Cinta Lelaki Pencangkul Batu

Jika aku tak punya kelamin, apakah ia akan tertarik untuk mencintaiku?

Dada lelaki itu bergemuruh meski raut wajahnya tampak tegar dan baik-baik saja. Hatinya dirundung gundah gulana lantaran kebimbangan yang menggelayuti pikirannya. Ia sedang mencintai. Namun ia menemukan bahwa mencintai seperti bertahan menggenggam belati, ketika menyadari hal pahit yang menjadi aral rintangan untuknya mendapatkan cinta dari sang pujaan hati.

Lelaki itu terlahir cacat karena tak punya kelamin. Ayah ibunya miskin, sehingga tak mampu merawat kandungan sedemikian rupa, seperti layaknya ayah ibu lain yang mengharapkan bayi sepenuh hati. Dulu, ibunya bahkan sempat berusaha untuk menggugurkan kandungannya, meski gagal. Maka lahirlah ia dengan kondisi yang memprihatinkan. Tabib hebat yang baik hatinya telah berhasil membuatkan saluran pembuangan di bagian tubuhnya. Meski demikian, ia divonis tak dapat melakukan proses pemenuhan kebutuhan biologis, apalagi menghasilkan keturunan. Kecacatannya adalah aib bagi keluarganya. Namun mereka semua berhasil merahasiakannya dari kuping dan bibir yang senantiasa haus pergunjingan.

Hidup lelaki itu sangat sederhana. Ia mencangkul batu di bukit sebelah selatan hutan, yang kemudian ia jual pada mereka yang sedang mendirikan bangunan. Saat senja, ia menyudahi pekerjaannya, menuruni bukit dan menuju ke pasar. Disanalah ia mengistirahatkan raga lelahnya, membaringkan tubuh perkasanya di salah satu dipan di sudut pasar yang biasanya dipergunakan untuk berjualan sayur pada pagi hari. Menjelang malam, pasar begitu sepi tanpa penghuni. Hanya terdapat lapak dipan kosong yang berjajar dalam kegelapan, dan kucing ataupun anjing kampung yang berkeliaran atau tidur melingkar di beranda toko-toko yang tutup.

Namun sejak lima belas tahun belakangan, ia tak lagi mudah memejamkan kesadaran supaya lekas mendarat di alam mimpi. Angan dan pikirannya masih berkelana, membayangkan sosok perempuan yang dicintainya, namun tak sudi disentuhnya. Acapkali linangan airmata mengiringi lamunannya. Suatu saat, ia pasti akan dapat menyentuh hati perempuan itu, yang barangkali saat ini masih menjadi batu di hadapannya. Lamat-lamat, ia tertidur di antara gumam bibirnya yang merapal doa, menerjemahkan keyakinan.

Sebelum fajar menyingsing, lelaki itu harus membuka matanya supaya tak didahului oleh para pedagang yang tiba di pasar. Biasanya, ia terbangun saat mendengar gemerincing lonceng di leher sapi dan derit roda pedati yang mengangkut bahan-bahan pokok para pedagang melewati jalanan yang masih lengang. Segera ia meraih sapu korek dan membersihkan lapak-lapak yang berceceran remah dan sisa-sisa tulang ikan, bungkus-bungkus makanan, ataupun debu-debu jalanan. Nanti, ia akan menerima upah dari para pedagang yang berbaik hati padanya. Beberapa keping uang, atau sekedar nasi dan lauk pauk untuk kebutuhan perutnya dalam sehari.

Usai dengan kegiatannya di pasar, lelaki itu berangkat menuju bukit, menjinjing cangkul dan linggisnya. Namun sebelumnya ia mampir sebentar ke sebuah kedai yang menjual bunga-bunga segar. Si pemilik kedai sudah hapal betul dengan kedatangan dan permintaannya. Setangkai mawar putih telah dipersiapkan untuknya meski hanya membayar separuh harga.

Dengan hati-hati, dibawanya setangkai mawar putih itu menuju sebuah rumah tua di salah satu sisi perkampungan. Disanalah tempat tinggal perempuan yang dipujainya. Seorang perempuan yang dulunya cantik dan cakap menari. Diletakkannya mawar putih di depan pintu, di beranda rumahnya. Kemudian ia pergi melanjutkan perjalanannya menuju bukit, tempat ia mencangkul batu. Demikianlah kebiasaannya setiap hari. Tak ada yang menahannya, tak ada yang menggubrisnya, tak ada pula yang mempergunjingkannya. Perjalanan waktu mengantar semua orang melupakannya. Tapi perjalanan cintanya tak pernah mengantarnya pada pilihan untuk melupakan.

