Bintang di Surga

Namaku Anjali Bintari. Ah, masa tak mengenalku? Betapa engkau terkurung dalam tempurung jika benar-benar tak pernah mengetahui atau mengenal sosok diriku yang kerap muncul di film-film nasional, sinetron ber-rating tinggi, atau iklan-iklan produk ternama. Aku ini seorang artis. Artis ternama. Artis papan atas. Artis yang takkan mudah tergeser oleh berondongan pendatang-pendatang baru yang lebih muda dan tak kalah cantik. Sebabnya, aku pun berwajah cantik, sekaligus berbakat. Multitalenta, demikian ungkapan orang-orang ketika menggambarkan kemampuanku. Eh, tapi bisa saja kau tak mengenalku meski aku telah mengakui beberapa kenyataan tentangku. Mungkin disebabkan karena nama yang kukatakan padamu sekarang adalah nama asliku yang sebelumnya tak pernah seorangpun tahu. Aku yakin kau takkan pernah menduga bahwa artis ini atau artis yang itu ternyata adalah aku. Yah… kau pasti takkan dapat menduganya. Aku yakin itu. Karena memang tak ada seorang pun yang mengenal, mengetahui, dan mengerti tentangku.

Kecuali dia. Namanya Damar. Lengkapnya Damar Pikatan. Lelaki yang bagiku adalah ‘kehidupan’ baru setahun setengah menginjak dunia gemerlap kota metropolitan. Juga baru menyentuh lika-liku hidupku selama setahun. Masih setahun. Tapi ia sudah menorehkan coretan warna yang sedemikian tajam dalam kanvas hidupku – bahkan paling tajam yang pernah kurasakan.

Akulah Anjali Bintari. Siapa pula yang tak mengenalku? Seluruh pejabat negeri ini, bahkan presiden sekalipun pasti akrab mendengar namaku. Maksudku nama bekenku. Aku bahkan pernah mewakili negeri ini dalam banyak pagelaran seni dan festival bergengsi di berbagai negara di dunia. Akulah sang dewi, sang primadona negeri. Mataku telah kebal dengan kilatan blitz. Telingaku terlampau akrab dengan tepuk tangan dan puja-puji. Bibirku hanya terus menerus mengatakan keinginan. Lidahku hanya melulu mencecap kenikmatan. Tubuhku senantiasa termanjakan kenyamanan. Bagiku, ketenaran adalah topeng terindah meski untuk memilikinya perlu menggadaikan seluruh ruang dalam hidupku. Apapun dan siapapun yang kutemui selalu memberikan apapun yang kuinginkan.

Kecuali dia. Namanya Damar. Nama lengkapnya Damar Pikatan. Lelaki tegap bermata elang itu tak pernah sedikitpun tunduk dalam kekuasaanku, melainkan akulah yang dengan sukses bertekuk lutut tanpa syarat di hadapannya, meringkuk lemah tak berdaya dalam dekapnya. Tapi kadang ia membiarkanku merana sendiri di sudut dunia, meratapi kekalahan dan kegagalanku yang menghunus pilu. Aku menjerit. Aku lelah. Aku lapar. Namun Damar sama sekali tak bergeming. Bayangannya masih terpaku di sekelilingku, hanya menatap nanar dengan tubuh angkuhnya yang tak gentar.

Dulu, jika tak sedang sibuk dengan parade pameran lukisannya atau tak sedang memerankan tokoh dalam pagelaran teaternya, ia akan lebih senang menghubungiku. Dengan kata manisnya yang singkat, ia akan memintaku datang ke sebuah kedai kopi kecil favorit yang mampu menyembunyikan identitas ketenaran kami. Biasanya aku akan segera bergegas, kadang tak lagi peduli dengan jadwal-jadwal bajingan yang mengikatku erat-erat. Sesampai di lorong pelataran kedai yang tersembunyi itu, aku akan berlari-lari kecil – sesekali merogoh parfum dan menyemprotkannya di beberapa bagian tubuhku, kemudian menemuinya dengan raut wajah berbinar-binar – setelah melepas kacamata hitam maupun syal kerudungku. Seperti biasa, Damar yang tak banyak kata akan tersenyum padaku, mengembangkan kedua lengannya demi menyambut segenap pelukku. Meski gemericik pancuran yang menjadi dekorasi kedai itu terdengar mendominasi, tapi aku masih dapat mendengar jelas suara baritonnya berbisik lirih di telingaku, ‘aku kangen kamu, Sayang….’

