Ebook Flash-Fiction #proyekcinta

Kawan-kawan yang baik,

Mari menikmati sajian istimewa kompilasi flash-fiction dengan kisah-kisah cinta yang menarik ini. Semoga menghibur dan menginspirasi.

Untuk download (versi pdf), silakan klik DISINI

Untuk versi blog, silakan klik www.ffproyekcinta.wordpress.com

Tak lupa saya ucapkan terima kasih sebesarnya untuk para pembaca yang budiman dan seluruh yang berpartisipasi dalam #proyekcinta ini.

cover #proyekcinta

Nikah

“Kalau aku nggak boleh kawin dengan Hans, lebih baik aku mati sajaaa…. Huhuhuuu….”

Brakk! Pintu kamar tertutup keras, nyaris menggoncangkan apa saja, termasuk hati setiap manusia yang mendengarkannya. Sarwendah segera menggedor-gedor pintu, sementara Ngatiman hanya sanggup bisu sembari mengisap rokoknya dalam-dalam. Pikirannya sedang tak karuan.

“Bagaimana ini, Pak? Aku sudah kehabisan akal buat ngatasin anak perempuanmu yang keras kepala ini. Rasanya percuma saja kita bersikukuh menentang kemauannya,” keluh Sarwendah pada Ngatiman. Ia sudah di ambang putus asa, karena bahkan membujuk Sari membuka pintu kamar pun ia tak lagi mampu.

“Ah, Bu… Cobalah kau bujuk sekali lagi… Pelan-pelan saja…” timpal Ngatiman, masih kokoh pada pendiriannya. Ia benar-benar merasa gusar karena Sari ngotot ingin kawin dengan Hans, sosok laki-laki yang sama sekali tak dikenalnya, tak jelas asal-usulnya. Padahal ia sudah mempersiapkan seorang calon yang hebat untuk putri semata wayangnya.

“Sari, dengarkan Ibu dulu, Nak… Cobalah kau mengenal Dimas lebih dulu. Dia anak yang baik, mapan, dari keluarga yang terpandang. Kalau kau memang tidak suka, kami tidak akan memaksa. Tapi cobalah dulu temui dia… Kasihan lho, sudah jauh-jauh datang tapi malah tidak kamu temui.” Sarwendah mencoba sekali lagi membujuk rayu dari balik pintu jati yang terkunci rapat.

Kan sudah kubilang, aku tak mau dengan Dimas. Pilihanku hanya Hans, Bu! Hans Hans Hans titik! Kalau Bapak dan Ibu terus memaksa, lebih baik aku bunuh diri sekarang!”

“Wah, NdukNduk… Jangan nekat, Nduk!” Sarwendah panik. Ia terus menggedor-gedor pintu sambil menoleh pada Ngatiman, yang juga mulai tertular kepanikan dan bangkit menghampiri Sarwendah di muka pintu kamar Sari. “Baiklah, Nduk… Kami turuti apa maumu. Dimas akan kami suruh pulang. Sekarang keluarlah. Mari bicarakan masalah pernikahanmu dengan Hans.” Akhirnya Sarwendah dan Ngatiman mengalah.

Tak seberapa lama, pintu kamar terbuka pelan-pelan. Sari muncul dengan muka yang sembab. Sorot matanya hanya berisi penderitaan. Tapi kemudian ia mulai dapat tersenyum sedikit demi sedikit.

“Sebaiknya kau ajak kemari dulu pacarmu yang bernama Hans. Kami ingin mengenalnya terlebih dulu, atau setidaknya membicarakan soal rencana pernikahan,” Kata Ngatiman dengan nada yang lunak. Ia sadar bahwa hati anaknya sedang seperti selembar kaca tipis.

Tiba-tiba Sari merengut. “Tentu saja Hans tidak bisa kemari, Pak. Dia orang Belanda. Tapi Bapak dan Ibu tak perlu khawatir. Kami sudah membicarakan semuanya. Bapak dan Ibu tinggal siapkan hari ijab kabulnya saja. Nanti dia pasti akan datang. Dia sibuk sekali…”

“Tapi, Nak… Kan tidak bisa begitu juga…” Sarwendah merasa keberatan. Bagaimanapun, Menurut Sarwendah, ide Sari tergolong nekat.