 

Kisah cintanya bermula ketika ia menemukan sosok perempuan yang sedang berlatih menari di tanah lapang di pinggir sungai tepi hutan. Melalui semak-semak, ia mengintipnya sedang berputar-putar, melentingkan tungkai-tungkai kakinya yang panjang ramping, meliukkan jemari tangannya yang lentik, menata tatap matanya yang bersinar. Tiap gerakannya menyalakan gairah. Bibir mungilnya menyiulkan melodi yang bahkan membuat burung-burung ikut berdendang. Baju yang dipakainya tampak basah oleh keringat, sementara anak-anak rambutnya menghiasi pelipis dan lehernya yang jenjang. Ia menjadi bercahaya di mata lelaki itu.

“Keluarlah! Aku tahu kau mengintipku sedari tadi.”

Tanpa dinyana, perempuan itu berteriak ke arahnya. Lelaki itu jadi tersipu, namun akhirnya ia memutuskan untuk menampakkan diri di hadapan perempuan itu, memperkenalkan diri.

“Siapakah kamu?” tanya perempuan itu penuh selidik.

“Aku hanyalah pencangkul batu di bukit sana yang kebetulan lewat dan melihat kau menari dengan indahnya…” jawab lelaki itu sambil menunjuk ke arah selatan, letak bukit tempat ia mencangkul batu. “Maaf jika aku mengganggumu…” ucapnya lirih.

“Takkan mengganggu jika kau tidak mengintipku diam-diam. Duduklah disana, kau boleh melihatku menari.”

“Terima kasih… Tarianmu indah sekali. Aku tak pernah melihat seorang perempuan menari sehebat itu. Gerakanmu seolah berpadu dengan keindahan alam di sekitar.” Ujar lelaki itu dengan berbinar.

“Aku sedang berlatih menari untuk mempersiapkan pertunjukanku pekan depan. Aku harus menghibur banyak tamu penting yang datang dari berbagai penjuru negeri,” jelasnya tanpa terkesan sombong.

“Semoga pertunjukanmu sukses… Beruntung sekali aku dapat berkenalan dengan penari hebat negeri ini…”

Perempuan itu hanya melempar senyum sekilas, kemudian melanjutkan gerakan tariannya. Sementara lelaki itu duduk di atas batu tak jauh dari perempuan itu, menikmati setiap gerak dan keindahan yang tersaji di hadapannya.

 

Hari berganti, bulan berselang, tahun bergulung, lelaki dan perempuan itu menjadi sepasang kawan yang cukup menyenangkan, saling pengertian, dan penuh penghargaan. Lelaki itu dapat merasakan gelora dalam dada perempuan itu, yang dipenuhi impian untuk menjadi satu-satunya pengindah dunia.

Namun siapa yang mengetahui suara hati sebenarnya di balik permukaan yang tersembul? Jauh di lubuk hati, lelaki itu menyimpan perasaan yang istimewa terhadap perempuan itu.

“Engkau telah menjadi satu-satunya yang terindah dalam semesta diriku…” kata suara hati yang tak dapat disangkalnya. Kegelisahannya bergemuruh dalam dadanya sendiri.

Ia ingin memeluk impian perempuan itu, namun akal sehatnya senantiasa menyampaikan realita pahit mengenai kemungkinan-kemungkinan yang membuatnya bermuram durja. Akhirnya, lelaki itu sekedar membumbung kegalauannya ke atas langit-langit imajinasinya, kemudian menangkapnya kembali dengan kedua tangannya yang kasar dan kekar.

“Sampaikan rasa cintamu dengan baik. Jadilah lelaki yang kuat dengan cara tegar menerima resiko apapun,” nasehat nuraninya.

“Andai saja aku benar-benar kuat…” gumam akal lelaki itu.

“Apa yang kau takutkan? Apakah kau khawatir perempuan itu menolakmu karena kemiskinanmu?” sanggah nurani.

“Andaikan dapat sesederhana itu… Jika ia membenci kemiskinanku, aku masih memiliki tenaga dan seribu cara untuk memperkaya diri supaya ia mencintaiku. Tapi aku adalah manusia cacat. Manusia yang terlahir tanpa kelamin seperti normalnya para lelaki atau perempuan…”

Lelaki itu hampir menangis. Kenyataan menjelma sembilu yang mengiris-iris nadi harapannya.  “Dengan keadaan seperti ini, apakah aku masih memiliki kemungkinan diinginkan oleh perempuan itu?” ratapnya menghiba.

 

Keesokan harinya, lelaki itu telah membulatkan tekad. Maka berangkatlah ia menemui perempuan itu demi menyatakan segenap perasaan cintanya. Ia pun bertekad untuk membeberkan kejujuran tentang keadaannya. Segala kemungkinan yang terjadi sudah tak membuatnya gentar.

