Sebuah Perjalanan, Sebuah Kenangan

Aku berharap engkau sekalian, para pembaca budiman, tak pernah menginjakkan kaki atau mengenal kota Yogyakarta. Biar aku saja yang pernah kesana, menikmatinya, memilikinya seorang diri. Biarlah kota bernuansa Jawa kental itu menjadi milikku seorang — karena hanya kota itulah yang memberiku sebuah kenangan indah yang bahkan hingga detik ini tak sanggup kulupa. Silakan kau katakan aku egois. Aku memang egois di saat-saat tertentu. Terutama di saat mempertahankan kenanganku. Apalagi penghiburan manusia yang paling setia jika bukan kenangan? Saat jaman semakin meninggalkan kita, hanya kenangan yang masih bertahan dalam genggaman.

Dan kurasa saat ini adalah saat istimewa, karena tiba-tiba aku ingin bermurah hati membagi kenangan indahku tentang Yogyakarta. Tapi aku tak hendak menceritakan tentang keindahan kota yang seluas 32,5 Km²  itu kepadamu, tak juga tentang nikmatnya nasi gudeg yang menggugah selera, atau asyiknya bergaul di angkringan nan teduh dan sederhana. Jangan pula kau tanyakan tentang macam rasa bakpia pathok atau cara efektif menawar harga di pasar Beringharjo. Bukan itu yang membuatku jatuh terkesan, meski apa yang kusebut barusan adalah bagian dari keindahan. Aku hanya akan menceritakan apa yang telah kulakukan disana.

Baiklah. Ceritanya begini. Aku mengenalnya melalui dunia maya. Sebut saja namanya Renata, seorang gadis yang katanya sedang bahagia (kurasa makna bahagia disini adalah menurut versinya sendiri) di sebuah kota di tengah daratan pulau Jawa, Yogyakarta. Ia sendiri sesungguhnya bukanlah asli Yogyakarta, melainkan hanya pendatang, yang sedang bergulat dengan impian dan masa depan. Meski berasal dari ibukota, namun katanya ia begitu mencintai kota gudeg itu.

Singkat cerita, sepertinya boleh dikata aku naksir Renata, gadis yang darah mudanya sedang menggelegak. Kurasa darahku sendiri pun juga menggelegak saat aku memikirkannya, memimpikan dia. Kukatakan memimpikan dia karena aku masih belum pernah bertemu, bersitatap pandang dengannya. Kami hanya saling berbagi emosi, kisah dan pemikiran melalui tulis menulis kata yang saling sahut menyahut dalam dunia maya. Masih sebatas itu. Tapi sumpah! Aku sudah naksir berat.

Pasalnya, dia adalah seorang seniman. Ia perangkai kata-kata yang hebat, lihai dalam bersyair. Bahkan setiap edisi buku-bukunya di toko buku pun telah kuborong, kubaca habis, dan kuhapal sebagian. Aku kagum dengan profesinya, dengan pencapaiannya. Kau harus tahu bahwa setitik kekaguman dapat pula menjadi pemicu pertama ke arah rasa cinta yang fanatik. Selain itu, aku pun kagum dengan warna jiwanya. Pemberontakan dan emosinya yang kerap mengombak hingga menggulungku dalam benaman lautan cinta dan imajinasinya. Aku menyukai pemikiran-pemikirannya, gagasan-gagasannya, obsesinya, bahkan hingga kemarahan dan kegenitannya. Aku hanya menjumpainya melalui kata-kata, tapi ia telah sanggup menjelmakan dirinya sebagai dewi cinta dalam mimpi-mimpi kelamku yang terengah-engah.

Demikianlah aku mengenal Renata. Enam bulan lamanya ia telah membiusku melalui kata-kata, yang kemudian meningkat dengan suara melalui jaringan telepon. Saat kami beradu cakap, ia pun tak sungkan mengatakan cinta. Tentu saja cinta kepadaku. Katanya, aku telah menarik hatinya. Kemudian kukatakan bahwa aku tak sanggup lagi bertahan lebih lama. Aku ingin segera menjumpainya. Secantik dan seburuk apapun ia, kukatakan bahwa aku tak lagi peduli. Aku telah terlanjur suka padanya. Katanya, ia pun menginginkan hal serupa, tak sabar untuk segera berjumpa.