“Oke, lebih baik aku bunuh diri saja!” potong Sari sengit.

“Baiklah… Baiklah… Kami akan turuti maumu.” kata Sarwendah lekas-lekas.

***

Seminggu kemudian, di hari ijab kabul yang sederhana dan tampak tergesa-gesa, semua perangkat telah siap. Sementara Sari tampak tersipu-sipu dengan gaun kebaya putihnya, Ngatiman dan Sarwendah justru terserang rasa gelisah.

“Bagaimana? Mana calon mempelai prianya? Sudah jam 11 siang. Apa masih ada di perjalanan?” tanya Penghulu, yang tampak sudah tak sabar.

“Oh ya, tunggu sebentar ya, Pak…” jawab Sari dengan suaranya yang lembut dan riang, seolah-olah ia baru saja teringat sesuatu. Kemudian ia beranjak dan pergi menuju kamarnya.

Selang lima menit kemudian, Sari kembali ke ruang tamu, tempat acara sakral diselenggarakan. Kali ini ia datang dengan membawa laptopnya.

“Sari! Apa-apaan kamu! Masa di acara segenting ini malah mau main laptop!” Hardik Sarwendah setengah berbisik. Ia tampak gusar dengan kelakuan anaknya yang menurutnya tidak pada tempatnya.

“Tapi, Bu… Sari harus membuka laptopnya…” bantah Sari dengan setengah berbisik, membuat Sarwendah semakin tidak habis mengerti.

Di hadapan para hadirin, dengan tanpa merasa canggung, Sari membuka dan menghidupkan laptopnya. “Pak Penghulu, mari kita mulai acaranya. Hans sudah siap. Kami berdua sudah siap,” kata Sari sambil tersenyum pada Pak Penghulu.

Kemudian ia mengaktifkan aplikasi Skype. ***

cyber education silhouette

Tobat

“Te, hari ini rame, ya?” tanya Dahlia alias Darsih, pada Mawar alias Marni. Tapi Dahlia cukup memanggil Mawar dengan sebutan ‘Lonte’; sebuah panggilan akrab yang sudah lazim dan tak memberatkan hati.

“Wah, payahh… Cuma dapet lima buntut! Itupun nawar abis-abisan… Kalau begini terus, bisa-bisa kita cuman makan daun nih…” keluh Mawar. “Kamu sendiri, Rek?” Mawar balik bertanya pada Dahlia, yang biasa dipanggil ‘Perek’.

“Hari ini aku nggak dinas. Biasalah…. periksa ke klinik,” jawab Dahlia sembari mengipas-ngipasi dirinya dengan sebuah kipas plastik. Hari yang begitu panas membuatnya kegerahan teramat sangat.

“Kalau nggak salah baru minggu kemarin kamu ke klinik. Kok sekarang ke klinik lagi? Kamu nggak sampai kena raja singa kan, Rek?” Tanya Mawar penasaran dan antusias. Berbeda dengan Dahlia, Mawar tak lagi merasa terlalu gerah karena ia bahkan hanya memakai kutangnya saja.

“Nggak lah… Steril, tahu….” Kilah Dahlia. “Eh, ngomong-ngomong, mulai minggu depan dinas sosial mau mendatangkan pak kiai dan suruh kita-kita ikut pengajian. Sudah dengar, kan?” Dahlia mengalihkan pembicaraan. Ia menyelonjorkan kedua kakinya di ambin sempit, apek, dan keras yang biasa mereka tiduri berdua.

“Wah… modarrr kita! Bisa kobong nih… Makin lama makin kurang kerjaan amat sih orang-orang dinas sosial itu. Percumaa nggak bergunaaa!!! Kalo cuman mau bikin kita tobat, kenapa nggak sekalian kawinin kita-kita sama pak kiai aja, huh!” Mawar mulai sewot. Raut wajahnya sampai berkerut-merut, tak indah sama sekali. Usia tuanya yang sudah nyaris empat puluh tahun tak lagi dapat ia sembunyikan.

