Pertanyaan

Selain dipenuhi darah, rupanya manusia pun (kerap) dipenuhi oleh pertanyaan.

Saya, juga salah satu yang dipenuhi pertanyaan. Bahkan saya pun mempertanyakan mengapa saya terus-terusan bertanya.

Satu yang luput adalah, mengapa saya perlu bertanya.

Tapi rupanya di dunia ini tak hanya saya semata yang (pernah) dipenuhi pertanyaan. Nyaris semua manusia di dunia ini dihinggapi pertanyaan dalam benaknya. Tak terkecuali dengan kawan-kawan saya di twitter yang juga memiliki pertanyaan :

@dyahatam : dia
@HaryatiRya : Apakah aku berbakat menjadi seorang penulis?
@arazliastania : Menghabiskan sisa umur dengan orang yang salah ? (˘̩̩̩╭╮˘̩̩̩)
@aendeikaa : Mau jadi apa aku saat aku besar nanti? 😮
@intanamps : Siapa yg akan jadi teman hidup kelak?
@Yohanakuncup : Apa yg akan terjadi besok?
@GunKuarve : Apa tujuan kita diciptakan di dunia ini?
@diemazbanggala : Siapa admin bintang berkisah?
@chi_richita : Akan seperti apa kehidupanku setelah kematian menjemputku nanti?
@ranggaasatriaa : Menjadi orang kaya, kaya mana pun cara nya harus jadi orang kaya
@tiktwit : Siapakah aku
@koesmethics : Apa arti dari kebahagiaan itu…?
@dienabelo : sudah bermanfaat kah hidup kita ?
@NinnaAyuLestari : Apa keajaiban itu ada ?
@dickyrenaldy : Kenapa tidak ada yg tertulis hari ini ?
@Maulana_Gustti9 : Apa saya bisa membuat sebuah novel dan diterbitkan di toko” buku setiap kota?
@araapratiwi apakah saya sudah menjadi orang yg baik?
@Puspitasarri : Kenapa kakak satu ini ga pernah tersenyum ma kami ?
@dontjudgemyrule : where do we go when we die?
@ranggaasatriaa : Ingin menjadi ayah yang baik
@erdekarini : Kapan nikah?
@widifitriana : Seperti apa nantinya aku akan dikenang?
@MissCoepid : who is my soulmate?
@beingbalqies : berapa lamakah sisa umur saya?
@ZrG_r4zza : Kenapa wanita hanya menginginkan kekayaan dan ketampanan saya saja ?
@rukkariku : Seberapa besar kau ingin tahu?
@ranggaasatriaa : Pengen jadi yg terbaik dari yang baik
@diemazbanggala : Apa aku bisa dgn dia selamanya, seperti harapan ini?
@edelweisbasah : Kapan Persib menjadi juara..
@Irsanramdany hidup untuk belajar/belajar untuk hidup ?
@zaujahmuth : Mengapa bintang bersinar? mengapa air mengalir?
@annisasenja : Aku bisa apa?
@radeakarna : Jadi salah gue? Salah temen-temen gue?
@swannysaja : Bagaimana agar saya bisa melagukan notasi musik?

 

Saya jadi teringat pada sebuah kejadian. Pada suatu kesempatan, saya bertanya pada seorang tokoh, yang konon senantiasa terbuka pada segala macam pertanyaan.
“Boleh saya bertanya?” Saya memulai dengan penuh kesopanan dan rasa hormat.
“Silakan. Apa yang mau ditanyakan?” Beliau menjawab tak kalah sopan.
“Bagaimana hukumnya bertanya?”
……………..
Sampai detik ini saya tak menerima balasan/jawaban apapun dari Beliau.
Waktu itu, saya merasa amat pedih karena diabaikan. Mungkin beliau menganggap saya mempermainkannya. Padahal sungguh, pertanyaan tersebut adalah pertanyaan terbesar yang bergelayut di benak saya. Pertanyaan yang senantiasa membuat saya gelisah.
Mungkin bagi generasi pembaharuan, banyak bertanya atau bersikap kritis adalah indikasi dari kecerdasan, bahwa seseorang itu memiliki hasrat dan kemauan untuk maju. Lagipula, di jaman yang semakin tidak jelas ini, hidup senantiasa dipenuhi pertanyaan. Pertanyaan adalah tanda kehidupan. Dengan pertanyaan, manusia dapat menggapai jenjang yang lebih tinggi lagi — setelah mendapat jawaban.
Separuh diri saya menyetujui persepsi tersebut. Memang benar, bahwa pertanyaan (pun) dapat membimbing kita menuju inti kehidupan.
Namun di sisi lain, terdapat pula budaya yang menganjurkan untuk meminimalisir pertanyaan. Jangan banyak bertanya, ikuti saja, patuhi saja, nikmati saja! Sekilas memang terlihat sangat menekan. Anti keterbukaan. Namun sesungguhnya ada makna filosofis di balik itu. Ada kebijaksanaan yang terselip di dalamnya.
Dan separuh diri saya yang lain mengamini sikap seperti ini.
Pertanyaan itu ibarat sebuah bumerang. Bisa menyelamatkan (hidup) tuannya dari musuh, namun juga dapat melukai diri sendiri — jika tak lihai menggunakannya. Jika tak proporsional mengelola pertanyaan, maka pertanyaan justru akan menyesatkanmu.
Diakui atau tidak, pertanyaan adalah sebagian besar dari penyebab kegalauan manusia. Apalagi akhir-akhir ini, kita begitu mudah dikelilingi oleh situasi dan kondisi yang menciptakan atmosfer kegalauan. Fatalnya adalah, ketika output tak seimbang dengan input. Ketika kepala kita nyaris diledakkan oleh berbagai pertanyaan yang beranak pinak namun tak kunjung menemukan jawaban yang memuaskan. Bagi jiwa yang dirongrong ketidaksabaran, hal ini hanya akan menimbulkan kekecewaan, apatisme, dan membuat asumsi-asumsi berdasarkan kehendak hati (jika bukan kenaifan diri) — yang belum tentu benar.

