MAHESHA

Ibuku adalah seorang peri. Peri yang memangsa lelaki muda.

Aku sudah mengatakannya pada beberapa kawan dekatku, sepupuku, hingga beberapa orang yang bahkan tak kukenal sama sekali. Tak ada satu pun yang percaya. Mereka justru mengataiku sebagai pembual dan berseloroh bahwa aku terlalu banyak bermimpi. Padahal aku sedang mengatakan kenyataan dan tidak sedang bermimpi.

Namun awal mulanya memang dari sebuah mimpi.

Saat itu usiaku empat belas tahun. Malam itu tak seperti biasanya. Udara terasa lebih panas dari hari sebelumnya, membuat gerah. Langit hanyalah kelam yang kosong, lengang, tanpa semburat keindahan. Tak ada angin yang menggemerisikkan dedaun beringin. Kota seolah-olah mati. Sepi ini membuat kantukku  menjadi-jadi.

Pukul 02.00 dini hari. Aku terbangun dengan hampir terlonjak, dengan nafas terengah. Keringatku mengucur bak air bah. Kerongkonganku terasa kering, haus tiada tara. Aku menduga, malam yang senyap itu sempat diramaikan oleh teriakku saat sedang berkelana di alam bawah sadar. Mimpi itu begitu menakutkan. Kulihat mahluk besar serupa kelelawar membopong ibu. Sayapnya yang juga lebih besar berkibar-kibar,  menghembuskan hawa dingin yang nyaris membuat badan gemetar. Mahluk besar yang hanya dapat kulihat punggungnya itu membawa ibu menyusuri jalan setapak, menerobos hutan lebat. Semak-semak liar menghalangi jalan, onggokan ranting kering malang melintang, menjadi penghalang bagi langkah mahluk besar itu. Sepertinya daerah itu adalah sebuah pegunungan. Jalan kecil itu semakin menanjak, dan mahluk besar itu terus saja berjalan, tak merasa letih sedikitpun. Ia seperti berkejaran dengan waktu. Langkahnya bergegas dan terlihat ringan meski memanggul tubuh ibu yang tak sadarkan diri.

Tak jauh dari pohon trembesi yang begitu besarnya, mahluk itu berbelok ke arah kiri. Sebenarnya tak ada jalan yang membuatnya harus berbelok. Tubuh besarnya menerabas semak-semak perdu yang  layu sebagian. Tapak kakinya yang besar menginjak gundukan ranting kering hingga menimbulkan gemeretak yang nyaring.

Hari sudah semakin gelap. Petang segera menyusul malam. Mahluk besar itu memungkasi perjalanannya di depan sebuah gua yang keberadaannya tersamar. Tak terlalu besar, namun tubuhnya masih dapat memaksa masuk ke dalamnya meski harus bersusah payah dengan merunduk-runduk. Tangannya sigap menghalau sarang laba-laba yang centang perentang, menyingkirkan beberapa lipan dan kalajengking yang sempat merambati kaki besarnya yang berbulu.

Gua itu ternyata sangat dalam, sangat panjang. Mahluk besar yang membopong ibu terus berjalan menembus kegelapan. Yang membuatku terkejut, semakin masuk ke dalam, gua itu semakin besar, semakin luas dan lebar. Sempat kuterheran, gua apakah ini gerangan; apakah semacam sarang, ataukah tempat terlarang. Tapi anehnya, meski tak ada cahaya setitik pun, aku dapat melihat jelas apa yang terbentang di hadapan. Barangkali karena aku sedang bermimpi, sehingga aku menjadi tak kasat mata.

Langkah mahluk besar itu berakhir di sebuah ruang yang sangat lapang, sangat besar. Bahkan lelangitnya tinggi menjulang. Sepertinya ruang besar itu adalah ujung perjalanan. Dan sepertinya ruang besar itu adalah ruang pertemuan.

