Sampai kapan menjadi ikan hias?

Image

Ini sungguhan amat menggangguku.

Maksudku berita-berita di televisi itu. Tak hanya sekadar berita, tapi segala hal yang ditayangkan oleh televisi itu. Entah sejak kapan tepatnya, aku mulai sedikit demi sedikit menjauh dari televisi. Setidaknya, untuk menjaga kewarasanku sendiri. Mengetahui terlalu banyak hal yang terjadi di dunia ini membuatku gila. Atau kupikir dapat menularkan semacam penyakit fatal yang merusak semua syarafku, sampai akhirnya membunuhku. Tidak, aku tidak ingin mati konyol seperti itu. Menurutku, itu cara mati yang tidak elegan.

Perubahan ini kuanggap cukup progresif. Karena aku sadar betul, dulunya tidak seperti ini. Sebelum manusia-manusia jaman sekarang terjangkiti penyakit ini, aku sudah mengidapnya lebih dulu. Ya, hanya ingin terlihat lebih cerdas — adalah penyakit yang dulu pernah kuderita dengan bangga diri. Nyaris setiap saat aku mengunyah segala berita di koran, televisi, kemudian membuat  catatan-catatan bak seorang kritikus brilian atau mengangkat topik-topiknya di antara sekawananku yang jauh tak mengerti apapun — hanya supaya terlihat lebih cerdas. Mungkin karena kecerdasan memiliki daya pesona yang luar biasa memikat untuk menyelamatkanku dari selubung pergaulan yang semakin kejam dan pemilih. Supaya orang lain melihatku sebagai sosok yang punya nilai jual mentereng di lini-lini sosial.

Tapi jiwaku yang renta ini sudah sampai pada suatu kesimpulan; bahwa mengkilapkan pamor melalui nutrisi intelektualita adalah menyesatkan. Maaf-maaf saja, aku justru merasa lebih segan dengan orang-orang yang tinggal di pegunungan dan hanya mengetahui sedikit banyak tentang kambing atau itik mereka. Meski yang mereka bicarakan hanyalah seputar kebiasaan-kebiasaan kambing dan jenis-jenis rumput paling baik untuk dijadikan pakan — dan tidak membicarakan tentang aib artis papan atas, jadwal studi banding anggota dewan rakyat, keputusan hakim agung, atau kebijakan pemerintah mengenai harga sembako, tapi mereka adalah penyelam-penyelam kolam kehidupan yang hebat dan dapat dipercaya. Ya, tak ada gunanya mengetahui semua hal yang terjadi di dunia ini. Tak ada gunanya menjadi ikan hias yang hanya sekadar berenang-renang di permukaan untuk melahap plankton-plankton yang mengambang. Ikan-ikan hias itu hanya bisa berlenggak-lenggok memamerkan warna-warni tubuhnya. Mungkin mereka bermaksud supaya siapapun yang melihat akan terpesona dan segera menangkap mereka. Otak mereka takkan mampu berpikir lebih jauh, apakah nasibnya akan berlanjut ke penggorengan atau sekadar dipindahkan ke kolam yang lebih kecil. Mengenaskan, bukan?

Pada saat tertentu, maaf jika aku menjulukimu sebagai ikan hias, Sayang… Dan menurutku, ini bukanlah sesuatu yang baik di mataku — meski kamu tak peduli apa yang baik atau buruk di mataku. Makanya, aku sekadar dapat menghela nafas berkali-kali tiap melihat polah tingkahmu.

Saat menjumpaimu pertama kali, kau begitu sederhana, namun saat itu tak terlalu membuatku terpesona. Ya, kau tahu bahwa saat itu aku masih sedang berada dalam fase berambisi untuk  ‘hanya ingin terlihat cerdas’. Kau bahkan kerap menanyakan banyak hal kepadaku, yang mungkin memang lebih banyak tahu daripadamu. Dulu, senantiasa kuanggap bahwa segala hal yang ada di kepalamu hanya hal-hal yang tidak bermutu dan menggelikan. Sementara aku memikirkan tentang perang Irak, hegemoni Amerika, bumper-bumper dalam pemilu, affair beberapa pejabat yang sedang diseret ke bui, dan lain sebagainya — yang terlihat begitu kompleks, kau justru sibuk mempertanyakan apa bedanya kesenangan dan kebahagiaan, mengapa manusia tak pernah merasa cukup, apa yang akan terjadi jika seseorang tak dikenal tiba-tiba mengajakmu menikah, dan lain sebagainya — yang terlihat begitu remeh dan seharusnya tak perlu dipertanyakan.

Namun kini aku menyadari, betapa sebenarnya aku jauh lebih mencintai sosokmu yang dulu daripada yang sekarang — yang sekonyong-konyong menjelma menjadi ikan hias yang ingin terlihat lebih cerdas. Namun sayang, yang hanya dapat kulakukan adalah berteriak-teriak seperti orang kebakaran di belakang punggungmu, sementara kamu tetap menjadi ikan hias yang terus dan semakin ingin terlihat lebih cerdas — tanpa pernah tahu ada yang sedang kebakaran di belakang punggungmu. Jangan dulu menertawaiku, ini adalah semacam bentuk kepedulian yang teramat besar terhadapmu.

Terus terang, sikapmu yang kini menjelma menjadi ikan hias itu sedikit menggangguku. Kutekankan, hanya sedikit menggangguku. Ah, andai saja aku dapat benar-benar menganggapmu sebagai seorang yang cerdas. Masalahnya, kau tidaklah secerdas barometer standarku. Jadi, aku hanya sekadar menghargai usahamu saja.

