Kisah rindu pada keseratus (mantan) kekasih…

Nampaknya beberapa hari ini Xamosa, nenek para bintang, gampang senewen jika mata tuanya menangkap sosok manusia di bawah sana – di antara sudut-sudut bumi yang tersembunyi. Kami semua, para bintang yang berusia belia, tentu saja dibuat gusar dengan sikapnya yang mulai mengusik ketentraman. Ia mengomel tiada henti. Menceracau tiada habis. Mengumpat tiada akhir. Katanya, makhluk yang paling bodoh sejagat raya itu adalah manusia. Katanya, makhluk yang sangat susah belajar itu adalah manusia. Katanya, melihat tabiat manusia membuat kulitnya makin cepat keriput. Padahal sebenarnya juga sudah banyak yang keriput. Katanya, memikirkan manusia membuatnya ingin semakin cepat pensiun menjadi bintang yang bersinar.

Tak berbeda dengan bintang-bintang yang lain, celotehannya ini pun sedikit banyak mengganggu benakku. Apa iya sich, separah itu? Mengapa Xamosa sampai berkata begitu? Padahal sejatinya dia tak pernah secerewet ini….

Maka di suatu siang yang cerah, saat dimana bintang-bintang lain sedang terlelap dalam istirahatnya, kuberanikan diri untuk menghampiri Xamosa. Saat itu ia sedang asyik berselonjor di kursi malas kesayangannya sembari mengipas-ngipas diri. Sepertinya sedang kegerahan.

“Apakah aku mengganggumu jika hendak bertanya sesuatu, wahai Xamosa yang bijaksana?” Kucoba menyapa sesopan mungkin. Akhir-akhir ini ia mudah naik darah. Suasana hatinya pun cepat berubah-ubah.

“Oh… kau rupanya. Kemarilah, nak! Kedatanganmu tidak mengganggu sama sekali. Duduklah disini denganku. Apa yang hendak kau pertanyakan?” Sahutnya ramah sambil  menaikkan kacamata rabunnya ke pangkal hidung demi melihatku lebih jelas. Seperti biasa, senyumnya selalu terkembang saat melihatku.

“Aku hanya sekedar ingin tahu mengapa akhir-akhir ini kau nampak begitu senewen pada manusia. Apakah engkau baik-baik saja, Xamosa? Aku takut, jangan-jangan kesehatanmu sedikit menurun… Kurasa kau harus lebih banyak beristirahat.”

“Oh, tidak… Aku baik-baik saja, sayang… maaf  jika tingkahku justru telah membuatmu risau. Aku hanya gemas gara-gara melihat polah tingkah manusia yang seringkali konyol. Kau tahu khan, saat ini tugasku adalah menyinari bumi bagian utara.”

“Memangnya ada apa di utara sana?” Radarku menangkap bahwa ia punya sebuah cerita menarik.

“Disana, mata tuaku ini terpaksa terus-terusan memelototi seorang gadis yang kerap menyia-nyiakan waktunya. Kerjanya hanya melamun dan melamun. Menangis dan tertawa sendiri. Kupikir ia sedang depresi. Ternyata justru aku yang jadi tertekan tiap kali melihat tingkah konyolnya. Namanya Rindu. Ia adalah puteri kesayangan hakim agung yang terkenal di daerah utara.”

“Oh ya? Seperti apa dia? Apa kau tahu apa yang sedang bersemayam dalam dunia lamunannya?” Aku makin antusias mendengar cerita dan keluh kesah Xamosa.

“Rindu adalah seorang anak manusia yang memang memiliki karma untuk selalu merindu. Kurasa itu sebabnya ia bernama Rindu. Yeah… Sesungguhnya ia seorang gadis cantik dan berpengetahuan tinggi, seperti ayahnya. sayangnya, ia tak begitu pintar dalam soal percintaan. Ck ck ck, padahal sudah pengalaman.” Xamosa mencibir.

“Ada apa dengan kisah percintaan Rindu? Apakah saat ini ia sedang merindukan kekasihnya? Apakah menurutmu itu salah?”