Sejenak ia mengedarkan pandangan ke sekitar, menarik nafas dalam, kemudian melanjutkan langkahnya yang kini lebih tertata, terlihat lebih berwibawa. Ia menuruni sebuah tangga, menuju ceruk yang lebih rendah, namun juga memiliki keluasan ruang yang tak kalah.

Pandanganku dikejutkan oleh sekawanan mahluk yang tak jauh beda dari mahluk yang kuikuti. Hanya saja, ukuran tubuh mereka sedikit lebih kecil. Namun jumlah mereka luar biasa besar. Entah ratusan, atau bahkan mungkin ribuan. Bisik dan gumaman mereka terdengar berdengung-dengung, namun tampak tenang. Seperti menunggu sebuah kejadian yang dinantikan.

Kusempatkan untuk meneliti rupa mahluk-mahluk itu satu persatu. Aku bergidik ngeri. Mereka adalah perpaduan yang janggal antara kelelawar dengan manusia. Sorot matanya seperti manusia, namun hidung lebih menyerupai kelelawar. Beberapa bagian wajah berbulu kasar, namun lingkaran di sekitar hidung, mulut, hingga kelopak mata begitu mulus. Badan mereka tegap dan berbulu. Jemari tangan tampak kekar dan dipenuhi bulu. Hanya bagian kaki yang aneh, sedikit mirip kera. Mereka memiliki sepasang sayap besar, sayap seperti kelelawar, yang mencuat dari punggung mereka yang telanjang. Adakalanya mereka mendengus-dengus seperti babi.

Aku masih mengikuti mahluk besar yang membopong ibuku. Ia tengah berjalan menuju sebuah altar persembahan yang dikelilingi mahluk-mahluk aneh itu. Seketika itu juga, semua mahluk yang ada di ruang itu menghentikan segala suara. Hening mencekam suasana. Altar persembahan itu seolah telah  menanti kedatangan ibu sejak masa silam. Nyala api dari dua buah obor di samping kanan altar bergoyang-goyang, seolah mempersembahkan tarian penyambutan.

Mahluk besar itu membaringkan ibu dengan hati-hati, dengan posisi telentang yang rapi. Ibu masih tak juga bangun. Ia seperti terbius oleh mimpi indah. Kulihat mahluk itu sempat memandangi ibu dengan sorot mata sayu. Sorot mata yang  sepertinya menyimpan kedalaman rasa. Barangkali tersemat sebuah cerita yang mengandung kenangan di dadanya. Sebuah rasa yang menenggelamkan asa. Entah mengapa, menyelami sorot matanya membuatku tiba-tiba diliputi kesedihan yang nestapa.

Puas memandangi ibu, kemudian ia itu beranjak menuju sebuah cawan yang telah disediakan. Terdapat sebuah belati kecil dengan gagang berukiran indah. Belati itu tampak tajam dengan sisi-sisinya yang mengkilat oleh terpa cahaya obor. Mahluk itu menimang-nimangnya dengan tangan kanannya. Kemudian pelan ia menghampiri ibu. Dengan penuh khidmat, diarahkannya sisi tajam belati tersebut ke leher ibu. Goresan kecilnya mampu meneteskan setitik darah.

Tiba-tiba badanku terasa kejang. Aku gemetar hebat. Ketakutan menyergapku sedemikian rupa. Aku tak lagi sanggup melihat pemandangan di hadapanku. Mereka akan menyembelih ibu. Aku dapat menduganya karena adegan-adegan serupa ini sering kujumpai di film-film. Tapi mengalaminya sendiri adalah persoalan berbeda. Apalagi yang menjadi tumbal persembahan adalah ibu kandungku sendiri. Anak mana yang rela melihat ibunya mendekap kematian? Anak mana yang tega melihat sebuah belati tajam menggores leher ibunya yang sedang dalam keadaan tak berdaya?

Saat itulah aku bangun dengan terengah-engah.

**

Hingga usiaku lima belas tahun, tak ada kejadian luar biasa yang menghampiri, yang kira-kira berkaitan dengan firasat mimpi mengerikan itu. Ibu masih berada di sampingku, masih mencium keningku sebelum aku tidur dan terlelap.

