Marlina

 

“Kalau kamu tergila-gila padanya cuma karena kecantikannya, Emak bisa cariin banyak perempuan yang tak kalah cantik dari Marlina. Kalau kau tetap bersikeras, nanti kau akan menyadari bahwa pilihanmu itu keliru, Sholeh. Tapi Emak nggak pengen anak Emak terlanjur salah menentukan pilihan. Pokoknya Emak nggak setuju kamu kawin dengan Marlina, titik.”

 

Kata-kata Emak akan segera kulupakan begitu saja andai tak ada kebenaran sedikitpun yang kemudian kutemui di dalamnya. Tapi apa daya, kejadian tak pernah dapat diputar ulang. Emak tak sempat menarik ucapannya, atau aku yang tak berkesempatan menyenangkan hatinya. Semuanya sudah terlanjur menjadi bubur. Drama itu telah terjadi, dan kini aku sekedar dapat menangisi apa yang sedang kusesali.

Aku tak pernah paham mengapa Emak demikian tak menyukai Marlina. Ketika pertama kali kuajak Marlina untuk menemuinya di rumah, tak ada yang salah dengan mereka berdua. Kecantikannya sempurna, sikapnya pun manis luar biasa. Sedikitpun Marlina tak pernah mengecewakanku. Justru sikap Emak lah yang membuatku kecewa.

Saat kemudian kusampaikan pada Emak bahwa aku berminat untuk meminang Marlina, raut wajah perempuan yang telah melahirkanku dua puluh lima tahun lalu itu mengeras. Ada kegelisahan di hatinya. Ia tak mengatakan apa sebabnya, namun kata-kata yang kemudian meluncur dari bibirnya yang menghitam cukup membuat jiwaku remuk redam. Emak tak setuju jika aku mengawini Marlina.

Semula aku tak mengindahkan perkataan Emak. Sungguh sangat tidak masuk akal jika aku sanggup mengabaikan Marlina yang telah berhasil telak menjajah hatiku luar dalam. Kupikir Emak terlalu berlebihan dalam menilai Marlina. Seharusnya ia menghargai kemerdekaanku dalam memilih calon istri. Toh yang nantinya akan menjalani kehidupan adalah aku dan Marlina. Cukuplah cinta di antara kami menjadi penguat atas segala keputusan. Bukankah anak hanyalah titipan yang hatinya takkan pernah dimiliki oleh siapapun? Aku yakin bahwa pertemuanku dengan Marlina adalah sebuah takdir yang indah – setidaknya sebelum Emak melontarkan ketidaksetujuannya.

Bibit-bibit cintaku dengan Marlina tersemai melalui tiga kali bertemu, pada awal mulanya. Begini kisahnya. Pertama sekali aku melihatnya adalah ketika aku memeriksakan gigiku ke sebuah praktek dokter gigi yang tak begitu jauh dari rumah. Kulihat Marlina duduk di sebuah kursi di belakang meja, dekat pintu masuk ruang praktek dokter gigi. Rupanya ia bertugas mengatur jadwal pasien dan mengurus segala administrasi. Saat itu ia tampak sibuk dengan kartu-kartu merah milik pasien, dan sebentar-sebentar menuliskan sesuatu di buku besar. Beberapa menit sekali ia memanggil nama pasien — yang nyaris semuanya bermuka masam, yang telah memasuki giliran.

Kebetulan saat itu aku mendapat giliran nomor terakhir. Mulanya aku merasa ini adalah sebuah kesialan. Bagaimana tidak, aku harus menahan-nahan rasa sakit dan ngilu luar biasa yang sudah beberapa hari mendera. Kepalaku pusing tiada terkira. Rasa-rasanya ingin kurontokkan saja gigi-gigi sialan yang bercokol dalam mulutku ini. Aku benar-benar tak bisa menikmati apapun. Televisi yang sedang hidup di pojok ruangan memutar sinetron religi yang sama sekali tak membuatku tertarik. Tumpukan majalah di atas meja yang berceceran pun sama sekali tak membangkitkan minatku. Aku nyaris gila karena terjebak di antara kebosanan dan rasa sakit. Hingga kusadari bahwa ternyata ada sosok keindahan sempurna yang seharusnya tak boleh kulewatkan. Meski awalnya aku belum mengetahui namanya, tapi aku sudah merasa kesengsem dengan kecantikan petugas administrasi dokter gigi yang masih sibuk dengan kartu-kartunya itu.

