TARUHAN

“Jika kau mampu menakhlukkan Laila hingga ia mau kau tiduri dengan sukarela, kami akan membelikan sepuluh botol vodka apa saja sekehendakmu.”

Demikianlah tantangan yang terlontar di antara anggota geng Sabtu Malam, di Kampung Seloka. Tak seberapa banyak, hanya terdiri dari beberapa pengangguran, beberapa preman, atau siapapun yang tak punya orientasi tujuan hidup yang jelas. Siapapun yang melihat akan segera menarik kesimpulan bahwa mereka adalah kumpulan bajingan yang biasa berkumpul setiap sabtu malam di pos ronda kosong di dekat sungai, mendendangkan lagu-lagu Slank atau God Bless secara fals dengan gitar bututnya, cekakak-cekikik, menggoda gadis-gadis yang lewat, atau bahkan mencicipi miras-miras oplosan yang mereka datangkan secara sembunyi-sembunyi. Tahu-tahu, saat fajar nyaris menjelang, mereka sudah sempoyongan, berusaha pulang ke sarang masing-masing dengan meninggalkan ratusan puntung rokok atau kulit kacang yang bertebaran di tanah. Demikian juga dengan botol-botol kosong yang tergeletak begitu saja di pojok pos ronda atau terguling di bawah bangku panjang. Rudin, petugas kebersihan yang digaji bulanan oleh kepala kampung, hanya geleng-geleng kepala namun cukup tabah membereskan semua bekas kekacauan tersebut.

Kembali ke soal tantangan, mula-mula ide tersebut tercetus dari mulut Basri, pemuda penuh tato di lengan kirinya dan bekas luka codet di pelipis kanannya, yang konon bekerja di sebuah diskotik di kota, namun juga dikenal sebagai preman musiman. Mengenai Basri, ia tak selalu berada di rumahnya di Kampung Seloka, melainkan biasa pulang dua atau tiga hari sekali untuk menjenguk anak istrinya. Namun jika sudah berada disini, di Kampung Seloka, maka perkumpulan geng setiap Sabtu malam akan semakin ramai, semakin meriah.

Tantangan atau taruhan itu sebenarnya dikhususkan kepada Marwan, seorang pemuda yang tampaknya baik-baik, namun juga memelihara sisi keliaran dalam dirinya. Ia adalah pegawai rendahan sebuah pabrik yang terletak tak jauh dari Kampung Seloka. Pemuda itu tinggal bersama ibunya. Anggap saja ia anak yatim karena ayahnya tak lagi ada sejak ia masih baru dapat berjalan menapak tanah. Bukan lantaran meninggal, namun barangkali karena minggat – demikian gosip orang-orang kampung mengenai keluarganya.

Pasalnya, kawan-kawan lainnya muak dengan sesumbar Marwan yang berkali-kali mengatakan bahwa ia seringkali kerepotan menghadapi gadis-gadis yang naksir dan berkehendak menjadi pacarnya. Katanya, jika ia mau, ia dapat memperoleh sepuluh pacar sekaligus dalam tempo sesingkat-singkatnya. Demikian kisah Marwan tentang gadis-gadis di lingkungan tempatnya bekerja. Menurutnya, ia menjadi idola lantaran parasnya cakap, pesonanya memabukkan dan sulit diabaikan. Boleh diakui boleh tidak, Marwan memang sedikit cakap jika dibanding kawan-kawan lainnya, terutama di Geng Sabtu Malam itu.

“Ah, sudah! Jangan banyak omong yang tak ada buktinya. Kau kira kami percaya dengan semua bualanmu? Kalau kau memang begitu mudah mendapatkan perawan, malam minggu tentu tak kau habiskan bersama kami, hahahaa….” ejek Basri sinis, kemudian diiringi derai tawa yang lainnya.

“Jika kau memang seorang don juan sejati, coba buktikan pada kami. Kita semua tahu bahwa perawan idaman di kampung kita adalah Laila, anak Romlah, penjual rujak di SD ujung jalan sana. Soal kecantikan perempuan itu, kita semua pasti sudah sepakat. Tapi tabiatnya ketus dan menutup diri, terutama pada laki-laki hidung belang macam kita-kita. Nah, jika kau berhasil mendapatkan hati Laila sekaligus keperawanannya, kami baru mengakuimu sebagai don juan sejati, dan kami akan dengan senang hati membelikanmu sepuluh botol vodka merk apapun terserah maumu. Setuju tantangan ini?” kata Basri lagi, sembari menaik-naikkan alisnya, menggoda Marwan namun mimiknya setengah mengolok penuh kemenangan. Sontak yang lain ikut memanas-manasi Marwan, riuh rendah. Sontak nyali Marwan tergelitik. Dalam hati, ia benar-benar penasaran ingin memenangkan taruhan Basri dan kawan-kawan.