“Tidak, tidak. Merindukan kekasih sama sekali bukan perbuatan salah. Tapi saat ini Rindu justru sedang tak memiliki kekasih. Entah karena apa. Yang kutahu, sebelumnya ia memiliki begitu banyak kekasih. Bahkan sempat kupikir bahwa ia takkan pernah dapat hidup tanpa seorang kekasih. Kukira itu adalah tabiat manusia yang tak pernah membiarkan hatinya kosong dari seseorang.” Sekilas kutangkap kilatan mata Xamosa yang penuh kejengkelan. Ia meneruskan ceritanya dengan sedikit emosional. “Masalahnya, kali ini Rindu kerap membuang-buang waktu. Merenung dan melamun sepanjang waktu. Merasa galau sendiri oleh sesuatu yang sesungguhnya ia ketahui takkan memiliki pemecahan, melainkan justru membuat hatinya makin pedih dan tersayat. Akibatnya, ia abai dengan segala hal positif di sekitarnya. Matanya dibutakan oleh kerinduan yang sia-sia. Kau tahu, nak! Aku paling gemas jika melihat manusia yang bertingkah konyol seperti itu. Mereka pikir waktu itu begitu murah!”

“Wah, tak kuduga kau jadi sesewot itu… Memangnya Rindu sedang rindu pada siapa?”

“Ia tak merindukan siapapun yang lebih baik, melainkan para kekasih-kekasihnya yang terdahulu. Kenangan masa lalunya terlampau membuatnya larut hingga mabuk. Lebih sibuk memunguti jejak, padahal telah banyak tanda arah yang menuju maju. Kau pikir apa itu tidak konyol namanya? Ah, untunglah aku tak pernah punya mantan kekasih.”

“Apakah kau akan melakukan sesuatu terhadap Rindu?” tanyaku hati-hati.

“Hahaha… untuk apa? aku ini sudah renta, sebentar lagi pensiun. Biar saja mereka, manusia itu, menjadi tolol karena kelambatannya dalam belajar dan menyia-nyiakan waktu. Manusia memang tak akan pernah belajar melainkan melalui jejak ketololannya sendiri. Itu sudah karma mereka.  Yang patut kulakukan sekedar menjalankan tugasku menyinari daratan itu dengan sinarku yang sudah semakin melemah.”

Usai bercengkerama dengan Xamosa, bukannya ketenangan yang kuperoleh. Melainkan justru gelegak penasaran yang semakin membuncah. Maka kuputuskan malam nanti untuk menemui Rindu, berkenalan dengannya.

***

 

Sudah tiga hari berturut-turut aku meneropong aktivitas Rindu dari balik atap kamarnya. Demi tindakan ini sampai-sampai aku harus beradu mulut dengan awan yang kerap mengganggu menutupi pandanganku. Bagiku, awan memang selalu menyebalkan.

Benar kata Xamosa, gadis itu begitu membosankan. Aktivitasnya hanya sekedar duduk termenung di balkon kamarnya selama berjam-jam. Kadang ia menatapku. Namun sorot matanya menerawang, seperti melihat sesuatu yang tak lagi dapat ia tuju. Ah, pantas saja Xamosa menjadi senewen. Di usianya yang sedemikian lanjut, menonton ulah manusia yang sekedar bengong atau menghabiskan diri untuk menangis hingga tertidur membuatnya cepat mengantuk. Matanya telah tua. Namun tentu ia tak boleh tertidur saat jam kerjanya masih berlangsung. Aku membayangkan Xamosa yang berjuang keras untuk tidak terangguk-angguk, sedapat mungkin menahan kantuk, tiap kali bersinar di atas rumah kediaman keluarga Rindu.

Hingga pada saat yang kukira tepat, kuberanikan diri untuk menyapa Rindu. Semula ia tak sadar dengan keberadaanku. Maka kuterangkan sorot cahayaku ke arahnya. Cara ini cukup berhasil. Rindu merasa silau.  Barulah perhatiannya teralih padaku. Lega rasanya hatiku.

“Hai, Rindu. Apa kabar?” Kuberikan senyum terlebar padanya. Tapi tiba-tiba aku merasa takut dan khawatir, jangan-jangan senyumku terlalu lebar hingga menakutkannya. Seperti senyum joker yang berlebihan itu.

“Oh… hai, bintang! Tumben kau menyapaku. Aku baik-baik saja.” Rindu membalas senyum lebarku dengan senyum manis dari bibirnya yang mungil kemerahan.

“Mmm…. boleh aku menemanimu malam ini, Rindu?”