“Ya maklum lah, Te… Harga bensin sekarang sudah selangit. Tapi kabarnya gaji pegawai nggak naik. Makanya, mereka makin sibuk bikin proyek. Yaahh, kayak begini ini nih macam proyeknya. Kita-kita mah cuman bisa pasrah jadi obyek garapan proyek…”

“Memang nasib, Rek… Sekali jadi lonte pasar, selamanya jadi lonte pasar. Biar jaman berubah jadi surga, kita toh tetap cari makan dari selangkangan yang udah basi. Masih untung bisa beli makan, asal nggak ngunyah kutu aja, hahahaa…”

“Iya, kutu kupret yang bisanya cuman ngutang, hahahaa….”

***

Satu bulan kemudian…

“Lho… lho… Mau kemana, Rek? Kok kemas-kemas masukin baju ke koper segala… Mau pulang kampung? Sudah lapor sama mami?” Mawar terkejut saat masuk ke dalam kamar dan melihat Dahlia sedang memasukkan pakaian-pakaiannya di lemari ke dalam koper butut.

“Aku mau hidup di pesantren, Te…” jawab Dahlia singkat, masih sambil memberesi barang-barangnya yang hanya sedikit.

“Heh, kamu nggak sedang ngigau kan? Maksudmu apa? Bener serius?? Apa gara-gara kamu rajin ikut pengajian pak kiai itu? Wah, kamu pasti sudah naksir dan jatuh cinta sama pak kiai itu, ya… Memang sih, dia ganteng. Tapi harusnya kamu ngaca, dong… Eling, hal yang mustahil kalau dia sampai mau ngelirik kamu!” Mawar tampak tidak suka dengan gelagat Dahlia.

“Yaa… siapa tahu dengan hidup di pesantren bisa jodoh sama pak kiai, hihihii…” jawab Dahlia asal, sambil terkikik. “Wong pak kiai sendiri yang nawarin aku buat hidup di pesantren, kok… Janjinya, aku nggak bakal dianiaya. Lagian, aku sudah capek hidup begini-begini terus. Pengen ganti suasana lah…” sambungnya, kali ini sambil menatap serius ke arah Mawar. Ia sudah selesai mengemasi barangnya dan bersiap hendak pergi meninggalkan Mawar yang masih terperangah.

“Eh.. eh.. eh.. tapi nggak bisa begitu juga, dong… Trus, gimana dengan Darman? Masa kamu rela mengkhianati dia? Sudah dua tahun dia jadi pelanggan setiamu. Katanya, minggu depan dia mau ngelamar kamu, lho! Kalau kamu pergi, aku harus bilang apa ke Darman? Aku nggak enak sama dia. Selama ini kan dia selalu baik sama kita…” Mawar mulai merajuk. Ia tampak amat khawatir.

“Bilang aja kalau aku sudah tobat. Gitu aja kok repot,” kata Dahlia tanpa beban. Ia beranjak memeluk Mawar yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar, mencium pipi kanan kirinya, kemudian mengeloyor pergi begitu saja.

“Wahh… Modaarr akuu!!!” ujar Mawar sambil menepuk jidatnya. Ia benar-benar shock dengan kepergian Dahlia, terutama karena teringat dengan segepok uang yang pernah Darman berikan untuk membuat Dahlia mau menerima Darman, duda 60 tahun yang kaya raya dan punya banyak anak buah, sebagai suaminya. Mawar pun teringat sebuah ancaman yang mengincar keselamatannya. Pasalnya, uang itu telah ludes di meja judi.***

Note :
Kobong : Terbakar (bahasa Jawa)
Modar  aku!: Mati aku! (prokem; bahasa Jawa)
Eling : Ingat (bahasa Jawa)

Mari Menulis flash-fiction #proyekcinta

Kali ini, saya akan mengajakmu sekalian untuk menulis sebuah flash-fiction dengan tema ‘CINTA’. Saya membebaskan segala interpretasimu.

Syaratnya cukup mudah,

1. Karya flash-fiction (kisah pendek) terbarumu maksimal 4000 character (with spaces). Lebih dari itu, saya memiliki hak untuk mendiskualifikasi, ya…

2. Menyertakan image / ilustrasi merupakan nilai tambah. Jangan lupa untuk mencantumkan kredit/asal image.

3. Jangan lupa mencantumkan id/akunmu, twitter atau facebook.

4. Satu peserta hanya berhak mengirim satu karya.

5. Namun bagi peserta yang karyanya masuk dalam kategori Best Flash-Fiction, maka akan diberi kesempatan mengirimkan 2 flash-fiction. Nantinya, mereka yang mendapatkan kesempatan ini tentu akan dihubungi @bintangberkisah.

