Kisah sandal jepit yang menggiring sengsara

Kelembaban udara yang membungkus kota  Palu, Sulawesi Tengah di  awal tahun 2012 ini tergolong cukup pekat. Belum lagi dengan hawa panas yang menguar, membuat gerah. Akhir-akhir ini mendung terlalu sering datang. Meski demikian, acapkali  ribuan bintang tak terlalu merasa terganggu. Mereka berunjuk gemerlap di hamparan hitam langit tak berbatas. Yang sempat kutahu, kali ini mereka, para bintang itu,  ramai menggosipkan nasib AAL — bocah lima belas tahun yang divonis penjara lima tahun hanya karena mengutil sandal jepit milik seorang anggota brimob yang gagah perkasa.

 Soal tabiat para bintang ini, asal tahu saja, mereka tak jauh beda dengan manusia. Menggemari gosip dan intrik-intrik. Senang berkelakar, tak jarang juga menghujat.  Terutama di cuaca yang cerah, kau akan melihat mereka bertengger dengan cara bergerombol. Mereka bercengkerama tentang banyak hal. Baik itu tentang diri mereka sendiri, maupun tentang apapun yang terletak di bawah sana.

 Namun kali ini, meski mendung kerap menggelayut, para bintang itu tak surut jua dalam berkasak-kusuk. Sebagian terbahak, sebagian mengurut dada. Beberapa kata dan ungkapan mereka yang penuh ekspresi sempat pula kudengar.

“Sungguh keterlaluan manusia-manusia itu… Sekedar nyolong sandal saja kok sampai dikurung lima tahun…” kata bintang yang berbaju kuning.

“Tapi bagaimanapun, yang namanya kesalahan itu ya wajib diberi hukuman supaya menjadi pelajaran. Entah itu anak, remaja, atau orang dewasa. Kalau dibiarkan apalagi dilindungi, mereka justru akan semakin menjadi. Mencetak generasi rusak. Tak punya rasa hormat sama sekali.” sanggah bintang berbaju biru. Intonasi suaranya menghentak-hentak.

“Inilah efek dari jaman yang semakin membebaskan ekspresi. Salah sedikit sudah main tuntut. Main meja hijau. Main undang-undang. Main pasal-pasal. Mereka sekedar bermain-main dengan produk manusia yang bisa diciptakan sekaligus dimanipulasi sendiri. Lucu sekali, kan? Yang merasa lebih berkuasa dan benar enteng saja main tuntut sana-sini. Yang merasa berpunya tapi punya salah pun enteng saja berkelit dengan hukum. Tinggal bayar gerombolan kuasa hukum  yang lihai memanipulasi. ” sela bintang berbaju ungu yang terkenal sinis.

Tiba-tiba bintang berbaju merah muda datang menghampiri dengan terengah-engah. Tubuhnya yang kecil dan gerak geriknya yang lincah membuat kemunculannya nyaris serupa hantu.  Kehadirannya selalu menjadi pertanda datangnya gosip baru. Maklum, dia adalah ratu gosip.

“Hei, teman-teman! tahukah kau bahwa presiden negara itu pun cukup menaruh perhatian atas kasus sandal jepit itu. Di kota Jakarta malah lebih ramai lagi. Orang-orang yang mengaku peduli menggalang aneka aksi solidaritas dan keprihatinan. Mereka berbondong-bondong menumpuk sandal jepit usang di depan ruang sidang pengadilan. Sedangkan seorang pemerhati anak yang lumayan tenar juga sudah mulai sibuk memantau dan mengurusi proses hukum AAL. Ia meminta supaya kasus ini cukup diselesaikan dengan cara kekeluargaan saja. Pokoknya heboh banget dehh!!!”