“Tentu saja boleh. Aku senang memandang langit malam. Dan mereka terlihat jauh lebih indah dengan kehadiranmu.”

“Ah.. kau pintar sekali membesarkan hatiku, nona.” Aku tersipu. “Tapi kulihat akhir-akhir ini kau banyak melamun. Apa kau sedang murung? Jika kau tak keberatan, ceritakanlah padaku. Siapa tahu aku dapat menghiburmu.” Kucoba untuk memancingnya.

“Tidak, bintang… aku tidak sedang murung, kok. Mungkin pikiranku saja yang sedang senang mengembara. Seperti… merindukan nostalgia di masa-masa lama…”

“Aha.. aku tahu! Kau pasti sedang merindukan kekasihmu! Ya, kan?” Sulit rasanya berpura-pura girang dan menggodanya dengan cara menari-nari sambil bertepuk tangan di hadapannya. Tapi saat ini aku sungguh melakukannya.

“Ah, tidak… Aku tidak punya kekasih saat ini, bintang. Akhirnya, yang kubisa hanya sekedar dapat merindukan kekasih-kekasihku yang terdahulu. Mereka yang tak bisa kuhapus jejaknya dalam benakku. Ah, bintang. Apakah kau memiliki kenangan berkasih-kasihan seperti halnya diriku? Manis sekali, bukan? Aku bahkan masih dapat mendengar tawaku yang berbaur dengan tawanya saat kami berendam dalam kolam sukacita. Aku masih mengingat pelukan dan kecupan hangatnya saat jiwanya masih memuja diriku dengan membabi-buta. Tapi aku juga masih dapat merasakan perihnya sebuah tragedi yang tiba-tiba saja terjadi tanpa pernah kami harapkan kedatangannya. Di balik kenyamanan, sesungguhnya ada selintas kepedihan yang menorehku tiap kali aku mengingatnya… kebahagiaan dan kepedihan yang selintas-lintas, yang membuatku tak pernah bosan untuk mengingat dan merindukannya… Seperti saat ini, saat kenangan akan kepedihan sedang melintas di angan dan ingatanku…” Raut muka Rindu seketika bertambah menjadi semakin murung.

“Sudah, sudah. tak perlu lagi kau teruskan ingatan nostalgia yang justru nantinya malah menyesakkan dadamu. Saat ini aku sedang tak membawa sapu tangan untuk kuberikan padamu jika air matamu sampai tumpah. Tapi ngomong-ngomong, siapa sih mantan kekasihmu yang sedang kau rindukan sekarang?” keusilanku untuk selalu ingin tahu tak terbendung.

“Hahaha… Ada banyak. Aku tak sekedar rindu pada satu orang semata, bintang.” katanya sedikit tersipu. Tapi sepertinya ia sedikit girang setelah berhasil membuatku membelalakkan mata.

“Hah? Memangnya ada berapa mantan kekasih yang sedang kau rindukan?”

“Ada seratus. Ada seratus kekasih yang pernah hinggap dalam kanvas hidupku yang penuh warna…”

Mendengar angka yang disebut Rindu, untunglah aku tak sempat terpental jauh dari posisiku semula. Benar-benar tak kusangka bahwa gadis muda yang tampak polos ini pernah memiliki kekasih sebanyak itu.

“Wow… Luar biasa! Tapi ngomong-ngomong, mengapa mereka semua pada akhirnya hanya menjadi mantan kekasihmu? Eh… mmm… maaf, maksudku….” Kusadari dengan terlambat bahwa pertanyaan lancang telah meluncur dari mulutku yang kerap tak terkendali.

“Tak apa, aku tahu maksudmu. Aku tak menyalahkanmu jika kau berpikir pasti ada yang tak beres denganku. Entahlah, kupikir hal itu benar. Banyak yang menyebutku sebagai petualang cinta. Tapi kurasa kau dan juga yang lain-lain tak akan mengerti. Ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan – mengapa pada akhirnya hubungan percintaan yang telah banyak kujalin pada akhirnya tersudahi.”

“Tapi kupikir kau pun sudah cukup berpengalaman dalam soal percintaan. Lantas mengapa saat ini kau masih tak memiliki kekasih?”