Suatu hari, kubulatkan tekad untuk pergi ke Yogyakarta tanpa memberitahunya. Kupikir aku ingin memberi kejutan yang manis untuknya. Untuk Renata-ku, jika aku boleh mengakuinya. Kutempuh nyaris 16 jam perjalanan untuk sampai ke kota ningrat itu. Melelahkan, tapi inilah perjuangan. Kusebut perjuangan karena sebelumnya aku sama sekali tak pernah menginjak Yogyakarta. Tak ada saudara, tak pula ada teman. Hanya Renata yang kukenal, yang kupunya, yang kuharapkan. Hanya dia seorang. Aku tak lagi sudi memikirkan bagaimana nantinya setelah aku berada di sana. Bagiku, yang terpenting adalah, Renata ada di hadapan.

Sampai stasiun Tugu, kutelpon Renata. Seperti dugaanku, ia amat kaget dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Dari nada suaranya, ia tampak bimbang dan menimbang-nimbang. Kemudian ia katakan bahwa saat itu ia sedang sibuk mempersiapkan sebuah pentas seni bersama kawan-kawannya sehingga tak punya kesempatan untuk menjemputku. Tapi kemudian ia menyarankanku untuk menemuinya di Museum Benteng Vredeburg, yang terletak tak jauh dari alun-alun kota. Pukul enam sore, pentas seni yang juga menampilkan Renata akan digelar disana. Katanya, aku bisa menumpang becak, supaya sekalian berjalan-jalan menikmati atmosfer khas kota Yogyakarta.

Pak tua pengayuh becak yang kutumpangi tak tampak payah, padahal sudah dua puluh menit kami menyusuri jalanan lebar yang makin sore makin memadat. Malioboro sudah tampak hiruk pikuk. Ratusan pedagang kaki lima di sepanjang emperan toko saling bersaing bermanis-manis muka demi melariskan aneka macam dagangan; mulai dari cincin unik, pahatan menarik, hingga koleksi-koleksi tua berkelas. Kabarnya, Malioboro adalah tempat yang tepat untuk menghabiskan uang-uang kecil, tapi juga berpotensi mengeruk uang besar.

Delman- delman berhias lalu lalang berseliweran mengantarkan penumpang-penumpang bertopi lebar bermata sipit yang asyik menjeprat-jepretkan kamera sakunya ke banyak arah, banyak objek, baik yang menarik maupun yang tak menarik. Beberapa dari mereka sedang bercanda-canda dengan gurauan kering. Tiba-tiba salah satu dari mereka tak sengaja menyenggol wanita yang sedang sibuk memotret-motret. Tak terhindarkan, kamera saku yang sedang dioperasikan itu jatuh, terlempar ke jalanan. Sontak wanita pemilik kamera itu menjerit histeris, terdengar melejit.

Tanggap dengan keributan, kusir delman itu terpaksa menghentikan delmannya. Wanita itu, dan beberapa kawannya yang lain segera menghambur turun, menjemput kamera sakunya yang teronggok sia-sia di tengah jalan. Sesaat wanita-wanita berkulit putih dengan rok-rok mini yang mempertontonkan tungkai betis yang indah itu menjadi pusat perhatian. Beberapa pemuda jalanan menghampirinya, begitu juga para tukang ojek dan tukang becak yang kebetulan mangkal di sekitar. Sementara itu, bibir wanita pemilik kamerah yang jatuh itu menceracau entah, karena tak ada yang mengerti bahasanya selain kawan-kawan dan pemandunya. Jemarinya mendekap erat kamera yang telah mengalami retak. Barangkali ia sedang kesal, tapi tak juga sanggup marah. Di hatinya, senja kala itu tak lagi indah.Kenangannya telah punah.