6. Kirim ke ceritabintang@gmail.com dengan subyek #proyekcinta

7. Paling lambat 7 Juli 2013 pkl 24.00 wib

8. Silakan posting di blog masing-masing, dan mention link ke @bintangberkisah.

Tidak ada hadiah untuk proyek menulis ini. Tapi nantinya saya akan membuat ebook untuk karya-karya keren yang masuk, dan dapat dinikmati siapa saja.🙂

Selamat menulis, Kawan!

Sekilas mengenai FLASH-FICTION: 

Perlu digarisbawahi bahwa FLASH-FICTION (FF) merupakan karya sastra fiksi. Jadi, bukan tergolong dalam puisi atau prosa (apalagi ungkapan hati semacam catatan harian). Seperti halnya fiksi pada umumnya, maka harus memuat unsur-unsur fiksi, antara lain; adanya penokohan, alur cerita, konflik, klimaks, dsb.
Yang membedakan dari cerpen adalah panjang ceritanya. Flash-fiction jauh lebih pendek daripada cerpen. Umumnya tidak lebih dari 5000 karakter atau 600 kata, atau kurang lebih 1,5 halaman A4 (sp 1 f 12). Perbedaan menonjol lainnya, flash fiction memiliki klimaks yg tajam, dan ini merupakan unsur paling utama sekaligus menjadi kekuatan flash-fiction. Biasanya, flash-fiction memberikan sebuah ledakan klimaks di bagian akhir cerita. Sesuatu yg tak disangka-sangka.
Sering menulis flashfiction  dapat melatih daya imajinasi & kepekaan kita dalam menciptakan klimaks atau konflik-konflik kreatif dalam sebuah cerita.

healthyisthenewskinny.com

healthyisthenewskinny.com

Sampai kapan menjadi ikan hias?

Image

Ini sungguhan amat menggangguku.

Maksudku berita-berita di televisi itu. Tak hanya sekadar berita, tapi segala hal yang ditayangkan oleh televisi itu. Entah sejak kapan tepatnya, aku mulai sedikit demi sedikit menjauh dari televisi. Setidaknya, untuk menjaga kewarasanku sendiri. Mengetahui terlalu banyak hal yang terjadi di dunia ini membuatku gila. Atau kupikir dapat menularkan semacam penyakit fatal yang merusak semua syarafku, sampai akhirnya membunuhku. Tidak, aku tidak ingin mati konyol seperti itu. Menurutku, itu cara mati yang tidak elegan.

Perubahan ini kuanggap cukup progresif. Karena aku sadar betul, dulunya tidak seperti ini. Sebelum manusia-manusia jaman sekarang terjangkiti penyakit ini, aku sudah mengidapnya lebih dulu. Ya, hanya ingin terlihat lebih cerdas — adalah penyakit yang dulu pernah kuderita dengan bangga diri. Nyaris setiap saat aku mengunyah segala berita di koran, televisi, kemudian membuat  catatan-catatan bak seorang kritikus brilian atau mengangkat topik-topiknya di antara sekawananku yang jauh tak mengerti apapun — hanya supaya terlihat lebih cerdas. Mungkin karena kecerdasan memiliki daya pesona yang luar biasa memikat untuk menyelamatkanku dari selubung pergaulan yang semakin kejam dan pemilih. Supaya orang lain melihatku sebagai sosok yang punya nilai jual mentereng di lini-lini sosial.

Tapi jiwaku yang renta ini sudah sampai pada suatu kesimpulan; bahwa mengkilapkan pamor melalui nutrisi intelektualita adalah menyesatkan. Maaf-maaf saja, aku justru merasa lebih segan dengan orang-orang yang tinggal di pegunungan dan hanya mengetahui sedikit banyak tentang kambing atau itik mereka. Meski yang mereka bicarakan hanyalah seputar kebiasaan-kebiasaan kambing dan jenis-jenis rumput paling baik untuk dijadikan pakan — dan tidak membicarakan tentang aib artis papan atas, jadwal studi banding anggota dewan rakyat, keputusan hakim agung, atau kebijakan pemerintah mengenai harga sembako, tapi mereka adalah penyelam-penyelam kolam kehidupan yang hebat dan dapat dipercaya. Ya, tak ada gunanya mengetahui semua hal yang terjadi di dunia ini. Tak ada gunanya menjadi ikan hias yang hanya sekadar berenang-renang di permukaan untuk melahap plankton-plankton yang mengambang. Ikan-ikan hias itu hanya bisa berlenggak-lenggok memamerkan warna-warni tubuhnya. Mungkin mereka bermaksud supaya siapapun yang melihat akan terpesona dan segera menangkap mereka. Otak mereka takkan mampu berpikir lebih jauh, apakah nasibnya akan berlanjut ke penggorengan atau sekadar dipindahkan ke kolam yang lebih kecil. Mengenaskan, bukan?

