selalu dapat menikmati tahun baru dengan baik. Ngomong-ngomong, apa kau tahu dongeng asal usul tahun baru Cina itu sendiri?”

“Ceritakanlah!” pinta Fei Lung dengan antusias.

“Konon di zaman dahulu kala hidup seekor monster bertanduk tunggal, bermata besar dan berkuku tajam, bernama Nian.” Kho Ping memulai dongengnya. “Monster tersebut tinggal di dalam lautan, dan sepanjang tahun dia habiskan waktunya untuk tidur. Dia hanya bangun saat musim semi tiba untuk mencari makanan. Makanan kesukaan monster Nian tersebut adalah manusia. Bukan hanya memburuh manusia, monster tersebut juga memporak-porandakan ladang penduduk dan merusak panen.”

“Wah, apakah tidak ada cara untuk menghentikan ulah monster Nian? Kasihan sekali manusia-manusia itu…” Fei Lung mulai terbawa oleh imajinasinya.

“Tak ada yang berani padanya. Tapi untuk menghindari korban jiwa, penduduk selalu mengungsi ke dataran tinggi di setiap awal musim semi. Mereka menyiapkan bekal makanan yang cukup. Pada suatu hari di musim semi, seorang pengemis melewati desa tersebut untuk meminta makanan. Ternyata ia mendapatkan desa tersebut dalam keadaan kosong. Saat ia bertemu dengan seorang nenek, ia bertanya kemana gerangan semua warga desa. Nenek tersebut menjelaskan soal monster Nian dan pengungsian penduduk. Sang nenek yang baik hati itu pun memberikan makanan kepada si pengemis. Pengemis itu lalu bertanya, kenapa nenek tidak ikut mengungsi. Nenek tersebut berkata, ‘Anak dan cucu saya telah menjadi korban tahun lalu, dan saya sudah terlalu tua untuk ikut mengungsi. Jika monster Nian datang, saya akan melawan sebisa saya’.

“Si pengemis menjadi iba pada sang nenek, lalu mengatakan pada sang nenek bahwa sesungguhnya mahluk tersebut takut pada tiga hal, yakni mahluk yang lebih besar dan seram daripada dia, suara keras dan bising, juga warna merah. Lalu si pengemis meminta sang nenek menyediakan kain besar untuk membuat binatang-binatangan dan mencat depan rumah menjadi merah. Ia pun menyuruh nenek tersebutberpakaian merah, lalu dia mengumpulkan batang-batang bambu supaya menimbulkan suara ledakan saat dibakar.

“Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya monster Nian muncul. Si pengemis bergegas memakai kain yang telah dibuat menyerupai monster. Ia juga meminta sang nenek membakar batang bambu yang sudah disediakan serta memukul benda apa saja yang bisa menimbulkan suara bising. Mendapat sambutan demikian, monster Nian sangat kaget. Ia pun lari terbirit-birit dan terbang, tak pernah kembali lagi.

“Sejak peristiwa kemenangan ini, penduduk desa merayakannya setiap tahun sebagai hari raya besar serta perayaan panen. Perayaan diadakan dengan cara meniru apa yang telah dilakukan oleh si pengemis dan sang nenek, juga sebagai tindakan pencegahan akan kembalinya monster Nian. Para penduduk mendatangi rumah-rumah kerabat untuk mengucapkan selamat atas terbebasnya mereka dari ancaman monster nian. Sebagai balasan, setiap keluarga menyediakan minuman dan kue-kue untuk tamu mereka. Selain itu, mereka pun memakai berbagai hiasan yang berwarna merah. Itulah sebabnya, sampai sekarang, setiap tahun baru, kita tak asing dengan warna merah, kue-kue, dan juga petasan.” Kho Ping mengakhiri ceritanya.

“Wow! Aku tak menyangka jika ternyata asal usulnya demikian. Terima kasih sudah menceritakannya padaku, Kho Ping!” Fei Lung tampak berbinar-binar setelah mendengar kisah yang diceritakan oleh Kho Ping.

