Pilihan

Satu-satunya uang yang tersisa di dompetku hanya selembar dua puluh ribu rupiah, sementara aku harus bertahan hidup hingga delapan hari ke depan, saat gajian tiba. Sekarang perutku sangat keroncongan. Seharian ini hanya terisi sebungkus indomie tanpa tambahan lauk apapun, yang kusantap pagi tadi. Sungguh, mau mati saja rasanya! Tapi om di hadapanku ini terus saja menggodaku, mendesakku, menyudutkan keadaanku yang tragis.

“Sudah, ayo ikut saja… Nanti aku kasih uang. Pokoknya enak deh! Kamu lapar, to? Belum makan? Nanti kita cari makan yang enak… Yang penting kamu ikut aku…”

“Mmm…. tapi om, saya nggak biasa gituan… Saya…. saya nggak pernah gituan…”

“Kalau kamu nggak mau gituan, trus ngapain kamu bengong disini, heh? Jangan sok bego deh! Memangnya kamu nggak tahu kalau disini tempat mangkalnya bencong-bencong??!”

“Tapi saya kan bukan bencong, Om…”

“Hahahaa…. Maka itu aku suka sama kamu…” katanya sambil mengerling nakal padaku.

Sebenarnya apa dikatakan om tambun setengah tua itu tidaklah salah. Aku pun telah mendengar bahwa taman kota ini sering digunakan sebagai tempat mangkal waria ataupun perek-perek untuk mencari mangsa. Tapi entah mengapa, kakiku justru melangkah menuju kemari. Mungkin alam bawah sadarku yang menggiringnya. Atau bisa jadi karena hanya tempat ini satu-satunya yang paling dekat dengan salon tempatku bekerja. Aku lelah. Aku merasa parah. Akalku terasa berdarah. Aku tak tahu lagi harus bagaimana untuk menyiasati hidup yang sedemikian keras dan tak berpihak. Sepanjang tapak-tapak kakiku melangkah, aku telah meneteskan bulir-bulir airmata yang kurasa sia-sia. Remang lampu jalanan ataupun rembulan di kejauhan hanya sekedar sanggup memandangku prihatin – atau barangkali mereka malah menertawakanku sinis ataupun diam-diam.

Sudah dua bulan aku menginjak kota keparat ini. Kota yang kata orang-orang menjanjikan masa depan gemilang. Ah, aku jadi ingat perkataan Aryo, sahabatku, yang berapi-api. “Sayang sekali kalau orang yang memiliki potensi besar seperti kamu terkubur sia-sia di kota mati. Kamu harus punya keberanian. Melanglanglah mencari petualangan, menambah bekalku untuk berkehidupan di masa depan. Kamu ingin menjadi besar, bukan? Maka pergilah dulu ke kota besar. Barangkali kamu bisa coba ke Surabaya. Aku yakin, kalau kamu mampu menundukkan kota itu, jalan menuju kesuksesanmu akan terbentang lebih lebar.”

Meski saat ini keadaanku serasa berada di tengah pertarungan hidup dan mati, tapi aku tak juga menyalahkan Aryo yang kupikir turut andil mengomporiku untuk pada akhirnya menjejakkan kaki di kota metropolitan ini. Barangkali dia benar, bahwa kota ini memang menjanjikan. Tapi dengan konsekuensi yang gila-gilaan seperti ini, rasanya aku tak lagi punya tenaga untuk melanjutkan pertarungan. Mungkin piala kebesaran itu adalah pintu kesuksesanku. Aku benar-benar ingin menjadi seorang stylish hebat yang terkenal. Sukur-sukur jika suatu saat nanti aku mampu membuka salon, pun memiliki pelanggan orang-orang besar. Ah, betapa indahnya impian itu… Tapi sungguh, aku sudah merasa sekarat di seperempat perjalanan menuju kemenangan. Barangkali aku akan mati…

