Penjaga Kubur

Kira-kira, apa yang akan terjadi padamu jika selama beberapa hari berturut-turut berjumpa dengan seorang wanita cantik di sebuah pemakaman? Bukan sembarang wanita, karena kalau boleh kukatakan, ia mampu menggetarkan urat jantungmu.

Baiklah, aku akan memberitahumu apa yang sudah kulakukan saat kejadian itu berlangsung. Dengan segala kecerdikan dan kesempatan yang kupunya, aku menyamar menjadi tukang bersih-bersih kuburan! Profesi itu memang tak terlalu bagus meski sebenarnya memiliki nilai jasa yang tak bisa disepelekan. Namun jika tidak menggunakan cara ini, tentu saja aku takkan dapat lebih mendekati wanita cantik itu. Aku benar-benar cerdik, bukan?

Asal kau tahu, hatiku kerap berdebar-debar tiap berada di pemakaman yang letaknya persis di depan rumahku itu. Tapi jangan pula kau terheran-heran untuk apa aku ada di pemakaman itu, dan jangan pula asal menuduh bahwa aku rajin kesana hanya untuk menemui wanita cantik itu. Meski tampaknya aku tak dapat mengelak bahwa aku menjadi rajin memang karena wanita itu, namun sebenarnya tak semata-mata demi bertemu dengannya.

Makam ayahku berada di pemakaman itu. Sebagai satu-satunya anak lelaki, aku berkewajiban menjaga dan merawat makam beliau. Terutama demi menghibur ibuku, supaya hatinya senantiasa merasa tenang dan senang. Kesetiaan ibuku memang mengagumkan, meski kematian telah menggusur sebagian kebahagiaannya. Baginya, ayah sekedar pindah rumah, dan aku harus benar-benar menjadi pengurus rumah yang baik. Rumah ibuku yang masih hidup, dan juga rumah ayahku yang telah meninggal.

Sejak meninggalnya ayah lima belas tahun lalu, pohon kamboja dan deretan nisan-nisan itu menjadi sahabat terdekatku. Jika sedang gundah, atau merasa lelah, tak jarang aku bercakap-cakap dengan mereka sementara tangan-tanganku sibuk menyiangi rumput dan semak liar yang bertumbuhan di sekitar. Apa saja yang kupercakapkan? Biasanya lebih banyak keluhan hidup, selebihnya mengenai ketidakmengertian tentang apa saja. Rutinitas macam ini kulakukan dua minggu sekali. Nyaris menyaingi juru kunci yang kemudian merasa senang memiliki sekutu.

Namun kira-kira sejak empat bulan lalu, frekuensiku mengunjungi pemakaman itu semakin menggila. Pasalnya, tiba-tiba muncul sosok yang sebelumnya tak pernah kulihat, dan kemudian ia nyaris mengalahkan kerajinanku. Bukan saja soal begitu seringnya ia mengunjungi makam itu yang menyedot perhatianku, pun karena sosok itu adalah seorang wanita yang cantiknya luar biasa. Setidaknya menurut penilaian dan seleraku.

Memang banyak sosok-sosok asing yang kutemui sepanjang berada di pekuburan umum itu. Maklumlah, pekuburan itu tak hanya dipakai oleh warga yang tinggal di sekitar saja. Penduduk yang berdomisili lebih jauh pun dapat memilih pekuburan itu asalkan ‘harga’ terpenuhi. Akhir-akhir ini, lahan kuburan memang mulai menjadi problema. Saat lahan-lahan di tengah kota dan kawasan padat penduduk telah habis oleh pembangunan ruang-ruang yang lebih bernilai komersil, hanya lahan di wilayah kami lah yang masih memiliki beberapa jengkal tanah yang masih lowong beberapa petak.

Wanita semampai itu tampak perlente dengan gayanya yang anggun sekaligus mempesona penglihatanku. Kacamata hitam besarnya cukup berhasil mengelabui mendung yang bermuara dari kedua bola matanya. Namun aku dapat melihatnya dengan hatiku, bahwa ia menyimpan sebongkah kesenduan yang membiru.

Dari jarak yang tak terlalu mencolok perhatiannya, kulihat ia bersimpuh khusyuk di samping pusara yang lama tak terurus, namun masih memiliki nisan yang tegak lurus. Ia bersimpuh cukup lama disana. Kadang kulihat bibirnya gemetar, seolah ia sedang bercakap-cakap dengan nisan yang diam. Jika tidak, ia hanya menabur beberapa genggam kelopak bunga yang dibawanya atau sekedar meletakkan seikat kembang segar bertangkai di atas gundukan pusara. Ritualnya berlangsung sekitar tiga puluh menit, kemudian ia pergi begitu saja.

