Masa SMA, Masa yang barangkali kucintai… atau kutangisi…?

Sekolah itu bukan sekolah terbaik. Padahal seharusnya aku berada di sekolah terbaik di kota itu. Hanya selisih koma sekian saja telah mampu menghempaskan seluruh asa dan harapanku dengan cara yang menyakitkan. Hancur lebur dengan perasaan malu dan tak berarti. Aku memilih menghindar dari lingkungan sekitarku. Kukatakan pada ayah ibu bahwa aku akan tinggal bersama seorang kerabat kami yang kebetulan rumahnya tak jauh dari sekolah baru yang menyesakkan dadaku.

 

Aku tak pernah benar-benar mendapat teman sehati, apalagi sejati. Paling-paling mereka lah yang merasa dekat denganku atau aku yang dekat dengan mereka dikarenakan situasi. Aku tak lihai dalam berteman, lebih banyak diam dan terasing. Aku menciptakan dunia sendiri dalam diriku yang lebih semarak — sementara kawan-kawanku yang dekat denganku kebanyakan adalah sosok-sosok yang mudah untuk populer. Mereka yang demikian mudah hinggap kesana-kemari. Aku tak dapat menyimpulkan, apakah aku ini terselamatkan atau bagaimana…

 

Salah satu pelajaran selalu membuatku unggul di antara yang lain. Setidaknya, aku masih memiliki potensi untuk terkenal atau dikenal karena kejeniusanku pada mata pelajaran itu. Bagiku, meski memang sedikit membanggakan, namun tak terlalu memuaskan. Kadangkala aku merasa tereksploitasi kawan-kawanku sendiri. Namun terpaksa kunikmati, karena jika tidak demikian maka aku bukan siapa-siapa. Bukankah dunia SMA itu juga berlaku kejam — kadangkala?

 

Aku tahu dia mencintaiku. Tapi aku tak berselera padanya. Dia pernah mengungkapkan perasaannya ketika kami duduk di bangku SMP. Rupanya kami bertemu kembali, terdampar di sekolah yang sama. Untunglah tak ditakdirkan menghirup udara di kelas yang sama. Tapi kami sudah tak pernah berkomunikasi, mencoba saling melupakan meski setiap hari dijejali oleh pertemuan.

 

Aku terpilih masuk dalam klub pengibar bendera di sekolah. Di antara sekian banyak ekstra kurikuler yang siswa manapun bebas memilih, hanya pengibar bendera lah yang dipilih. Para senior itu berkeliling kelas, memeriksa kami satu persatu saat berbaris di lapangan upacara, kemudian memberi tahu kami tentang keberuntungan kami terpilih masuk dalam tim pengibar bendera sekolah, satu-satunya tim paling bergengsi di sekolah.  Barangkali seharusnya aku bangga… Tapi jika aku boleh jujur, aku tak terlalu menikmatinya. Bahkan setengah tersiksa! Setiap Minggu pagi harus berkumpul di sekolah dan tunduk pada aturan atau perintah-perintah mereka yang menurutku… tak menyenangkan. Aku sama sekali tak hobi berlari mengelilingi sekolah hingga tujuh atau delapan kali meski toh aku berhasil melakukannya. Aku bosan dengan bentakan-bentakan mereka yang jujur saja, sebenarnya sama sekali tak mempengaruhi nyaliku. Kenyataannya, akhirnya aku memilih untuk menyudahi kegiatan yang menguras tenaga ini setelah satu tahun menjelang.

 

Aku menemukan kesenangan dan kebebasanku ketika kemudian memilih kegiatan karya ilmiah remaja dan teater. Tapi bukan kesenangan di dalam laboratorium IPA yang membuatku bergairah. Itu sama sekali bukan bidangku. Aku hanya senang ketika membuat majalah dinding, buletin, membuat kuis psikologi, menulis cerita pendek, atau karya-karya tulis dan aneka kreativitas lainnya. Demikian juga di teater; aku belajar berteriak-teriak, mengeluarkan bunyi vokal atau konsonan melalui suara perut atau kerongkongan. Tapi semua itu sedikit lebih menyenangkan.