“Jaman memang sudah semakin edann!!! Mereka bukannya ngurusi soal kasus korupsi dan kejahatan-kejahatan berat lainnya, tapi malah sibuk sama sandal jepit. Kukira mereka telah kehabisan tenaga karena harus mengurusi banyak hal termasuk kasus-kasus yang ruwet. Ee..eehh… ternyata masih merasa tak punya kerjaan juga, sampai-sampai sandal jepit saja menjadi headlines…weleh weleh weleh…” komentar bintang berbaju coklat.

Hmmm…. kalau terus-terusan menguping obrolan para bintang, maka tak akan pernah ada habisnya. Mungkin akan lebih menyenangkan jika kita turun ke bumi, menjumpai apa yang kira-kira menarik untuk dijumpai.

Aku ingin menjumpai sandal jepit itu.

“Hai pit, apa kabarmu? lagi ngapain kamu disitu?” sapaku mencoba diramah-ramahkan.

“Owh… hai tang… kamu mengagetkan saja. Aku lagi ngantuk berat nih… udah dua hari ini aku kurang tidur. Orang-orang itu membawaku kesana-kemari. Aku lelah terus-terusan berganti tangan. Mereka juga tak henti membicarakanku.” keluh si sandal jepit.

“hmm… kasian juga kamu, ya… tentu kamu sama sekali nggak pernah membayangkan akan mengalami hal macam ini.” aku mencoba berempati.

“Sebenarnya aku sih nggak terlalu masalah. Hanya capek saja. Kalau kau ingin menghamburkan rasa kasihan, mungkin bocah itulah yang patut kau kasihani. Akhir-akhir ini dia menjadi jauh lebih pendiam. Mungkin ia mengalami semacam shock atau trauma.”

“Kok sepertinya kamu lebih bersimpati sama si bocah itu sich? Bukannya dia yang mencoba memisahkanmu dari tuanmu…?”

“Hohoho… kupikir aku malah nyaris berterima kasih padanya! Kau tahu, kami kaum sandal ini terbiasa ditempatkan di bawah. Maka itu kami lebih senang merendah. Tapi sayangnya pemilik sahku itu sedikit tinggi hati dan sombong. Belas kasihnya tipis. Senyumnya pun jarang. Sungguh menyebalkan. Dan dia menginjak-injakku dengan rasa penuh kemenangan seperti seorang penjajah. Karakternya sama sekali tidak cocok denganku. Jujur saja, aku tidak menyukainya. Maka itu, ketika kulihat ada seorang bocah yang hendak membawaku diam-diam, aku nyaris bersorak-sorai. Siapa tahu tuanku yang baru sedikit lebih menyenangkan. Tapi sewaktu dia hendak mengambilku, sudah kucoba untuk memperingatkan. ‘Hoi! Hati-hatilah dengan pemilikku ini. Kalau kau mencoba berurusan dengannya, kau akan mendapat masalah besar!’ Sayangnya dia tidak mendengarku…”

“Ooo… begitu ya….”

“Sekarang aku mau tidur dulu. Pinggangku sudah pegal-pegal tak karuan. Pergilah sana!” pungkas si sandal jepit yang langsung merebahkan punggungnya. Tak selang beberapa lama, ia sudah ramai mendengkur. kurrrrr…..kurrrrrr……kurrrrrr…..

Aku ingin menjumpai AAL, si bocah itu.

Tapi rupanya saat itu ia sedang tidur melingkar di sebuah dipan berkasur tipis dalam sebuah sel. Badan kurusnya menatap tembok yang senantiasa bersikap dingin terhadapnya. Aku tahu ia hanya berpura-pura tidur. Kudengar sayup-sayup isak tangis yang tertahan. Ah, aku jadi tak enak hati untuk mengganggunya.

 Maka kuputuskan untuk pergi saja. Kubiarkan malam menyelimuti rasa resah dan gelisah yang terpancar dari hati yang berduka. Aku tahu bahwa fajar akan segera menyingsing. Selimut itu pasti akan segera tersingkap, berganti dengan kehangatan yang dibawa oleh harapan….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s