Ada sebuah rahasia tentang Marwan. Sebenarnya ia telah menjalin ikatan pertunangan dengan seorang gadis baik, kerabat jauh ibunya. Mereka telah bertemu, mengadakan pesta kecil-kecilan, dan bersepakat untuk sesegera mungkin melangsungkan pernikahan. Barangkali karena si gadis memiliki paras yang lumayan manis, pun baik hati, sehingga Marwan merasa tak berkeberatan. Namun sesungguhnya ibu Marwan lah yang merasa paling bahagia. Bagaimanapun, kebahagiaan orang tua adalah ketika telah mengetahui seluk beluk calon mantu.

Tentu saja Marwan sama sekali tak keberatan sepanjang ibunya merasa bahagia. Sejak tak pernah mengenal sosok ayah, Marwan sangat meninggikan figur ibu dalam hidupnya. Meski Marwan kerap lupa diri ketika bersama kawan-kawannya, namun di rumah ia selalu bersikap santun dan hormat pada ibunya. Kecintaannya pada ibu melebihi segalanya, dan ia bekerja pun seringkali untuk menyenangkan ibu yang sangat disayanginya.

Namun tantangan Basri benar-benar menggoyahkan hatinya. Bukan sekedar ingin mendapatkan sepuluh botol vodka gratis, melainkan karena tantangan tersabut menyangkut gengsinya, harga dirinya. Apalagi ia telah terlanjur bersesumbar. Demikianlah manusia, baru bergerak jika tersulut tantangan. Marwan bertekad untuk membuktikan sekaligus menunjukkan pada kawan-kawannya bahwa pesonanya yang menakjubkan para gadis rupawan itu adalah benar adanya.

Marwan sudah mengenal Laila, namun tak begitu dekat. Mereka hanya pernah berpapasan beberapa kali atau duduk bersebelahan saat mengantri pembuatan foto KTP di balai desa. Laila memang cantik. Namun saat itu Marwan tak begitu tertarik. Ia memang tak pernah menaruh minat pada gadis-gadis lokal di kampungnya. Baginya, Laila hanyalah sosok gadis kampung sederhana yang tak punya kelebihan apa-apa. Tentu berbeda dengan gadis-gadis yang bekerja di pabrik, yang memiliki selera berpakaian dan berdandan lebih trendi.

Namun demi menundukkan tantangan Basri, Marwan mulai melancarkan pendekatan dengan Laila. Semula ia hanya menguntit Laila dari tempat tersembunyi, mengetahui dan menghapal aktivitas Laila – untuk kemudian memikirkan peluang-peluang yang dapat ia pergunakan demi mendekati gadis berbibir mungil itu. Setiap pagi, Marwan rajin menelusuri jalan menuju pasar, berharap sebuah kebetulan akan perjumpaan. Jika sudah bertemu, maka Marwan akan menawari Laila tumpangan – dengan segala bujuk rayu manis nan elegan yang tak sanggup Laila tolak.

Demikianlah. Misi Marwan mendekati Laila separuh berhasil. Tinggal beberapa langkah saja, Marwan pun akan berhasil menguasai hati Laila, meneguk cinta yang didamba-dambakannya. Mereka tak sekedar bertemu di jalan menuju pasar, namun juga mulai sering berdua di tempat-tempat lainnya. Marwan kerap mengajak Laila berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan di kota, mengunjungi kebun binatang, hingga menonton bioskop berdua. Marwan pun telah memiliki keberanian menghangatkan jemari lentik Laila dalam genggamannya.

Di sisi lain, sedikit demi sedikit Laila mulai menaruh kepercayaan kepada Marwan. Ia pun tampaknya mulai bersiap mempercayakan hatinya kepada Marwan. Laila semakin terbiasa dengan banjir perhatian yang dilimpahkan Marwan. Ia pun tlah terbiasa dengan setangkai kembang mawar ataupun sebatang cokelat yang biasa Marwan selipkan pada jemarinya saat malam minggu tiba. Pernah Marwan meminta ijinnya untuk mengecup bibirnya dalam kegelapan ruang bioskop, dan dengan malu-malu Laila mempersembahkan bibir ranumnya untuk dikulum sekejab oleh Marwan.