Suasana museum Benteng Vredenburg cukup ramai. Sepertinya memang ada perayaan disana. Beberapa stan kecil yang menjual ataupun memberi berderet di beberapa sisi. Gadis-gadis belia dengan rona wajah segar bergaul akrab dengan pemuda-pemuda tanggung yang tak lagi canggung. Tapi yang kutuju hanyalah keramaian panggung yang terletak di ujung. Degup jantungku berdebar-debar. Aku merasa tak lagi sabar. Dimanakah Renata berada? Seperti apa dia? Apa yang harus pertama kali kuucap padanya?

Beberapa pertunjukan musik unik dan puisi telah tampil silih berganti. Ah, Yogyakarta memang gudangnya seniman! Tapi dimanakah Renata? Mengapa tak kunjung tampil? Atau… apakah aku telah terlewat, tak menyadari kehadirannya, tak mengenali penampilannya?

Tiba-tiba pengeras suara menggaung-gaungkan nama Renata. Sampai-sampai aku nyaris terlonjak kaget. Otot-ototku tegang. Detak jantungku berdegup semakin cepat. Telapak tanganku terasa dingin meski hawa panas sedang menyengat. Berdesak-desakan dengan penonton yang membludak, mataku berusaha keras menggapai panggung.

Seorang gadis semampai dengan rambut ikal terurai tampil penuh percaya diri. Ia hanya mengenakan jeans dan kemeja putih yang sedikit kedodoran. Penampilannya sederhana, tapi auranya memikat, membuat mata-mata yang melihat menjadi tercekat. Kalau boleh kubilang, parasnya manis dan pembawaannya yang dinamis membuatku semakin terpesona tak habis-habis. Ia mempertunjukkan keahliannya, memantul-mantulkan sajak-sajak dengan gaya beringas sekaligus elegan.

Pertunjukan Renata adalah yang terakhir. Tepuk tangan bergema riuh. Kemudian pentas pun bubar. Para penonton berhamburan mencari kesibukan lain. Sementara itu, aku segera menghampiri Renata, yang tampak sedang bersuka ria menebar tawa dengan beberapa; entah kawan entah fans.

Kucolek pundaknya dari belakang. “Hai Renata!” Sapaku agak gugup. Ia menoleh padaku. Dengan cepat kuingatkan ia tentang jati diriku. Tak lama, senyum lebar mengembang dari bibirnya. Kulihat sorot mata yang bersinar cerah saat ia menatapku. Sepertinya ia sedang girang, aku pun  tak kalah senang. Kedua tangannya terkembang, dan tiba-tiba saja kami terlarut dalam sebuah pelukan dalam batas keakraban.

Kami berjalan-jalan menikmati malam. Melewati alun-alun, mencicipi angkringan, bercakap-cakap ringan di bawah pendar lampu jalanan. Ah, rupanya ia masihlah Renataku yang ada di dunia maya, yang memikat, yang hangat, yang kini telah menjelma menjadi nyata atas kebaikan semesta.

“Kau menginap dimana?” tanyanya.

“Entah…”

“Kalau begitu ayo kita ke Sosrowijayan saja,” ajaknya sembari menggandeng tanganku. Kugenggam erat jemari mungil yang sempat mendegupkan jantungku lebih keras. Erat, seperti malam yang sedang rekat membungkus Yogyakarta.

Aku tak paham arah tujuan yang dimaksud Renata. Tapi aku mengikutinya dengan perasaan aman, dengan hati yang nyaman. Bolehkah jika kukatakan bahwa aku benar-benar kepincut dengannya, sang gadis seniman ?

Sosrowijayan adalah sebuah jalan yang cukup ramai, pun terdapat banyak gang-gang yang sepertinya juga menyajikan keramaian yang tak kalah. Renata berbelok ke arah salah satu gang kecil, sementara aku hanya mengekornya. Terdapat berderet-deret kafe, motel dan losmen kecil di kiri kanan. Konon, ini adalah kawasan para backpacker yang menyenangkan. Banyak bule yang asyik bercengkrama di bawah temaram lampu cafe, menenggak beberapa botol bir sembari mengumbar tawa dan candaan kotor. Sebagian menonton bola di layar-layar televisi yang terpajang, sebagian berasyik-masyuk di beberapa sudut. Langkah Renata terhenti di sebuah losmen bertembok hijau yang sangat sederhana. Hanya terdapat dua buah kursi kayu bermodel lawas di beranda kecilnya. Sejenak Renata bercakap-cakap dengan pegawai resepsionis, kemudian berpaling padaku untuk meminta tanda identitasku. Aku sigap menurutinya.