Di permukaan, mungkin kau berhasil membuat banyak ikan-ikan lainnya menatap takjub padamu. Ah, betapa cerdasnya kamu! Betapa kritisnya kamu! Betapa inteleknya kamu! Tapi pada kedalaman tertentu, kau sungguh-sungguh seorang penyelam yang amat payah, dan kesoktahuanmu itu justru membuatmu ditertawakan diam-diam, atau mereka akan mengatakan bahwa kau terlalu banyak bicara tapi tak paham dengan pokok persoalannya.

Kukatakan demikian karena kau bukanlah pakar yang telah berpuluh-puluh tahun berkecimpung di suatu ilmu tertentu. Kau hanya sekadar penikmat televisi dan surat kabar-surat kabar yang menyesatkan itu. Televisi dan surat kabar tak pernah jujur menyampaikan apapun, dan juga bentuk media yang ‘agak’ pemalas. Itu semua dikarenakan mereka hanya punya space-space terbatas, dan juga selalu tergesa-gesa. Coba kau bayangkan, ada sekian ribu kejadian menarik yang berduyun-duyun ingin menjadi headline, jadi tak akan ada kesempatan untuk mengupas segala sesuatu secara lebih mendalam dan lebih jujur. Jadi, mereka memilih menyebar gosip demi keuntungan materialis semata. Sementara kau memiliki sedikit tipikal yang mudah memamah gosip dan sedikit lemah untuk bersikap obyektif, melainkan cenderung condong pada segala hal yang menyelamatkanmu atau membuatmu merasa tenang, aman, tentram, dan tentu terlihat lebih cerdas.

Aku sudah memperingatkanmu. Maksudku memberimu pandangan yang lebih sopan, untuk tak lagi terlalu ceriwis dan kritis dengan banyak hal — seolah-olah semua asap di seluruh penjuru dunia ingin kau sedot habis dengan paru-parumu. Itu tak menyehatkanmu. Bukan semata karena lika-liku dunia dapat membuat siapapun yang mengikutinya terjerembab pada kubangan nista yang tak membawa kemana-mana selain kesesatan, melainkan karena kapasitasmu pun masih standar saja, sebatas di permukaan. Sekali lagi, perlu kuingatkan bahwa kau bukanlah pakar yang mengetahui semua kedalaman sehingga kekritisannya dianggap berbobot dan berkualitas. Kau hanyalah ikan hias yang menghibur bocah hingga berdecak kagum, sedangkan sebagian lagi tertawa terpingkal-pingkal atas sikapmu. Apa sih, nyamannya menjadi komentator yang ceriwis terhadap masalah skor pertandingan sekaligus harga bawang?

Tuduhanku ini membuatmu sedikit kesal, ya? Apa kau merasa tak bersikap ‘ingin sekadar terlihat cerdas’? Lantas, mengapa kau tampak sulit ikhlas dan rendah hati? Tentu saja aku punya alasan mengapa hingga menjulukimu seperti ikan hias ‘yang sekadar ingin terlihat cerdas’. Ketika ada orang lain yang kemudian mengungkapkan argumen tandingan pada opini-opini omong kosongmu, egomu tak sudi untuk menerimanya sebagai masukan yang menjadi tambahan perbendaharaanmu. Kau jarang sekali, atau mungkin bahkan nyaris tak pernah menyatakan pernyataan yang bersifat jalan tengah. Pikiranmu melulu disibukkan dengan bagaimana cara menyanggah yang terlihat lebih keren. Jadi, orang lain akan segera merasa lelah atau mereka akan berkata dalam hatinya, betapa sia-sianya berargumen dengan orang yang sok tahu dan ngotot merasa paling benar — hanya supaya terlihat sebagai seorang yang (amat) kritis.

Oh ya, saranku, jika kau memang benar-benar ingin terlihat sebenar-benarnya cerdas, jauh lebih baik jika kau mencoba menulis sesuatu semacam ulasan dalam makalah yang disertai dengan uji sample lapangan dan beberapa pandangan dari pakar-pakar yang jauh lebih kompeten dan lahir lebih dulu daripadamu. Itu lebih baik… Sungguh, itu lebih baik… Setidaknya, belajar menjadi seorang ilmuwan jauh lebih bermartabat daripada memupuk diri menjadi seorang kritikus yang kerap mencericit seperti tikus.

Ah, lihatlah! Pencapaianmu sekarang membuatku menjadi terus menggerutu sepanjang waktu, dan ini sama sekali bukan pertanda yang baik. Tulisan ini hanya berisi perasaan kesalku terhadapmu. Tapi aku yang sekarang menjadi sedikit lebih sederhana (ingat, hanya sedikit — lebih sederhana) ini punya keyakinan bahwa segala sesuatunya bisa diubah menjadi lebih baik lagi.

Aku tidak merasa dengki padamu. Sama sekali tidak. Aku pernah mengalami masa-masa sepertimu — yang kuanggap sebagai masa puber dari pertumbuhan dan perkembangan hidup seorang manusia. Mungkin kau merasa bahwa terlihat lebih cerdas akan membawamu pada kepuasan diri. Tapi itu adalah kebohongan besar yang akan kau temui di belakang hari. Semakin tua manusia, semakin ia menyadari bahwa sebenarnya kebutuhannya hanyalah menjadi sederhana. Kurangi sikap skeptismu dan belajarlah untuk menempa pikiran positif pada segala hal — terutama di atas sampah dunia yang bertebaran. Hidup tak pernah memberi banyak, kecuali ketika engkau menjadi lebih baik.

—-

Nah, apakah aku terlihat cukup jengkel padamu?

Terima kasih, tapi kau pun telah meredakan kejengkelanku dengan cukup mengingat-ingat keberadaanmu di sisiku. 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Sampai kapan menjadi ikan hias?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s