Kisah negeri dengan toilet termewah

Laiknya kerajaan manusia, kerajaan bintang pun kerap melakukan misi imperialisme ke daerah-daerah lain yang kira-kira memiliki potensi untuk dijajah. Tak pelak, peperangan seringkali tak terhindarkan. Tapi kami, rakyat kerajaan Bintang Timur, tak terlalu khawatir dengan hal-hal yang menjadi urusan kenegaraan macam itu. Kami ini memang bukanlah negeri yang paling maju. Tapi kami pun bukanlah negeri yang amat terbelakang. Jadi dalam tiap peperangan yang terjadi, kami tak terlalu menampilkan ekspresi yang berlebihan kala menang ataupun kalah.

Contohnya seperti saat ini. Negeri kami sedang berperang dengan kerajaan Bintang Tenggara. Sudah lebih dari tiga pekan perang berlangsung, namun masih belum juga dipastikan siapa gerangan yang akan menjadi pemenang. Tapi sempat kami mendengar gosip dan kasak-kusuk dari dalam istana bahwa beberapa batalyon pasukan kami terpukul mundur oleh musuh. Wah, sepertinya kali ini kami harus bersiap-siap menerima kekalahan. Artinya, jika negeri kami kalah, maka kami akan menerima beberapa petisi yang mengharuskan kerajaan membayar denda dan upeti perang.

Jika itu sampai terjadi, maka betapa naasnya negeri kami. Apalagi saat ini kerajaan sedang mengalami defisit besar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sejak tiga dekade lalu, negeri Bintang Timur digerogoti oleh para pejabat istana licik yang tak segan melakukan korupsi besar dan kecil. Mereka itu ibarat wabah tikus. Tak bisa dihentikan dengan membunuh satu dua tikus, melainkan justru semakin bertambah banyak. Makin hari, para pejabat istana itu semakin kaya raya berkelimpahan harta benda. Sedangkan rakyat kecil justru semakin melarat akibat pembayaran pajak yang terlampau tinggi hingga membuat mereka sekarat.

Namun raja Xaverius, yang sedang bertahta saat ini, tak terlalu memperdulikan urusan-urusan pelik negerinya. Barangkali karena ia terbiasa dengan pola hidup demikian semenjak dilahirkan oleh raja terdahulu: selalu berlimpahkan kesenangan, kejayaan, dan kekuasaan. Maka, sepanjang ia masih dapat menduduki singgasananya dengan nyaman, ia takkan mengkhawatirkan apapun – termasuk laporan-laporan perang dari pejabat istananya yang makin hari makin memburuk.

Namun sudah satu pekan ini tingkah laku raja Xaverius berubah. Mukanya kerap merah padam. Pembawaannya gampang senewen di setiap kesempatan. Hampir siapapun yang mendekat padanya akan mendapat cela. Dari waktu ke waktu, mulutnya tak henti merutuk dan mengumpat.

Usut punya usut, ternyata bukan soal perkembangan jalannya perang yang membuat sang raja berubah menjengkelkan. Itu diketahui oleh seorang pengawal yang tiba-tiba kena semprot saat raja usai menuntaskan hajatnya di toilet pesanggrahan agung. Awal mulanya terjadi di suatu hari, ketika raja sedang sibuk melayani audensi beberapa pejabat yang membawa beberapa kabar untuknya — seperti biasa. Namun tiba-tiba raja tak bisa duduk tenang di atas singgasananya. Entah karena apa, perutnya melilit tak tertanggungkan. Keringat dingin mengucur deras, mukanya merah padam. Barangkali menu sarapan yang disajikan juru masak istana pada hari itu adalah cumi saus merah yang pedasnya membakar lidah. Perut raja mulas tak keruan. Sontak sang raja yang tak lagi tahan segera berlari ke toilet terdekat, yakni sebuah toilet yang terletak di sayap kiri pesanggrahan agung.

Namun siapa yang menyangka ketika raja keluar dari toilet, bukannya kelegaan yang tergambar pada raut wajahnya yang tembam, melainkan justru kemurkaan yang mencuat tiba-tiba. Seorang pengawal – yang kemudian dengan rasa penuh dendam menyebarkan rumor soal ini – dia lah yang pertama kali kena semprot sang raja.