Kami memasuki sebuah kamar yang tak besar. Sepi memerangkap kami, bersekutu dengan tembok-tembok kosong yang terlihat kaku. Sesekali terdengar sayup gelak tawa yang meledak, entah tawa milik siapa. Sejenak aku merasa kikuk. Terjebak dalam ruang kamar berpenerangan temaram bersama seorang gadis yang selama ini kuimpikan membuatku sangat gugup. Ranjang sempit dengan sprai berwarna muram hanya teronggok diam, tak juga menyelamatkanku dari ketegangan yang sedang meradang. Renata lah yang justru menyelamatkanku. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur, mengatur posisinya senyaman mungkin, seolah aku adalah sahabat wanitanya di masa kecil.

“Hei, apa kau mau berdiri semalaman disitu? Aku sudah sangat lelah dengan gempuran aktivitas seharian. Jika kau pun ingin istirahat, kemarilah. Aku tak menggigitmu, tahu! Paling-paling hanya membuatmu senang belaka, hahaha!”

Sebenarnya aku tak begitu kaget dengan kata-kata setengah binal yang terlontar dari mulut Renata. Hal-hal demikian pun kerap menjadi warna dalam percakapan kami di dunia maya. Hei! Jangan kau katakan aku ini mesum, ya! Jika aku boleh mengutip ucapan Renata, mesum adalah istilah yang subyektif. Tergantung kedekatan dan tujuan. Sedangkan dalam kasusku, maksudku kasus kami, aku dan Renata telah sampai pada kedekatan tertentu sehingga hal-hal macam ini bukan lagi persoalan inti. Kalaupun kami saling menyukai dan mengagumi, maka yang kami sukai adalah keseluruhan dari diri kami. Kedalamannya. Aku, atau Renata, lebih menyukai danau daripada sekedar lumpur atau alga-alga liar yang bertumbuhan di sekitarnya. Kira-kira begitulah perumpamaannya.

“Bebaskan dirimu, karena aku tak mengekangmu. Perlukah kutegaskan lagi bahwa aku menyukaimu? Kau mungkin jarang bertemu dengan wanita macam aku, yang barangkali kau anggap rusak. Tapi janganlah kau mencelaku, karena aku adalah bagian dari pengalamanmu, perjalananmu. Aku takkan munafik dengan kejatidirianku. Seperti inilah aku. Hei, bukankah kita sudah saling mengenal lebih jauh sebelum ini?”

Mendengar kata-kata Renata, aku masih juga mematung. Masih bingung harus berbuat dan bersikap bagaimana.

“Atau… Apakah kau hendak meninggalkanku? Jika kau memang merasa tak lagi nyaman denganku, aku tak melarangmu pergi, tak juga membencimu. Pertemuan dan perpisahan sudah menjadi hal biasa bagiku. Termasuk kebebasan dan kekangan. Kita hanya perlu menjulurkan lidah untuk merasakan segala rasa yang sedang disajikan hidup. Pergilah jika kau ingin pergi.”

Usai mencecap lamat-lamat kata-kata Renata dalam kalbuku, kuputuskan untuk mendekatinya. Kuberanikan diri untuk menjulurkan pelukan hangat pada tubuhnya. Malam itu, di sebuah losmen kecil di salah satu gang di jalan Sosrowijayan di kota Yogyakarta, kami berbagi kisah, berujar cerita, saling menelusuri pengalaman dan perjalanan hidup masing-masing. Sesekali tawa kecil, sesekali senyuman, sesekali rayuan, tak ketinggalan dengan jeda diam. Kami tak lagi segan berbagi kenyamanan batin. Hingga malam berjinjit menggapai pagi, baru kami jatuh tertidur, merangkak ke dalam mimpi masing-masing.