“Hmm… kurasa karena belum menemukan sosok yang tepat saja…”

“Kau tak akan pernah menemukan sosok yang tepat jika di belakangmu masih melekat bayangan keseratus mantan kekasihmu itu. Mereka merenggut perhatianmu dari sosok-sosok yang ingin merajut cerita baru bersamamu. Kau tak akan pernah menemukan sosok yang baru jika tak kunjung dapat menyadari kekurangan-kekurangan masa lalumu – yang kemudian membuatmu berpikir bahwa langkah paling bijak adalah menutup buku kenangan itu. Berhentilah menyia-nyiakan waktu. Apa gunanya merindukan masa lalu yang tak memiliki manfaat baik untuk masa depanmu? Merindukan masa lalu boleh saja, asal tidak membelenggu gairahmu untuk melakukan hal yang lebih baik di masa depan.”

“Hahahaa… Kau begitu banyak bicara tentang masa depan. Apakah itu semacam makanan yang mengandung ambisi?” Gaya bicara Rindu mengejekku. “Aku sendiri tak paham dengan masa depan. Kupikir, aku hanya mengikuti hari yang mengalir ke depan, terkaget-kaget dengan banyak kejutan. Tidakkah lebih baik jika dinikmati saja? Hidup ini hadiah, bukan?”

“Setiap orang pasti memiliki masa depan. Manusia selalu ditempatkan pada sebuah lorong yang ujungnya terdapat semburat cahaya. Apapun yang ada di balik cahaya, yang tak pernah kita ketahui, itulah misteri. Namun tak ada yang bisa kita lakukan selain terus berjalan ke depan, meniti tapak satu demi satu, tapi juga menjaga langkah supaya tak terjatuh. Ingatlah! Maju ke depan. Bukan berbalik ke belakang. Di belakang sana sudah tak lagi kau temukan semburat cahaya. Lihatlah langkahmu, namun jangan abai untuk terus menatap ke depan, ke arah cahaya. Bukannya terpukau atau terlampau asyik dengan kejutan-kejutan yang ada di setiap pertengahan perjalananmu.”

Aku sendiri terkaget-kaget mendengar kata-kataku barusan. Tak kusangka aku dapat bertutur sepanjang itu. Tiba-tiba saja aku merasa salah tingkah. Kupikir aku telah terlampau banyak bicara pada Rindu. Ah, jangan-jangan Rindu merasa dikuliahi, diceramahi. Padahal aku hanya menyampaikan apa yang ada dalam pikiranku. Apa jadinya jika ia nanti justru akan mencemoohku? Kini aku sekedar berharap semoga ia tak lekas bosan terhadapku.

“Bijaksana sekali kau, bintang. Siapa yang mengajarimu tentang filosofi seperti itu?”
Sungguh tak kuduga jika Rindu ternyata justru memujiku. Tak dapat kutahan, pipiku memerah  makin merona. Kini aku sanggup menegakkan kepala.

“Hahaha… Tentu saja ada yang mengajariku. Hanya seorang nenek tua yang sedang bermasalah dengan penyakit kantuk yang akhir-akhir ini menyerangnya…”

“Ohh… kasihan sekali nenek itu… Ia harus terlibat dengan sesuatu yang membuat rasa kantuknya hilang. Andai aku dapat menolongnya….” Rindu tampak sungguh-sungguh bersimpati. Aku hanya menanggapinya dengan senyum kecut. Andai saja ia tahu…

“Menurutmu, apa yang harus segera kulakukan? Mencari kekasih baru?” Sepertinya Rindu kini mulai menyadari kegentingan permasalahannya. Ia bahkan tampak sedikit putus asa.

“Hmm… kedengarannya itu ide yang bagus, sepanjang kau tak lagi menjadikannya serupa dengan nasib keseratus kekasihmu yang lalu – yang kemudian hanya sekedar untuk kau ingat dan rindukan di kemudian hari tanpa membawa manfaat apapun. Bosanlah untuk jatuh pada lubang yang sama kesekian kalinya. Kurasa kau telah cukup pintar dan pengalaman untuk menelaah apa dan mana yang akan menjadi sia-sia atau berguna.” Aku mencoba memberinya saran bijak. “Atau… jangan-jangan kau hendak menyongsong target hingga mencapai angka dua ratus kekasih?“ Selorohku.