Pada saat tertentu, maaf jika aku menjulukimu sebagai ikan hias, Sayang… Dan menurutku, ini bukanlah sesuatu yang baik di mataku — meski kamu tak peduli apa yang baik atau buruk di mataku. Makanya, aku sekadar dapat menghela nafas berkali-kali tiap melihat polah tingkahmu.

Saat menjumpaimu pertama kali, kau begitu sederhana, namun saat itu tak terlalu membuatku terpesona. Ya, kau tahu bahwa saat itu aku masih sedang berada dalam fase berambisi untuk  ‘hanya ingin terlihat cerdas’. Kau bahkan kerap menanyakan banyak hal kepadaku, yang mungkin memang lebih banyak tahu daripadamu. Dulu, senantiasa kuanggap bahwa segala hal yang ada di kepalamu hanya hal-hal yang tidak bermutu dan menggelikan. Sementara aku memikirkan tentang perang Irak, hegemoni Amerika, bumper-bumper dalam pemilu, affair beberapa pejabat yang sedang diseret ke bui, dan lain sebagainya — yang terlihat begitu kompleks, kau justru sibuk mempertanyakan apa bedanya kesenangan dan kebahagiaan, mengapa manusia tak pernah merasa cukup, apa yang akan terjadi jika seseorang tak dikenal tiba-tiba mengajakmu menikah, dan lain sebagainya — yang terlihat begitu remeh dan seharusnya tak perlu dipertanyakan.

Namun kini aku menyadari, betapa sebenarnya aku jauh lebih mencintai sosokmu yang dulu daripada yang sekarang — yang sekonyong-konyong menjelma menjadi ikan hias yang ingin terlihat lebih cerdas. Namun sayang, yang hanya dapat kulakukan adalah berteriak-teriak seperti orang kebakaran di belakang punggungmu, sementara kamu tetap menjadi ikan hias yang terus dan semakin ingin terlihat lebih cerdas — tanpa pernah tahu ada yang sedang kebakaran di belakang punggungmu. Jangan dulu menertawaiku, ini adalah semacam bentuk kepedulian yang teramat besar terhadapmu.

Terus terang, sikapmu yang kini menjelma menjadi ikan hias itu sedikit menggangguku. Kutekankan, hanya sedikit menggangguku. Ah, andai saja aku dapat benar-benar menganggapmu sebagai seorang yang cerdas. Masalahnya, kau tidaklah secerdas barometer standarku. Jadi, aku hanya sekadar menghargai usahamu saja.

Di permukaan, mungkin kau berhasil membuat banyak ikan-ikan lainnya menatap takjub padamu. Ah, betapa cerdasnya kamu! Betapa kritisnya kamu! Betapa inteleknya kamu! Tapi pada kedalaman tertentu, kau sungguh-sungguh seorang penyelam yang amat payah, dan kesoktahuanmu itu justru membuatmu ditertawakan diam-diam, atau mereka akan mengatakan bahwa kau terlalu banyak bicara tapi tak paham dengan pokok persoalannya.

Kukatakan demikian karena kau bukanlah pakar yang telah berpuluh-puluh tahun berkecimpung di suatu ilmu tertentu. Kau hanya sekadar penikmat televisi dan surat kabar-surat kabar yang menyesatkan itu. Televisi dan surat kabar tak pernah jujur menyampaikan apapun, dan juga bentuk media yang ‘agak’ pemalas. Itu semua dikarenakan mereka hanya punya space-space terbatas, dan juga selalu tergesa-gesa. Coba kau bayangkan, ada sekian ribu kejadian menarik yang berduyun-duyun ingin menjadi headline, jadi tak akan ada kesempatan untuk mengupas segala sesuatu secara lebih mendalam dan lebih jujur. Jadi, mereka memilih menyebar gosip demi keuntungan materialis semata. Sementara kau memiliki sedikit tipikal yang mudah memamah gosip dan sedikit lemah untuk bersikap obyektif, melainkan cenderung condong pada segala hal yang menyelamatkanmu atau membuatmu merasa tenang, aman, tentram, dan tentu terlihat lebih cerdas.

