Perjumpaan

There’s a lady who’s sure all that glitters is gold
And she’s buying a stairway to heaven
When she gets there she knows, if the stores are all closed
With a word she can get what she came for
Ooh, ooh, and she’s buying a stairway to heaven

Lelaki tua itu memetik gitar usang di sela-sela siang yang sedang mengandung mendung. Matanya terpejam, memberi kesempatan sekelebat angan berkelindan pada dimensi ruang dan waktu yang tanpa batas. Namun masa silam membentang lebih lebar di hadapan. Pintu kenangan berderit pelan, mempersilakan masuk langkahnya yang tersaruk. Kelebat bayangan kisah kejayaan menyeruak, menjelma menjadi nada-nada ritmik dalam tiap petikan akustiknya. Melodi yang menyayat itu mengalahkan hembusan angin dan rintik hujan yang tampak sedang berusaha mencumbunya.

**

“Aku dipromosikan menjadi redaktur senior!” kabarnya sumringah sembari melepas jaket kulit hitamnya. Sementara Miranda sekedar bersikap cuek, seperti biasa. Gadis mungil berkaki jenjang itu masih bergelung di atas kasur bersprei kumal yang telah teracak kemana-mana. Ia tak memejamkan mata, sibuk menjentikkan kuku-kukunya yang terlapisi warna kelabu, yang telah mengelupas beberapa.

“Bangun, Sayang… Kau sudah mendekam disini dua hari. Ayo, aku akan mengantarmu pulang. Tak enak jika ibu kos sampai tahu…”

“Hmm… Mentang-mentang mau jadi redaktur aja sudah sok ngusir-ngusir…”

Miranda pura-pura merajuk. Tapi bukannya segera bangkit, ia malah menggeliatkan tubuh rampingnya saat Yudha tiba-tiba merangsek ke arahnya, menghujaninya dengan cumbuan ringan. Sejenak mereka kembali larut dalam hiburan paling sederhana dan instan yang sanggup mereka upayakan dalam sekejab.

“Aku belum mau pulang… Masih dua hari, belum tiga. Layaknya orang sakit, ijin harus tiga hari. Masih tersisa satu hari lagi, dan aku ingin menghabiskannya disini saja. Aku janji akan membersihkan kamarmu, ya…” bisik Miranda manja. Ia bahkan nyaris menggigit cuping telinga Yudha, namun segera menggantinya dengan ciuman kecil.

“Tak bisa… Nanti malam aku mau liputan investigasi,” kata Yudha, beringsut duduk di tepi pembaringan. “Badanmu tak panas lagi, kan? Kau hanya pura-pura sakit saja supaya bisa membolos, hahaa…”

“Kau sendiri saksinya, kemarin lusa badanku seperti berada di atas panggangan. Sekarang sih sudah baikan… Kau mau liputan kemana?”

“Ke Romeks…”

“Ah, pasti esek-esek lagi! Hobi sekali kamu bergaul dengan lonte-lonte. Huh, dasar wartawan esek-esek, inspirasinya melulu seputar selangkangan. Awas aja kalau kamu pulang bawa penyakit, ya!”

Yudha tersenyum tipis. Ia pun menganggap bahwa ucapan Miranda adalah sebuah paradoks hidupnya.

“Aku hanya main aman, Sayang…” katanya, sembari bangkit berdiri dan merapikan setelan kemeja dan jeans yang dipakainya. “Apa kamu pikir aku sebegitu bahagia meliput ke tempat-tempat gituan?! Nope! Tempat-tempat itu kering. Payah! Asal kamu tahu, uang di dompetku tinggal beberapa lembar saja. ATMku pun sudah ludes.”

Kondisi klise. Soal kehabisan uang selalu menjadi tajuk permasalahan tiap menjelang pertengahan bulan. Lagipula, apa yang bisa diharapkan dari gaji yang cuma dapat memuaskan rasa sekelebatan? Yudha dan Miranda sama-sama wartawan. Namun meski Yudha lebih senior, tak juga dapat dikatakan lebih makmur ketimbang Miranda. Cinta, yang membuat mereka bersekutu untuk menyiasati keadaan, saling menutup lubang dan kekurangan. Juga kesenangan.

“Apa hari raya besok kamu jadi pulang kampung?”

“Pulang kampung pakai daun! Ini adalah hari raya yang menyedihkan untukku. Jauh dari keluarga, pun masih diberondong tugas-tugas liputan yang melelahkan dan menyita waktu.” Yudha bersungut-sungut. Sangat terlihat, ia tampak sedang kesal betul.

