Kisah Sebuah Pengabdian

Sudah sepuluh tahun lamanya aku bekerja pada keluarga Comrad, salah seorang  golongan bangsawan yang memiliki tanah seluas sepuluh ribu hektar, tersebar di seantero negeri. Aku, pelayan-pelayan lainnya, juga keluarga tersebut berdiam di sebuah kastil peninggalan jaman lampau yang terbuat dari campuran batu bata dan semen kualitas tinggi. Konon bangunan ini didirikan tiga abad lalu. Dengan segenap siluet keangkuhannya, kastil ini masih menjulang kokoh di tengah taman dan padang rumput, beberapa ratus meter dari perumahan penduduk yang kumuh dan miskin.

Kastil ini dikelola dan diurus oleh dua puluh pelayan, termasuk aku salah satunya. Kebanyakan dari mereka adalah para pelayan profesional yang telah menempuh pendidikan kepelayanan dan rumah tangga bangsawan. Kendati demikian, para pelayan itu pun memiliki jam terbang serta masa kerja yang bebeda-beda. Aku sendiri telah mengabdi selama sepuluh tahun, meneruskan karir ayahku yang juga seorang pelayan di kastil ini. Ada yang megabdi lebih lama dariku, ada pula yang baru beberapa bulan lalu menginjakkan kaki di teras kastil.

Mengenai latar belakang tuanku, gelarnya adalah seorang baron berkat kejayaan dan nama harum para leluhurnya. Baron Comrad masih tergolong muda. Usianya baru memasuki kepala empat delapan bulan yang lalu. Bersama istrinya yang jelita namun berpembawaan dingin, ia dikaruniai empat anak. Yang terakhir baru berusia delapan bulan, seorang bayi laki-laki yang montok dengan kulit putihnya yang kemerahan. Sedangkan yang tertua berusia sembilan tahun, seorang anak laki-laki yang sangat aktif dan mengesalkan. Kejahilannya nyaris setara dengan setan berkat keahliannya membuat onar dan kerusuhan, terutama di antara kami para pelayan, yang adalah sasaran empuknya.

Di hari libur yang cerah, keluarga terpandang itu biasa menghabiskan pagi hingga siang di taman samping timur kastil yang dipenuhi barisan anemone, daffodil, dandelion, dan mawar yang merekah sempurna. Para pelayan harus sigap menyiapkan bekal sekaligus peralatan piknik. Secara bergantian, mereka — termasuk aku, menyertai kebersamaan keluarga kecil itu. Kami berdiri tegak sembari mengawasi anak-anak yang berlarian atau sesekali menggoda kami dengan mengolok-olok. Kesiapsediaan kami ditujukan untuk keperluan mereka yang mendesak sewaktu-waktu. Semisal mengambil asbak atau es krim tambahan yang disukai anak-anak.

Seperti pada piknik kali ini, para pelayan atas persetujuan majikan menyetujui untuk menghidangkan sajian barbeque segar. Pesta barbeque ini telah lama tidak diselenggarakan. Terakhir kali kurang lebih lima bulan lalu. Kami pun menyediakan bebek, ikan salmon, hingga daging segar dari lembu yang baru tadi pagi dipotong. Aku sediri menyiapkan berbagai peralatan barbeque termasuk arang. Yang membuatku sangat antusias adalah, alat panggang yang akan digunakan kali ini adalah model terbaru yang masih belum terpakai sama sekali. Semalaman aku telah membaca buku petunjuknya hingga benar-benar yakin bahwa pesta barbeque kali ini akan akan membuat majikanku puas.