Dua hari kemudian ia datang lagi. Seperti hari pertama, seikat kembang yang masih segar menjadi buah tangan untuk sebuah pusara. Ia meletakkan ikatan indah itu dengan jemari putihnya yang lentik dan lemah gemulai. Dugaanku, ia adalah wanita ningrat jika bukan golongan kaya yang tak pernah bersentuhan dengan rumput dan tanah sepertiku. Penampilannya selalu terjaga, kecantikannya senantiasa tertata. Siapa yang takkan terpesona oleh auranya? Seperti kali ini, ia mengenakan gaun hijau tua sepanjang betis, sedang kerudungnya masih setia berwarna hitam. Tapi kali ini aku beruntung telah berhasil mencuri lihat paras wajahnya tanpa kacamata hitam besar itu – yakni saat ia sedang berusaha mengusap tetesan air mata yang sepertinya tak hendak ia tampakkan. Wow! Benar dugaanku, ia wanita yang teramat cantik, meski rona wajahnya terlihat pucat. Barangkali karena kulitnya demikian putih tak serasi dengan mendung yang sedang menjadi make-upnya.

Sementara ia duduk terpekur menghadap pusara, aku jadi merasa enggan untuk meninggalkan makam ayahku, padahal benar-benar sudah tak ada sebatang rumput pun yang tumbuh mengotori makam ayah. Tapi pintarnya aku, yang kemudian berpura-pura menggali dan mengorek tanah-tanah sekitar dengan jari-jari kasarku, seolah sedang menelusuri cikal bakal rumput liar supaya tak sempat mengakar.

Wanita itu tampak kerasan, tak kunjung beranjak hingga langit yang menggantung mendung menggugahnya untuk segera meninggalkan pemakaman itu. Namun sungguh sebuah kesempatan ketika akhirnya ia sempat menoleh padaku, dan olalaa… ia pun tersenyum manis, meski kecil saja. Refleks aku membalas senyumnya dengan tingkah sedikit kikuk. Dalam hati, aku berdoa supaya tak terlihat memalukan di matanya.

Jangan terkejut jika kemudian kukatakan bahwa wanita itu mengunjungi pemakaman nyaris setiap hari, dan ini sudah hari kelima. Tentu saja aku sudah mengetahui namanya. Ceritanya begini. Pada hari keempat, sewaktu ia hendak pulang, akhirnya perhatiannya pun tertumbuk padaku. Setelah sekian lama, memang baru kemarin ia memperhatikan keberadaanku. Tapi itu sungguh tak mengapa. Diperhatikan wanita cantik macam dia, meski harus menunggu demikian lama pun bukanlah masalah.

Saat itu, seperti biasa, aku membersihkan makam ayah yang sebetulnya sudah bersih. Namun demi terlihat tak dibuat-buat, aku pun bergeser ke tempat lain, membersihkan makam orang lain yang bersebelahan dengan makam ayahku. Sejenak ia memandangiku, barangkali sedikit tertarik dengan aktivitasku.

“Eh… maaf, apakah Anda yang berjaga di pemakaman ini? Saya sedang membutuhkan orang yang bersedia membersihkan makam itu,” katanya, seraya menunjuk pada pusara yang senantiasa diajaknya bercakap-cakap saban hari.

Aku tak segera menjawab karena terlampau kaget dengan keramahannya yang sekonyong-konyong. Tepatnya merasa gugup. Namun untunglah senyumku terbit secara refleks, mengimbangi kekikukanku yang tak tertolong. Aku benar-benar merasa malu padanya lantaran penampilanku yang tak dapat dikatakan bagus. Ia pasti menganggapku sebagai tukang bersih-bersih kuburan, karena selama ini tanganku pun tak pernah lepas dari sabit, sapu korek, dan rumput-rumput liar. Memikirkan dugaan ini, sebenarnya ada sedikit rasa gusar karena kurasa ia telah menganggap kedudukanku sedemikian rendah. Tidakkah ia dapat melihat pancaran auraku yang seharusnya terlihat jelas lebih berbobot daripada Mang Ujang, tukang bersih-bersih betulan yang hanya jebolan sekolah dasar? Tapi aku harus berpikir cepat dan segera bertindak. Kesempatan seperti ini nyaris seperti keajaiban. Sempat kupikir ia hanyalah seorang wanita cantik yang angkuh seperti kebanyakan. Namun lihat! Dia benar-benar menyapaku! Oke, tepatnya bukan menyapaku dengan cara ramah seperti yang kuimpikan, melainkan sekedar bertanya — apakah ada seseorang yang bersedia ia pekerjakan untuk merawat dan membersihkan makam yang dikunjunginya itu.