“Ya sudah, masih ada aku, kan? Kutemani kamu merayakan hari rayamu. Let’s have fun together, hahaha!”

Have fun apaan? Kamu sama-sama kere…” Yudha melengos.

“Aha, sepertinya aku masih punya uang. Kita bisa makan soto di tempat favoritku itu.”

“Hahaa…. Sudahlah. Aku masih trauma nganterin kamu ke ATM tapi ternyata uangmu bahkan kurang untuk dapat diambil di mesin sialan itu. Dan sepanjang perjalanan, kamu hanya  cengengesan saja, padahal aku sudah terlanjur ngiler membayangkan soto dengan kuah panasnya… huh!”

“Oh, hahahaa… ternyata kamu masih ingat peristiwa itu, ya… hahaha… Sungguh, kasihan sekali kita waktu itu, ya.. hahahaa…”

Keduanya tertawa, atau tepatnya saling menertawakan. Pada akhirnya, mereka menyadari bahwa hidup yang terlalu singkat ini tak sepatutnya dihiasi oleh tangis dan kemurungan melulu. Adakalanya, tawa adalah ekspresi paling tepat saat hidup dirasa semakin rumit dan tak terjangkau. Tawa hadir ketika manusia tak lagi tahu apa yang harus diungkapkan, ketika tangis dan rutukan telah tandas tanpa bekas.

Miranda meraih sekantung kacang  yang  sempat ia beli kemarin. Ia menyorongkan makanan ringan tersebut ke arah Yudha yang sedang duduk di lantai bersandar pada lemari pakaian. Sejenak dua anak manusia itu sibuk dengan kacang dalam genggaman masing-masing. Setelah habis tak bersisa, tak ada lagi yang dilakukan selain kembali menggembala angan dalam ladang keheningan.  Yudha memilih menghibur diri dengan meraih gitarnya, menyenandungkan satu atau beberapa lagu yang terpotong-potong. Kadang ia ingin sekedar membuat Miranda, yang senantiasa tergila-gila pada lelaki yang piawai bergitar, terpesona.

**

Dulu Yudha tak seperti itu. Yang terekam baik dalam ingatan Miranda, Yudha adalah seorang pria yang sungguh menggoda. Kharismanya memikat banyak gadis jelita. Selain itu, ia adalah pria cerdas dengan cara pikir yang kritis dan gagasan yang seringkali cemerlang. Kepekaannya pada intelektualita mengagumkan, meski tak jarang berpendapat sinis. Di samping itu, pembawaannya selalu percaya diri. Sisi positif itulah yang membuat Miranda begitu menyukainya.

Semenjak musim pemilihan kader-kader partai politik, beberapa halaman di koran tak pernah sepi. Yudha selalu bersemangat menulis kisah dan intrik politik dari sudut pandang berbeda. Kadang-kadang ia memberi kejutan yang membuat beberapa pembaca terbeliak atau mengernyitkan dahi. Investigasinya yang mendalam seringkali mengagumkan. Tak heran jika ia kerap menjadi momok bagi para pejabat di dewan ataupun pemerintahan. Maklum, pada masa itu, penyelewengan-pengelewengan kekuasaan yang dilakukan sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan begitu marak. Setiap kesempatan dalam lobi kekuasaan menjadi peluang untuk memperkaya dan memperkuat diri demi kepentingan individu atau kelompok. Hiruk-pikuk peperangan di kancah politik acapkali lebih menarik daripada balada manusia-manusia yang mati karena lapar.

Di sisi lain, bagi orang-orang semacam Yudha, rentetan peristiwa itu bak durian yang jatuh pada musimnya, tinggal memunguti buah-buahnya yang tergeletak begitu saja di atas tanah. Yudha pun tak pernah kekurangan akal dan siasat untuk menyudutkan para penyeleweng dan oknum penguasa yang kalap melalui tulisannya yang tajam menebas. Tak heran jika pamornya sebagai seorang redaktur senior jadi kian cemerlang, meski menuai banyak ancaman.

Sudah lima belas tahun Miranda tak lagi bertemu Yudha. Ia sempat mendengar kabarnya secara samar. Tapi ia harus pandai-pandai menjaga sikap dan menyembunyikan perasaannya. Bukan semata karena suaminya akan berang bukan kepalang jika mengetahui bahwa ia mencoba menghubunginya. Pun demi keselamatan Yudha, yang selalu ia khawatirkan setiap saat.

Yudha memang tak pernah berubah. Kadangkala sikap angkuhnya begitu menjengkelkan. Ia tak pernah gentar menghadapi siapa saja, sulit untuk kompromi. Idealismenya menggebu dan menyakitkan. Beberapa yang tersakiti akan menganggapnya sebagai intimidator sejati.

