Tentang cinta yang baik….

Pada beberapa waktu lalu, saya mencoba berbagi pendapat dengan tuips di linimasa; menurut mereka, seperti apakah (definisi) cinta sejati. Banyak ragam yang mereka lontarkan. Saya yakin, apa yang terucap adalah sari dari pengalaman masing-masing. Terselip kekaguman, betapa perjalanan (hidup) ternyata memberikan kekayaan hikmah dan pengalaman. Sebuah pelajaran yang – meski belum tuntas, semoga bernilai sangat berharga.

 

Ini beberapa dari  pendapat mereka :

@TengkuAR : cinta yang baik itu di dalamnya terdapat kata ‘saling’. Baik atau buruk.

@bangimal : yang terbalas *siyul-siyul*

@EveningStand : Cinta yang nggak ada tanggal kadaluarsanya.

@istiauliany : Mencintai karna kekurangan pasangannya.

@ch_evaliana : sprti hot cappuccino, foamnya yg lembut, agak sdikit pahit namun meninggalkan rasa manis hngga tetes terakhir.

@Lidya_yang seperti menerbangkan layang-layang.. lepasin sedikit, tarik lagi, lepas lagi, tarik lagi.

@ajieaqib : Yang tak mengotori hatimu.

@Maulana_Gustti9 : yang sedikit memberi kesalahan tp setelah itu saling memaafkan karena semakin dewasa.

@dbrahmantyo cinta yang baik adalah . . . yang memberi bukan hanya menerima.

@Yohanakuncup : yang nggak melibatkan buka baju.

@jaja_nu : Yang ikhlas, meski tanpa balasan.

Sedangkan menurut pendapat saya, cinta yang baik adalah yang tidak melawan nurani.

 

Nurani bukan sekedar kata hati, karena hati kita pun masih tersusun atas selubung yang berlapis-lapis, bertingkat-tingkat. Namun seringkali kita salah mengartikan; bahwa apa yang sebenarnya merupakan tuntutan kehendak acapkali kita artikan sebagai kata nurani. Padahal kehendak sesungguhnya berhulu pada ego. Ego hanya bicara mengenai kenyamanan dan kepuasan diri sendiri semata, tak peduli salah atau benar. Sedangkan nurani hanya menyuarakan kebenaran, tak peduli nyaman ataupun tidak nyaman. Barangkali itu sebab seringkali dikatakan bahwa sesungguhnya rumah tuhan berada dalam hati manusia. Maka nurani lah tempat Dia berada.

Dulu manusia buta, tak tahu mana yang bagus mana yang tak elok, mana yang benar dan mana yang kurang tepat. Acapkali kita terjebak antara kehendak dan kata nurani. Namun sungguh, kita harus bersyukur karena sekarang sudah memiliki banyak petunjuk yang memperjelas mana yang bagus dan mana yang tidak bagus, mana yang benar dan mana yang tidak benar. Bersyukurlah kita karena rahmat yang mencerahkan. Karena selanjutnya, nurani lah yang akan menjadikan petunjuk bagi kita untuk mencapai sebuah tujuan yang paling baik. Dan ego semata lah yang menjadikan penerang hidup kita menjadi kelabu, semakin sendu.

Inilah yang menjadi dasar alasan saya; bahwa cinta yang baik adalah yang tidak melawan nurani. Juga tidak membutakan diri atas nama ego dan kehendak. Sebetapapun indah dan menyentuh perjalanan dan perjuangan cinta, jika melawan hati nurani takkan menjadi sebuah kebaikan. Riak-riak ombak hanya pemukau untuk mata manusia, tapi mata hati melihat jauh lebih dalam. Kita hidup bertujuan. Mereka yang (sempat) kehilangan tujuan hanyalah mereka yang sempat terombang-ombing dalam ombak nurani dan ego yang amat dahsyat. Jika tak ingin terombang-ambing, mari berusaha lebih keras untuk memperbesar nyala penerang. Nyalakan pelita hatimu, terangkan nuranimu. Oleh karena itu, sebelum memperjuangkan (cinta), ada baiknya untuk memastikan terlebih dahulu bahwa cinta itu memang patut diperjuangkan. Dan hanya cinta yang baik yang patut dan harus diperjuangkan.

Semisal, saya takkan setuju bahwa seseorang yang memperjuangkan (ia menyebutnya) cinta dengan seseorang yang telah berpasangan resmi adalah hal yang baik, apalagi benar. Sedramatis apapun lika-liku perjalanannya, takkan mengubah racun menjadi secawan madu. Pertama, tak ada hukum manapun yang membenarkan perbuatan merusak ikatan suci pasangan lain. Kedua, apakah menyakiti hati orang lain adalah sebuah kepuasan? Tentu saja nurani kita memiliki segala pengetahuan macam ini. Jika masih ada beribu alasan untuk berdalih, coba dengar baik-baik, atau pastikan dulu dirimu sendiri – suara dari manakah yang sejatinya ingin kau dengar. Adakalanya kita perlu belajar mendengar dengan baik apa yang diutarakan dalam diri.

Semisal, saya takkan sependapat bahwa seseorang yang memperjuangkan (ia menyebutnya) cinta dengan cara-cara yang mengintimidasi adalah sebuah perbuatan yang baik. Semesta telah sepakat bahwa menyakiti, dalam konteks apapun, tak dibenarkan. Baik itu menyakiti batin, apalagi fisik. Barangkali bagi sebagian, cinta adalah penderitaan. Namun sesungguhnya penderitaan yang kita peruntukkan diri sendiri masih jauh lebih bermartabat daripada penderitaan yang (sengaja) kita ciptakan untuk orang lain. Ungkapan ‘pikirkan dirimu sendiri, baru orang lain’ memang ada benarnya. Namun kita pun perlu berhati-hati, karena penafsiran yang kebablasan justru akan menggelincirkan hidupmu. Disadari atau tidak, semesta menghubungkan semua partikel yang ada dalam rengkuh peluknya. Ketika kita menyakiti apa yang ada di luar diri kita, sesungguhnya kita pun berproses menyakiti diri sendiri.

Andai punya waktu berlebih, sisakan sedikit untuk berkontemplasi dan berefleksi, menelusuri seluruh jalan hidup lamat-lamat. Pelan namun pasti, kita akan menemukan bahwa segala kejadian adalah sebuah kewajaran, sebuah pembayaran.

Pada akhirnya, perjalanan hidup manusia akan mengantarkan kita pada satu titik – dimana kita (se)harus(nya) memperjuangkan nurani. Bukankah hidup adalah perjuangan ?

 

Ini hanyalah sekedar persepsi. Barangkali tak ada yang begitu penting untuk diamini. Saya hanyalah seorang pejalan yang juga berlomba menuju tujuan sempurna dan berminat untuk berbagi, juga saling melengkapi. Seandainya apa yang ada di sini memberi manfaat atau menginspirasi, semoga menjadikan lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s