“Sebenarnya ada seorang pemuda yang mendekatiku. Mulanya kupikir ini adalah permainan ayahku, karena pemuda itu adalah putera dari salah satu pejabat istana. Sempat aku didera oleh prasangka buruk terhadap ayahku. Kau tahu, sulit sekali mendapatkan sisi positif pada hal-hal yang sejak awal telah tidak kita sukai. Namun aku tahu jika itu bukanlah sikap yang baik. Maka aku mencoba untuk mengalah, membuka diri pada hal baru yang menghampiriku. Hingga pada suatu kesempatan, akhirnya aku benar-benar bertemu dan bertatap muka dengan pemuda itu. Hm.. Ternyata ia tak begitu buruk. Tutur katanya mengesankan, tabiatnya pun amat sopan. Aku bahkan tertarik untuk belajar menyukainya. Eh, kurasa saat ini aku memang benar-benar telah menyukainya. Ah, aku ini memang mudah sekali jatuh cinta. Jika tidak begitu, tentu aku takkan pernah memiliki kekasih sebanyak seratus kali. Di sisi lain, ayahku senang mengetahui perkembangan ini. Pada beberapa kesempatan, ia mulai membicarakan soal pernikahan. Barangkali ia senang karena pada akhirnya dapat berkongsi dengan golongan bangsawan yang setara dengan keluarga kami. Menurut ayah, itu demi menjaga kualitas keturunan kami. Tapi jujur saja, aku sedikit takut. Aku telah mengalami kegagalan sebanyak seratus kali. Aku tak yakin dapat melampauinya…” cerita Rindu kepadaku. Suaranya nyaris tertahan… seperti tercekik.

“Beruntung sekali kau menemukan sosok sempurna yang berhasil membuatmu kagum dan jatuh hati. Namun seperti saranku tadi, berusahalah untuk tidak menjadikannya sebagai kekasih yang keseratus satu, yang selanjutnya nanti hanya dapat kau rindukan kenangan-kenangannya tanpa berefek sama sekali pada masa depanmu. Berhentilah memberi cuka pada hatimu sendiri. Kau harus berani meraih masa depan, cahaya itu, dengan segenap kemampuan usaha dan prasangka positif. Tidakkah kau ingin sesekali melakukan hal yang berbeda? Rangkuh kerinduanmu untuk sebuah perwujudan yang nyata, yang tak hanya memberimu pelukan dan ciuman dalam impian semata. Yang tak sekedar memberimu jejak kenangan serupa asap yang tak sanggup kau tangkap. Kau butuh kebahagiaan yang nyata, Rindu! Kau lebih dari layak untuk mendapatkan itu semua karena kau adalah perempuan yang sungguh mempesona bagi siapa saja. Jangan sia-siakan kelebihanmu untuk hal yang justru membuatmu terperosok. Sambut cintamu dengan langkah yang lebih baik. Bangkitlah dengan berani.” Kusadari, aku nyaris seperti orator perjuangan.

“Terima kasih, bintang… Kau benar-benar mencerahkanku. Aku pasti akan mempertimbangkan saranmu. Eh, tapi… sebenarnya ada sesuatu yang masih mengganjal di hatiku. Aku takkan merasa tenang jika impianku ini belum tertuntaskan. Maukah kau menolongku, bintang? Sekaliii ini saja.” Suara Rindu terdengar ragu-ragu. Ia bahkan takut menatapku. Tapi nadanya penuh harap. Nyaris menghiba.

“Tentu saja aku akan membantumu jika aku memiliki kesanggupan untuk itu. Katakanlah…” Seperti biasa, aku tak sanggup menolak.

Seketika Rindu menjadi girang. “Aku hanya merasa penasaran dengan kabar keseratus mantan kekasihku. Maukah kau mencari tahu berita terbaru mengenai mereka? Maukah sekalian kau menyampaikan salamku pada mereka?”

Rindu nyaris membuatku pingsan untuk yang kedua kalinya. Betul kata Xamosa, manusia itu memang bebal, sekaligus keras kepala. Sempat aku merasa sekedar membuang liur karena telah bicara panjang lebar pada Rindu. Hasilnya sia-sia. Tapi apa dikata, aku sudah terlanjur berjanji padanya untuk membereskan hasratnya yang menjengkelkan itu.