 

Seorang adik kelas menggugah hatiku. Semakin lama, ia bahkan semakin sering menjajah mimpi-mimpiku, mengemudikan angan dan imajinasiku. Sungguh, aku tak bisa lagi menahan hasrat untuk memimpikan sebuah hubungan yang kurasa dapat lebih indah. Namun sayang, ia tak menghiraukanku. Padahal aku telah menggunakan banyak cara, seribu cara, untuk menarik hatinya. Kukerahkan semua yang kupunya, yang kubisa. Kupengaruhi semua orang yang kupikir dapat membantuku, melancarkan misiku. Mulai dari kawan-kawan yang populer, sahabat-sahabatku, para guru praktek, bahkan hingga seorang guru senior yang juga sekaligus guru kelasnya. Kususun skenario sedemikian rupa supaya seorang kawanku pun dapat menjadi kawannya, yang mengetahui betul apa perasaannya, bagaimana hari-harinya, hingga apa saja kebutuhannya. Namun nyatanya ia lebih senang berdiri angkuh atau menyembunyikan diri dariku. Aku patah hati. Patah sejadi-jadinya. Aku tak dapat tidur. Malam-malamku tergulung oleh kepedihan dan kesedihan, serta mimpi buruk yang bahkan telah kurancang sebelum mata terpejam.

 

Aku mulai berkenalan dengan minuman beralkohol. Namun saat itu masih sebatas bir. Seringkali aku menyembunyikannya di beberapa tempat yang kukira takkan dapat diketemukan orang lain, atau menyelipkannya di almari pakaian. Ada saat-saat dimana aku demikian menghayati prosesi menelan tegukan demi tegukan minuman fermentasi itu. Barangkali polahku lah yang berlebihan. Meski awalnya merasa tak enak dengan rasa, namun kunikmati saja. Bukan lidahku yang membutuhkan sensasinya, melainkan jiwaku yang kian rapuh.
Kawan yang tak terlalu dekat menawariku beberapa butir pil yang katanya sanggup membuatku nyaman sejenak, melupakan keresahan hati. Waktu itu, nama kerennya adalah pil koplo. Aku sempat menjadi pelanggan untuk beberapa saat.

 

Kekasih sahabatku memaksa sahabatku supaya aku menerima cinta sahabat kekasihnya. Jika tidak, hubungan mereka putus. Rasa sayangku pada sahabatku melebihi apapun, sehingga kulakukan saja kemauan konyol mereka — meski hanya bertahan beberapa bulan.

 

Album-album The Cranberries diputar berulang-ulang…

 

Tepat di saat usia 17 tahun, kakekku meninggal…

 

Seorang guru berkata pada ibu yang waktu itu mengambil raporku, bahwa aku adalah anak yang aneh… Barangkali karena pada beberapa kesempatan sikapku sedikit menjengkelkan mereka; seperti tak memperhatikan saat guru mengajar, makan snack saat guru mengajar, atau menyontek saat ulangan, gemar membolos, dll. Nyatanya, prestasiku selalu dapatlah dianggap cukup membanggakan.

 

Saat semua siswa sibuk dengan orientasi ujian nasional, fokus dan konsentrasiku justru tertuju pada ujian masuk perguruan tinggi. Aku mulai rajin mengkonsumsi minuman botol penambah stamina supaya dapat bertahan belajar dari malam hingga pagi menjelang.

 

Saat pengumuman nilai kelulusan, aku termasuk salah satu dari mereka yang sedang berbangga hati. Entahlah… apakah ini adalah sebuah hikmah — atau cukup sekedar penghiburan…

 

Demikian banyak kenangan-kenangan yang melintas saat ingatanku tertuju pada seragam putih abu-abu itu… Entah itu kepedihan, ataukah kesenangan, yang dapat kusimpulkan saat ini adalah sebuah keindahan, sebuah pembelajaran, sebuah perjalanan….

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s