***

Entah saat itu jam berapa, tapi Renata bangun dengan tergesa-gesa. Ia panik saat melihat kuatnya sinar mentari yang menerobos celah-celah gorden jendela kamar. Tak pelak aku pun terbangun dengan kepanikan yang tak kalah. Kulihat raut wajahnya muram, rambutnya terjurai kusut. Ia memandangiku dengan rasa kesal yang tak kumengerti. Renata cepat-cepat beranjak dari tempat tidur dan merapikan diri sekenanya.

“Apa yang sudah kita lakukan? Gara-gara kau, aku jadi terlambat pentas. Pagi ini aku ada jadwal manggung yang amat penting! Bisa tamat riwayatku jika aku mangkir. Bisa-bisanya aku menghabiskan waktu bersamamu! Ah, kau benar-benar mengacaukanku!” Semburan kata-kata dari bibir mungilnya terdengar pedas dan ketus. Berulang kali pula ia merutuki diri, pun memaki-maki aku. Bahkan tak segan ia mengataiku bajingan lebih dari satu kali. Sungguh, aku sangat terperanjat, terkesiap dengan perubahan sikapnya. Aku seperti sedang berhadapan dengan sosok baru yang kurasa sama sekali bukan Renata yang kukenal tadi malam. Atau… apakah tadi malam Renata sedang kesurupan, sedangkan yang kuhadapi saat ini adalah wujud aslinya? Kemungkinan yang lain, barangkali Renata ini semacam gadis yang memiliki kepribadian ganda.. Mendengar kata-katanya yang menyakitkan sekaligus mencabik-cabik harga diriku, kejengkelanku sudah di ubun-ubun. Aku merasa terintimidasi.

“Kenapa kau marah-marah begitu padaku? Bukan mauku saja hingga kita terdampar disini. Justru kau yang menyeretku kemari. Sekarang kau persalahkan aku begitu rupa. Kau ini setengah gila atau sudah sinting, sih?” Amarahku muntab. Sebagai laki-laki, tentu saja aku tak terima diperlakukan semena-mena, apalagi oleh seorang perempuan. Tapi Renata tak menggubrisku. Ia justru cepat-cepat beranjak meninggalkanku, pergi begitu saja keluar kamar, meninggalkan losmen. Aku semakin panik. Cepat-cepat kususul ia demi menyamai langkahnya.

Kurang lebih sejauh seratus meter kami berjalan bersisian dalam diam. Sebenarnya aku tak tahan dengan sikap anehnya. Tapi aku juga telah kehilangan akal untuk mengatasinya. Ia seperti kuda liar yang tangguh, sedangkan aku ibarat penunggang amatiran yang sedang menggenggam pelana mainan. Untunglah tiba-tiba Renata membelokkan langkahnya ke sebuah minimarket.

“Tunggu disini. Aku mau beli minuman dulu.” Katanya datar. Kutunggu ia dengan sabar.

Ia keluar dari minimarket sambil meneguk minuman dalam botol. Ia pun memberiku sebotol yang serupa dengannya. Setelah puas melepas dahaga, Renata justru menuju ke sebuah portal tak jauh dari minimarket. Aku membuntutinya dengan perasaan campur aduk. Renata duduk dan terdiam sesaat, sementara aku, dengan berhati-hati, duduk pula di sampingnya.

“Pulanglah! Kupikir cukuplah sampai disini pertemuan kita. Terima kasih telah mengunjungiku. Maaf jika tadi aku marah-marah padamu. Kadang-kadang aku memang suka seperti itu. Tapi sungguh, aku tak bermaksud menyakiti hatimu. Janganlah kau marah padaku, ya. Kita ini teman, bukan?” Katanya sambil tersenyum. Sejenak hatiku luluh. Kemudian ia terdiam sesaat. Jeda panjang membentangkan kesunyian yang hambar, sebelum ia kembali melanjutkan ucapannya. “Tapi aku harus memberitahumu bahwa aku telah memiliki seorang kekasih dimana hatiku telah bermuara. Aku takkan memberimu harapan kosong karena engkau telah kuanggap sebagai sahabat baikku. Meski baru kali ini kita bertemu, tapi hati kita telah saling bersua dan saling cocok sejak lama. Jadi aku berharap kamu tak menyesal bertemu denganku. Tapi aku pun harus jujur padamu.”