“Oh, baiklah. Itu soal gampang. Kau cukup berdiri disini menunggu, sementara aku akan berkelana mencari kabar mengenai keseratus mantan kekasihmu sekaligus menyampaikan salammu.”

Mendengar kesanggupanku, Rindu senang bukan main. Cahaya matanya berpendar-pendar. Girang tak terkira. ‘Ah, manusia… manusia…’ keluhku dalam hati.

***

Berkat misi Rindu, kesibukanku selama tiga hari ini hingga nyaris mengalahkan laju kecepatan bintang berekor. Mondar-mandir kesana-kemari, berkelebat-kelebat kesana-kesini. Kakiku pegal bukan main. Otot leherku kaku, nyaris tak bisa berputar. Sekonyong-konyong tubuhku berubah menjadi robot karatan. Sangat kesakitan. Namun aku lega karena dapat memenuhi janji pada Rindu. Segala informasi mengenai keseratus mantan kekasih Rindu yang terpencar di seluruh penjuru dunia telah kudapatkan. Pun tak lupa menyampaikan salam Rindu.

“Hai Rindu, sudah kupenuhi permintaanmu.” Laporku di saat kami bertemu. Rupanya ia cukup setia menunggu kehadiranku. Berikutnya, tiga jam pertama kuhabiskan untuk membeberkan kabar masing-masing dari keseratus mantan kekasihnya. Lidahku sampai terasa kebas. Bibirku ngilu. Dan Rindu sekedar menjadi pendengar yang baik, yang sesekali tertawa, sesekali  menangis, sesekali tanpa ekspresi.

“Dan nyaris keseratus mantan kekasihmu itu pun menyampaikan salam dan doa untukmu, Rindu. Tak ada lagi yang mereka harapkan darimu selain semoga kau berbahagia dengan masa depanmu. Dengan hidup barumu. Nah, sekarang kau telah tahu bahwa mereka pun kini telah sibuk dengan kehidupan mereka sendiri-sendiri. Maka cukuplah kenangan-kenangan itu kau simpan, tak perlu lagi kau ulur-ulur. Genggamlah benang yang baru dengan harapan yang lebih baik, dengan jenis cinta yang lebih baik.”

“Terima kasih banyak, bintang! Kau sungguh seorang sahabat yang sangat baik. Percayalah, aku pasti akan menjadi lebih baik setelah ini…” Rindu memlemparkan senyum termanisnya padaku. Senyum paling indah yang pernah kulihat dari seorang gadis. Ia bahkan menciumku.

***

Dua hari belakangan ini raut muka Xamosa terlihat berbinar. Keceriaannya mulai terbit. Sepertinya ia sedang senang. Semoga ini adalah sebuah pertanda baik bagi kami, para penghuni dunia bintang.

“Wahai Xamosa, apa yang membuatmu nampak sedemikian girang dan terlihat bahagia?” Sapaku saat secara tak sengaja berpapasan dengannya di salah satu peredaran.

“Oh, hei nak… Kau sungguh jeli mengenali suasana hatiku. Aku memang sedang senang saat ini. Kini, aku tak lagi terkantuk-kantuk saat bertugas. Kau tahu apa sebabnya? Beberapa hari terakhir ini kulihat pemandangan yang indah dan menyenangkan di bawah sana. Ada musik dan tetabuhan riang, ada lampion-lampion berwarna-warni, ada banyak manusia yang berpakaian indah-indah, ada beragam kue dan makanan yang tampaknya mengundang selera. Kudengar pula banyak tawa dan ungkapan-ungkapan penuh semangat. Kurasakan udara yang membawa hawa keriangan. Nampaknya ada perayaan di bawah sana, seperti pesta pernikahan yang meriah. Ah, entahlah… sebenarnya aku tak terlalu begitu peduli. Tapi yang jelas, melihat  itu semua jadi tak membuatku mengantuk. Senang sekali aku!”

Mendengar cerita Xamosa, aku nyaris tak sanggup menahan tawa. Untunglah hanya senyum simpul yang terukir di wajahku. Aku berusaha untuk menyembunyikan sekian komentar maupun kisah rahasiaku.

Ah, Rindu… semoga kebahagiaan lah yang kau temukan di sebalik cahaya misteri hidupmu. Begitulah doa dan harapan yang lamat-lamat kulantunkan dalam hati. Semoga kali ini tak ada lagi rindu yang tersia-sia.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s