Mengapa saya menulis…

Kalau dipikir-pikir, mungkin hidup saya ditakdirkan untuk tak jauh-jauh dari jejak aksara dan kata…

Saya senang membaca sejak pertama kali saya dapat mengeja. Pun rupanya  cenderung menyukai sastra, dan beruntung memiliki sedikit kesempatan untuk bergelut di dalamnya. Dulu, dulu sekali, di saat-saat tersembunyi, saya senang menulis puisi. Kecenderungan menyukai puisi ini beralasan. Pikir saya, itu lebih aman. Saya bisa bersembunyi di balik deretan kata-kata berkias, kalimat-kalimat bersayap. Ketelanjangan membuat saya gugup.

Saya pun bersyukur memiliki kesempatan bersua dengan orang-orang yang membuat  saya semakin cinta pada dunia sastra. Seorang guru saya menjadi salah satu figur bagi saya di dunia tulis-menulis. Juga beberapa orang yang pernah dekat dengan saya, menjadi sumber inspirasi tulisan maupun perjalanan hidup.

Dan saya juga bersyukur memiliki kesempatan berkecimpung di dunia tulis-menulis secara profesional. Menulis sebagai profesi. Kiprah kepenulisan (profesi) itu boleh dibilang bermula dari cabang bidang jurnalistik. Menulis untuk media. Menyajikan cerita dan berita kepada publik. Saya cenderung lebih senang menulis feature, meski dituntut dapat menulis banyak hal. Tapi kadang saya ingin menulis apapun yang ingin saya tulis. Maka adakalanya saya pun memperuntukkan tulisan-tulisan saya yang berbeda untuk media lain. Cara seperti ini membuat saya merasa jauh lebih puas. Sejenak, saya berpikir, inilah sebab mengapa saya menulis.

Namun di balik kiprah tersebut, ada sisi temaram yang terus membuat saya gelisah. Jurnalisme memang membesarkan sebagian dari diri saya, namun saya masih terbelenggu oleh ketidakpuasan. Sekian lama saya memelihara keresahan dalam diri, dan keresahan itu menuntut kawan baik. Sementara itu, hanya aksara lah yang menjadi kawan terbaik saya. Maka saya pun menulis lebih banyak untuk diri sendiri. Terutama, saya mulai lebih banyak menulis fiksi.

Tapi saya masih ingat betul, seseorang pernah mengatai begini pada saya; “kau menulis untuk terapi dirimu sendiri…”. 

Saya sempat menanggapi sinis padanya. Ah, berani-beraninya dia! Jika dia mengatakan bahwa saya sedang ‘terapi’, artinya (secara tidak langsung) dia menganggap saya sakit (jiwa). Saya jadi merasa tersudut.

Namun di sela-sela waktu, ketika saya termangu-mangu sambil menelaah kembali perjalanan diri sendiri, sesungguhnya saya tak terlalu mengelak bahwa barangkali memang betul, saya menulis untuk terapi. Jika ditelusuri kembali tulisan-tulisan saya, terutama fiksi-fiksi yang telah saya buat, saya tersentak oleh sebuah kesimpulan; bahwa saya kerap menulis hal-hal yang muram — meski saya sangat jarang menulis kisah hidup saya sendiri dengan menggunakan kedok fiksi. Sebagai misal, saya kerap membunuh tokoh saya sendiri — jika tidak memerosokkannya dalam kekalahan, kebencian, ataupun kehampaan. Ternyata saya lebih sering merayakan kesedihan dan kegelapan bersama tulisan. Penemuan ini membuat saya tersenyum kecut. Barangkali bagi beberapa penulis, hal ini dianggap sebagai salah satu variasi gaya. Jika mungkin, bahkan boleh lah dianggap sebagai tren — ketika happy ending yang (sempat menjadi) arus utama tak lagi ‘menarik perhatian’.

Sempat pula saya mampir pada fase dimana menulis adalah bagian dari obsesi. Namun perjalanan (hidup) membuat saya telah meninggalkan fase itu ke belakang. Saya tak hendak mati dalam ketegangan.