“Kalau kamu nggak pernah gituan, nanti aku ajarin gituan, deh… Nanti kamu pasti ketagihan…” Bisik om yang tak jua beranjak menjauhiku. Ia semakin mendekat padaku, semakin gigih menanti keputusanku. Entah, apa yang membuatnya begitu yakin. Mungkin benaknya sudah membayangkan yang bukan-bukan…

Andai saja aku dapat mengais ceruk muara airmata, mungkin saat ini akan kutumpahkan semuanya. Kuhabiskan saja penanda kesedihan itu supaya tak lagi ada airmata di kemudian hari. Tapi siapa pula yang sudi menyodorkan tisu untukku? Siapa pula yang mau menyediakan bahu untuk menyandarkan keluh kesahku? Tak ada siapapun disini selain om-om yang gerak geriknya semakin mengkhawatirkan ini. Tak ada teman, tak juga saudara.

Ah, aku jadi teringat pada ibuku. Sebulan sebelum merantau, kami sudah saling beradu mulut. “Pokoknya kamu tak boleh ke Surabaya! Jadi anak tak usah macam-macam. Apa jadinya nanti kalau kamu disana? Kalau cuma sekedar uang yang kau cari, disini pun tak kurang-kurang. Bapak ibumu tak menuntut apapun darimu selain ketenangan kami melihatmu hidup tenang!” kata ibuku dengan urat menegang. Tapi waktu itu aku masih memiliki segunung nyali dan keberanian untuk menentang larangan orang tuaku. “Aku hanya ingin cari pengalaman, Bu… Percayalah kalau aku akan baik-baik saja di sana,” tukasku gigih.

Kadang aku bertanya-tanya dalam diri, apakah semua penderitaanku disini disebabkan karena tiadanya restu dari orang tua? Sebenarnya tampak konyol jika aku mempercayai mitos macam itu karena aku sama sekali tak dapat menarik hubungan yang berkaitan di antara kedua hal tersebut. Tentu saja aku lebih meyakini bahwa penyebab penderitaan dan kelelahanku saat ini dikarenakan salon tak tahu diri itu hanya menggajiku empat ratus ribu rupiah sebulan dengan alasan bahwa aku masih dalam tahap training. Namun sungguh gila siapapun yang dapat bertahan dengan uang sekecil itu di kota sebesar ini.

Kendati demikian, saat kurasakan hidupku sedemikian susah di sini, tak sedikit pun keceritakan pada keluarga di rumah mengenai penderitaanku. Kalau aku berkeluh kesah pada mereka, maka mereka pasti akan memperolokku dan semakin getol untuk menyuruhku menyudahi petualanganku, pulang ke rumah dan mengambil pekerjaan yang damai di dekat rumah. Namun kurasa untuk sementara ini bukan hal itu yang kuinginkan. Aku masih enggan pulang ke rumah. Dahagaku pada petualangan masih belum terpuaskan. Rasa penasaranku pada dunia baru yang lebih luas masih belum terpenuhi sempurna. Pada kepulanganku mengunjungi ibu kemarin, hanya kukatakan yang baik-baik saja mengenai apapun yang ada di sini. Bahkan sebagian kukarang-karang sendiri. Namun sepertinya ibuku dapat merasakan kegundahanku meski tak sempat terkatakan. Saat aku berkemas untuk kembali, ibu berniat memberiku uang saku sebesar seratus ribu. Namun dengan berkeras hati kutolak kebaikan ibu. Kukatakan bahwa uangku masih mencukupi dan aku akan baik-baik saja. Tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa sesungguhnya seluruh uang yang tersisa yang kupunya hanya sebesar empat puluh ribu rupiah saja.

“Wah, mikirnya jangan kelamaan, dong… Nanti keburu penuh tempatnya… Kalau semakin malam susah nyari tempat…” Suara bariton om berambut klimis itu membuyarkan lamunanku. Sesaat aku masih diliputi kebimbangan. Tapi ketika mengingat kembali kenestapaanku, juga perutku yang melilit, maka sepertinya aku harus segera mengambil keputusan yang menyelamatkan. Aku semakin lelah.