Dua orang pelayan membantuku menyiapkan bahan makanan yang akan segera dibakar, sedang aku sendiri memusatkan perhatian pada alat panggang baru. Semua nyaris terpasang sempurna. Kutuangkan beberapa butir arang yang sebelumnya telah kubakar dan sedikit menyisakan nyala api. Namun tiba-tiba aku dikagetkan oleh sesuatu. Nampaknya sebuah benda atau entah apa telah memukul punggungku dengan keras. Ada yang melempar sesuatu padaku. Merasa terganggu, aku mencari tahu apa gerangan yang telah mengenai punggungku. Kulihat Dave sedang tertawa terbahak-bahak menatap kebingunganku. Tangannya penuh dengan buah-buah blueberry yang ia lempar-lemparkan pada para pelayan termasuk aku. Ia berpikir bahwa perbuatannya itu sungguh lucu! Baju putih kami yang sebelumnya terlihat suci tak bernoda kini dipenuhi dengan jejak-jejak lendir keunguan yang menjijikkan. Namun apa daya, kami ditakdirkan tak bisa protes, melainkan hanya diam menerima perlakuan kurang ajar majikan cilik yang mengesalkan.

Dave adalah anak kedua sang baron. Usianya masih enam tahun, tapi tingkahnya bahkan melampaui kakaknya. Dialah yang paling nakal diantara semua saudaranya. Tak ada seorang pun yang sanggup mengaturnya, kendati ia takut pada ayahnya. Sementara ibunya begitu menyayangi dan memanjakannya sedemikian rupa. Luapan kasih sayang yang berlebihan inilah yang membuatnya selalu merasa di atas angin. Di usianya yang sedemikian muda, ia telah berhasil membuat masing-masing pelayan wanita di tempat kami menangis atas ulahnya yang gemar memperdaya. Namun setan cilik itu sama sekali tak pernah merasakan pahitnya hukuman karena sang ayah hanya sekedar menggertaknya. Dari hari ke hari, kesukaannya hanya mengganggu siapa saja yang dijumpainya. Tak puas dengan cara yang kekanak-kanakan, ia pun tak segan mencoba cara brutal yang melampaui batas. Lacio, salah seorang pelayan, pernah ia suruh membersihkan sepatu kulitnya dengan menggunakan lidahnya. Jadilah Lacio benar-benar tiada beda dengan anjing yang menjulur-julurkan lidahnya. Dave terpingkal-pingkal, seolah sedang menonton sebuah pertunjukan komedi buah karyanya.

Kembali ke soal lemparan buah blueberry Dave, kali ini aku benar-benar was-was. Sepertinya ia sedang mengincarku. Dan benar saja, aku telah menjadi sasaran empuk buah-buah blueberry sialan itu. Perbuatan tercela Dave benar-benar membuatku kehilangan konsentrasi menyiapkan alat pembakaran. Yang amat membuatku gemas, kedua orang tuanya sama sekali tak peduli. Seolah perbuatan anaknya sama seperti berlompat-lompatan demi mengejar kelinci. Tak membahayakan.

Saat aku mencoba untuk membenahi arang-arang yang tak kunjung melepaskan baranya, Dave mengendap-endap menuju ke arahku. Aku sedang sangat berkonsentrasi pada alat pembakaran itu sehingga sama sekali tak menyadari kehadiran Dave di balik punggungku. Sekonyong-konyong Dave menepuk keras-keras pantatku. Aku yang sama sekali tak siap dan tak menduga akan kejutan itu benar-benar dibuat kaget tak alang kepalang. Padahal saat itu aku sedang hendak menuangkan minyak gas di sebuah botol ke atas arang-arang tersebut. Akibatnya, aku menjadi sedikit limbung saat berbalik. Aku sama sekali tak menduga jika Dave masih berdiri tepat di belakangku. Dan naasnya, secara tak sengaja botol minyak tanah yang kupegang tumpah mengguyur badan Dave yang berada di sampingku. Aku kehilangan keseimbangan hingga tak sengaja justru mendorong Dave ke arah alat pembakaran yang sedang menyala-nyala.  Dave terjerembab tepat menimpa alat pembakaran tersebut. Seketika itu juga, api yang menyala-nyala memanggang tubuh kecil Dave yang telah terguyur minyak tanah.