Sejak itu, Laila mulai kerap bermimpi bahkan saat ia terjaga. Sosok Marwan mulai mengusik kesunyian batinnya. Manisnya kecupan Marwan mulai enggan ia lupakan. Kehangatan genggaman tangannya senantiasa ia rasakan. Lesung pipi Marwan saat tersenyum mulai mengisi palung terdalam ruang imajinya. Bahkan desah nafas Marwan saat berbisik di telinganya mulai ia rindukan. Sempat Laila merasa tak yakin, apakah ia mulai terjangkiti virus cinta yang ditebarkan Marwan. Hingga pada suatu malam, di bawah bulan benderang dengan keheningan yang nyaman, meluncurlah ungkapan cinta Marwan. Laila semakin yakin dengan perasaannya. Dengan bersukacita, dua anak manusia ini merajut helai percintaan menjadi sebentuk kisah yang memabukkan.

Sementara itu, kawan-kawan Marwan, Geng Sabtu Malam, pun mengikuti perkembangan kisah cinta Marwan dengan Laila. Ada yang merasa antusias dengan keberhasilan Marwan, namun ada pula yang tak henti berseloroh dan menyimpan benih-benih iri hati. Sementara Basri pun masih bersikap sinis meski mulai sedikit melunak.

“Jangan sombong dulu mentang-mentang kau telah menjadi pacar si Laila. Tunjukkan bukti bahwa kau berhasil menidurinya dan ia semakin tergila-gila padamu, hahahaa….” seru Basri dengan sikap jumawa.

“Kuberi tenggat waktu hingga Sabtu depan, kau harus berhasil melaksanakan misi ini. Atau kau kalah telak dan selamanya hanyalah seorang pembual bermulut lebar saja. Oke? Hahahaaa…”

Hati Marwan makin berdebar-debar. Sabtu depan ia harus telah melaksanakan misi terakhirnya, meniduri Laila, demi memenangkan tantangan Basri dan kawan-kawan. Marwan sangat optimis bahwa kali ini ia akan berhasil. Sebuah hotel di pinggir kota pun telah dipesan meski tak meninggalkan uang muka terlebih dahulu.

Namun jika ditelusuri lebih dalam, sebenarnya ada gejolak dalam jiwa Marwan yang semakin lama terasa semakin susah diredam. Cinta, bagaimanapun akan selalu menemukan jalannya sendiri. Demikianlah yang dirasakan Marwan. Dengan permainannya yang bertubi-tubi, tak menutup kemungkinan bahwa lamat-lamat ia menjadi benar-benar jatuh cinta kepada Laila, si kembang desa. Bukan lantaran kecantikan dan kebaikan hatinya semata, melainkan buaian perasaan yang menyejukkan tiap kali bersama Laila. Pada akhirnya, rasa yang terus menerus dipupuk hanya akan merajai seluruh jiwa, menjadi kemudi hati.

by esotericquotes.com

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tak seperti biasanya, kali ini Laila meminta Marwan untuk datang ke rumahnya. Biasanya, mereka selalu bertemu di suatu tempat sebelum pergi berkencan. Namun kali ini rupanya Laila berniat hendak memperkenalkan Marwan dengan orang tuanya, terlebih ibunya.

Di rumah Laila, Marwan disambut dengan senyum Laila yang penuh arti. Meski agak kikuk, sedapat mungkin Marwan mempermanis sikapnya saat berada di antara kursi-kursi ruang tamu di rumah Laila. Sementara itu, ibu Laila, seorang wanita yang dikenalnya sebagai penjual rujak di SD ujung jalan pun menyambutnya dengan penerimaan yang amat baik. Wanita tua dengan gurat lelah di wajah itu pun tampaknya telah mempersiapkan kehadiran Marwan dengan menyiapkan beberapa piring penganan dan seteko teh yang siap dituang berkali-kali.

Setelah menyantap kue-kue sederhana yang terhampar di meja mungil bertaplak hijau lusuh, Ibu Laila tampak antusias mengajak Marwan mengobrol, sekedar memperpanjang basa-basi. Mereka sama sekali tak terganggu oleh suara tayangan televisi yang memperdengarkan adegan pertengkaran. Ibu Laila makin terhanyut mengungkapkan perasaannya; betapa ia sangat mengasihi anak perempuan semata wayangnya, mengharapkan yang terbaik untuk anaknya, dan bersumpah untuk bekerja keras serta berjuang demi menghidupi dan menjaganya. Ibu Laila adalah seorang wanita tangguh di balik renta tubuhnya yang telah terkikis beban dunia. Ia menyadari bahwa putrinya tumbuh menjadi sosok jelita yang akan menjadi dambaan banyak kumbang jantan. “Setiap malam, tak pernah sekalipun saya berhenti berdoa, semoga Gusti Allah memberi jodoh yang terbaik untuk Laila, yang mampu mengangkat harkat, derajat, dan masa depannya…” ungkap Ibu Laila dengan mata yang berkaca-kaca.