Ibu memang tak pernah tidur lebih awal daripadaku. Semalam apapun aku beranjak ke tempat tidur, ia memilih bertahan menemaniku. Padahal ia tak begitu tertarik dengan siaran televisi program apapun. Jika tak menyulam atau membaca, maka ia hanya duduk diam di sofa. Entah apa yang sedang bermain-main di pikirannya. Aku tak pernah berusaha mengusiknya, atau melibatkannya dalam duniaku. Ibuku seorang pendiam, dan aku pun merasa tak keberatan.

Pada suatu malam aku mendapat sebuah pengetahuan. Lelap tidurku terganggu karena kandung kemihku memaksaku untuk segera ke kamar mandi. Tapi niatku urung, terjegal di tengah jalan oleh suara isak tangis yang menggiriskan hati. Siapa gerangan yang menangis di tengah malam hingga membuat bulu kuduk meremang? Apalagi tangisnya nyaris serupa lolongan – menyayat pendengaran.

Kuhampiri arah asal suara. Rasa penasaran menggilas rasa takutku. Kamar ibu tidak terkunci, sehingga aku dapat masuk dengan leluasa. Kulihat ibu bersimpuh di sudut ruangan, memunggungi arah datangku. Tangisnya terdengar makin jelas di telingaku. Isaknya mengguncang bahunya yang terlihat rapuh. Ia tergugu sendirian, merana bersama keheningan.

“Ibu….”

Rupanya kehadiranku cukup mengagetkannya. Perlahan ibu menoleh ke arahku setelah berusaha mengusap jejak tangis pada wajah putihnya yang pasi. Mata kami saling bertatapan. Tapi aku benar-benar kaget, karena melihat sebercak noda darah mengotori sudut mulutnya yang mungil. Ibu terlihat rikuh dengan kehadiranku yang sepertinya sama sekali tak ia harapkan.

“Kau belum tidur, Mahesha?”

“Aku tak bisa tidur karena mendengar Ibu menangis… Ada apa, Bu? Apakah engkau sakit? Ayo kita ke dokter…”

Tak bisa kupungkiri, aku jadi sangat mencemaskan ibu. Aku takut sesuatu yang buruk telah terjadi padanya. Hanya ia satu-satunya yang kupunya sejak aku tak pernah mengetahui rupa ayahku. Ibu mengatakan bahwa ayah tewas dalam sebuah kecelakaan saat aku masih berada dalam kandungan. Pengetahuan itu sudah lebih dari cukup untuk membungkamku mengetahui lebih banyak tentang keberadaan ayah.

“Tidak, Nak… Ibu tidak apa-apa…” Jawab ibu dengan nada suara lemah. Getar suaranya menyampaikan keletihannya.

“Tapi… darah itu… Ibu berdarah… Apa ibu muntah darah? Tidak mungkin tidak terjadi apa-apa dengan ibu!” tandasku bersikeras. Tatapanku menelanjangi pengakuannya. Ibu mulai merasa tak nyaman. Sebisanya, ia menghapus sisa-sisa darah di mulutnya dengan punggung tangannya.

“Kemarilah… Mendekatlah. Ibu hendak memberi tahu suatu rahasia kepadamu. Mungkin inilah  saatnya kau mengetahui siapa jati dirimu. Rahasia ini tak bisa Ibu pendam sendirian, karena lambat laun kau pun pasti akan mengetahuinya, menyadarinya. Satu-satunya harapan ibu, semoga tak ada sesal di hatimu. Maka dengarlah, Nak… Kemarilah…”

Aku segera beringsut mendekati ibu dan bersimpuh di hadapannya. Kulihat sorot matanya yang semakin sendu. Jejak air matanya masih bertengger di tulang pipinya.

“Berat sekali harus mengatakan perihal ini padamu. Tapi kau harus tahu…” Ibu mengambil nafas sejenak sebelum meneruskan kalimatnya. “Kau harus tahu bahwa kita…. sesungguhnya bukan manusia biasa, Nak…”

“Maksud Ibu?” Aku semakin tak mengerti dengan apa yang Ibu katakan.