Namun sejak peristiwa itu, sikap perempuan itu mulai berubah. Ia menjauhi lelaki itu, enggan bersua, tak lagi sudi saling bicara. Lelaki itu mahfum dengan perubahan tersebut. Tapi tak dapat dipungkiri bahwa hatinya pilu, rautnya sedih, perasaannya senantiasa resah. Kendati demikian, ia tak pernah gamang dan menyerah untuk menghidupkan cintanya pada perempuan itu. Ketabahannya melebihi batu karang yang bertahan dari terjangan ombak. Hanya usia yang terkikis, sedang kecintaannya tak pernah bergeming. Wujud kesetiaannya tercermin dari bertangkai-tangkai mawar putih yang ia persembahkan untuk pujaan hatinya selama lima belas tahun lamanya.

“Akulah lelaki yang drama cintanya melebihi Majnun ataupun Shah jahan. Oh Bulan, jika kau hendak limpahkan kesengsaraan karena mencintainya, maka biarlah aku mereguk siksa abadi …”  sesumbar lelaki itu saat mata sayunya memandang bulan dalam remang malam.

“Dia lelaki gila. Seharusnya ia cukup tahu diri bahwa aku takkan pernah menjadikannya kekasih. Aku tidak mencintainya. Hanya itu satu-satunya persoalannya, namun juga yang paling besar dan utama. Bagaimana aku bisa bergairah dengan manusia yang tak punya kelamin? Aku hanya manusia biasa yang masih ingin mengecap kenikmatan, juga memperoleh keturunan. Lagipula, banyak sekali pria normal yang memikat yang menginginkanku. Mudah bagiku mendapatkan benih terbaik. Sementara dia hanya akan menjadi aib bagiku. Kupikir saat ini dia hanya menyiksa dirinya sendiri. Kalau dia mau mati, aku takkan peduli…” Perempuan itu berkata dengan mimik masam disertai cibiran.

Kebesaran namanya sebagai penari hebat seantero negeri membuatnya senantiasa dilimpahi senyum dan tawa. Kekasih-kekasih yang membanggakan datang dan pergi bak cuaca dalam satu musim, menawarkan pelukan dan kenikmatan yang menjadi candu. Kekayaannya bertumpuk-tumpuk, menjadikannya tak pernah kekurangan, tak pernah kelaparan. Bibirnya telah kesat mereguk anggur dari berbagai penjuru negeri. Daging-daging anak domba hanya menjadi makanan para pelayannya. Dan sutera-sutera warna-warni terus saja berdatangan memenuhi gudang dan almari pakaiannya.

awesome-art.biz Man Digging

Sementara lelaki itu masih setia mencangkul batu di bukit, masih setia membersihkan pasar sebelum terbit fajar, dan juga masih setia mengiriminya mawar putih yang ia letakkan di beranda rumahnya. Waktu tak jua menggerakkan roda nasibnya kemanapun.

 

Berbeda dengan nasib perempuan itu, yang berputar bak gasing bertenaga penuh. Keadaan cepat berubah. Ternyata kejayaannya tak selamanya berada dalam genggaman. Sepuluh tahun berselang mengantarnya pada gerbang kegelapan. Tubuhnya renta dengan cepat karena terkikis sebuah penyakit langka yang datang tiba-tiba. Tak ada yang mampu menyembuhkannya, padahal kekayaannya semakin terkikis habis, dan kemampuan menarinya sekedar menjelma menjadi kenangan. Ia tak berdaya. Tak lagi ada yang mempedulikannya, yang menyanjung-nyanjungnya. Kemiskinan datang bersuka ria menjadi selimutnya.

Namun laki-laki itu, tak jua berubah perasaannya, kebiasaannya. Ia masih menaruh bunga mawar putih di beranda rumah perempuan yang telah menjadi buruk dan dilupakan. Kesetiaannya ini lambat laun mulai mencairkan hati perempuan itu. Ia mulai dapat mengalirkan air mata dari mata air nuraninya. Linangan yang meremas-remas hati kecilnya, yang menciptakan bergunung-gunung penyesalan dalam lembah kesadarannya.

“Sesungguhnya aku tak lagi peduli apakah ia punya kelamin atau tidak… Tapi, mampukah ia menerima dan memaafkanku yang telah tercoreng cela dan aib, yang telah terbungkus oleh renta usia dan kekalahanku pada semesta?”

***

 Januari 2013

Advertisements

13 thoughts on “Cinta Lelaki Pencangkul Batu

  1. Hadoh, ini…GALAU. Gelisah Antara Lanjut Atau Udahan, min. Kurang, min! Ending-nya seperti apa itu nanti 😀

  2. Pilihan yang bagus, realistislah pilihan wanita penari tersebut. Dengan masa depan yang cerah semua wanita pasti berharap pasangan didamba.
    Realistis juga sang pria pencangkul dengan kondisi seperti itu.

    Dan tentu saja hidup tak seperti yang selalu diharap.
    Ending yang relistis juga akhirnya seperti itu.
    Namun alangkah lebih manis kalau ditutup lebih tragis, lumayan lah buat sebuah cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s