Mendengar rentetan penuturan ibu Laila, hati Marwan seperti diremas-remas. Betapa kasih sayang dan cinta sejati lah yang hanya terpancar dari sosok ibu di hadapannya. Semua itu membuatnya mengingat ibunya sendiri, ibu yang dikasihi dan disayanginya. Ibunya sendiri pun tak jauh berbeda dengan Ibu Laila. Mereka adalah sosok-sosok yang menaruh seluruh asa dan harapan dunia pada anak-anaknya. Mereka mencurahkan segenap cinta dan kasih sayang yang dipunya hanya untuk darah dagingnya.

Kemudian Marwan mengingat Basri dan kawan-kawannya. Tantangan yang mempertaruhkan gengsinya itu kembali terngiang-ngiang dalam benaknya. Sebuah tantangan yang kini terasa sedemikian mudah untuk dipatahkan. Namun tiba-tiba ia diliputi keraguan yang menghunjam nuraninya. Ia membayangkan Ibu Laila yang akan hancur hatinya dan berurai airmata andai mengetahui bahwa anak gadis satu-satunya yang menjadi harapannya telah ia rusak dengan menodai keperawanannya. Kepedihan yang menyayat-nyayat itu berubah menjadi sulur-sulur yang membelit tubuh rentanya hingga orang tua itu sesak dan mati perlahan-lahan, terkubur dalam kubangan danau kesia-siaan.

Kemudian tiba-tiba wajah Ibu Laila berubah sedikit demi sedikit, menjelma menjadi ibunya sendiri. Wajah ibunya yang telah menghitam dan matanya yang telah terpejam, memamerkan raut wajahnya yang muram. Sulur kepedihan itu telah berhasil membinasakan hati dan nyawa ibunya sekaligus dalam sekejab. Sungguh, ia dapat menyakiti dan membinasakan siapapun di dunia ini andaikan ia mendapat tuntutan untuk melakukan hal itu. Namun menyakiti hati seorang ibu atau menghancurkan harapannya adalah sama dengan menyakiti jiwanya, membinasakan nuraninya sendiri.

“Oh… tidak! Tidak tidak tidak!” pekik Marwan tiba-tiba, hingga mengagetkan Ibu Laila yang masih asyik berceloteh tentang masa kecil Laila.

“Ada apa, Nak Marwan? Apa ada yang salah dengan saya – atau makanannya?” tanya Ibu Marwan sedikit kebingungan.

“Oh, maaf bu… tidak ada yang salah… Saya hanya teringat sesuatu…” jawab Marwan sembari menahan malu. Ia segera menyembunyikan rona mukanya yang telah kemerahan.

Pukul delapan malam, Marwan berpamitan dan meminta ijin Ibu Laila untuk mengajak Laila berjalan-jalan. Laila pun merasa girang hingga kedua pipinya yang ranum semakin bersemu merah. Dengan malu-malu, ia mengikuti Marwan, segera sigap naik ke atas boncengan motor kumbang Marwan. Malam itu, cuaca sedikit panas, dan bintang gemintang berusaha keras menghibur insan-insan yang mereguk kenikmatan malam.

Seharusnya Marwan segera mengajak Laila menuju tempat yang telah ia persiapkan. Apalagi toh Laila sudah mengatakan bahwa ia rela diajak kemanapun dan melakukan apapun asalkan bersama Marwan. Namun entah, tiba-tiba Marwan malah menghentikan laju motornya di sebuah kedai kecil yang tak begitu ramai. Ia menggandeng Laila untuk menuju ke sebuah tempat duduk dekat jendela, menghadap ke area persawahan yang sedang gulita. Mereka hanya memesan minuman tanpa tertarik melirik aneka makanan berat yang ditawarkan.

“Laila, ada yang hendak Abang bicarakan…”

Laila hanya menunduk, terlihat sedikit salah tingkah dengan memainkan kuku-kuku jarinya. Ada kekhawatiran bahwa degup jantungnya akan terdengar keras di telinga Marwan.

“Rasanya… Abang tak lagi dapat meneruskan hubungan kita… Maafkan Abang, Laila…” lanjut Marwan, setengah terbata. Kerongkongannya serasa tercekik saat ia terpaksa mengatakan kata-kata pahit itu.

Laila yang sangat terkejut menengadahkan kepalanya, menatap sorot mata Marwan dengan mata berkaca-kaca. Ia tampak sangat tak siap menerima ataupun mendengar kata-kata yang terdengar melukai hatinya.