“Toilet apa ini! Aku sama sekali tidak menduga kalau toilet disini begitu buruk! Air yang mengalir kecil sekali! Aromanya pun memuakkan! Apakah mereka tak menyediakan parfum seperti toilet di tempat peristirahatanku?? Aku jijik sekali membasuh kedua tanganku diatas poselen murahan yang warnanya kusam. Seharusnya ada wastafel yang berhiaskan batu koral dan zamrud seperti yang biasa kupakai! Toilet seperti ini sama sekali tidak layak berada di dalam istanaku!”

Maklumlah, sang raja memang sebelumnya tak pernah menggunakan toilet umum seperti yang terdapat di pesanggrahan agung. Beliau hanya menggunakan toilet pribadi yang terletak di kediamannya, di kamar pribadinya. Toilet umum itu biasa dipakai oleh para pejabat dan tamu-tamu istana jika sewaktu-waktu mereka kebelet saat sedang menghadiri audensi atau acara-acara kerajaan lainnya. Sedangkan toilet raja sendiri diketahui adalah sebuah toilet paling mewah yang pernah dibuat di jagat raya. Dibuat demikian karena toilet adalah salah satu ruang favorit raja. Selain ruangannya yang luas, perabotan yang sangat mewah, hiasan dan ornamennya pun dipenuhi dengan batu-batu mulia semacam zamrud, berlian, safir atau opal. Terdapat pula ukir-ukiran rumit di sekeliling dindingnya yang terbuat dari marmer putih dengan gaya seni tingkat tinggi yang tak tertandingi.

Sudah menjadi tabiat raja bahwa jika satu kali suasana hatinya terganggu, maka jangan mengharap bahwa sikap raja akan menyenangkan. Seharian itu kemuraman dan kedongkolan menguasai jiwanya. Jika sudah begini, maka takkan ada seorangpun yang sudi mengusiknya – termasuk sang putera mahkota kesayangan sekalipun.

Namun perkara toilet ini ternyata bukanlah persoalan sederhana yang lekas terlupakan seiring waktu berlalu. Sudah nyaris sepekan, raja tak kunjung henti mengomel, menggerutu, dan mengungkit-ungkit soal toilet. Katanya, kondisi toilet di pesanggrahan agung yang pernah dimasukinya itu sungguh dapat mempermalukan dan menurunkan martabatnya di depan para tamu atau siapapun yang memasuki toilet tersebut. Soal gengsi adalah hal paling utama bagi sang raja.

Puncaknya, di saat pertemuan agung dengan para pejabat istana yang biasa terjadwal rutin dua minggu sekali, raja mengeluarkan ultimatum untuk merenovasi seluruh toilet yang ada di istana. Tak harus menyamai toilet pribadinya, namun setidaknya kondisi toilet baru nantinya tidak terlalu merendahkan harga dirinya. Kendati demikian, yang menjadi patokan kualitas tentunya adalah menurut ukuran penilaian sang raja.

Lahirnya proyek baru ini tentu disambut sukacita oleh beberapa pejabat yang bertabiat licik. Mereka telah dapat memetakan peluang untuk mendapatkan keuntungan di dalam kesempitan. Apalagi raja tak terlalu peduli, sepanjang kepentingannya tak terganggu.

Beberapa perancang toilet kenamaan dari berbagai negeri didatangkan. Mereka saling berlomba mengajukan desain toilet yang sekiranya mampu menarik perhatian sang raja. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa jikalau raja dapat disenangkan hatinya, maka ia akan menjadi begitu royal pada siapapun yang memikatnya. Tak heran jika orang-orang di sekelilingnya banyak yang memiliki tabiat sebagai penjilat.

Desain toilet baru telah ditetapkan. Waktu perombakan dan renovasi pun telah ditentukan. Toilet-toilet istana yang seluruhnya berjumlah dua ratus toilet itu kabarnya akan menjadi jauh lebih baik dari gaya toilet lama. Ubin dan dinding yang semula terbuat dari porselen diganti dengan marmer maupun granit kualitas terbaik. Bahkan beberapa perabotan pun terbuat dari emas, perak, dan batu pualam. Ornamen-ornamen diberi sentuhan batu-batuan mulia yang tertata apik nan eksotik – membuat toilet tersebut bersinar gemerlap. Parfum-parfum terbaik pun didatangkan dari negeri paling jauh. Bahkan pilihan air pun tak hanya sekedar air panas dan air dingin, pun juga ada air susu.