Hingga beberapa lama, barulah gadis yang saat itu belum kukenal namanya itu mengangkat wajahnya hingga mata kami saling bertatapan. Sejenak ia melempar senyum padaku, membekaskan rasa manis dalam ingatanku meski hanya sekejab. Raut wajahnya yang oval, kulitnya yang bersih dan mulus, pipinya yang ranum kemerahan, bola matanya yang bundar bersinar, dan bibir merahnya yang tipis merekah sempat menghipnotis kesadaranku. Meski rasa sakit gigiku tak kunjung surut, namun hasratku masih dapat meresapi sajian keindahan sosok bidadari yang menjelma manusia di hadapanku. Demikianlah wanita, kadangkala keindahannya sanggup menghempaskan seluruh penderitaan hidup manusia dalam sekejab.

Selang beberapa menit, setelah seorang pasien keluar dari ruang praktek dokter, ia memanggil namaku. Melalui sorot tatapannya yang ramah, ia memintaku untuk segera masuk ke ruangan berbau obat-obatan. Sempat aku merasa agak gugup ketika ia memandangku. Dalam hati, aku berdoa semoga kekikukan sikapku tak menjadi bahan tawa olehnya. Setelah beberapa saat menghabisi rasa sakit bersama dokter tua yang baik hatinya, aku buru-buru keluar karena jam sudah menunjukkan waktu yang larut. Namun tiba-tiba sebuah sapaan yang lembut menghembus telingaku, menghentikan sejenak langkahku. “Selamat malam, Pak… Semoga lekas sembuh…” katanya dengan sesungging senyuman yang meluluhlantakkan hatiku. Kubalas senyumnya dan sekedar kukatakan “oh ya, terima kasih”, kemudian berlalu dari hadapannya. Ingin rasanya aku berkata lebih banyak, bersitatap lebih lama, tapi kesempatan yang kurasakan saat itu sungguh buruk. Malam telah larut, gigiku pun masih cenat-cenut.

 

Pertemuan kedua kami terjadi di kantor Samsat. Rupanya kami sama-sama sedang mengurus perpanjangan STNK. Jika beberapa waktu yang lalu aku tak sempat memanfaatkan peluang, maka saat ini adalah sebuah kesempatan yang bernilai berlian! Situasi mendekatkan kami, yang memilih duduk di baris kedua kursi panjang di ruang antrian. Sejak itulah aku mengenal sosok Marlina yang mempesona. Tiga jam kebersamaan kami telah dapat membagi apa saja; tentang kisah-kisah, tentang jati diri, hingga tentang impian dan kenyataan. Kami serasa  menemukan surga kehidupan, yang kemudian segera mewujud dalam sebaris nomor telepon cantik miliknya seorang.

Ah, seandainya semua sisi kehidupan semudah dan seindah ini, sungguh, aku akan berdoa dan bersujud sepanjang waktu agar dianugerahi umur panjang hingga ribuan tahun. Terus terang, yang kurasakan, tak sulit merangkai kebersamaan menjadi sebentuk jalinan cinta. Kupikir aku bukanlah lelaki yang pantas dijauhi, sedang Marlina adalah sosok gadis yang tak bisa diabaikan sama sekali. Ia adalah sosok bidadari yang menghuni mimpi-mimpi, sedangkan aku adalah ksatria dari kegelapan yang berniat membopongnya di atas pelana cinta menuju istana cahaya. Lima bulan kebersamaan kami sudah cukup untuk meyakinkan niatku yang hendak menjadikannya permaisuri dalam sebuah rumah tangga. Tekadku sudah bulat, sudah kuat, apalagi semenjak mendengar merdu suara Marlina yang berkata, “Aku siap, Bang… Aku bersedia menjadi istri Abang…”.