Suami Miranda adalah salah satu korban. Tuduhan korupsi dan suap-menyuap bukanlah persoalan sepele. Ditambah dengan rumor skandal tak sedap mengenai seks dan perempuan. Yudha berhasil mengungkap gundik-gundik simpanan yang dipelihara di beberapa tempat kos mewah melalui sejumlah liputan khusus. Atau barangkali Yudha pun berhasil meniduri salah satu dari mereka.

Hanya Miranda yang benar-benar mengetahui kebenaran berita tersebut. Mungkin dia memang telah banyak tahu. Namun keberadaan Miranda pun tak lantas membuat Yudha berpikir dua kali untuk mengurungkan niat, menelanjangi suaminya. Barangkali karena Yudha terlanjur membenci Miranda.

Suami Miranda seorang politikus, punya jabatan di kursi dewan. Ia dapat melakukan apa saja dengan segala daya dan kemampuannya. Dulu ia terkenal bersih. Sebab itu yang menjadi pertimbangan Miranda untuk pada akhirnya bersedia menikah dengannya, meninggalkan Yudha. Namun masa lalu pun punya banyak kemungkinan berubah di masa depan. Dunia telah dengan buas mempermak suami Miranda menjadi manusia berhati  keras bagai cadas. Uang dan kekekuasaan telah memperbudaknya untuk  tega melakukan segala cara. Apa yang dapat dilakukan Miranda yang kini hanya sekedar menjadi ibu rumah tangga? Sekedar menangisi pilihan takkan dapat merubah apa-apa.

Dengan beberapa pengaruh dan upaya, suami Miranda berhasil menghabisi Yudha melalui pisau dalam lipatan. Jabatan Yudha tergeser, tak lagi punya kewenangan dengan berita-berita yang berpotensi riskan. Keputusan pimpinan benar-benar tak dapat ia gugat. Suaranya lebih lemah. Bahkan Miranda pun tak punya kuasa apapun yang mampu mengubah nasib mantan kekasihnya. Tangisnya hanya menyeruak dalam gelap, sementara ia harus senantiasa menyajikan senyuman di tempat-tempat terang bersama suami yang pura-pura ia sayangi.

Namun Yudha tak pernah sudi diperlakukan semena-mena. Ia tak sudi menulis artikel-artikel mengenai tips memilih furniture atau sekedar tentang perawatan kecantikan. Ia yang merasa didholimi memilih hengkang dan bergabung dengan sebuah perusahaan media yang lebih kecil yang memiliki jumlah oplah yang menggelikan, yang seringkali sekarat karena kesulitan mencari iklan. Sayangnya, nasib baik tak jua berpihak padanya. Perusahaan kecil yang mengalami kemunduran sedikit demi sedikit itu kian suram nasibnya, hingga berakhir gulung tikar.

Waktu telah menggilasnya dalam keputusasaan. Yudha telah lelah dengan perjuangan. Tampaknya ia pun lelah mengatai Miranda sebagai pengkhianat yang telah berkhianat tak hanya pada cintanya, namun juga pada bangsa tercinta.

Masa-masa tuanya ia nikmati saja dengan bersama petikan gitar, secangkir kopi, dan sebungkus rokok di teras depan kantor sebuah harian kecil yang sudah tak lagi menerbitkan apapun.

***

Genangan air mata tak lagi bisa ditahan pelupuk mata Miranda. Tapi Yudha yang telah menua tetap mengabaikannya, tak lagi hirau dengan perasaan perempuan yang sedang duduk di bangku sampingnya. Sampai kapanpun, Miranda tak pernah mampu menjelaskan keputusan-keputusan yang pernah ia ambil dalam hidupnya, pada Yudha. Ia hanyalah seorang perempuan yang seringkali kesulitan memecah cangkang kemisteriusan jalan pikirannya sendiri.

Miranda melirik arloji. Jarumnya menujuk pukul 11.00 siang. Ia harus segera bergegas. Jam besuk Lapas akan segera dibuka, pun terbatas. Miranda tak ingin mengaburkan kesetiaannya menunggu kebebasan sang suami yang tinggal beberapa bulan lagi. Ia mencoba untuk tak goyah meski saat ini, secara tak dinyana, bertemu Yudha kembali — setelah lima belas tahun saling menghilang, saling melupakan.

Meski demikian, kesetiaan Miranda tak ada hubungannya dengan kasih sayangnya yang tak pernah lekang untuk pria tua dengan gitar akustik yang sedang melantunkan lagu yang ia tahu, khusus untuknya. ***

smalldrawings.blogspot.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s