RUMAH

Seperti apa rasanya saat berada di rumah?

Dimanakah rumah kita? Rumahku? Rumahmu?

Jujur saja, hingga sekian lama, sulit bagi saya untuk mendefinisikan dan menerjemahkan ‘rumah’ secara tepat dari bahasa hati saya. Maka itu, di suatu siang yang penuh kelonggaran, tanpa hujan di bulan juni atau tanpa senja yang membungkus bumi, saya bertanya pada para sahabat di twitter — apa definisi rumah bagi mereka, dan seperti apakah bentuk rumah ideal dalam benak mereka.

jawaban-jawaban menarik itu antara lain :

@erdekarini : rumah adalah tempat dimana kita bisa bebas menjadi diri sendiri dengan baju terjelek sekalipun..

@shantyadhitya : tempat aku menyambut suami pulang dgn senyum, walau ia pulang dgn bt n capek…

@annytasumarya : tempat ternyaman walaupun kondisi se-amburadul apapun…

@inooong : ada ayah, ada ibu, aku, kedua kakakku, adik, dan kami bahagia di dalamnya…

@teh_inong : Rumah yg ideal adlh rumah yg membuat semua penghuninya selalu rindu untuk pulang…

@yunita_rahma : yang selalu ada senyum walau perih, selalu ada kata dan cerita sehingga ikatan penghuninya lebih kuat… yang mungil, cukup untuk anggota keluarga, yang punya halaman walau tak lebar, ada pohon mangganya… πŸ˜€

@putrasennovbil : rumah yang menawarkan keindahan rohani kak πŸ™‚

@meydianmey : “RUMAH” adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang setia memikirkanmu (Naruto) ☺

@GunKuarve : medium, tenang, minimalis, sejuk, teduh, full sama entertainment, plus 3 penghuni dan itu keluarga

@hajjarKhaliz : Yang ada pintu kemana saja πŸ˜€

@SeiraAiren : Rumah adalah, tempat yang membuatmu melupakan apa yang kau kerjakan diluar

@annisa_anggiana : Rumah yang ideal adalah yang dibagi dengan orang2 yang dicintai.. Home is where the heart is.. πŸ™‚

@Andry_Tulung : yg ideal buat ane seh, yg memiliki halaman yg asri n rindang.. n berpagarkan tanaman.. Tdk terlalu besar

@Ra_nana87 : tempat yg paling dituju & dirindukan disela-sela hiruk pikuk dunia. Rumah membuat kita memahami makna kata “pulang”

@kira_gitu : rumah ideal adalah berisi keluarga yg saling menyayangi ga peduli bentuk rumahnya

@ariansilencer : rumah ideal adalah yang dihiasi dengan kecintaan pada Tuhan

@Djuita_Djui : Rumah dgn banyak ventilasi dan taman kebahagiaan

@atriasartika : punya taman yg luas,jendela yang besar, & setiap dinding di ruang keluarga terdiri dari rak yg penuh buku hingga langit2

@Sesihel : ga perlu ada kolam renang. Yang penting suasananya adem, baik karna pohon rindang atau suasana keluarga yg damai

@ahkeram : ada tempat dimana kita bisa merasakan alam buatan kita, seperti tanaman dan tempat hewan..

@juzzyoke : tempat dmn kita selalu ingin pulang kembali. Kalau tdk ada rasa ingin pulang, maka rumah itu hanya bersifat fungsional,tdk ideal

@HestiDewi : sederhana tetapi di dalamnya penuh kehangatan dan kasih sayang πŸ™‚

 

Dari jawaban-jawaban tersebut, kiranya dapat saya simpulkan bahwa

— rumah adalah yang membuat kita merasa nyaman —

Bentuk rumah yang seringkali akrab bagi saya adalah rumah yang besar, dengan halaman yang luas, taman yang asri, jendela yang lengkap, tinggi atap yang proporsional, angin sepoi yang bebas keluar masuk, beberapa binatang peliharaan, hingga kenyamanan-kenyamanan lain yang tersaji di dalamnya.

Namun nyatanya, saya seringkali dihinggapi pertanyaan galau dalam diri saya; “benarkah ini adalah ‘rumah’ saya?”

