Farida

Tahukah kau dengan lagu ‘Tidak Semua Laki-Laki’ yang pernah dipopulerkan oleh mantan Gubernur Surabaya Basofi Soedirman? Ya, yang syahdu dan melankolis  itu. Sebenarnya aku punya ceritera tersendiri mengenai lagu itu. Setiap lirik dan iramanya seolah menjadi suara dalam hatiku. Aku akan ceritakan padamu apa yang terjadi denganku, sehingga setiap kau mendengar lagu itu, maka ingat-ingatlah aku – atau setidaknya kisah yang pernah kusampaikan padamu. Begini :

 

Sebut saja namanya Farida. Semua orang di kampung ini, terutama para pemuda yang gairahnya sedang menggelora memanggilnya demikian. Bahkan ada pula yang menambahkan Farida Cantik, Farida Manis, Farida Bidadariku, Farida Pujaan Hatiku, dan sebagainya yang semacam itu. Namun bagiku, Farida tetaplah Farida saja – tanpa perlu kububuhi embel-embel apapun. Biarlah orang lain memanggilnya dengan iringan seribu rayuan atau pujian. Hingga pada titik tertentu, cintaku telah melampaui manisnya ucapan bibir. Takkan ada yang memanggil namanya seribu kali sehari sepertiku. Seribu kali menyebut nama Farida dalam hati, beribu-ribu kali menyaksikan bayang wajahnya di relung sepi.

Baiklah, kuakui bahwa salah satu hal yang membuatku menyukai Farida adalah karena kecantikannya. Namun andai aku boleh berkata jujur, ada sisi dari hal kecantikannya yang kemudian menyengsarakanku. Ia adalah setangkai kembang yang menjadi dambaan sekian banyak kumbang. Tapi entah, apakah aku dapat menyebut diriku sendiri adalah kumbang atau sekedar… kutu. Untuk sekian lama, aku sengsara. Dan untuk sekian lama berikutnya, kuputuskan untuk menjadi martir cinta.

“Maaf, aku belum bisa mencintaimu, Bang… Benahi dulu penghidupanmu, penghasilanmu, mungkin aku akan mempertimbangkanmu…” katanya dingin, dan juga masih tenang-tenang saja — seolah ia sama sekali tak ikut ambil bagian atas kehancuran hati seseorang yang mendengar pernyataan ketusnya.

Jika kau katakan aku sama sekali tak berusaha mendapatkan hatinya, maka kau salah besar. Sekuat tenagaku, kulakukan apa saja untuk memikat Farida, untuk membuat hatinya senang dan gembira. Aku membanjirinya dengan segala hal yang disukainya; mulai dari hadiah-hadiah berupa pakaian, boneka, cokelat, hingga peralatan dapur. Kuusahakan pula untuk mengakrabi ibunya — satu-satunya orang tuanya, membaik-baikinya bak calon menantu teladan. Namun apa daya, barangkali pamor seorang buruh pabrik sepatu tak terlalu membuat mata Farida silau. Apalagi ternyata tak hanya aku seorang yang melimpahinya dengan kesenangan-kesenangan. Banyak lelaki yang juga memiliki ratapan serupa, merasa masih terlampau jauh dengan cinta yang mereka damba, padahal sudah merasa melakukan segala.

Aku memang kawan sekolahnya saat kami masih sama-sama mengenakan segaram merah putih. Juga tetangganya yang tak pernah membuat huru-hara yang mengada-ada dengannya. Namun semua itu tak menjadikanku memiliki nilai tambah – jika dibandingkan dengan Rofik, juragan gabah, atau Dayat, pengusaha sarang burung walet. Belum lagi orang-orang kota, atasan Farida di tempat kerjanya, yang konon juga banyak yang menaksirnya. Ah, apalah yang dapat kubanggakan dari diriku selain kesetiaan dan cinta? Sayangnya, hal macam itu tak dapat dilihat Farida – yang lebih percaya pada kedua bola matanya yang bening daripada mata hatinya yang tersembunyi.