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kau adalah manusia setengah peri, Mahesha. Kau akan merasakan perubahan yang nyata saat usiamu menginjak enam belas tahun. Kau akan memiliki sayap yang bisa kau munculkan atau sembunyikan sesuka hatimu. Kau akan dapat terbang kemana kau suka. Selain itu, kau pun akan dapat membaca pikiran manusia biasa.”

“Wow! Ahahahaa… Ibu pasti bergurau! Hahahaa… Tapi sumpah, lelucon Ibu keren sekali! Wow, aku adalah manusia peri? Hebat sekali! Aku bisa terbang atau menjadi manusia sesuka hati. Ini sungguh-sungguh keren, Bu…” Aku merespon ibu dengan tawa kering. Kupikir Ibu sudah keterlaluan karena menciptakan lelucon pada waktu yang janggal.

“Ya, Mahesha… memang hebat. Tapi kau juga punya kelemahan. Dan kelemahan itu barangkali akan sedikit menyusahkanmu. Kau akan membutuhkan darah lawan jenismu, yakni darah perempuan muda demi menyambung hidupmu. Kau akan membutuhkan darah tiap bulan purnama menjelang…. Dan Ibu tidak bergurau, Mahesha…”

“Jadi… maksud Ibu, aku seorang drakula?”

Aku tercekat mendengar pengakuan Ibu. Seperti menelan arang yang sedang membara. Namun sikap ibu sama sekali tak menghangatkan kebekuan kami. Kian kusadari bahwa Ibu sedang membicarakan hal yang cukup serius.

“Ibu lebih senang menyebut kita sebagai manusia setengah peri ketimbang drakula, Mahesha…”

“Apa bedanya? Bagaimana bisa begitu, Bu?”

“Ayahmu lah yang menggenggam awal mulanya. Ibu yang manusia biasa rela menjadi seperti ini demi mewujudkan cinta kami. Itulah cinta, yang pertaruhannya membabi buta. Ibu rela menikahi bangsa ayahmu karena kami telah terlanjur jatuh cinta… Konsekuensinya, ibu menjadi seperti ini dan melahirkan anak sepertimu. Maafkan Ibu, Mahesha…”

Tak kupungkiri, ada sebersit kekecewaan yang menyelinap dalam egoku. Tak semestinya aku tertimpa persoalan ini. Nyaris aku tak percaya dengan semua kata-kata ibu. Segala apa yang disampaikannya terdengar seperti dongeng yang menakutkan. Tapi apa daya, ia adalah ibuku, satu-satunya yang harus kupercayai kata-katanya.

“Kau harus segera pergi dari sini menuju ke arah barat sebelum terlambat, sebelum usiamu menjerat. Kau harus menemui seseorang yang menyimpan kunci keabadian, atau kau akan terjebak dalam dimensi hampa ketika ajalmu tiba. Kita seharusnya tak diciptakan abadi di dunia ini.  Kutanamkan kesadaran ini sejak dini supaya kau tak gegabah dalam melangkah. Abadilah di tempat yang seharusnya… Pergilah, Nak…”

“Kalau begitu kita bisa pergi bersama-sama, Bu… Ayolah! Kita cari orang itu!”

“Tidak bisa, Mahesha! Ada hal yang masih harus Ibu selesaikan disini. Kau harus pergi sendiri.”

“Tapi, Bu…”

“Kembalilah ke kamarmu dan istirahatlah… Besok kau harus segera bersiap untuk perjalananmu, atau kau memilih sengsara jika tinggal disini. Turuti nasehat Ibu, Nak…”

“Aku tak akan pergi, Bu… Aku tak akan kemana-mana dan hanya ingin bersama Ibu…”

**

Kata-kata Ibu masih terngiang di telinga, di pikiran. Ingatan tentang Ibu seolah menjadi pelipur lara saat luka yang mendera ini semakin mengancam kesadaranku. Apa lagi yang bisa kulakukan saat terperangkap dalam gua yang gelap pekat di gunung batu yang terjal ini? Keadaanku sekarat, nyawaku nyaris tamat. Aku yakin, takkan ada satu pun yang menginginkan mati muda. Usiaku masih delapan belas tahun, tak seharusnya menjalani hidup yang janggal macam ini, yang nyaris setiap hari bergumul dengan hantu kematian.