“Mmm…. tapi nanti saya diantar pulang ya, Om….”

Senyum pria keladi itu pun terbit, bahkan lebih lebar dari panjang bulan sabit. Aku segera beranjak dari bangku taman yang sedari tadi menemani perenunganku, kemudian segera masuk dan duduk di jok depan sebuah Avanza hitam milik om tak dikenal itu. Jantungku berdegup keras, tak sabar membayangkan mimpi buruk macam apa yang akan terjadi padaku. Telapak tanganku terasa dingin dan berkeringat. Sementara mobil melaju ke arah timur, aku berusaha keras menghapus bayangan Bapak, Ibu, saudara-saudaraku, ataupun Aryo dalam benakku yang sedari tadi rajin melintas-lintas. Kupikir ada baiknya jika aku mencoba berbaik-baik dengan pria asing di sampingku ini, atau sekedar mencairkan suasana supaya tak sebeku hatiku. Hati kecilku masih berharap adanya sebuah keberuntungan yang menyelamatkanku…

Kami sampai di sebuah losmen kecil bersuasana muram. Terlihat beberapa pasangan kencan hilir mudik keluar masuk. Sepertinya losmen ini cukup laris meski penampilannya tampak tak menjanjikan keindahan sama sekali. Kami terkungkung di sebuah kamar sempit berbau apek, dengan penerangan temaram.

Pria itu membuka bungkusan kresek hitam berisi beberapa botol; Topi Miring, Mansion, dan Bintang, yang tadi sempat kami beli di tengah perjalanan. Ia meletakkannya di meja samping ranjang, di sebelah sebuah cerek berisi air putih dan dua gelas bersih yang telah disediakan pihak losmen. Ia mengambil gelas dan menuangkan minumannya, memberikannya padaku, tapi aku menolak. Aku tak terbiasa minum minuman keras. Akhirnya pria itu minum sendirian sembari menanyaiku macam-macam dan bercerita apa saja. Kurasa lebih baik aku meladeni pembicaraannya supaya niatnya teralihkan. Ia memang sempat beberapa kali memaksaku, tapi sebisa mungkin kutolak dengan halus supaya ia tak mengasariku.

“Ayolah….”

Sebenarnya, kalau boleh jujur, kuakui bahwa sempat pula terbersit hasrat untuk mencoba-coba. Kurasakan hormonku pun mengalir deras. Ada yang berdenyut-denyut dalam diriku. Andai itu pembuluh darah, barangkali tak lama lagi akan pecah, menghamburkan aliran nafsu yang menguasai diriku.

“Ayolah…”

Nyaris saja aku tak tahan, mempersetankan segala ingatan. Namun nyatanya akal sehatku masih membelenggu. Sungguh, ketakutanku jauh lebih besar daripada sekedar nyali petualanganku. Bayangan ayah ibuku berkelebat-kelebat. Juga bayangan guru-guruku di pondok pesantren tempatku belajar semasa kecil. Juga bayangan wajah penyakit-penyakit yang menjijikkan. Juga bayangan malaikat yang menghujamkan penanya dalam buku dosa milikku. Sungguh, ketakutanku masih jauh lebih besar daripada hasratku menuruti nafsu.

“Ayolah….”

Dengan susah payah, aku berusaha sekeras mungkin mengendalikan diri. Mengendalikan pria mabuk tak dikenal di hadapanku, yang hingga dapat kurasakan hembusan nafasnya semakin memburu. Juga mengendalikan diriku sendiri. Aku takut untuk terjerumus, meski pemikiran ini terdengar begitu naif kali ini.

Malam semakin larut, kulihat jarum di jam tanganku menunjukkan pukul dua dini hari. Pria itu semakin mabuk. Ocehannya semakin limbung dan menceracau. Aku senang karena sejauh ini kami tak jua melakukan apa-apa selain sekedar mengobrol, atau ia yang merayuku habis-habisan.