Dave melolong dan meronta-ronta. Ia berlari meloncat-loncat karena kepanikan dan rasa sakit akibat api yang sedang menjalar di tubuhnya. Kejadian itu begitu cepat dan mengerikan. Api melalap habis rambut pirangnya yang halus. Tubuh kecilnya benar-benar tak berdaya melawan api yang sedang berkuasa.

Dengan sigap, aku dan para pelayan lain segera meraih ember-ember air demi menyelamatkan Dave. Sedangkan majikan kami, terutama istri baron bersikap panik tak terhingga.  Jeritannya tak henti-henti, menambah keruh suasana. Tangisnya menyesak-nyesak. Ia benar-benar terpukul atas kejadian itu. Bayi yang digendongnya pun ikut menangis mengikuti suasana hati ibunya.

Tak seberapa lama, api yang membakar badan Dave akhirnya dapat dipadamkan. Namun Dave nyaris tak terselamatkan. Ia tak sadarkan diri. Kulit tangan dan wajahnya gosong, sebagian melepuh. Luka bakar itu telah merusak kulitnya. Rambutnya habis. Keadaannya sungguh memprihatinkan.

Dave segera dibawa ke ruang tidur utama, yang terdekat dengan taman sebelah timur. Lucio telah memanggil dokter keluarga terbaik. Anak-anak yang lain telah digiring ke ruangan lain oleh para pengasuhnya masing-masing. Sementara sang baron berusaha untuk tenang meski dilanda kecemasan, istrinya masih begitu terpukul dan trauma atas kejadian itu. Tangisnya makin menjadi, terus memanggil-manggil nama Dave. Namun acapkali ia menghujamkan pandangan penuh kebencian terhadapku. Siapapun dapat membaca roman mukanya yang  menyalahkanku, seolah-olah mengatakan bahwa akulah yang harus bertanggung jawab atas semua kejadian ini.

Dokter datang dan segera memeriksa Dave. Luka bakarnya parah. Namun yang perlu dikhawatirkan lagi adalah sisi psikologis Dave yang menderita shock berat. Nadinya berdetak dengan teramat lemah. Dave berada dalam masa koma, dimana segala kemungkinan dapat terjadi. Dengan cukup bijak, dokter tersebut memberikan semangat dan harapan pada keluarga yang sedang dirundung kesedihan itu.

Namun nyawa dan usia seseorang memang tak dapat ditebak. Di hari keempat, Dave tak lagi dapat diselamatkan. Ia meninggal dunia tanpa sempat terbangun sekalipun sejak tak sadarkan diri. Menelan kenyataan itu, ibunya meraung-raung. Ia benar-benar terpukul. Kesedihan yang sarat pun terbungkus pada raut wajah sang baron. Kami para pelayan justru membuat suasana kesedihan itu semakin biru. Tak ada seorang pun yang berani saling berbicara di waktu-waktu yang senggang sekalipun. Mereka lebih memilih tenggelam dalam pekerjaan dan segera memasuki bilik kamar dalam kesenyapan.

Tapi perasaanku benar-benar tidak enak. Bagaimanapun, semua orang tahu bahwaaku memiliki andil atas sebab kematian Dave. Istri sang baron tak bosan menuduhku atas musibah yang dialami putranya. Kata-kata yang ia lontarkan di hadapanku semakin hari semakin menyakitkan. Dan aku hanya sekedar tertunduk menelan bulat-bulat makian, cemoohan, dan tuduhan-tuduhannya yang membabi-buta.

Sejak Dave terbaring koma tak sadarkan diri, aku menjadi lebih rajin berdoa semoga Dave cepat pulih. Bagaimanapun, aku dirongrong kecemasan akan keselamatan Dave karena ini pun menyangkut jiwaku, kelangsungan hidup dan pekerjaanku. Aku telah mengabdi disini cukup lama berkat pendahulu-pendahuluku yang sebelumnya pun mengabdi di kastil ini. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya aku tanpa pekerjaan ini, karena seumur hidupku telah terbiasa dengan pekerjaan dan lingkungan ini. Andai aku kehilangan semuanya, maka ini benar-benar sebuah mimpi yang amat buruk bagiku.