Ibu telah tiada setahun lalu. Nasibnya tragis. Aku sendiri bahkan tak sempat melihat jasadnya. Konon, menurut slentingan kabar yang kudengar, sekumpulan orang yang bersikap garang, tak kenal ampunan, berhasil menangkap ibu. Rumor itu bahkan mengatakan bahwa mereka membakar sesosok drakula yang menyaru seorang wanita. Drakula itu ditengarai sebagai penyebab kematian misterius sejumlah pemuda.

Ah, padahal ibuku bukanlah drakula. Ia hanyalah seorang peri cantik yang sedikit buas karena terpaksa. Tapi mereka tidak mengerti. Sayangnya, mereka tak pernah mengerti…

Semenjak ibu tak lagi di sisiku, aku benar-benar harus mandiri, harus sendiri. Semula sempat kunikmati anugerah terindahku, terbang kemanapun sesuka hati. Namun lambat laun kurasakan bahwa keadaanku menjadi sebuah bencana. Aku tak mampu mengendalikan rasa lapar, terutama saat purnama terpapar. Aku tak sanggup mengelak dari hasrat yang serupa kutukan ini.

Sayangnya, hatiku masih berfungsi. Senantiasa terjadi perang batin dan dilema besar saat mencengkram korban-korban tak berdaya, gadis-gadis ayu yang menatapku pilu saat nyawa mereka berada dalam ujung taring gigiku. Muak aku dengan hidupku sendiri, tapi aku tiada berdaya… Nadiku terasa panas membakar jika mulai merasa lapar. Tak ada apapun yang sanggup menjadi penawar selain secawan darah segar.

Mulanya aku masih melalaikan pesan ibu untuk pergi ke arah barat. Lagipula, kemana harus mencari seseorang yang sama sekali tak kukenal, tak kuketahui rimbanya? Ibu tak banyak mengatakan sesuatu. Ia hanya berkata bahwa hatiku lah yang menjadi penunjuk jalanku untuk dapat menemukannya. Ini sungguh tak masuk akal. Maka melupakannya sejenak persoalan ini rasanya takkan memberiku masalah.

Namun dugaanku salah. Kupikir aku dapat bertahan lebih lama, setidaknya seperti Ibu yang mampu bertahan menjadi peri setengah drakula selama lebih dari panjang usiaku. Namun menjalani peran itu rupanya tak semudah membalik telapak tangan. Baru dua tahun bermetamorfosis, aku sudah babak belur. Sungguh, ibu adalah ibuku yang terhebat. Mengingatnya senantiasa membuatku menitik-nitikkan air mata. Namun kini air mataku sendiri bahkan kebingungan hendak menangisi apa. Apakah meratapi kenangan bersama ibuku, atau menangisi rasa sakit di seluruh tubuh yang menderaku.

Kelengahanku membawa petaka. Orang-orang itu telah mencium gerak-gerikku. Kecurigaan mereka semakin membulatkan tekad untuk menjebakku. Barangkali aku yang masih terlalu bodoh. Wanita yang menjadi korban terakhirku benar-benar keparat. Ia hanyalah pancingan supaya lebih mudah menangkapku. Aku seperti tikus dalam perangkap. Orang-orang itu mengejarku bak memburu hewan buruan. Parang mereka teracung-acung, lidah api dalam obor yang mereka bawa mengejek kekalahanku. Riuh suara kentongan bambu seperti kidung perang yang menciutkan nyali. Susah payah aku menghindari kejaran mereka, menyelinap di antara bayang-bayang kegelapan.