Sebenarnya proyek renovasi toilet ini sempat menimbulkan pro dan kontra di kalangan pejabat istana. Beberapa kubu memperingatkan bahwa proyek toilet ini terlalu menghambur-hamburkan anggaran kerajaan, karena di sisi lain kerajaan sedang mengalami defisit, pun masih harus membiayai perang yang jumlahnya tak sedikit. Rakyat kecil kerap datang secara berkelompok di batas luar benteng istana untuk menjerit, berteriak, dan menyuarakan kelaparan serta penderitaan mereka. Sungguh, alangkah tidak bijaksananya jika raja justru menghambur-hamburkan uang negara demi merenovasi toilet. Padahal toh sesungguhnya rupa toilet sebelumnya tak buruk-buruk amat. Setidaknya masih dapat dipakai dengan baik, pun tak meninggalkan kesan merendahkan martabat kerajaan. Pikiran sang raja lah yang terlalu berlebih-lebihan.

Namun apa lacur, ketika raja berkehendak, maka tak ada siapapun yang mampu menghalangi. Raja yang telah dibutakan dan ditulikan oleh kubu pejabat istana yang lihai menjilat demi kepentingan pribadi justru semakin murka. Amarahnya berkobar, emosinya meledak. Para pejabat istana yang berseberangan dengan kehendaknya dihukum berat dan dicopot dari jabatannya. Hingga tinggallah kini sang raja bersama tikus-tikus istana yang sesungguhnya justru menggerogotinya tanpa ia sadari — yakni para pejabat penjilat yang gemar korupsi.

Negeri Bintang Timur semakin kacau balau – meski memiliki toilet istana terindah sejagat bintang. Pemberontakan rakyat banyak terjadi. Kekalahan perang pun bertubi-tubi. Hingga pada satu hari yang naas, akhirnya musuh dapat merangsek masuk ke wilayah istana. Negeri Bintang Timur dihancurleburkan. Pembakaran terjadi dimana-mana. Bau kematian merebak di setiap penjuru istana. Para pejabat dan prajurit pun telah banyak yang lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Hingga tinggallah raja seorang diri. Naasnya, keadaan genting yang sedemikian mendadak ini membuatnya tak sempat mempersiapkan diri. Maka di saat musuh merangsek ke dalam istana, tak lagi ada pilihan bagi sang raja untuk menyembunyikan diri. Pada kondisi yang sangat terdesak itulah raja melihat bahwa toilet adala h satu-satunya tempat persembunyian yang aman baginya. Maka bersembunyilah raja di salah satu toilet istana yang terkenal mewah itu.

Kependudukan musuh di dalam istana ternyata berlangsung selama berhari-hari. Nyaris di setiap sudut, lorong, maupun sisi-sisi istana dijaga ketat oleh prajurit pihak musuh. Keadaan ini tentu sama sekali tak menguntungkan bagi sang raja yang terjebak di dalam toilet. Tiada pilihan baginya selain menunggu dan menunggu hingga situasi aman untuk keluar dan menyelamatkan diri.

Namun siapa yang betah berlama-lama di toilet? Meski dikelilingi keindahan dan kemewahan, namun tak ada satupun yang dapat dimakan. Apalagi aliran air sengaja dimatikan oleh pihak musuh. Raja yang terbiasa mengumbar nafsu makannya menjadi tak lagi sanggup bertahan. Makin hari badannya makin lemas. Wajahnya pias, harapannya pun kandas. Hingga malaikat maut mengunjunginya, maka ia pun tewas.

Beberapa hari setelah kematiannya yang mengenaskan, jenasah raja baru ditemukan oleh seorang prajurit musuh yang kebetulan sedang kebelet dan hendak ke toilet. ***

Advertisements

One thought on “Kisah negeri dengan toilet termewah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s