Rahasia

Menjelang Maghrib adalah waktu untuk bersembunyi, mengunci diri dalam kamar dan menyepi. Jangan sampai ketahuan emak berkeliaran mondar-mandir di ruang keluarga atau halaman rumah. Kalau tidak, beliau pasti akan berteriak lantang mengeluarkan segenap ancaman yang memekakkan telinga. “Rosyidi, cepat ambil air wudhu dan sembahyang! Kalau kau tak mau sembahyang, kugebuk pakai sapu lidi biar tahu rasa! Dasar anak tidak beragama! Pantas saja kau tak pernah sukses, karena kau tak pernah ingat dengan Tuhanmu!” Biasanya aku buru-buru masuk ke dalam kamarku dan mengunci diri, pura-pura tuli.

Karena ulahku yang kata emak dianggap mursal itu, aku benar-benar merasa seperti masuk neraka betulan. Yang kumaksud disini adalah imbas dari mendengarkan omelan emak yang mengesalkan itu. Siapa bilang aku tidak sakit hati? Tentu saja aku sakit hati setengah mati. Emak telah memfitnahku, mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang diriku. Oleh karena itu, dapatlah kukatakan bahwa mendengar omelan emak saja sudah membuatku merasa seperti masuk dalam neraka.

Padahal aku tidaklah seperti apa yang emakku katakan. Aku tidak pernah benar-benar melupakan Tuhan jika yang dimaksud adalah rajin sembahyang. Bahkan kalau boleh kubuka sebuah rahasia, bisa jadi aku bahkan jauh lebih rajin sembahyang ketimbang emakku sendiri yang sekedar sembahyang lima kali dalam sehari.

Kalau sampai emakku mengomel seperti kebakaran jenggot, itu lebih disebabkan karena aku tak pernah menggunakan musholla keluarga setiap kali sembahyang. Tidak seperti bapak, emak, maupun kakak dan adikku yang patuh pada aturan. Mereka semua terbiasa  sembahyang di musholla keluarga. Tapi aku lebih memilih melakukan sembahyang di dalam kamarku yang terkunci rapat dan tak diketahui siapapun.

Anehnya, semakin aku ditekan dan dibujuk-bujuk untuk melakukan sembahyang, semakin aku merasa enggan untuk bersembahyang. Entah kenapa bisa begitu… Kalau adik, kakak, atau emakku tiba-tiba mengetuk pintu saat aku sedang sembahyang, maka konsentrasiku langsung terganggu, bahkan nyaris buyar. Aku jadi terburu-buru demi menyahuti mereka, supaya tak ada kecurigaan. Aku tak mau mereka sampai tahu bahwa aku sedang sembahyang.

Saat bangun tengah malam, aku harus mengendap-endap menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, dan menyalakan keran sekecil mungkin supaya tak membangunkan seisi rumah. Aku tak mau kepergok sedang bersiap melakukan sembahyang malam. Kalau kebetulan kakakku sedang asyik menonton televisi hingga dini hari, maka alamat aku absen sembahyang malam.

Begitu pula ketika sedang membaca Al-quran. Selain mengunci pintu kamar, kunyalakan lagu dari tape keras-keras supaya suaraku tersamar saat mengaji, sehingga tak terdengar dari luar. Tak pernah ada yang mengetahui bahwa sejatinya aku selalu mengaji tiap sore. Namun emak getol sekali memperolok dan menghujatku. Katanya, percumalah ia susah payah mengkursuskanku mengaji kalau aku tak pernah menyentuh Alquran.

Namun sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Suatu kali emak berhasil mengacaukan semuanya. Ini bermula dari peristiwa jatuh sakitnya beliau yang tiba-tiba. Emak sudah dibawa ke dokter maupun tabib alternatif manapun, tapi tak sembuh juga. Makin hari keadaannya justru makin memprihatinkan. Ironisnya, emak justru menyatakan sendiri bahwa sebentar lagi ia akan mati, meninggalkan kami. Bahkan ia sudah bersiap-siap dengan aneka wasiat dan pesan-pesan.

Yang membuatku lebih kesal, di sela kondisinya yang makin memprihatinkan tersebut, emak masih sempat-sempatnya menerorku dengan seruan-seruannya yang makin memojokkan. “Kalau kau tak pernah sembahyang, maka aku pasti akan masuk neraka. Tuhan akan meminta pertanggungjawabanku karena ternyata aku tak bisa mendidik anakku sendiri.” Begitu katanya.