Tapi mereka berhasil menangkapku. Nyaris saja aku mati dengan cara tragis. Untunglah Dewi Fortuna masih mengasihaniku. Aku dapat lolos setelah terperangkap. Kendati demikian, mereka sempat menyiksaku habis-habisan, bahkan berniat mengulitiku sebelum membakarku. Hingga pada suatu malam, saat orang-orang itu lalai dan ceroboh, kudapati celah yang memberiku kesempatan untuk melarikan diri. Namun dengan sisa-sisa tenagaku yang kembang kempis, aku hanya dapat terbang sepatah-sepatah. Gua di gunung batu inilah yang menyelamatkanku. Setidaknya, takkan ada satu manusia pun di muka bumi ini yang mengetahui keberadaanku. Kuharap mereka akan membiarkanku, melupakanku.

Tapi rasa sakit ini benar-benar rasa sakit yang tak tertanggungkan. Luka di sekujur tubuh sudah bernanah, meski kegelapan gua menyamarkannya. Haus dan lapar pun seperti hendak menghabisi nafas dan detak jantungku. Aku tak yakin apakah akan dapat bertahan lebih lama lagi. Rasanya, kematian sudah berada dalam genggaman tangan. Air mataku sudah mengering. Satu-satunya yang tersisa adalah perasaan getir, meresapi kesekaratanku. Nasib yang kupikul ini kurasakan tak sepantasnya. Aku tak berkehendak menjadi peri setengah drakula, seperti ibuku. Namun hidup tak memberiku pilihan. Aku adalah keberadaan yang tersia-sia. Siapakah yang sanggup menolongku? Siapakah yang sanggup merubah kutukan yang mengerikan ini?

Tiba-tiba kulihat sosok samar di hadapanku. Pandanganku memang berkunang-kunang. Namun kupaksakan untuk melihat jelas, supaya aku tahu siapakah itu gerangan. Kupusatkan konsentrasiku, hingga aku nyaris terlonjak saat mengetahui bahwa ternyata sosok itu adalah ibu. Bukankah ia sudah mati? Ah, mungkin aku hanya berhalusinasi…

Ibu tersenyum ke arahku. Ada secercah kehangatan yang merambat dalam kalbuku. Aku sangat merindukan ibu. Aku ingin berlari dan memeluknya, meringkuk dalam peluk hangatnya. Tapi tenagaku telah lenyap, menjadi sekedar raga tanpa daya.

“Ah, Ibu… Mungkin sebentar lagi aku akan mati. Dan jika aku mati, kita pasti akan bersama-sama lagi… Ya kan, Bu? Bahagia sekali rasanya…” gumamku lirih, setengah terbata-bata karena tak lagi ada tenaga.

“Belum waktunya, Mahesha… Kau masih belum mendapatkan kunci keabadian. Tapi kesempatanmu masih terbentang lebar. Bangkit dan berusahalah, Nak… Kau pasti bisa!” kata Ibu dengan suara lembutnya yang mendesirkan kesejukan di hatiku.

“Oh, Bu… Aku sudah tak sanggup lagi… Aku sekarat… Aku sudah mau mati…”

Ibu tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya tersenyum, meninggalkan jejak yang sangat manis di sisa-sisa ingatanku. Di sisi lain, kurasakan tenagaku semakin lama semakin habis. Bahkan aku nyaris tak lagi dapat merasakan keberadaan tulang dan daging dalam tubuhku. Lamat-lamat, kegelapan yang pekat menyelimutiku. Hitam.

Tahu-tahu, ketika mata terbuka, aku menjadi tak berdaya, tak sanggup berucap kata, dan terperangkap dalam keranjang rotan sempit di depan pintu rumah sepasang suami istri petani. Tapi aku masih mampu mendengar pekik girang petani itu kepada istrinya, “Istriku, istriku… Segeralah kemari! Kutemukan bayi di depan pintu rumah kita!” ***

Okt – Nov 2012

Advertisements

3 thoughts on “MAHESHA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s