“Om, sudah hampir pagi nih… Antarkan saya pulang dong, Om… Besok saya harus kerja… Nanti saya dimarahi bos kalau telat….” Dengan takut-takut, aku mencoba merayunya. Kuperhalus nada suaraku supaya ia menaruh iba padaku.

Benar-benar mukjizat bahwa pria itu akhirnya luluh dan bersedia keluar dari losmen itu. Kami berlalu, meninggalkan jejak-jejak ganjil kami di sana. Menembus remang-remang malam kota Surabaya, hatiku terasa syahdu. Entah, apakah aku harus bersedih atau bergembira, jiwaku seperti telah kehilangan arah. Sementara itu, pria tersebut memutuskan untuk menurunkanku di pertigaan jalan yang tak terlalu jauh dari mess asramaku. Dengan tergesa, ia memberiku tiga puluh ribu rupiah — yang ia selipkan dalam kantong celanaku.

“Maaf, hanya segitu yang bisa saya kasih… Kamu baik-baik, ya… Kapan-kapan kita ketemu lagi,” ujarnya dengan nada suara limbung karena efek minuman keras. Kemudian ia berlalu begitu saja.

***

Aku tak bisa tidur. Kulihat beberapa kawan yang juga tinggal di mess asrama pun belum tidur. Mereka memilih mencumbui gitar tuanya yang mengalunkan lagu-lagu sendu, sementara yang lainnya mengobrol ringan atau sekedar melamun bersama hembusan asap rokok. Sementara ruang kamarku terasa begitu penuh, begitu sesak, begitu memuakkan. Kamar sesempit itu harus dihuni oleh lima orang yang memiliki kebiasaan tidur tak tahu aturan. Melihat tabiat mereka saja sudah membuat stresku bertambah-tambah. Akhirnya kuhabiskan sisa hari itu dengan bermain-main laptop dua belas inch-ku, satu-satunya harta berharga yang kupunya dan selalu kubawa kemana-mana.

Sudah pukul delapan pagi, sudah waktunya berangkat ke tempat kerja. Tak membutuhkan waktu lama bagiku untuk bersiap-siap setelah menyantap sebungkus mie instan yang kumasak dengan heater yang kubawa dari kampung halaman. Perjalanan menuju tempat kerja harus kutempuh dengan menggunakan satu angkutan umum sejenis mikrolet. Pada pagi hari, jalanan kota Surabaya sangat hiruk pikuk. Kemacetan terjadi disana-sini. Angkutan umum macam bis yang besar-besar pun penuh sesak. Namun untunglah aku menemukan angkutan mikrolet ke arah tempat kerjaku yang masih lowong. Setidaknya aku gembira karena bisa leluasa duduk, tak berhimpit-himpitan seperti biasanya.

Biasanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di tempat kerjaku yang terletak di salah satu mall besar, di lantai empat, tepatnya. Tak ada yang menarik hatiku di sepanjang perjalanan. Pikiranku justru lebih disibukkan oleh khayalan dan ingatan pada segala hal. Selebihnya, aku hanya sekedar mengeja rasa lelah yang kian mendera. Aku tak tahu sampai kapan sanggup bertahan. Kelelahan ini makin lama akan dapat membuatku semakin lengah.

Kelengahan pertamaku – sekaligus kelengahan yang paling fatal adalah meninggalkan laptopku di kursi angkutan umum yang tadi kutumpangi. Aku baru sadar setelah turun, selang beberapa jam ketika aku berniat membuka laptop karena ada hal yang ingin kucari. Saat menyadari kebodohanku, badanku langsung terasa lemas. Bahkan kupikir kakiku tak lagi dapat menyangga tubuhku. Seharian itu aku histeris. Aku menangis. Sungguh, aku menangis bahkan di hadapan teman-temanku, juga di hadapan atasanku sendiri. Aku tak lagi peduli. Seluruh dunia harus tahu kemalanganku, tragisnya nasibku. Ingin rasanya aku merutuki dunia seharian, kalau perlu berbulan-bulan, karena hidup telah sangat tak adil padaku. Apa salahku hingga ditimpa kemalangan senaas ini?