Kebetulan saya adalah seorang yang dikaruniai kegelisahan sepanjang waktu. Kegelisahan-kegelisahan yang kerap mencengkeram benak dan batin saya menjadikan saya tak sedemikian tenang menikmati sajian ‘rumah’. Hal-hal yangΒ  benar-benar sanggup menghibur saya adalah mimpi (ketika tidur) dan angan-angan (ketika terjaga). Selebihnya, saya senantiasa terjerembab dalam kubangan berbagai pertanyaan dan pencarian.

Saya paham, senyatanya hidup ini hanyalah melulu berisi masalah. Demikianlah Tuhan menakdirkan hakekat kehidupan di dunia. Tanpa masalah, manusia takkan mendapat jalan pencerahan. Tanpa masalah, manusia takkan dapat menemukan jawaban. Dan tanpa masalah, Tuhan takkan dapat menentukan mana yang pantas dikasihsayangi atau sebaliknya.

Namun setiap kali saya terganggu oleh kecamuk-kecamuk yang tak juga surut, saya cenderung untuk melangkahkan kaki, kemanapun. Barangkali inilah salah satu penyebab yang membuat saya menjadi sosok yang cenderung berpetualang dan berperjalanan. Dimanapun, kemudian saya mencoba untuk menciptakan ‘rumah-rumah’ saya sendiri. Saya mencoba menyamankan diri dengan dunia kecil saya. Menikmati kamar saya, ruang-ruang saya, menyerap kesederhanaan atau kenestapaan saya, atau sekedar mereguk beberapa teguk cinta, kepuasan, dan kedamaian fana.

Namun lagi-lagi saya demikian sulit untuk terus merasa damai dengan apa yang ada. Bahkan kenyamanan dan kenikmatan yang saya usahakan sendiri pun pada akhirnya seperti semacam mainan yang pada saatnya saya sudahi karena merasa bosan atau barangkali merasa sudah waktunya melakukan aktivitas lain. Bagaimanapun, ‘mainan’ bukanlah apa yang benar-benar saya pikirkan meski membuat saya merasa nyaman dan terhibur. Saya masih sedemikian mencandu pada kegelisahan yang terus menggelinjang. Sampai pada satu saat, saya mencoba untuk menapak ‘pulang’. Benarkah dengan ‘pulang’ saya akan menemukan ‘rumah’? Saya kembali menyusuri titik-titik yang pernah saya lalui, atau yang pernah saya hinggapi.

Kenyataannya tak sesederhana itu. Barangkali karena jiwa saya yang terlampau ringkih, maka kegelisahan itu masih saja merajalela. Ada saat-saat dimana saya menemukan ‘rumah’ yang terlalu ‘hiruk-pikuk’, ada saat-saat dimana saya menemukan ‘rumah’ yang ‘tak ada siapa-siapa’ di dalamnya.

Hingga pada satu titik, saya menyimpulkan bahwa sesungguhnya saya tak memiliki ‘rumah’ dimanapun jika yang saya harapkan adalah sebuah rumah yang mampu menghabisi semua kegelisahan saya. Di mata saya, semesta hanya menawarkan perjalanan dan terus-menerus perjalanan. Sedangkan kita hanyalah jiwa-jiwa pengembara yang sebagian terlalu pintar atau sebagian terlampau bodoh. Adakalanya semesta tertawa terbahak saat kita hanya memiliki kaki-kaki kecil untuk menyusuri sepanjang lika-liku perjalanan, dan adakalanya semesta mencibir sinis saat kita justru memiliki terlalu banyak kendaraan canggih. Ada beberapa yang lebih berminat menikmati sepuas-puasnya setiap persinggahan, ada beberapa yang sibuk memunguti batu-bata demi membangun ‘rumah’ masa depan.

Sementara bagi saya, ‘rumah’ dapat saya temukan hanya pada saat saya menutup mata. Rumah yang mewujud dalam mimpi dan imajinasi, atau rumah yang mewujud saat tiba akhir perjalanan saya. ***

Advertisements

3 thoughts on “RUMAH

  1. Kadang jawaban buat semua misteri jalan hidup dan segala pertanyaan lain ttg keberadaan kita itu sederhana : We simply don’t know..

  2. rumah itu tempat kembali, bukan hanya saat kita terlelah tapi saat kita memiliki kebahagiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s