Kegeniusanku dalam berpikir cepat melahirkan tindakan yang sebenarnya di luar sangkaanku. Setelah membalas senyumnya seramah mungkin, aku rela merendahkan diri dengan mengatakan bahwa ia dapat mengandalkanku jika memang menghendakiku membersihkan makam yang dikunjunginya dengan teramat rajin itu.

“Terima kasih, ya…” katanya dengan ekspresi yang terlihat lega. Kemudian ia merogoh tas hitam perlentenya dan mengeluarkan selembar seratus ribu yang kemudian ia berikan padaku.

“Ah, jangan dulu, Neng… Saya masih belum melakukan apa-apa. Nanti saja kalau saya sudah terbukti bekerja. Kalau dikasih sekarang, saya jadi merasa tidak enak …” Dengan segala keramahtamahan dan kerendahatianku yang kubuat sedemikian mengagumkan, aku berupaya untuk menolak upah darinya.

“Baiklah, terima kasih, ya… Besok saya akan kemari lagi. Mmm.. barangkali akan setiap hari.” katanya sembari memasukkan kembali uangnya ke dalam tas. “Oh ya, ngomong-ngomong, siapa namamu?” Ah, akhirnya ia penasaran juga denganku.

“Riswan, Neng…” jawabku lirih.

“Riswan, apa kamu tinggal di dekat sini?”

“Rumah saya tepat di depan pemakaman ini, Neng… Itu, yang bercat hijau… Pasti kelihatan kalau dari gerbang pemakaman.” jawabku seraya menunjuk sopan ke arah posisi rumahku.

“Oh, ya… Saya pernah tahu. Kalau ada perlu apa-apa, boleh saya mencari kamu di rumahmu?”

“Silakan saja, Neng… Rumah saya selalu terbuka. Saya pun jarang kemana-mana.” Dalam hati, aku semakin girang mengetahui bahwa aku akan lebih sering bertemu dengannya, wanita cantik ini.
Tapi kemudian lekas aku teringat bahwa aku masih belum tahu perihal namanya. Padahal ini benar-benar sangat penting. “Maaf, kalau boleh tahu, Nama Neng siapa?” Tanyaku sedikit malu-malu.

“Nama saya Kemala.”

Kalau boleh kuungkapkan keherananku, aku tak habis pikir mengapa Kemala setiap hari mengunjungi makam itu. Sudah nyaris dua minggu, dan ia menunjukkan kesetiaan yang memukau pada makam itu. Sungguh aku merasa penasaran, ada apa di balik perilakunya yang menurutku berlebihan. Sepanjang pengetahuanku, tak ada peziarah yang serajin itu. Sumpah, benar-benar tidak ada! Bahkan banyak makam-makam yang sama sekali tak pernah diziarahi, terbengkalai dengan mengenaskan.

Dugaanku, Makam yang diziarahinya saban hari itu adalah makam seseorang yang dikasihinya, dicintainya. Barangkali suaminya, karena ia tak pernah mengajak siapapun. Ia duduk dan berdiri sendirian saja. Kadang aku merasa kasihan, seolah-olah melihatnya sedang tertekan.

Maka pada suatu hari, dengan setengah keberanian yang berhasil tersamarkan oleh sore yang redup, aku mendekatinya. Hasrat ingin tahu lebih banyak tentangnya mendesak-desak egoku.
“Maaf, Neng… kalau boleh tanya, makam siapakah ini? Kok rajin benar ziarahnya…” tanyaku pelan, sesopan mungkin, dengan harapan tak terlalu mengganggunya.

Ia mendongakkan kepala, kemudian menatapku sambil tersenyum, seolah-olah ia telah benar-benar mempersiapkan diri untuk pertanyaan macam ini. “Ini makam suami saya. Sudah meninggal enam tahun lalu.” Setelah itu, ia kembali melanjutkan doa-doanya. Aku tak lagi berani mengganggu, memilih berlalu dari hadapannya.