Hingga sampailah saya disini, yang mana kemudian saya berpikir bahwa sebenarnya kebahagiaan hidup pun bisa ditempuh dengan jalan berbagi. Andaikan saya memang hanya sanggup menulis, maka yang bisa sekedar saya usahakan adalah berbagi melalui tulisan. Terutama tentang hal-hal yang positif. Entah itu semangat, inspirasi, ataupun informasi.

Acapkali tulisan memang adalah cermin dari pemikiran/kehidupan penulisnya. Maka saya pikir, barangkali akan jauh lebih bijak jika saya menulis lebih variatif supaya diri ini seimbang. Saya belajar untuk menciptakan atmosfer yang lebih berwarna, terutama kepada pembaca yang saya muliakan. Saya belajar untuk tak lagi (melulu) menulis tentang kemuraman. Andaipun ingin menampilkan demikian, setidaknya saya berusaha untuk menyampaikan makna positif. Sejauh ini mungkin tak selalu berhasil. Saya memang masih banyak belajar karena saya adalah seorang dengan begitu banyak kekurangan.

Saya pun belajar untuk tak lagi membebani tulisan-tulisan dengan obsesi yang keterlaluan supaya saya tak terlalu kelelahan. Pikirkan dan lakukan saja apa yang bisa saya lakukan saat ini, hari ini. Jika saya hanya bisa menulis, maka tantangan saya hanya sekedar menulis (yang baik) untuk hari ini. Andai hidup saya berakhir sekarang, toh saya tak peduli dengan apa yang terjadi setelah itu, juga tak mau terbebani memikirkan nasib jejak sejarah diri saya sendiri. Sudah bukan menjadi urusan saya, karena semesta ini lebih berkuasa menentukan jalan cerita bagi setiap hidup manusia. Kita hanya sekedar wayang yang tak bisa bebas mewujudkan kemauan menjadi kenyataan. Maka biarlah saya menulis karena hari ini saya ingin menulis. Jika lelah, itu tanda bagi saya bahwa sudah saatnya untuk tidur, untuk berhenti sejenak sambil menikmati hijaunya dedaunan, lapangnya angkasa malam, dan riuhnya arena kehidupan.

Memang, bahkan proses menulis pun adalah refleksi perjalanan yang kita lalui. Sah-sah saja memiliki alasan apapun untuk menulis. Manusia tidak statis. Saya percaya, bahkan dengan menulis pun manusia mampu membesarkan dirinya sendiri — jiwa dan batinnya. Seperti halnya kawan-kawan saya di twitter, yang mengemukakan alasan mengapa mereka menulis :