Tapi nasib baik tak lagi berpihak kepadaku. Kenyataannya justru jauh lebih buruk dari perkiraanku. Dave benar-benar tak bisa diselamatkan. Ia meninggal dengan sukses dan membiarkanku dicekam oleh ancaman. Paulo, kepala pelayan, yang mengerti akan kecemasanku, mencoba untuk menghibur dan memberikan simpatinya. Namun tak sedikit pula pelayan-pelayan berhati hitam yang tertawa di balik punggungku. Mereka yang senantiasa dengki pada posisiku mencoba menghembuskan rumor-rumor yang menakutkanku. Menurut gosip mereka, aku akan segera dibawa ke tiang gantungan demi menebus kesalahanku.

Hingga suatu hari, seusai makan malam, sang baron memanggilku secara pribadi ke ruangannya. Aku sudah menangkap firasat yang tak bagus mengenai ini. Tapi apa yang bisa kulakukan selain menghadapinya? Sepertinya aku memang benar-benar tak punya pilihan. Sang baron mengatakan bahwa ia tak sanggup lagi menahan desakan istrinya untuk menyeretku ke pengadilan. Istrinya yang jelita namun diam-diam berkuasa itu bahkan telah mengancam bahwa jika aku tak diadili dan dihukum setimpal, ia akan menggugat perceraian. Bagi sang baron, tentu ini masalah yang cukup serius karena ia sedemikian cinta pada istrinya.

Pagi harinya, empat orang polisi sudah berada di serambi depan. Mereka telah bersiap menjemputku. Hanya beberapa pelayan saja yang menyampaikan simpati dan selamat tinggal padaku. Selebihnya sekedar memandangiku di balik tirai-tirai berumbai. Pada detik ini, aku sudah kehilangan semua asa dan harapanku. Neraka sudah ada di depan mataku, di kiri kananku. Apa yng bisa kulakukan selain menceburkan diri? Karena kalaupun aku tetap berdiam, toh pasti akan ada tangan-tangan yang mendorongku hingga tercebur. Apalagi mengingat siapa aku dan siapa yang menggugatku membuatku semakin pesimis bahwa pengadilan akan memenangkan dan membebaskanku.

—————————

 

Tujuh hari di dalam sel sempit bawah tanah yang begitu lembab dan kotor justru membuatku lebih siap menghadapi tiang gantungan yang akan didirikan dua hari lagi. Aku tak lagi memikirkan apapun selain membayangkan keadaan surga atau neraka yang akan kutempati setelah ini. Kucoba menghibur diri diantara keheningan yang mencekam, bahwa setidaknya aku telah terbiasa dengan rasa sepi saat aku telah sampai di liang kuburku sendiri. Tak ada seorang pun yang menjengukku karena di hari-hari terakhir ini aku tak lagi diperbolehkan untuk dijenguk siapapun. Lagipula, yang kupunya hanyalah keluarga jauh dan saudara-saudara yang tak terlalu peduli padaku. Semasa aku hidup saja mereka tak menganggapku benar-benar ada. Jadi kurasa mereka takkan keberatan sedikitpun dengan kematianku.

Hanya bintang-bintang yang berkerlap-kelip di balik jeruji selku yang setia menemani dan mendengar kisah dan sisa tawaku. Aku tahu mereka sedang tak sabar menanti kedatanganku disana. Kudengar pula bisik mereka yang begitu syahdu, “Seharusnya kau bahagia karena sebentar lagi kau tak lagi terjebak dalam kutukan menjadi pelayan seumur hidupmu, berikut dengan generasi-generasimu.”

 

 

 

Terkhusus untuk : para TKI korban tiang gantungan… R.I.P.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s