Tentang sebuah kebun durian, tentang sebongkah harapan…

Kamu, seharusnya memang membaca ini.

Karena saat aku menuliskan ini, benakku sedang benar-benar dipenuhi kamu.

Kamu seperti air yang meluber dalam sebuah gelas. Aku bahkan khawatir bahwa diriku sendiri akan pecah dan meledak karena memikirkan dan mengingat kamu sedemikian penuh. Bahkan terlampau penuh. Ingatan tentangmu, kerinduan kepadamu, hingga berceceran di sekitarku.

Pasalnya, aku sedang bahagia. Ah, barangkali ungkapan itu terlalu berlebihan. Tepatnya, mungkin aku sedang banyak senang. Tiap kali aku merasa senang, atau gembira, atau bahagia, aku selalu mengingat kamu. Dan mengingat Tuhan, tentu saja. Tapi tiap kali aku bersedih, aku muram, aku kecewa, aku gagal, aku berusaha keras untuk melupakan kamu – sehingga yang tersisa, aku hanya mengingat Tuhan. Cukup Tuhan saja.

Bukannya aku sok religius. Tapi ketika kesedihan melandaku dan aku mengingat Tuhan sekaligus kamu, maka aku justru ingin bunuh diri. Sayangnya, aku tak benar-benar punya nyali untuk bunuh diri. Jadi, terpaksa aku memilih berusaha keras untuk melupakan kamu. Ya. Melupakan kamu hanya pada saat sedih dan muram sedang datang kepadaku.

Begitulah kecenderungan manusia, selalu mencari-cari alibi supaya tameng yang menutupi kelemahan dan kegagalannya terlihat sebagai suatu kebaikan dan hal positif semata. Kurasa, kebenaran versinya cukup kita saja yang tahu. Eh, maksudku, aku saja yang tahu. Kamu takkan berminat untuk terlibat.

Namun ketika aku sedang senang, girang bukan kepalang, bahagia tak terhingga, ingin rasanya aku menyeret-nyeret kamu untuk turut serta menyelam dalam kebahagiaanku. Dari dulu aku selalu tergila-gila pada tawamu, pada senyummu. Kita dulu seringkali tertawa dan tersenyum bersama-sama. Jadi aku menyimpulkan, bahwa apapun yang dapat membuatku tertawa dan tersenyum, barangkali juga dapat membuatmu tertawa dan tersenyum. Tapi sebenarnya aku tak lagi benar-benar yakin apakah selera kita masih sama, karena kita sudah terlalu lama tak lagi tertawa dan tersenyum bersama-sama.

Baiklah, kuceritakan saja padamu. Ini tentang kebunku. Dulu, dulu sekali, aku menebar biji-biji durian di sehamparan tanah yang masih kosong. Kutebarkan pula sekarung harapan tentang pohon-pohonnya yang rindang, buah-buahnya yang manis, keuntungan-keuntungan yang kudapat. Lima bulan pertama kurawat benih-benih durian dalam tanah itu dengan sepenuh hati. Aku lupa kalau pohon durian itu bertumbuh lama. Kelupaan inilah yang membuatku goyah, yang membuatku menelan kecewa, yang membuatku menatap sesal, karena durian itu tak kunjung besar, tak kunjung berbuah. Padahal aku sudah sepenuh hati merawatnya, mencintainya, mengharapkannya.

Aku nyaris telah melupakannya, mencoba untuk meninggalkannya selama bertahun-tahun, hingga suatu ketika, tepatnya di sebuah pagi yang indah saat secara magis kakiku menyeretku untuk melangkah ke arah kebun tersebut, kulihat ternyata begitu banyak durian yang bergelantungan pada dahan-dahan yang rindang. Pohonnya telah menjulang, dedaunannya telah melebat.

Mustahil sekali jika aku tak melompat-lompat kegirangan. Bayangkan! Aku telah nyaris melupakan kebun dan benih-benih pohon durian itu. Tahu-tahu mereka telah siap panen. Bagiku, ini sungguh-sungguh tak bisa kupercaya. Dulu aku bahkan sempat mempercayai bahwa biji-biji durian yang kutanam sepertinya tak akan tumbuh, tak akan pernah berbuah. Kupikir aku salah langkah, kupikir aku melakukan hal yang sia-sia.

Ah, Sayangku… Kau pikir apa yang melebihi kebahagiaan seperti ini?

Aku selalu mengingatmu saat aku sedang senang, saat aku sedang kegirangan, saat aku sedang bahagia karena mendapat kejutan. Ingin rasanya kuundang engkau untuk memanen durian-durian itu, untuk menjualnya bersama-sama, atau sekedar memakannya sambil tertawa-tawa. Tapi sayang, sepertinya yang bisa kulakukan hanyalah sekedar memberimu kabar seperti ini – bahwa aku sedang bahagia, bahwa aku sedang senang, dan aku selalu mengingatmu. Pun aku mengingat Tuhan.

Kamu sedang sibuk sekarang. Jadi aku hanya sekedar dapat mengenang-ngenang kebersamaan. Dulu kita senang bicara tentang kehidupan, juga tentang harapan. Tapi aku dan kamu punya perbedaan. Kau bilang bahwa tanganmu tak sanggup menggenggam erat impian, tak tahan untuk merawat harapan. Sedangkan aku, meski berjemari ringkih, namun malah terlalu erat menggenggam impian, meyakini harapan.

Kini, ingin sekali kukatakan padamu, bahwa ternyata aku tak pernah sia-sia. Ingin sekali kuyakinkan kamu, untuk terus gigih merawat impian dengan sebongkah harapan. Suatu saat nanti, pada waktu yang tidak kau sangka-sangka, kebahagiaan itu pasti akan berada dalam genggaman. Seperti halnya kebun dan pohon durian yang dulu pernah kuimpikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s