Kho Ping selalu merasa puas setelah ia usai bercerita pada Fei Lung. Hanya Fei Lung, satu-satunya yang mau mendengarnya dengan penuh perhatian. Dan hanya pada Fei Lung, Kho Ping menceritakan banyak hal. Sedikit demi sedikit, ia mulai merasa memiliki rasa percaya diri.  Tapi di sisi lain, ia pun menyimpan rasa tersendiri di hati yang tersembunyi. Seperti ada percikan api dalam dirinya saat jantungnya berdegup kencang, saat ia menatap binar mata Fei Lung yang menurutnya paling indah di dunia ini. Kadangkala ia sampai merasa salah tingkah saat Fei Lung mendapati dirinya sedang memandanginya. Juga pada waktu-waktu yang lain, saat rembulan mulai bersinar dan kesendiriannya mulai terpapar, Kho Ping kerap memikirkan Fei Lung dan mengangan-angankannya.

Pada suatu hari, beberapa hari sebelum libur usai ujian tiba, Kho Ping menghampiri Fei Lung dan berkata, “Bolehkah pada tahun baru nanti aku berkunjung ke rumahmu, Fei Lung?”

Benarkah? Apakah kau serius? Tentu saja boleh, Kho Ping! Aku akan senang sekali!” pekik Fei Lung karena terkejut sekaligus girang.

Maka saat libur musim semi tiba, berpisahlah mereka. Fei Lung pulang ke kampung halamannya saat ayahnya datang menjemputnya. Demikian pula Kho Ping, pulang ke kampung halamannya dengan berangkat seorang diri, sesuai dengan niatnya sejak awal mula.

***

Saat perayaan tahun baru tiba, Fei Lung jauh lebih antusias daripada tahun-tahun sebelumnya. Ia memilih cheongsam merah dari sutra terbaik yang dijual di kotanya, juga jeruk-jeruk yang paling segar yang ada di pasar. Bahkan Fei Lung pun membuat sendiri kue keranjang dalam jumlah yang cukup banyak, juga menyiapkan beberapa lampion merah yang indah di bagian depan beranda rumahnya. Pada ayahnya, ia mengatakan bahwa akan ada seorang kawan sekolahnya yang berkunjung.

Memang benar, Kho Ping datang berkunjung ke rumah Fei Lung saat langit sedang merah, saat matahari sudah sepenggalah dan hendak meluncur ke peraduan. Bukan main senangnya hati Fei Lung saat mendapati sahabatnya menepati janji. Setelah berkenalan dengan Lin Xiang Ru, ayah Fei Lung, dan menyantap penganan-penganan lezat yang disajikan, mereka berjalan-jalan menyusuri sepanjang sungai dan sepanjang jembatan yang ramai dengan muda-mudi maupun anak-anak. Gemintang sedang bertaburan, memantulkan bayangannya di permukaan sungai yang mengalir tenang.

“Tak terasa, sekolah kita tinggal satu tahun lagi. Aku berharap semoga kita lulus dengan nilai yang memuaskan…” Kho Ping berusaha memecah keheningan di antara mereka.

“Ya, tentu aku pun berharap demikian. Setelah lulus nanti, kau hendak kemana, Kho Ping?” tanya Fei Lung penasaran.

“Sepertinya aku akan mendaftar ujian untuk menjadi pejabat kerajaan. Ayahku berharap demikian. Doakan aku lulus, ya… Kau sendiri bagaimana?” Kho Ping balik bertanya.

“Entahlah… sepertinya aku akan meneruskan usaha ayahku membuat keramik. Aku sudah belajar cara membuat keramik yang baik. Kuharap aku bisa mewarisi keahlian dan nama besarnya…”

“Semoga kau sukses. Aku yakin kau bahkan bisa melebihi ayahmu jika bekerja dan belajar lebih keras. Tapi jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan, ya… Aku tak ingin mendengar kabar kau jatuh sakit karena terlalu memforsir diri membuat keramik.”