Padahal bisa jadi munculnya (banyak) pertanyaan adalah indikasi dari ketidaksabaran manusia. Tidak sabar untuk segera mengetahui jawaban, misteri dari semesta. Ibarat seorang penonton film yang bawel, ribut sendiri bertanya ini dan itu, hingga ia pun lupa cara menikmati film yang terpapar di hadapannya. Padahal toh pada akhirnya film itu berjalan dari permulaan hingga penghabisan. Segala hal yang menjadi pertanyaannya terjawab tuntas melalui alur cerita.

Pertanyaan pun bisa menjadi tanda kemalasan manusia. Terburu-buru bertanya tanpa ada usaha untuk mencari jawaban atau belajar terlebih dahulu. Bukankah fenomena yang sering terjadi saat ini adalah demikian? Ibarat seorang murid yang terus bertanya pada gurunya sementara ia menggenggam buku yang sesungguhnya berisi segala hal yang ia tanyakan. Andaikan kita lebih rajin belajar, niscaya kita akan mengetahui lebih banyak, tak sekedar hal-hal yang hanya kita tanyakan. Sayangnya, kita seringkali malas membuka buku. Kalaupun sekali membuka buku, terbit lagi ribuan pertanyaan. Jika tak berselera, maka kita akan berhenti membuka buku. Tak menyadari bahwa buku yang sedang dipelajari tersusun berjilid-jilid.

Bagi seseorang yang mampu mengelola emosinya,  maka ia akan lebih memilih rajin dan sabar mengikuti proses belajar daripada sekedar bertanya. Hanya melalui belajar ia mendapat lebih banyak pengetahuan. Dan semakin banyak pengetahuan justru memicunya untuk berhasrat mengetahui lebih banyak lagi. Sekali menemukan kunci nikmatnya belajar dan mereguk pengetahuan, maka ia akan senantiasa merasa bodoh karena rasa hausnya pada pengetahuan.

Satu yang perlu digarisbawahi, bahwa mengikuti proses belajar jauh lebih bermanfaat daripada sekedar (terus) bertanya tanpa ada kemauan mencari jawaban atau malah abai dengan jawaban atau sekedar menghabiskan waktu dengan berbagai pertanyaan yang tak ada habisnya. Padahal hidup ini singkat saja, dan banyak hal positif yang bisa kita lakukan.

Sesungguhnya semesta senantiasa memberi jawaban kepada ( segala pertanyaan) manusia. Bahkan tak perlu ditanya pun semesta memiliki kebaikan paling agung, yakni memberi beragam pengetahuan — yang bahkan tak pernah sempat terpikir di benak kita.

Yang kita perlukan hanya sekedar terus berjalan, tak berhenti untuk terus melakukan, tanpa perlu tenggelam dalam ranjau pertanyaan. Apalagi manusia adalah ciptaan yang diberi limpahan berkah arahan bagaimana cara mencari jawaban yang benar, tak sekedar melalui berbagai prasangka.

Memang, pertanyaan tak membuat kita mati atau terjerumus dosa. Namun ketika pertanyaan itu memicu ketidaksabaran hingga apatisme, maka segala kemungkinan (terburuk) pun bisa terjadi.

Segala kemungkinan memang baik. Namun di antara yang baik tentu ada yang terbaik. Terkungkung dalam jutaan pertanyaan dan kegalauan memang baik. Namun sepertinya hati saya jauh lebih tenang jika memilih sikap menjalani saja kehidupan dengan segala kejutan pengetahuannya, dan yang terpenting adalah terus berusaha melakukan yang terbaik, larut dengan kesibukan yang baik.

Yang kita perlukan hanya sekedar kesabaran. Karena hanya orang-orang yang sabar yang memperoleh keuntungan. 😀

Advertisements

4 thoughts on “Pertanyaan

  1. Mari tetap bertanya. Malu bertanya, sesat di jalan…
    Dgn bertanya semoga kita tidak tersesat dalam mengarungi kehidupan ini.
    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s