Dulu, jika tak sedang sibuk dengan jadwal syuting ataupun undangan acara-acara sosialita, aku akan lebih senang mengurung diri di apartemen, mempraktekkan resep-resep menu spesial, menata meja makan seromantis mungkin, menata tempat tidur seindah dan senyaman mungkin, juga menata segala sudut di ruangan yang telah kutinggali sendiri bertahun-tahun. Ketika bel pintu berbunyi, aku yang telah merasa cantik dan wangi akan berlari-lari kecil dengan wajah berbinar, kemudian membuka pintu. Sosok Damar yang terbungkus jaket kulit berdiri tegap dengan senyum menawan. Rambut ikalnya yang sepanjang bahu terurai dan tampak sedikit acak-acakan, namun kurasa ia justru semakin tampan. Cepat-cepat kuseret ia masuk sebelum menutup rapat pintu apartemen. Aku menghujaninya dengan seribu ciuman, menguncinya dengan sejuta pelukan. Selanjutnya, kami hanya menghabiskan waktu seharian dengan hal-hal yang menyenangkan. Juga menikmati sajian senja yang membuka panggung malam. Juga menikmati kerlip lampu berwarna-warni di kejauhan. Juga menikmati erangan perasaan yang sedang kasmaran.

Tapi kalau boleh kukatakan, sebenarnya ada beberapa hal yang membuatku sedikit galau. Pada akhirnya aku menemukan sebuah foto dalam dompetnya. Foto yang memperlihatkan dua anak seusia kurang dari lima tahun yang sedang memamerkan deretan giginya, tersenyum ceria dan tampak bahagia. ‘Siapa?’ tanyaku, memberondongnya. Damar tak langsung menjawabnya, melainkan segera mengambil foto dan dompet di tanganku kemudian menaruhnya kembali di atas laci meja samping tempat tidurku. Dengan penuh kelembutan, ia meraihku, mengecup pelipisku, memelukku tanpa hasrat. Kudengar hembusan nafasnya yang terasa berat.

“Itu… foto anak-anakku…” jawabnya lirih, namun seolah tanpa beban ketika membisikkannya di telingaku.

“Jadi… kau sudah punya anak? Kau punya istri? Dimana mereka?” Suaraku mulai terdengar parau, nyaris tersedak ketika memuntahkan pertanyaan-pertanyaan itu. Tubuhku serasa menegang, nyaris memutuskan semua urat-urat syarafku.

“Aku meninggalkan mereka…” jawab Damar datar. Ada jeda diam yang hambar sebelum ia meneruskan kata-katanya. “Sudah, jangan bicarakan itu lagi, ya… Yang penting saat ini aku bersamamu…” Dan ia tak lagi memberiku kesempatan untuk memperpanjang persoalan.

Aku mencintainya. Mencintai sepenuhnya tanpa syarat. Ia menjajah seluruh hatiku. Aku tak mau tahu lagi apapun tentangnya selain cinta dan kasih sayangnya kepadaku. Aku tak peduli pula dengan segala asal-usulnya dan kisah-kisah hitam putihnya. Bagiku, kehidupan dimulai ketika kami bersama. ‘Toh ia sudah cerai…’ demikian asumsiku, yang kemudian membuatku tenang, merasa nyaman. Kini keberadaannya adalah untukku. Damar adalah sinar terang bagi hidupku yang lorong-lorongnya temaram. Aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk menghadirkan sosok Damar yang masih misterius dan rahasia bagi duniaku.

Hingga sebuah tabloid mendarat manis di sudut mejaku. Hingga rumor yang semula bisik-bisik santer itu kemudian meledak menjadi gosip dan konsumsi hangat tayangan-tayangan infotainment televisi. Hingga saat itulah kurasakan musibah yang meluluhlantakkan hidupku – tanpa seorangpun tahu.