Fei Lung jadi tersipu oleh perhatian Kho Ping. Tak banyak yang memperhatikannya hingga sedemikian rupa, sehingga di mata Fei Lung, Kho Ping adalah sosok yang memiliki kebaikan hati yang sempurna.

Malam itu, Kho Ping menginap di rumah Fei Lung. Ia tidur di ruang tengah setelah beberapa jam menghabiskan waktu minum teh bersama Lin Xiang Ru. Keesokan paginya, Kho Ping bersiap untuk pulang ke kampung halamannya yang berjarak sekitar seratus mil ke selatan.

“Sampai jumpa lagi di sekolah, Fei Lung. Aku pasti tak sabar untuk segera bertemu kembali,” pamit Kho Ping sebelum pergi meninggalkan Fei Lung.

“Tentu saja! Aku berharap segera dapat mendengar dongeng-dongengmu yang terbaru. Ceritakan yang lebih hebat lagi, ya!” kata Fei Lung sambil tersenyum lebar.

Namun tiba-tiba saja, Kho Ping mengeluarkan sepucuk surat dari balik mantelnya. “Fei Lung, sebenarnya tujuanku kemari adalah menyampaikan surat ini. Ini surat dariku. Ada beberapa hal yang membuatku merasa lebih nyaman jika kusampaikan melalui surat. Maafkan aku, semoga kau tak keberatan. Bukalah nanti. Namun sebelum kau membacanya, aku minta maaf kepadamu. Semoga kau memaafkanku.”

Fei Lung agak terkejut menerima surat dari Kho Ping. Terutama dengan sikap Kho Ping yang tiba-tiba menjadi begitu serius. Ia pun tak mengerti mengapa Kho Ping menyampaikan kata maaf berkali-kali. Setelah menerima surat itu, mereka pun saling berpisah dan melambaikan tangan.

Sesegera setelah Kho Ping menghilang dari pandangan, Fei Lung membuka surat yang tersegel rapi. Tampaklah tulisan indah Kho Ping tersemat di atas kertas merang yang sedang dipegangnya.

Maafkan aku, jika aku menjadi lancang terhadapmu, Fei Lung… Tapi aku tak dapat membiarkan diriku sendiri terus menerus tak jujur pada perasaanku sendiri. Maka kuputuskan untuk mengatakannya padamu setelah memikirkan ini beribu-ribu kali sebelumnya. Terpaksa melalui surat ini karena aku terlalu pemalu untuk menyampaikannya langsung di hadapanmu.

Fei Lung, aku mencintaimu… Sungguh aku mencintaimu… Dan yang hanya dapat kukatakan selanjutnya adalah, maukah kau menjadi pendampingku kelak setelah kita lulus dan aku mendapat pekerjaan? Aku yakin aku akan segera mendapatkan pekerjaan dengan pengaruh jabatan ayahku. Yang kupikirkan saat ini, aku hanya ingin hidup bahagia bersamamu. 

Semoga kau masih memiliki kebaikan hati dengan segera menjawab suratku — apapun jawabannya. Aku akan mencoba untuk senantiasa tegar, matahariku… 

Kho Ping

Fei Lung terhenyak setelah membaca surat itu. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Kho Ping menyimpan perasaan cinta di hatinya. Sejauh prasangkanya, Kho Ping adalah sekedar sebagai sahabat yang baik baginya. Kini, mau tak mau, hatinya dilanda kebimbangan. Terlebih, beberapa minggu yang lalu, ayahnya mengajukan seorang kerabat jauh sebagai calon suaminya. Fei Lung sangat mencintai ayahnya dan senantiasa patuh. Ia bahkan seringkali rela mengabaikan perasaannya sendiri demi kebahagiaan ayahnya. Bahkan jika ayahnya memintanya menikah dengan seseorang yang telah dipilihkan untuknya, barangkali Fei Lung pun takkan merasa terlalu keberatan. Namun kini, hatinya benar-benar diliputi kebimbangan. Ia masih belum memiliki keyakinan hendak memberikan menjawab apa pada Kho Ping.

Bersambung………..

Advertisements