Namun sejak saat itu, perkenalan kami jadi sedikit lebih luwes. Tak melulu sekedar sapa kering dan senyum basi. Adakalanya dia mengajakku bercakap-cakap, menanyakan beberapa hal padaku, tentangku. Yang jelas ia mulai tahu bahwa aku bukan tukang bersih-bersih kuburan betulan. Tapi untunglah ia tak memecatku. Dengan kebaikan hatinya, ia tetap membiarkanku membersihkan makam itu secara rutin. Kadang ia memberiku uang. Namun ketika kutolak, ia mengancam tak membolehkanku membersihkan makam lagi. Jadi terpaksa kuterima saja. Yang penting hatinya merasa lega. Karena jujur saja, aku mulai lebih banyak memikirkannya. Bahkan yang lebih jujur lagi, aku pernah memimpikannya.

Namun suatu kali aku mendapat lebih banyak informasi tentangnya. Tak perlu kau banyak tanya kapan itu terjadi, namun yang jelas terdapat satu hari dimana kami dapat mengobrol lebih panjang dan lebih dekat.

“Wah… pasti suami Neng Kemala adalah seorang yang sangat baik, sampai-sampai Neng sedemikian rajin berziarah ke makamnya. Betapa beruntungnya beliau. Ah, cinta bahkan seringkali melebihi kematian,” komentarku pada suatu hari, dengan harapan dapat membesarkan hatinya. Namun tiba-tiba aku teringat ibuku. Kurasa ibu pun adalah seorang yang setia meski tak setiap hari mengunjungi makam ayah.
“Kalau boleh tahu, meninggalnya karena apa, Neng? Apa sakit keras?”

Sejenak ia terdiam. Sorot matanya menerawang, bersaing dengan daun-daun kamboja yang terbang tanpa tujuan. Perubahan ekspresi wajahnya ini membuatku jadi merasa salah tingkah. Jangan-jangan pertanyaanku membuka kembali balutan kesedihannya. Buru-buru aku mencoba menetralisir perasaannya yang barangkali sedang mengharu biru. Aku tak ingin melihatnya semakin terlarut dalam kesedihan.

“Setiap manusia pasti akan menjumpai kematian. Yang menjadi perbedaan, apakah ia menjumpai kematian dengan tangan kosong atau dengan genggaman yang penuh bekal. Saya yakin, suami Neng akan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.”

“Entahlah… Aku selalu berdoa semoga Tuhan memaafkannya. Ia mati karena sakit. Hati dan jiwanya yang sakit. Jika tidak begitu, ia tidak akan memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara tragis.”

Aku sempat terkesiap oleh penuturannya. Kucoba untuk tak lagi terlalu mengorek banyak hal tentang masalah yang sepertinya sangat sensitif baginya, namun rupanya malah ia sendiri yang kemudian membuka tabir kenangannya di hadapanku.

“Semua itu adalah karenaku. Karena cintanya padaku yang gila…” sambungnya kemudian, setelah kesenyapan melingkupi kami untuk sesaat. “Apakah kau ingin mendengar ceritaku lebih banyak, Riswan?”
Aku tak menjawab. Kupikir ia sedang tak hendak diinterogasi dengan cara yang bodoh. Namun aku yakin bahwa jiwanya sedang ingin melampiaskan, ingin dilegakan. Maka kubiarkan saja ia yang mulai bercerita padaku.

“Ia begitu cinta padaku. Cintanya sangat berlebihan. Ia memuaskan dirinya dengan siksa, tangis, dan ketakutanku. Aku takkan pernah lupa kejadian itu. Pengabdianku tak pernah sempurna di matanya. Terlebih kesetiaanku, yang menurutnya adalah kamuflase belaka. Puncaknya, ia menuduhku menduakan cintanya. Kemudian ia nyaris membunuhku, mencekikku, setelah beragam siksa yang bertubi-tubi. Syukurlah Tuhan menyelamatkanku sehingga aku berhasil lolos. Tapi ia tak tahan dengan kesendirian sekaligus rongrongan. Ia tak biasa tanpaku. Akhirnya ia memilih caranya sendiri melalui tali yang menggantung lehernya.”

Sesaat ia terdiam, seperti hendak menunggu sesuatu. Kulihat ia menghirup nafas yang nampaknya mengalir berat dalam saluran pernafasannya. Sungguh, apa yang diceritakannya padaku benar-benar mengejutkan. Sebuah drama kehidupan yang membuatku merinding. Benar-benar tak kusangka bahwa wanita secantik dia menyimpan luka dari cerita horor yang menghantui tahun-tahun hidupnya kemudian.