 

Namun hidup tanpa kesialan pun takkan meriah bagi manusia. Badai terbesar menghadang langkahku menuju kebahagiaan. Pernyataan Emak yang tak menyetujui niatku untuk mempersunting Marlina membuatku galau tujuh hari tujuh malam. Entah apa yang membuat hati Emak tak berkenan dengan Marlina. Seingatku, perjumpaan Emak dengan Marlina sebanyak dua kali itu membekaskan kesan yang cukup baik. Marlina cakap dalam membawa diri. Ia lihai dalam melontarkan basa-basi. Kulihat Emak pun dapat melebur dalam kebersamaan dan kehangatan di antara kami bertiga. Namun siapa menyangka jika bercangkir-cangkir teh hangat yang tersaji tak juga dapat melelehkan kebekuan hati Emak. Kekerasan hatinya bak sebongkah karang terjal yang mencuat di antara lautan cinta kami; tak terkikis ombak meski dihempas berkali-kali.

“Entah, aku tak bisa mengatakan dengan jelas apa sebabnya. Tapi Emak merasa tak sreg dengan pilihanmu, Marlina. Lebih baik kau pinang perempuan lain saja. Jangan kau terlampau keras kepala karena telah menggilai kecantikannya. Fisik bukanlah segalanya, Sholeh…” Demikian penuturan Emak saat aku mendesaknya untuk mengatakan apa penjelasannya hingga tak menyukai Marlina dan memuluskan restunya untuk kami.

Sempat terbersit rasa takut, karena yang kuketahui, apapun yang tanpa restu orang tua takkan dapat berjalan dengan sempurna. Namun apa daya, Marlina telah menjadi belahan jiwaku yang jika aku menghunusnya, maka yang mati justru seluruh hidupku. Apa yang bisa kulakukan? Sulit untuk mengelak dari cinta yang membuat buta. Arusnya membuatku mati kutu tak berdaya. Cinta hanya menjadikan manusia hamba yang menyerahkan segalanya. Dan aku telah memutuskan untuk memperjuangkan Marlina, meski Emak sama sekali tak memberikan restu bagi kami berdua. Kupikir suatu saat, Emak akan berpikir untuk mengalah ketika melihat aku yang bahagia bersama Marlina.

 

Pernikahan itu telah kami rencanakan. Kecil-kecilan saja, karena segalanya kami usahakan berdua. Bagi kami, sekedar menghadap penghulu saja lebih dari cukup. Lagipula, keluarga Marlina pun tak terlalu banyak menuntut. Yang jelas, segala macam keperluan; baik itu undangan ataupun baju kebaya yang berkilauan telah dipersiapkan. Kami sudah membayangkan pelaminan dengan berkali-kali senyuman.

 

Namun tiba-tiba dua minggu sebelum hari pernikahan, Marlina menghilang. Maksudku, ia tak lagi mudah kutemui. Sempat aku beranggapan bahwa ia pasti sibuk dengan persiapan pernikahan kami – atau setidaknya mempersiapkan hatinya. Namun makin lama aku mendengar suara hati kecilku yang sedang gundah. Ada yang berbeda darinya. Dan kegelisahan itu tak lagi dapat kubantah ketika pada suatu malam Marlina menghubungiku melalui telepon. Dengan suara yang terdengar parau dan ragu, serta setelah beberapa jeda yang sempat kutunggu, ia mengatakan, “Maaf, Bang… Aku tak bisa menikah dengan Abang….”