@AA_Muizz : Seneng aja, sekalian curhat.
@Ikafff : karena pengen. Hehe.. Lagipula, menulis itu kan jejak bahwa kita pernah hidup dan menghidupkan..
@Maulana_Gustti9 : Karena angin dapat membaca
@NPandela : Suka.. Ungkapan kata dan imajinasi bisa dituangkan dalam bentuk tulisan sesuka hati
@shantyadhitya : buat meditasi diri
@tiaraauliaa : Karna lisan tak lihai seperti tangan
@widifitriana : krn ga ada alasan buat gak menulis, jd kenapa harus enggak menulis?
@sindyshaen : karena menulis membuat saya tetap hidup dan ‘gila’
@sarahgarcias : Writing for healing :p
@SuryawanWP : Karena menulis itu mengabadikan.
@annisasenja : Biasanya krn pengen lari dr carut marut dunia nyata
@kisahkasih_ : karena banyak rasa yg tidak terucap..
@ydkzk : Karena lebih baik menulis daripada mencuri.
@Uss_2392 : Karna sulit bicara,. Eh
@Chalinop : karena ada kumpulan kisah yg ingin diceritakan
@astarindah : Karena menyenangkan dan membebaskan….
@eroscaaa : Karna banyak yg tak terungkap dg kata, tp mampu terjabar dlm tulisan
@slmaslma : utk saat ini,buat komunikasi sm diri sendiri
@siputriwidi : karena sudah terbukti, aksara tertulis melambungkan rasa & imajinasi lebih hebat daripada gambar atau film sekalipun!
@haryasti : Karna lbh bebas menulis
@FebrianaLubis : karena terkadang pikiran tidak bisa kita ungkapkan melainkan dituangkan dlm pena tulis.
@miamels : Karena menulis itu mengalihkan perhatian
@ayuaryaaryo : Melatih otak mengungkapkan apa yang tdk bs dikatakan secara langsung
@fayihade : Menyalurkan kegilaan…drpd gila beneran
@koesmethics : Karena ada yg mau ditulis
@araapratiwi : karena ada beberapa hal yg kita tdk bisa ucapkan, tp kita bisa tuliskan. jadi, buat memorable jg buat diri kita sendiri
@intanamps : karena nulis itu curhat (mostly)
@nyinyanyi : karena butuh..
@adedek90 : karna ingin menuangkan imajinasi yg tengah melanglang buana…
@lolaorett : Untuk memberikan rumah bagi imajinasi yang mengembara
@chi_richita : Karena lebih leluasa berbicara lewat aksara
@_edenia_ : Karena asik!
@chocodit : karna terlalu banyak kata2 yg tercecer di otak. Jadi keluar diluapkan lewat tulisan aja
@RestuSA_ : Menulis itu mengaktualisasikan diri. Atau mengabadikan diri.
@child_smurf : menulis itu melegakan hati, dan membantu membekukan kenangan
@nenibintang : biar legaa..
@swannysaja : Karena suka sensasinya ketika bisa menyusun kata-kata biasa menjadi kalimat yang tak biasa.
@dienabelo : karena menulis itu bagian dari hidup
@SeiraAiren : Karena dengan menulis aku bisa menjadi apapun yang kumau.. Bahkan membunuh orang pun dihalalkan.
@titonas : karena aku bisa melihat bulan, tanpa menatap langit. mendengar ombak tanpa pergi ke laut.
@da_armstrong : Karna banyak hal yang baru bisa dimengerti kalau ditulis terlebih dahulu
@Rahmi_AprilR19 : Karena dengan menulis aq bisa melepas rasa yg terpendam di hati, hidup adlh sejarah n sejarah itu dpt dilihat melalui tulisan
@DestyDasril : karena menulis adalah terapi yg plng dahsyat untuk mengeluarkan semua rasa yg mengendap di dada, meski duka, luka dan juga suka.
@mumuu_taro : cuz i can make my own world and i’ll be everything i want there.

 

Apapun sebab menulis, saya berdoa semoga segala sebab itu menjadi sebuah kursi roller-coaster yang mengantarkan kita pada tingkatan yang lebih baik. Pencapaian yang baik, kehidupan yang baik, dan semangat jiwa yang lebih baik.

Menulislah apapun yang ingin kau tulis. Selamat menulis! 😀 

8 thoughts on “Mengapa saya menulis…

  1. Saya suka dan setuju dg phrase ini… “Saya pun belajar untuk tak lagi membebani tulisan-tulisan dengan obsesi yang keterlaluan supaya saya tak terlalu kelelahan…”
    Seperti yg saya lakukan lewat tulisan2 saya di blog. Tiada yg istimewa, hanya mengangkat realita sehari-hari tanpa pretensi untun dibebani obsesi yg terlalu…
    Dan dg menulis, saya menemukan kembali diri saya yg merasa “terjebak” dg realita yg kadang menyesakkan namun harus tetap saya jalani.

    Salam,

  2. saya setuju kak, menulis memang acapkali adalah refleksi dari pemikiran/kehidupan penulisnya. ya seperti yg saya RT di tweet kakak, kalau tidak semua hal bisa kita ucapkan, ada kalanya kita hanya bisa menyampaikannya dg tulisan saja. dan tentunya tidak ada salahnya berbagi tulisan kita dg org lain, lebih-lebih kalau positif dan inspiratif. terimakasih kak buat inspirasinya 🙂 kebetulan saya jg sedang menjalani studi di bidang jurnalisitik. boleh copy kak? tentu saja dengan disertai sumber dr blog ini :)) terimakasih.

  3. Wowww, ternyata ada banyak alasan untuk kita menulis, ya? Postingannya keren, mewakili banyak suara 🙂

  4. Menulis itu menuangkan ide-ide yang berseliweran di kepala saya ke dalam wadahnya.. 🙂

    Saya sukaa sekali tulisan ini.. 😀

  5. Buat gue and seorang teman, menulis memang bisa jadi terapi utk diri sendiri ^_^ Selamat menulis untuk apapun alasannya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s