‘Artis senior xxxxxxxxxxxx yang popularitasnya sedang meroket berkat kesuksesannya dalam film terbarunya xxxxxxxxxxx ternyata tak luput dari masalah berkat beredar foto-foto mesum di dunia maya yang diduga dirinya bersama seorang pejabat ternama. Foto-foto yang telah beredar luas tersebut sejauh ini masih diteliti pakar telematika untuk mengetahui keasliannya. Namun karena permasalahan ini, xxxxxxxx terancam dicopot dari jabatannya. ……………………….. (sch)

Kulempar tabloid ketiga puluh yang mengabarkan berita busuk tentangku yang kuterima sepanjang seminggu yang kelabu. Kumatikan televisi itu. Kubunuh juga dering ponselku. Kuhidupkan sunyi hingga tangisku menguasai sepi. Aku terisak. Merasa sendiri. Ingin segera mengakhiri. Namun hanya sosok Damar yang berkelebat di hati. Apa yang bisa kulakukan? Dengan jiwaku yang sekarat, bahkan menghubungi nomor ponsel Damar pun adalah sebuah kesalahan. Keputusan yang terangkai dalam penuturan suratnya beberapa hari lalu lalu masih terngiang jelas di benak. Apa yang bisa kulakukan? Apa lagi yang bisa kulakukan, Jahanam!!!

Aku takkan munafik bahwa aku sayang kamu. Aku cinta kamu, Anjali. Tapi kuharap kau dapat mengerti bahwa kita tak bisa bersama. Dunia kita berbeda. Meski aku bisa mendekap tubuhmu, tapi aku tak sanggup merengkuh duniamu, hidupmu. Aku sama sekali tak membicarakan atau terpengaruh gosip yang sedang menerpamu. Bersabar dan tegarlah. Aku percaya kamu.

Hanya saja, kali ini aku harus jujur semata-mata karena aku sayang padamu. Aku akan pergi, Anjali. Pergi meninggalkan kota ini, meninggalkan kamu, juga mengakhiri percintaan kita. Aku akan kembali pada duniaku yang dulu, mencoba merakit kembali jalan yang benar bersama mereka yang telah kutinggalkan. Tak perlu kau tanya mengapa jika kau memang mencintaiku.

 Kau masih muda, punya segalanya, dan masih memiliki peluang untuk hidup bahagia. Pilihlah jalan yang mampu membahagiakanmu, karena aku membebaskanmu. Maafkan aku jika hal ini terjadi… Tapi sungguh, aku cinta kamu. Setelah aku pergi, kumohon untuk jangan pernah menghubungiku, ya… Kumohon dengan sangat… Jika kau benar-benar mencintaiku, maka berdoalah untuk perjalanan bahagia yang akan kutempuh di hari depan…

Selalu akan ada doa untukmu…

                                                                    Always love you,

 

                                                                  Damar Pikatan

Aku mengerang, aku meratap, aku mengamuk sejadi-jadinya. Gempa di tubuhku meledakkan amarahku. Genangan airmataku tak lagi berarti. Damar tak bergeming. Ia tetap pergi dengan hanya meninggalkan sisa kehangatan terakhir yang kemudian kuingat dengan keras. Kecupannya yang sempat kurasakan manis mulai terasa seperti menghunjam ulu hatiku, memuncratkan darah hidupku yang kini kuketahui telah menghitam.

Damar meninggalkanku tepat di saat lukaku sedang menganga lebar, saat kedua kaki semangatku patah, saat seluruh asa dan harapanku kandas menjadi arang. Ingin rasanya aku memohon pada bumi untuk menguburku dalam-dalam. Namun televisi dan perbincangan orang-orang terus membumbungku ke langit tertinggi. Mereka pikir aku akan baik-baik saja meski beberapa hari ke depan aku harus memenuhi panggilan polisi untuk penyidikan. Namun mereka tak pernah berpikir bahwa aku masihlah seorang Anjali Bintari yang menatap ilusi bayangan Damar, yang berpendar tak terjangkau bagai bintang di surga — sementara diri sendiri tersuruk mencium bumi, mencoba menyatu dengan tanah, merumuskan rasa bersalah, dan menyerah kalah.  ***

Masih ku merasa angkuh
Terbangkan anganku jauh
Langit kan menangkapku
Walau ku terjatuh

Dan bila semua tercipta
Hanya untukku merasakan
Semua yang tercipta
Hampa hidup terasa

Lelah tatapku mencari
hati untukku membagi
Menemani langkahku namun tak berarti

Dan bila semua tercipta
Tanpa harus ku merasakan
Cinta yang tersisa
Hampa hidup terasa

Bagai bintang di surga
Dan seluruh warna
Dan kasih yang setia
Dan cahaya nyata

Oh bintang di surga
Berikan cerita
Dan kasih yang setia
Dan cahaya nyata

 (Bintang di Surga – Peterpan)

Juli 2012

(dalam rangka meramaikan ajang menulis hore #cerpenpeterpan via @wira_panda)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s