Sempat aku mencari kebenaran apakah kakiku masih berpijak pada lantai yang keras dan dingin atau sudah melesak ke kedalaman neraka. Ada yang terbakar dalam dada. Ada yang melepuh dalam rasa. Mengapa harus begini? Namun pertanyaan yang membuncah itu tak kunjung menemukan jawab. Bibir Marlina memilih bungkam. Raganya pun memilih menghindar demi tak melihatku yang tak lagi tegar.

Emak tahu bahwa rencana pernikahanku telah kandas. Namun ia tak berkata apa-apa selain sekedar memandangku dengan sorotnya yang iba. Namun sempat kulihat bersit kemenangan dalam dirinya, atau mungkin karena egoku lah yang masih tak sanggup menerima kenyataan. “Sudahlah, tak perlu disesali… Yakinlah bahwa ini adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan untukmu,” kata Emak, mencoba bijak. Aku sekedar mendengus saja mendengar segala rupa nasehat dan penghiburan. Barangkali, inilah rasa sakit yang takkan tersembuhkan. Luka akibat cinta pun mampu membungkus jiwa  dengan keputusasaan yang membutakan mata pada harapan.

Lebih-lebih, setelah aku tahu benar apa penyebab dari luka perih yang kutanggung sendiri. Secara tak sengaja, semesta kembali mempertemukan kami di sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu aku berniat hendak mencari bingkisan untuk saudara yang hendak dibawa Emak saat mengunjungi kampungnya. Marlina sedang bergandengan mesra dengan sosok pria perlente yang membawa begitu banyak plastik perbelanjaan. Jika dilihat dari tampang dan dandanan, tampak sekali bahwa pria itu tergolong kaya raya. Namun meski jelas terlihat bahwa selisih usia antara Marlina dan si pria tampak begitu jauh, mereka berkelakuan begitu mesra, seolah dunia hanya milik berdua. Sesekali tawa mereka merekah, kemudian mengulang-ulang kembali lelucon yang barangkali takkan terdengar lucu jika diceritakan padaku. Hanya kehadiranku di hadapan mereka lah yang menghentikan keceriaan mereka. Marlina tercekat saat tatap mataku memerangkapnya. Ia tampak  salah tingkah.

“Siapa, Lin?” tanya lelaki yang sempat merasa bahagia dan ikut tertawa sebelum kemunculanku di hadapan mereka.

“Eh… e… anu… ini… ini Bang Sholeh, kawan lamaku,” Marlina menjawab dengan tergagap. Kekecewaan itu memukulku telak saat ia nyata-nyata menyebutku sebagai kawan lama. “Bang Sholeh, kenalkan, ini Bang Rudi, tunanganku…” sambung Marlina lagi. Pernyataan terakhirnya kali ini benar-benar sangat mengejutkanku.

 

Satu-satunya yang kusesali bukan lagi karena aku gagal memboyong Marlina ke pelaminan – melainkan karena sempat menentang titah Emak yang seharusnya kuindahkan. Andai saja sejak awal aku menyadari bahwa tabiat Marlina mudah silau dengan gemerlap harta dunia, tentu akan kupikirkan seribu kali untuk mengajaknya mengarungi samudra rumah tangga dengan biduk cinta. Ah, setidaknya masih ada setitik rasa manis dalam sepah yang sempat pahit kutelan.

 

 

 Putus lagi cintaku

putus lagi jalinan kasih sayangku dengannya

cuma karena rupiah lalu engkau berpaling muka

tak mau menatap lagi

kecewa… kecewa hatiku

terluka… karena cinta


reff:

kalau terbakar api

kalau tertusuk duri

mungkin… masih dapat kutahan

tapi ini sakit lebih sakit

kecewa… karena cinta


jangankan diriku

semut pun kan marah

bila terlalu… sakit begini


daripada sakit hati

lebih baik sakit gigi ini

biar tak mengapa


rela rela rela aku relakan

rela rela rela aku relakan

                                                 (Lebih Baik Sakit Gigi – Meggy Z.)

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s