Siang itu, kutinggalkan Yogyakarta dengan segenap asa yang telah luluh lantak. Apa? Kau tanya tentang perasaanku? Menurutmu kira-kira bagaimana? Ya, ini memang sebuah kisah konyol yang menggelikan.

Tapi setidaknya pertemuan itu memberiku pengetahuan bahwa Renata adalah jenis perempuan yang sepertinya takkan dapat hidup bersamaku. Tepatnya, barangkali aku yang tak dapat hidup dengannya. Jika dipikir secara akal sehat, sikap dan temperamennya membuatku seperti  tersengat listrik. Aku bisa mati berkali-kali menghadapinya. Di samping itu, ia pun ternyata telah memiliki tiang kokoh tempat menambatkan hati dan cintanya. Adalah sebuah kenyataan pahit bahwa aku hanyalah secuil fragmen hidup baginya, padahal aku telah terlanjur jatuh cinta setengah mati padanya, meski aku hanyalah seorang lelaki biasa yang sederhana sekaligus naif. Kau pikir, apa yang harus kurasakan saat menghadapi situasi yang pelik seperti itu? Apalagi ketika mendengar Renata mengusirku, meski secara halus dan penuh kasih sayang. Sayangnya, meski lelaki, hatiku tak melulu kokoh setiap saat. Dengan agak malu, kukatakan sejujurnya padamu bahwa aku merasa patah hati. Jika mataku tak menitikkan air mata, hatiku lah yang mengucurkannya.

Barangkali ini terdengar seperti pengalaman yang tidak begitu bagus di matamu. Tapi janganlah kau mengasihani diriku, ya. Aku sendiri tetap menganggap ini adalah sebuah kenangan indah, segetir dan serenyah apapun yang kurasakan saat itu. Bagiku, apapun yang membekas lekat dalam memori adalah kenangan indah. Perjalananku ke Yogyakarta dan pertemuanku dengan Renata adalah sebuah kenangan indah.

Jadi, jika kau tanyakan padaku tentang perjalanan yang menorehkan kesan mendalam yang pernah kulalui, tetap aku akan mengatakan bahwa perjalanan menuju dan pulang dari Yogyakarta lah yang takkan pernah hilang dari ingatan. Aku masih mengingat setiap detil kejadian dan suasana yang kulalui disana, seolah-olah baru kurasakan kemarin siang. Selain telah memberiku kenangan indah, pun memberiku sebuah kesempatan untuk mencecap rasa dan makna yang berbeda dalam menyusuri perjalanan hidupku.

Renata hanya semacam persinggahan yang menyediakan kursi yang nyaman meski atapnya bocor disana-sini. Jika kau tanya tentang kabarnya saat ini, ia tak lagi dapat kutemui, tak ketahuan pula kemana rimbanya. Tapi aku tak pernah menyesal bertemu dia. Tak pula menyesal dengan perjalanan yang barangkali menurutmu sia-sia. ***

   Maret, 2012

 Gambar diunduh disini :

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/8f/Jalan_Malioboro_001.JPG

http://dijogja.files.wordpress.com/2009/08/dsc_15082.jpg

http://sacafirmansyah.files.wordpress.com/2010/09/11-benteng-vredeburg.jpg

Tulisan ini juga diposting di http://ceritatentangkamu.posterous.com/hari-ketiga — sebuah program permainan menarik yang digagas @dbrahmantyo.

Advertisements

2 thoughts on “Sebuah Perjalanan, Sebuah Kenangan

  1. Bintang tetaplah bintang. Energinya tak pernah pudar. Bahkan dalam kisah patah hati pun terdapat semangat yang besar 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s