Aku tak lagi dapat konsentrasi bekerja. Beberapa tamu mengeluh karena kepanasan saat aku mem-blow rambut mereka. Juga ada yang mengeluh karena pijatanku sama sekali tak terasa nyaman. Juga ada yang mengeluh karena hasil kerjaku membubuhkan kuteks berantakan. Padahal biasanya akulah yang paling dapat diandalkan di antara kawan-kawan training seangkatan.

Meski tergolong baru, namun akulah satu-satunya pemecah rekor yang lekas mendapatkan pelanggan. Banyak tamu yang lebih senang memilihku. Mungkin karena kecakapan hasil kerjaku, kecakapan pelayananku, atau barangkali juga karena kacakapan wajahku. Setidaknya, itulah yang dikatakan beberapa orang mengenaiku. Tak heran jika banyak pegawai yang mendengki padaku. Tapi yang paling kuingat jeas adalah perlakuan sinis Amanda, seorang seniorku, padaku. Ia benar-benar terang-terangan mendengki padaku.

“Heh, kamu anak baru kok udah banyak pelanggannya sih! Kita yang udah lama aja baru punya pelanggan segelintir. Kamu pasti pasang susuk di bibirmu, ya. Makanya jadi pinter ngomong… Sini, aku periksa bibir kamu!” ujarnya ketus sembari tanpa tedeng aling-aling mencengkram rahangku dan menarik-narik ujung bibirku. Ia melakukannya dengan rasa gemas, seolah berhasrat untuk menamparku dan melemparkanku dari tingkat tertinggi gedung ini. Aku benar-benar tak berdaya, meringkuk dalam kepasrahan. Bibirku kelu sekedar untuk membalas cemoohan mereka. Kadang tak segan mereka mendorong tubuhku saat mereka melewatiku, hingga aku nyaris terjatuh. Tapi kemudian mereka malah memarahiku dengan dalih aku yang tak becus berjalan atau menempatkan diri. Nah, kira-kira, siapa yang mampu bertahan dengan suasana demikian? Sejauh ini aku mencoba untuk bersabar, terus-menerus mengulang tujuan dan tekadku untuk menggali ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Sekeras mungkin kucoba untuk mengabaikan segala hal yang menyakitiku. Kuhimpun seluruh konsentrasiku hanya untuk pekerjaan.

Namun selama beberapa hari ini, aku tak lagi sanggup memasang wajah ramah pada siapapun. Kesupelanku, satu-satunya yang menjadi asetku, tiba-tiba menghilang begitu saja. Laptop hasil jerih payahku berbulan-bulan saat aku bekerja di kampung halaman itu terngiang-ngiang di benak.

Karena sikapku yang semakin lama semakin tak dapat ditolerir, akhirnya atasanku pun memanggilku, bermaksud memperingatkanku.

“Adakalanya manusia tertimpa musibah, juga merasakan kesedihan. Itu wajar, siapapun pasti pernah mengalaminya. Tapi saya berharap, kamu bisa profesional bekerja. Akhir-akhir ini kamu sangat mengecewakan, Jo…”

Sejenak aku mencoba meresapi lamat-lamat suara atasanku yang ia ucapkan dengan nada keras dan dingin. Bukannya merasa takut, tapi aku justru muak. Aku benci dengan caranya mengeksploitasiku. Aku benci tempat kerjaku ini.