Perihal ibunya pun tak lebih seperti Farida, setali tiga uang. Mereka terus memupuk harapan siapapun yang memimpikan cinta Farida, meski sesungguhnya harapan itu hanyalah pepesan kosong belaka. Farida adalah aset yang pantas diberdayakan untuk mencapai tujuan. Entah itu kemakmuran ataupun kehormatan, tak peduli meski semu belaka.

Jika kau tahu tabiat Farida, ia jarang sekali menolak segala kesenangan yang dilimpahkan padanya. Ia selalu menikmati kegembiraan dengan siapapun – entah itu bersama seseorang yang sama sekali tak membangkitkan hasratnya, atau bersama yang sedang diharapkannya. Aku sendiri beberapa kali berhasil mengajak Farida makan malam di luar, juga menonton bioskop dan bermain-main di Taman Ria. Namun rupanya aku tak boleh bangga dengan pencapaianku. Sebelumku atau sesudahku pun berhasil mengajak Farida ke tempat manapun yang ia suka, bahkan membebaskannya mengambil apapun di sebuah pusat perbelanjaan besar di kota. Tentu saja ia girang bukan kepalang. Ah, selalu saja aku kalah telak!

Namun jika kau berpikir bahwa alasanku mencintainya adalah terlalu picik – padahal tak ada bagus-bagusnya sedikit pun dari sosok Farida, maka aku akan dengan tegas menyangkalnya. Dia memang cantik, bahkan semut pun takkan membantah. Namun aku mencintainya tak sekedar karena kecantikannya. Cintaku telah melampaui cahaya yang terpancar dari indah raganya. Aku punya keyakinan yang kuat bahwa sesungguhnya Farida memiliki hati yang sangat lembut. Hati yang tak kalah bersinar dari kemilau berlian. Kucontohkan saja, saat kami sedang berjalan-jalan, tak sengaja matanya tertumbuk pada seekor kucing yang tersia-sia; meringkuk di sudut emperan toko dengan tubuh gemetaran. Rupanya kucing itu terluka di bagian pangkal kakinya, sementara ia tampak sangat kelaparan, seolah sedang menunggu datangnya kematian. Tanpa ragu, Farida segera mendekatinya, memberikan sebungkus roti yang dibawanya, dan menyuruhku mencari obat-obatan untuk kucing malang itu. Kulihat ia mengelus-elus kepala kucing hingga membuat kucing itu mengeong dengan suaranya yang serak dan lemah, sementara matanya tetap terpejam karena sudah tak lagi memiliki daya. Airmata Farida berlinangan. Menetes-netes tanpa dapat ia kendalikan. Sungguh, pemandangan yang kulihat itu benar-benar membuat hatiku trenyuh. Saat itu juga, ingin rasanya aku menggemakan suara batinku yang bersiteguh bahwa Farida lah satu-satunya wanita yang kuinginkan menjadi malaikat hidupku.

Namun sayangnya, ia memilih menjadi bidadari di istana yang dibangun lelaki lain. Tanpa merasa terbebani, suatu hari ia menyampaikan sepucuk undangan pernikahan. Bulan depan Farida akan menikah dengan Rofik, juragan gabah yang memiliki tanah dan toko dimana-mana. Kabarnya, mereka akan melangsungkan pesta besar-besaran di kampung kami. Orkes termahal telah dipesan, makanan melimpah telah dipersiapkan. Gaun pengantin berjajar-jajar di almari gantungan, sementara Farida tak henti bersuka cita memanjakan dirinya dengan perawatan tubuh segala rupa. Nasib kumbang-kumbang yang berdengung dan senantiasa mengitarinya nyaris kandas dengan hanya menyisakan perasaan iri dengki akibat kekalahan. Rofik telah menjadi pemenang tanpa ada bantahan. Bagaimanapun, mempersunting bunga desa adalah sebuah kebanggaan.

 

Namun tragedi itu datang tanpa dinyana…. Sebuah tragedi besar nan memilukan telah mengubah segala rencana manusia…

Kronologis kisahya hanya kuketahui melalui cerita-cerita yang berhembus dari mulut ke mulut. Tragedi Farida memang telah menjadi buah bibir. Pada suatu ketika, selepas Farida pulang bekerja, sesosok kumbang jantan yang rupanya jenis lelaki buaya mendekatinya, barangkali pun menawarinya kesempatan untuk bersenang-senang seperti makan malam enak dan berbelanja banyak. Sudah dapat ditebak bahwa Farida takkan kuasa menolak. Ia mengiyakan ajakan lelaki yang memang telah lama dikenalnya itu.

