Tentang Pertemuan yang Terselip…

Pernahkah engkau mengharap sebuah pertemuan dengan seseorang?Tentunya adalah pertemuan yang indah, yang berakhir bahagia

Saya rasa, setiap orang pasti pernah mengalami masa seperti ini. Masa mengharapkan pertemuan. Dan hukumnya, semakin kuat kita mengharap pertemuan tersebut, semakin dalam perasaan yang berkecamuk di hati.

 

Berbicara tentang pertemuan, saya pun punya kisah tersendiri mengenai  ini.

Tak beda dengan engkau, atau dengan siapa saja, saya pun mengharap sebuah pertemuan. Tepatnya pertemuan dengan seseorang. Kendati demikian, apa yang saya harapkan adalah sebuah pertemuan yang sempurna, pertemuan tanpa ada rasa terpaksa, tanpa ada rasa kikuk, tanpa ada rasa bersalah di hati. Juga bukan pertemuan di saat yang tidak tepat, pertemuan yang tak meninggalkan kesan apapun atau malah pertemuan yang membawa persoalan. Saya hanya mengidamkan pertemuan yang menyenangkan, melegakan, dan membahagiakan.

Dengan membabi buta, saya berpegang teguh pada keyakinan kuat — bahwa suatu saat nanti, pertemuan itu pasti akan terjadi. Entah bagaimana caranya, saya tak lagi sanggup mengimajinasikannya. Kalaupun saya mengadakan berbagai usaha, sesungguhnya itu hanya untuk menggenapi kesempurnaan doa dan harapan.

Sebenarnya jika saya memang hendak memaksakan diri, sangat mudah untuk mewujudkan pertemuan itu. Bahkan jika saya mau, hanya dalam waktu satu jam ke depan saja saya sudah dapat bertemu dengannya. Namun bukan itu yang hati saya inginkan. Saya hanya menginginkan sebuah pertemuan yang ikhlas. Maka saya pun tak hendak merayu-rayu atau memaksanya supaya mau bertemu dengan saya. Andai saya memang harus merayu, maka biarlah saya merayu Yang Memiliki Ruh dan Jiwanya. Jika saya harus melakukan berbagai macam upaya, maka biarlah saya melakukan banyak hal untuk-Nya yang mampu membengkokkan atau meluruskan hatinya. Demikianlah…

 

Namun entah, akhir-akhir ini saya merasa sedang diuji. Ego dan kesabaran yang diuji. Andai fragmen kehidupan saya tertayang dalam sebuah sinetron, barangkali jika saya pun sebagai penonton, maka saya akan terlonjak-lonjak di sofa dan menggigiti bantalan kursi lantaran gemas.

Hingga saat ini, pertemuan itu belum terjadi. Namun ajaibnya, selalu nyaris terjadi.

Di hari Senin, saya berencana pergi ke perpustakaan umum. Namun tiba-tiba saya berubah pikiran begitu saja, dan membatalkannya. Akhirnya, tanpa direncanakan, saya malah pergi ke gala pertunjukan. Perihal keputusan-keputusan yang berubah secara tiba-tiba itu sebenarnya sudah menjadi tabiat saya.
Namun sungguh, siapa yang sanggup menyangka kalau ternyata seseorang yang ingin sekali saya jumpai justru pada hari tersebut pergi ke perpustakaan umum!

Atau… di hari Kamis, saya pergi ke taman kota pada pukul 15.00 hingga pukul 16.00. Ternyata seseorang yang ingin saya jumpai pun mengunjungi taman kota tersebut. Hanya saja, ia tiba pada pukul 16.15, saat saya sudah meninggalkan tempat tersebut…

Akhir-akhir ini, kejadian seperti ini begitu sering terjadi. Bahkan pernah berlangsung hingga tiga hari berturut-turut. Jika hanya sekali dua, barangkali saya tak terlalu memikirkannya. Namun kenyataannya, ini benar-benar terjadi berkali-kali, dan bertubi-tubi. Takkan saya pungkiri bahwa itu sempat membuat dada saya terasa sesak. Seandainya gejolak di hati saya bertanya, ‘ada apa ini sesungguhnya?’ — maka sepertinya pertanyaan tersebut lebih tepat saya alamatkan kepada semesta.

Seperempat diri saya menyesali, mengapa saya tak jadi ke perpustakaan umum atau mengapa saya tak berlama-lama sejenak di taman kota. Mungkin seandainya begitu, saya akan dapat bertemu dia. Namun jika dipikir secara logis, siapa pula yang bakal mengetahui kemungkinan yang ‘nyaris’ ini ?
Sementara itu, tiga perempat dari diri saya berteriak-teriak lantang mengingatkan; “ini adalah ujian dan cobaanmu sebelum engkau dipertemukan dengan cara yang bahagia. Seberapa sabar-kah dirimu! Seberapa besar-kah asamu! Seberapa kuat-kah engkau menjaga dirimu!”

Maka akhirnya saya pun memutuskan untuk teguh dengan keyakinan saya ‘bahwa pertemuan yang indah itu pasti akan tiba di saat yang lebih tepat’, serta mempergiat doa dan rayuan pada Yang Memiliki Hatinya.

Bibir hanya mengejawantahkan ucapan hati — yang terus-menerus merapal harapan akan pertemuan.

Tentang bagaimana saya ataupun dia (bisa-bisanya) memikirkan tempat yang sama, selama ini saya memegang teguh keyakinan bahwa sesungguhnya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Hanya saja, kadangkala kita tak pernah atau sulit mengerti bahwa semesta kerap memiliki sebuah permainan tersendiri untuk manusia. Permainan yang sesungguhnya lebih seru dan lebih menarik dari rencana sempurna manusia. Pengetahuan dan logika kita saja yang terbatas. Demikian pula dengan kesabaran.

Atau barangkali dapat pula terjadi kemungkinan bahwa sesungguhnya hati kami telah dipersambungkan. Pikiran-pikiran bawah sadar kami saling berbicara dan bersahutan melalui dimensi tak kasat mata. Semesta memantulkan tiap getaran harapan yang terucap dengan caranya sendiri. Hanya jiwa kita saja yang masih terlampau kasar, sehingga tak peka dengan apa yang sedang terjadi. Bisa jadi… Bisa jadi begitu, bukan ? 😀

Seandainya selipan-selipan pertemuan itu terjadi lebih banyak lagi, lebih sering lagi, maka itu akan semakin meyakinkan saya bahwa Sang Sutradara Kehidupan sedang menyusun skenario yang indah untuk suatu saat yang lebih tepat nanti. Apapun kehendak-Nya adalah benar-benar di luar kuasa saya. Kemampuan saya hanya sebatas berusaha sekuat dan sekeras mungkin untuk senantiasa menjadi tokoh protagonis di hadapan-Nya.

 

Kalaupun hingga detik ini saya masih menggenggam erat harapan, itu hanya berfungsi untuk lebih memperpanjang hidup  saja. Hanya dengan harapan maka kita dapat menghidupkan diri kita…

 

Mari kita nantikan pertemuan itu — seberapa pendek atau panjang waktunya.
Karena sesungguhnya yang memperpanjang harapan adalah imajinasi tentang pertemuan….

“Seandainya kita bertemu, engkau harus tahu bahwa kejadian itu bukan semata keajaiban, melainkan adalah perjuangan.. buah perjuangan doa…

sumber gambar : redbubble.com

Advertisements

4 thoughts on “Tentang Pertemuan yang Terselip…

  1. ya ya, setuju, Dia melalui semestaNya memang selalu memiliki caranya sendiri…. *pun merapal doa untuk suatu ujung cerita*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s