“Maaf… Saya sedang sedih sekarang… Saya tak bisa mengendalikan perasaan saya… Sebenarnya saya tak ingin mengecewakan. Tapi apa daya, saya tak bisa… Mungkin lebih baik saya mundur saja… Saya mau berhenti dan pulang ke kampung halaman…”

Entah, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Seolah hatiku lah yang mengatakannya sementara akal pikiranku sibuk di tempat yang lain. Tapi kalau kupikir-pikir, mungkin keputusan yang kuambil ini adalah sebuah langkah tepat. Inilah waktu yang kutunggu-tunggu, menyudahi semua kesengsaraan.

Semula atasanku merasa keberatan dengan keputusanku. Sedapat mungkin ia membujukku supaya aku menangguhkan niatku. Namun kurasa keputusanku tidaklah salah. Tekadku telah bulat. Aku bersikukuh untuk mengundurkan diri. Aku tak mau lagi memperpanjang kepedihan hidupku. Namun demi menghentikan agresi atasanku yang membombardirku dengan segala bujuk rayu, terpaksa kukeluarkan jurus airmata dan ratap pilu di hadapannya supaya ia tak lagi memberatiku. Sandiwaraku berhasil.

“Ya sudah. Apa boleh buat… Kalau maumu begitu, ya terserah saja. Saya bingung musti ngomong apa lagi sama kamu yang keras kepala…” katanya putus asa.

Satu-satunya yang menjadi masalah besar adalah, mereka menahan ijasahku. Dengan liciknya, mereka telah mengikatku dengan kontrak yang menyudutkan. Sebelum masa kontrak yang dua tahun itu habis, maka aku harus menebus ijasah dengan sekian juta rupiah. Ini benar-benar gila! Jangankan satu juta, bahkan seratus ribu pun saat ini aku tak punya… Bahkan membeli sebungkus nasi ayam lalapan saja aku tak bisa… Tapi aku telah terlanjur berucap. Satu-satunya akal warasku mengatakan bahwa aku harus segera mencari pekerjaan baru dan mendapatkan uang untuk menebus ijasahku.

***

Mereka memberiku waktu sisa satu hari untuk tinggal di mess asrama sebelum mengusirku. Aku harus segera mengatur strategi. Pekerjaan baru, satu-satunya yang berkecamuk di kepalaku. Kuniatkan pagi-pagi buta untuk bergerilya, mencari salon-salon yang membutuhkan karyawan baru tanpa memerlukan ijasah. Apapun yang terjadi, aku harus segera mendapatkannya. Kalau perlu, aku akan berjalan kaki menyisir tiap-tiap ruas jalan di kota Surabaya. Aku sudah tak lagi peduli dengan apapun macam pekerjaannya, yang penting mendapatkan uang dan sekedar tempat tinggal. Aku pun tak lagi memikirkan laptopku yang hilang. Mengingatnya hanya membuatku berlinangan air mata.

Langkahku terhenti di sebuah ruko mungil di kawasan Pucang Anom. Sebuah salon yang memasang papan ‘dibutuhkan karyawan salon’. Tanpa ragu, kumasuki bangunan bercat kuning tua itu. Sejenak aku merasa canggung karena kupikir penampilanku tak lagi menjanjikan. Namun sejenak hawa dingin AC yang kurasakan menyejukkan diriku, menenangkan hatiku. Kuamati sosok-sosok yang berada dalamnya. Ada beberapa tamu; wanita-wanita setengah baya dari etnis Tionghoa, beberapa laki-laki dengan gaya perlente. Sementara para pegawai salon yang terlihat, nyaris sebagian besar adalah para waria. Wanita setengah pria dengan pembawaan gemulai, dengan dandanan yang aduhai.

“Saya mau melamar kerja….” Kusampaikan niatku dengan tutur kata dan sikap sesopan mungkin di hadapan seorang waria berkulit putih semampai yang berdiri di balik meja kasir.

