Hilangnya Angela Marcupisu

Gara-gara Angela Marcupisu tak kunjung ditemukan, Dien sakit tak sembuh-sembuh. Sudah hari ketiga, suhu badannya tak juga menurun. Paracetamol sudah tak lagi mempan. Bocah mungil itu setiap malam mengingau dalam tidur, memanggil-manggil Angela. Makin hari keadaannya pun makin parah, selalu rewel, susah makan dan minum susu.

Tak ada pilihan lain, aku harus ijin libur. Padahal pekerjaan di kantor sedang menumpuk. Tak tega rasanya meninggalkan bocah kecil pujaan hatiku sendirian di rumah bersama mbok Minah. Apalagi Mbok Minah adalah pembantu yang baru menginjak dua bulan kerja, sehingga masih belum  terlalu akrab dengan Dien.

Pencarian Angela Marcupisu sudah menjelajah hingga kemana-mana. Pram, suamiku, telah begitu gigih menyebar selebaran iklan bergambar muka Angela Marcupisu yang paling manis. Di pos ronda, di stasiun, di pasar, di dinding flyover, hingga pos polisi. Namun sampai saat ini hasilnya masih nihil.  Angela Marcupisu tetap tak tertemukan.

Seorang tetangga mengatakan bahwa ia pernah melihat Angela Marcupisu hendak menyeberang di pertigaan. Tetangga yang lainnya lagi mengatakan bahwa ia pernah melihat Angela melintasi jalan kereta api saat sebuah kereta hendak lewat. Namun setelah itu tak ada kelanjutan kabar beritanya.

Hilangnya Angela Marcupisu memang baru dua hari yang lalu, tapi musibah ini benar-benar membuat kami semua cemas dan khawatir. Cemas dengan keselamatan Angela, cemas dengan kesehatan Dien.

Angela Marcupisu begitu berarti bagi Dien. Sahabat terdekat Dien dan selalu setia menemaninya. Bahkan Dien menganggap bahwa sejatinya Angela jauh lebih mengerti akan dirinya ketimbang aku, yang telah melahirkannya. Sedikit kumaklumi, karena waktuku bersama Dien memang jauh lebih sedikit daripada kebersamaan Dien dan Angela Marcupisu.

Akulah yang membawa Angela Marcupisu ke rumah. Saat pulang ke Sulawesi, ibuku memberi amanah untuk menjaga dan merawat Angela Marcupisu dengan baik. Terutama untuk menemani cucunya yang begitu manis dan menggemaskan. Meski sebenarnya aku tak terlalu suka dengan Angela Marcupisu, tapi kubawa saja ia demi Dien yang tak henti merengek memohon kehadiran Angela di rumah kami.

Sejak kehadiran Angela, Dien menjadi selalu bersemangat dan girang. Ia senang mendapat teman baru. Bahkan ia pun melupakan semua mainan lamanya karena lebih asyik bersama Angela Marcupisu. Dia tak segan berceloteh dan bercerita banyak hal di hadapan Angela. Dien tak lagi nampak sebagai bocah yang kesepian.

Yang membuatku sedikit sebal, Dien menuntutku memperlakukan Angela dan amat baik. Saat di supermarket, Dien lebih sibuk memilih berbagai perabotan dan keperluan untuk Angela. Tentu saja Dien memilih yang paling bagus, yang membuatku senewen karena harus mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit hanya untuk Angela.

Sebenarnya aku sudah menyiapkan kamar sendiri untuk Angela Marcupisu. Tapi nyaris setiap malam, ketika kami semua sudah pulas tertidur, Angela mengendap-endap menuju kamar Dien dan tidur bersamanya. Tentu saja Dien  tak pernah menolak, karena pada dasarnya Ia selalu ingin bersama Angela.

Mulanya, ada semacam kekhawatiran saat melihat kerekatan hubungan Dien dan Angela. Dan kekhawatiran itu memang telah terbukti terjadi. Saat Angela pergi meninggalkan Dien, ini merupakan pukulan yang cukup berat bagi Dien yang masih berusia lima tahun.

***

 

Akhir-akhir ini, setiap malam kami selalu mendengar suara-suara mencurigakan di atas plafon rumah, tepat diatas ruang tamu. Ada yang berderak-derak. Kadang seperti suara bayi menangis yang terdengar sayup.  Adalakanya aku sedikit takut dan ngeri, terutama jika malam berubah menjadi sunyi. Apalagi baru beberapa minggu yang lalu anak tetangga sebelah rumah meninggal akibat kecelakaan kereta api.

Lama-lama aku sudah benar-benar tak tahan lagi. Esok hari kami bersepakat membongkar plafon. Pram naik ke atas menggunakan tangga dan membongkar plafon yang kadang kami gunakan sebagai loteng. Ia harus menerjang tumpukan kardus yang berserakan, karena kami memang menyimpan kardus-kardus bekas di sana. Sarang laba-laba pun terbentang dimana-mana. Binatang-binatang sejenis kutu dan kecoak pun berlarian.

Tiba-tiba tedengar suara lemah, kecil sekali di balik kardus tivi besar. Nadanya seperti suara anak kucing. Pram segera meraihnya menggunakan galah, tumpukan kardus yang ternyata memang berisi anak-anak kucing. Rupanya anak-anak kucing tersebut baru dilahirkan, karena masih merah dan berbulu jarang. Empat anak kucing berada dalam kardus tersebut. Satu putih polos, satu hitam polos, dan dua belang hitam putih. Yang lebih mengagetkan, induk anak kucing tersebut, yang dengan penuh kasih sayang menjilati tubuh anak-anak kucing tersebut adalah Angela Marcupisu yang sedang kami cari-cari. “Meeeoooonnnggg……” sapa Angela malu-malu.

 

 

Silent city, oktober 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s