“Tapi, Bang… kenapa? Bukankah kita saling mencintai? Tidakkah Abang berniat untuk menjadikan Laila sebagai istri Abang? Tidakkah Abang merasa nyaman saat berada di dekat Laila? Mengapa Abang tega mengatakan itu?” Suara Laila yang semakin meninggi itu pun mulai terdengar serak. Ia tampak sedang berusaha keras menahan isak tangis yang nyaris meledak. Namun sejauh ini ketahanannya masihlah kokoh, meski bibir dan jemarinya bergetar.

“Tidak bisa, Laila. Kumohon mengertilah dengan tak banyak bertanya. Abang masih mencintai kamu, tapi rasanya perpisahan kita adalah untuk kebaikan kita masing-masing…”

“Abang bohong! Abang pasti telah mendapat perempuan lain yang lebih cantik dari Laila. Jujurlah pada Laila, Bang! Laila memang tak bisa menghalangi semua kemauan Abang, namun Laila mohon, jujurlah, Bang…”

“Baiklah, kalau itu maumu. Benar, Laila. Ada perempuan lain selain kamu, dan hubungan kami telah berjalan lebih dahulu daripada hubungan kita. Kami bahkan telah bertunangan dan berencana hendak melangsungkan pernikahan…” sejenak Marwan terdiam, memperhatikan sosok Laila yang ternganga dan terdiam, masih menantinya dan mendengarnya, meski  airmatanya telah menetes-netes tanpa ia usahakan lagi untuk membendungnya. Ia seolah sedang meresapi rasa perih saat sembilu sedang menyayat ulu hatinya.

“Dengar, Laila… Aku sama sekali tak bohong jika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu. Sungguh aku mencintaimu dengan seluruh kata dan jiwa yang kupunya. Bagaimana aku akan dapat melupakan rasa teramat manis yang pernah kita kecap setelah ini? Tapi jika pada akhirnya aku memilih untuk menyudahi hubungan kita, itu justru karena aku sedemikian menyayangimu, menghargaimu, dan menghargai perasaan semua wanita.

“Laila, kita belum melangkah terlalu jauh, dan kau masih memiliki banyak matahari untuk kau genggam dengan kekuatan pesonamu. Namun apa salah perempuan yang dengan setia menungguku hingga aku tega meninggalkan dan mencampakkannya? Aku tak mau menyakiti hati yang tak berdosa, Laila… Sungguh, maafkan aku…”

Kedai yang semakin malam semakin ramai itu ternyata tak memeriahkan kesenyapan yang terjadi di antara Laila dan Marwan. Marwan berusaha menenangkan Laila dengan mencoba menggenggam jemari kecil yang tampak gemetar dan kedinginan, namun Laila cepat-cepat menangkisnya. Marwan merasa semakin tersudut dengan airmata Laila yang mengalir tak berkesudahan. Hatinya telah remuk redam.

“Antarkan Laila pulang, Bang. Mungkin itulah yang terbaik yang dapat kita lakukan. Jika menurut Abang perpisahan adalah yang terbaik, mungkin memang demikian. Hanya saja… Laila sama sekali tak menyangka bahwa Abang tega melakukan semua ini… Abang tega menyakiti Laila… terima kasih, Bang… Terima kasih atas semua kepalsuan yang Abang berikan selama ini…” Andaikan ada kepedihan yang lebih menyayat, barangkali Laila masih dapat menjaga hatinya dari kehancuran yang berkeping-keping. Nyatanya, senyumnya telah tenggelam dalam nestapa. Seperti lentera yang padam oleh badai yang tiba-tiba melanda.

Malam itu, dua jiwa yang hatinya perlahan-lahan membeku saling mengucapkan selamat tinggal. Pendar bintang yang senantiasa menghibur malam-malam romantika mereka tak lagi sanggup mengibur, tak jua menguatkan. Ada tangis yang tersisa, ada hela nafas berat yang terasa. Marwan tak lagi peduli pada taruhan, juga pada cemoohan geng Sabtu malam. Baginya, cukuplah kenangan bersama Laila menjadi pelipur lara, asal ia dapat menyelamatkan nuraninya. Biarlah Laila tersedu dan menghujatnya tanpa perlu tahu keseluruhan jalan cerita. Cukuplah kenyataan dan kesadarannya hanya menjadi milik rahasia hatinya, rahasia hidupnya. ***

Agustus 2012

Advertisements

3 thoughts on “TARUHAN

  1. Been so thrilled from the start. 🙂

    Cerita yang sangat menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s