Mereka menumpang sebuah angkutan umum sejenis mikrolet dengan beberapa penumpang lelaki tak dikenal. Farida merasa aman karena ia tidak sendirian, melainkan bersama lelaki yang mengajaknya, yang dikenalnya baik, yang berjanji untuk melindunginya. Maka ia menurut saja kemana laju roda berputar, tak menyadari bahwa bahaya besar sedang mengincar. Mikrolet itu terus melaju ke tempat yang semakin lama semakin menjauhi pemukiman, melewati petak-petak persawahan, menyusuri jalan-jalan pinggiran ladang.

Di tengah jalan, mobil itu berhenti. Tiba-tiba Farida dipaksa turun oleh laki-laki yang berada di dalam mobil tersebut. Tak terkecuali dengan lelaki yang mengajaknya, yang dikenalnya baik. Mereka bahkan mulai membentaknya dengan suara kasar. Sejak itulah Farida mengetahui bahwa dirinya sedang terancam. Ia hendak melarikan diri, tapi posisinya terlampau lemah. Farida diseret dan dihalau menuju sebuah gubuk kosong di tengah persawahan yang luasnya tiada terkira. Sebuah kawasan yang tak lagi dijumpai satu pun manusia. Di gubuk kotor yang reot itu, tujuh lelaki yang sedang dikuasai nafsu binatang itu menggaulinya dengan cara yang bengis. Pada senja yang merah itu, jeritan Farida hanya ditelan sepi dan kekosongan. Rintihnya hanya menjelma tangis alam yang tak pernah didengar penghuni bumi. Gemerisik daun bambu yang tertiup sepoi angin seolah sedang mempersembahkan tarian duka sebuah kesenyapan yang sedang dirasakan anak manusia yang sedang celaka. Farida tak lagi dapat bertahan. Ia terkapar pingsan dengan keadaan sangat memilukan.

Beberapa petani baru menemukannya pada keesokan harinya. Mereka merawat Farida hingga siuman, kemudian mengantarnya pulang. Namun kejadian ini bak api kecil yang dinyalakan di bawah tumpukan kertas. Kehebohan itu tak dapat dihindarkan untuk membakar alam keriuhan, dunia yang dipenuhi oleh mulut-mulut yang haus gunjingan.

Tragedi ini tentu membuat ibu Farida amat terpukul, sementara Farida justru menjelma gadis linglung yang lupa bagaimana rasanya gembira. Hari-harinya hanya mengalirkan tangis tak berkesudahan, ratap yang memilukan. Trauma yang menderanya terlampau berat. Selain kesakitan yang dialami tubuhnya, kesakitan yang dikandung hatinya pun tak kalah hebat. Apalagi serta merta Rofik membatalkan pernikahan. Ia tak sudi menaikkan gadis yang tak lagi perawan ke atas pelaminan. Maka tinggallah Farida yang terpaksa menggumuli aibnya yang menjadi bahan berita. Sebagian menatapnya iba, namun ada pula sebagian yang diam-diam mencerca.

Apalagi, musibah itu tak cukup sekedar yang dialaminya di tengah persawahan. Tubuh Farida mulai menunjukkan perubahan. Perutnya ditengarai membesar perlahan. Siapa yang dapat berbesar hati dengan kehamilan yang tak diharapkan? Usia janin dalam perut sudah satu bulan, dan Farida memtuskan untuk mempertahankan meski tak tahu siapakah lelaki yang patut dimintai pertanggungjawaban. Apalagi menurut keterangan dokter, ada kemungkinan bahwa Farida tak lagi dapat hamil setelah insiden yang merusak tubuhnya. Sudah dapat dipastikan bahwa anak dalam kandungan takkan dapat mengetahui bapaknya yang betulan. Menurut Farida, bukan salah bayi yang ada dalam kandungan hingga harus digugurkan. Sesungguhnya takdir yang selalu punya caranya sendiri pada hidup manusia tak pernah memberikan kesia-siaan selain pesan kehidupan yang sedang rapat disimpan.