“Meski ia suamiku, sulit bagiku untuk memaafkan segala perbuatan yang telah ia lakukan. Bertahun-tahun sudah berlalu, dan mimpi-mimpi buruk tentang cintanya masih senantiasa mendatangiku. Namun di sisi lain, waktu telah mengajarkanku banyak hal. Sia-sia saja terus-menerus menabur benci kepadanya, karena toh ia telah pergi. Sebenarnya kebencian itu bukan tertuju pada siapa-siapa, melainkan sekedar menggerogoti kewarasan diri kita sendiri. Waktu pula lah yang mengajariku lamat-lamat untuk menghargai cintanya yang demikian besar. Jika bukan aku, maka siapa lagi? Adakalanya kita terlampau sibuk mencintai sehingga menjadi manusia-manusia arogan yang tak pernah menghargai pemberian cinta.”

“Semoga Tuhan melapangkan jalannya….” gumamku lirih.

“Ya, aku juga berharap begitu. Semoga ia bahagia disana. Tapi barangkali ia akan bahagia.Tak lama lagi, sepertinya kami akan kembali bersama-sama. Jika Aku pun yakin ia takkan bertabiat seburuk dulu. Mungkin kami akan jatuh cinta dengan cara yang lebih indah.”

“Maksudnya bagaimana, Neng? Bagaimana caranya kembali bersama?” tanyaku penuh rasa penasaran. Kupikir ia hanya sekedar berangan-angan saja.

“Saat ini aku mengidap sebuah penyakit yang cukup serius. Usiaku diperkirakan takkan lama lagi. Sebenarnya aku tak lagi punya tenaga. Namun entah mengapa, tiap kali hendak menuju makam ini, kekuatanku berangsur-angsur pulih. Mungkin ini adalah sebuah keajaiban. Tapi perasaanku mengatakan bahwa aku takkan bertahan lebih lama. Aku pun akan segera menggenggam kematian…”

Seketika itu juga desir kekecewaan menggelegakkan darahku. Relung hatiku terasa hampa. Pengakuannya membuatku benar-benar terpukul. Mengapa aku seperti hendak merasa kehilangan? Padahal ia hanyalah seorang wanita yang selintas lewat dalam riuh kehidupanku. Tapi walau bagaimanapun, aku harus jujur bahwa ia sempat membuatku merona. Sempat pula membuat semangatku membara, hari-hariku berwarna. Namun kini, saat kebahagiaanku atas keberadaannya mulai jelas kueja, tiba-tiba saja ia mengatakan salam perpisahan! Ah, mengapa dunia ini lebih senang mempermainkan asa?

Selama dua minggu setelah pembicaraan itu, kami tak lagi membicarakan hal-hal yang begitu berat selain sekedar bergurau atau saling sapa. Sementara itu, kulihat makin hari ia semakin pucat. Tapi ia selalu menyembunyikan kelemahannya meski aku mulai sedemikian mengkhawatirkannya. Sejak saat itu, tiap-tiap kembang yang diletakkan di atas pusara suaminya selalu kuambil diam-diam ketika ia pulang. Kuraih batang-batang layu itu dalam genggaman dengan harapan sebagai pelipur kerinduan.

Tiga hari kemudian ia tak lagi menampakkan diri. Perasaanku mulai cemas, emosiku seperti diremas-remas. Ketidakhadirannya membuatku gelisah. Kecemasanku menuntut penjelasan. Namun tak ada yang lebih kuangankan selain sebuah penjelasan yang menenangkan hatiku.

Namun apa yang kutemui tidaklah seperti yang kuharapkan. Sebuah jawaban kudapatkan ketika iring-iringan kematian memasuki pemakaman. Orang-orang menggali pusara di tempat yang sering kami singgahi. Sore itu, kulihat sebuah nisan bertuliskan “Kemala”.

Seperti yang sudah kukatakan, dunia ini senang sekali mempermainkan asa. Sedangkan aku hanyalah sosok manusia yang sekedar pasrah menatap senja yang tertawa
.***

 

 

April 2012

5 thoughts on “Penjaga Kubur

  1. True Story-kah? Sangat mengesankan ceritanya. Teruslah menulis untuk memberikan banyak inspirasi bagi banyak orang🙂

  2. Terima kasih sudah membaca… sayangnya ini hanya fiksi belaka..🙂 Sekedar terinspirasi oleh lagu Bunga Terakhir versi Afgan… ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s