“Sudahlah, Mak… engkau tak akan masuk neraka. Percayalah padaku.” Aku mencoba untuk meyakinkannya, meski aku tak yakin bahwa emak akan percaya padaku.

“Dosamu itu sudah bertumpuk-tumpuk, dan kini aku pun harus ikut menanggungnya. Oh, Rosyidi… tega benar kamu pada Mak-mu ini…” katanya gegetun, kemudian mulai tersedu-sedu.

Tiap melihatku, emak pasti akan memulai ceramah, ancaman, permohonan dan rengekannya. Makin lama aku makin tak tahan. Sudah kukatakan berkali-kali bahwa aku pun melakukan sembahyang, tapi ia enggan percaya. Bahkan semakin mendesakku untuk mengerjakan sembahyang di depannya, jikalau memang benar aku sudah rajin sembahyang seperti yang lainnya. Katanya supaya matinya tenang, tak menanggung beban dan dosa akibat memiliki anak seorang aku. Lama-lama aku jadi tak menghiraukannya. Rasanya gengsiku jauh lebih besar ketimbang sekedar memenuhi permintaan emak, meski itu permintaan terakhir sekalipun.

Suatu kali, seluruh keluargaku harus mengunjungi sanak saudara di kota sebelah yang baru saja melahirkan. Karena aku tak ikut serta, maka aku kebagian tugas menjaga emak di rumah. Emak yang kini hanya dapat terbaring di ranjang hanya sekedar membunyikan lonceng ketika ia membutuhkan sesuatu atau memanggilku.

Namun kutunggu seharian tak juga kedengaran bunyi lonceng dari emak. Mungkin karena semua kebutuhan emak sudah kupenuhi, sehingga emak nyaris tak lagi membutuhkan lonceng. Aku mengantarkan sarapan dan makan siang ke kamarnya pada waktu yang benar-benar tepat. Pun dengan segelas air putih, teh panas, pisang ambon, maupun obat-obatan yang harus diminumnya. Tak dinyana, tiba-tiba lonceng itu berbunyi tepat ketika aku sedang mengerjakan sembahyang Ashar. Dering lonceng makin lama makin nyaring dan tak henti-henti. Kudengar suara parau emak yang memanggil-manggil. Aku cemas. Aku sudah membayangkan sesuatu yang buruk telah terjadi pada emak. Jangan-jangan ia sudah mendekati sakratul maut. Sontak aku langsung membuka pintu kamarku, meninggalkan rakaat keduaku yang belum tuntas, dan langsung menghambur menuju kamar emak.

“Ada apa, Mak ?” tanyaku dengan penuh kekhawatiran ketika sampai di hadapannya. Emak masih berbaring tenang di dipannya. Tangannya memegang lonceng, nyaris hendak dibunyikannya kembali namun urung demi melihatku. Kulihat emak mengawasiku cukup lama, menatap tak jemu-jemu, seolah terpana karena melihat sesuatu yang mengagumkan.

“Kenapa, mak? Mak butuh sesuatu?” tanyaku lagi, gusar dengan keheningannya.

“Rosyidi… Apa kamu baru saja sembahyang?”

Mendengar pertanyaan emak, aku langsung tersadar bahwa ternyata aku masih mengenakan sarung dan kopiah. Ah… Aku kepergok. Seketika mukaku merah padam. Betapa malunya aku. Cuping telingaku panas, tingkahku pun menjadi kikuk dan mulai merasa jengah. Aku tak menjawab pertanyaan emak, tapi beliau tersenyum-senyum, dan raut mukanya tampak cerah berbinar.

Dua hari kemudian, emak langsung sembuh. Dengan entengnya ia mengatakan bahwa malaikat maut telah menunda kematiannya.  Kini ia bahkan jauh lebih segar bugar ketimbang sebelumnya. Satu perubahan yang cukup drastis, emak tak lagi pernah menyeru-nyeruku tiap kali datang waktu sembahyang. Tentu saja aku senang. Meski sebenarnya, lama-lama aku pun merindu kecerewetan emak saat menyeruku untuk sembahyang…

 Oktober 2010

Advertisements

2 thoughts on “Rahasia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s