Sikapku sendiri terhadap segala yang menimpa Farida tak melulu sekedar rasa iba dan belas kasihan. Aku tak pernah kegirangan meski tragedi yang dialaminya seketika dapat menaikkan pamorku – bahwa ada yang lebih buruk nasibnya selain aku yang cintanya disia-siakan. Terutama saat Farida memutuskan untuk mempertahankan kandungan, diam-diam justru membuat hatiku bergetar. Rasa ibaku luruh menjadi semacam pemujaan. Betapa aku tak pernah salah menilai Farida yang memiliki hati sekemilau berlian.

Perlahan-lahan aku mulai kembali mendekati Farida yang kini menjadi lebih pendiam dan semakin acuh. Tak ada yang berubah dari sikapku kepadanya. Aku masih kerap menghujaninya hadiah yang kuharap membuatnya senang, juga melimpahinya dengan kasih sayang. Semenjak Farida tak lagi bekerja, ia hanya mengandalkan ibunya yang membuka warung kecil-kecilan di depan beranda rumahnya. Kondisinya masih tak memungkinkan untuk kembali menata rencana baru kehidupan.

Aku bertekad untuk meneruskan perjuangan cintaku. Saat kulihat sekeliling, aku tersadar bahwa kini aku berdiri sendiri di medan laga tanpa lagi ada saingan. Farida tak lagi seperti dulu, menjadi gadis yang banyak diinginkan. Ia seperti kembang di padang ilalang yang telah melayu kelopaknya, yang telah meluruh seluruh putik dan benang sarinya, yang telah gugur helai-helai dedaunannya. Kegembiraannya telah tertawan oleh kenangan pahitnya. Tapi aku masih menggenggam vas bunga terindah yang kumiliki untuk kupersembahkan padanya. Aku bersedia menanggung seluruh beban dan keluh kesahnya, menjadi ayah bagi janin tak berbapak, menjadi payung yang meneduhinya dari hujan cobaan kehidupan. Aku bersikeras melamarnya menjadi istriku satu-satunya…

Niatku yang kujamin seratus persen adalah kebaikan tak serta merta mendapat sanjungan, apalagi persetujuan Farida. Ia masih tetap acuh, memilih bersikap dingin dan sama sekali tak memberiku harapan. Tragedi yang telah dialaminya membuatnya trauma pada laki-laki. Segala apa yang kukatakan dianggapnya sebagai bualan belaka. Sampai-sampai aku nyaris menyerah pada kekerasan hatinya. Namun demi mengingat cinta dalam hati yang telah kupupuk dengan subur, kucoba untuk menabahkan diri dan bertahan dengan segala usaha. Aku yakin, suatu saat nanti Farida akan dapat kembali membuka hatinya. Bahkan batu yang demikian keras saja dapat berlubang oleh tetesan hujan yang sedikit demi sedikit. Maka kurasa aku hanya butuh sedikit lagi kesabaran. Biarlah ia mengatakan apapun sekehendak hatinya, tak merubah posisiku yang telah berdiri sebagai pejuang cintanya.

Tapi sungguh, kali ini aku sudah benar-benar tak lagi dapat berpikir jernih. Kegundahanku sedang merajalela. Namun aku akan sangat bersukacita andai kau sudi memberikanku ide bagaimana cara meluluhkan hati Farida selain sekedar memperpanjang kesabaran. Katakanlah, karena aku pasti akan mendengarkan…

 

 

Tidak semua laki-laki…
bersalah padamu
Contohnya aku mau mencintaimu
Tapi mengapa engkau masih ragu

Memang api yang kubawa
tak sebesar harapanmu
tapi mampu untuk menerangi
jiwamu yang sunyi

Reff:
Tidak semua laki-laki…
bersalah padamu
Contohnya aku mau mencintaimu
Tapi mengapa engkau masih ragu

Hari ini… aku bersumpah
akan kubuka pintu hatimu
Hari ini…  aku bersumpah
izinkanlah aku untuk mencintaimu

Karna tanpamu apapun ku tak mau
Dia yang kucinta pasti dia yang kusayang

Advertisements

3 thoughts on “Farida

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s