Sejenak ia tertegun melihatku. Tak beberapa lama, kemudian ia menyunggingkan senyum lebarnya. “Sudah pernah kerja di salon?” tanyanya dengan nada sedikit genit.
“Sudah.”
“Bisa apa aja?”
“Apa saja bisa… Tapi mungkin tak terlalu ahli… Tapi saya cepat belajar…”
“Ouch… okee! Mari ikut eike ketemu bos, ya…”

Aku mengikuti arah langkahnya masuk ke bagian dalam, menjajaki lantai dua, kemudian masuk di sebuah ruangan luas yang mirip dengan ruang fitting karena terdapat begitu banyak kostum yang berjajar di rak yang mengelilingi sepanjang sisi dinding ruangan. Kulihat seorang perempuan berambut panjang dan pirang dengan celana jeans yang demikian pas di tubuh langsingnya sedang sibuk mencatat sesuatu dalam buku tulisnya. Kemudian ia memeriksa kostum-kostum yang berserakan di sekitarnya. Waria penjaga kasir itu mendekatinya, mengatakan padanya tentang keberadaanku. Perempuan itu beralih dari aktivitasnya, menoleh padaku, dan sesaat melempar senyum kecil yang disertai dengan sorot mata ramah. Sejenak aku terpaku oleh kecantikannya. Namun kian lama memandanginya, aku jadi mulai meragukan keperempuanannya. Mungkin dia bukan benar-benar perempuan… dan mungkin memang benar demikian…

***

Tak terasa, sudah lima bulan berlalu sejak hari pertamaku bekerja. Dan jujur saja, aku merasa jauh lebih dapat menikmati hidupku disini ketimbang di tempat kerjaku dulu. Banyak sekali perbedaan yang kurasakan. Mulai dari penghasilan yang amat jauh berbeda, hingga kebebasan berkreativitas yang bagiku adalah segalanya. Aku tak suka menjadi terkekang. Aku pun selalu butuh media untuk terus mengasah kreativitasku. Di tempat baru ini, aku merasa nyaman dan bebas menjadi diri sendiri, mengeluarkan sisi-sisi lain dari diriku tanpa merasa canggung lagi. Seluruh potensi positifku terasah sempurna, dan hal ini pun cukup menguntungkan tempat kerjaku. Salon semakin ramai. Beberapa tamu bahkan telah menjadi pelanggan fanatikku. Setiap kali datang, mereka hanya mau padaku. Di samping itu, kawan-kawan kerjaku pun cukup menyenangkan meski awal mulanya bersikap sedikit sinis padaku. Kudekati mereka perlahan-lahan, akhirnya lumer juga hatinya. Bahkan mereka pun terpacu untuk berlomba menggali kreativitas dan ilmu-ilmu baru setelah melihatku yang cukup rajin, cukup banyak tahu, pun cukup banyak mendapat bonus bulanan. Aku bahagia jika keberadaanku membawa manfaat positif untuk sekitarku.

Namun satu hal yang sangat membanggakanku; beberapa minggu yang lalu, aku menyabet gelar juara satu dalam sebuah lomba di ajang road-show waria tingkat propinsi. Menurut juri, selain cantik, aku juga kreatif. Mereka terkesima dengan pertunjukan teater monolog multi-karakter yang kupersembahkan. Hanya butuh waktu satu minggu untuk mempersiapkan konsep dan pengerjaan kostum sekaligus narasi, dan jerih payahku membuahkan hasil yang memuaskan. Semuanya bangga padaku.

Nah, andai kau hendak mencariku untuk menggunakan jasaku atau sekedar mengobrol ringan denganku, maka kau dapat menjumpaiku di salah satu sudut ruang salon, di sebuah ruko kawasan Pucang Anom, Surabaya. Aku selalu sibuk di sana. Namun jangan lagi kau mencari nama Johan, karena kini aku telah menggantinya – atau barangkali hendak melupakannya. Carilah Joanna, waria tercantik di salon itu, yang juga akan memukau penglihatanmu. ***

 

Agustus 2012

Advertisements

2 thoughts on “Pilihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s