Aku sudah memperingatkanmu. Maksudku memberimu pandangan yang lebih sopan, untuk tak lagi terlalu ceriwis dan kritis dengan banyak hal — seolah-olah semua asap di seluruh penjuru dunia ingin kau sedot habis dengan paru-parumu. Itu tak menyehatkanmu. Bukan semata karena lika-liku dunia dapat membuat siapapun yang mengikutinya terjerembab pada kubangan nista yang tak membawa kemana-mana selain kesesatan, melainkan karena kapasitasmu pun masih standar saja, sebatas di permukaan. Sekali lagi, perlu kuingatkan bahwa kau bukanlah pakar yang mengetahui semua kedalaman sehingga kekritisannya dianggap berbobot dan berkualitas. Kau hanyalah ikan hias yang menghibur bocah hingga berdecak kagum, sedangkan sebagian lagi tertawa terpingkal-pingkal atas sikapmu. Apa sih, nyamannya menjadi komentator yang ceriwis terhadap masalah skor pertandingan sekaligus harga bawang?

Tuduhanku ini membuatmu sedikit kesal, ya? Apa kau merasa tak bersikap ‘ingin sekadar terlihat cerdas’? Lantas, mengapa kau tampak sulit ikhlas dan rendah hati? Tentu saja aku punya alasan mengapa hingga menjulukimu seperti ikan hias ‘yang sekadar ingin terlihat cerdas’. Ketika ada orang lain yang kemudian mengungkapkan argumen tandingan pada opini-opini omong kosongmu, egomu tak sudi untuk menerimanya sebagai masukan yang menjadi tambahan perbendaharaanmu. Kau jarang sekali, atau mungkin bahkan nyaris tak pernah menyatakan pernyataan yang bersifat jalan tengah. Pikiranmu melulu disibukkan dengan bagaimana cara menyanggah yang terlihat lebih keren. Jadi, orang lain akan segera merasa lelah atau mereka akan berkata dalam hatinya, betapa sia-sianya berargumen dengan orang yang sok tahu dan ngotot merasa paling benar — hanya supaya terlihat sebagai seorang yang (amat) kritis.

Oh ya, saranku, jika kau memang benar-benar ingin terlihat sebenar-benarnya cerdas, jauh lebih baik jika kau mencoba menulis sesuatu semacam ulasan dalam makalah yang disertai dengan uji sample lapangan dan beberapa pandangan dari pakar-pakar yang jauh lebih kompeten dan lahir lebih dulu daripadamu. Itu lebih baik… Sungguh, itu lebih baik… Setidaknya, belajar menjadi seorang ilmuwan jauh lebih bermartabat daripada memupuk diri menjadi seorang kritikus yang kerap mencericit seperti tikus.

Ah, lihatlah! Pencapaianmu sekarang membuatku menjadi terus menggerutu sepanjang waktu, dan ini sama sekali bukan pertanda yang baik. Tulisan ini hanya berisi perasaan kesalku terhadapmu. Tapi aku yang sekarang menjadi sedikit lebih sederhana (ingat, hanya sedikit — lebih sederhana) ini punya keyakinan bahwa segala sesuatunya bisa diubah menjadi lebih baik lagi.

Aku tidak merasa dengki padamu. Sama sekali tidak. Aku pernah mengalami masa-masa sepertimu — yang kuanggap sebagai masa puber dari pertumbuhan dan perkembangan hidup seorang manusia. Mungkin kau merasa bahwa terlihat lebih cerdas akan membawamu pada kepuasan diri. Tapi itu adalah kebohongan besar yang akan kau temui di belakang hari. Semakin tua manusia, semakin ia menyadari bahwa sebenarnya kebutuhannya hanyalah menjadi sederhana. Kurangi sikap skeptismu dan belajarlah untuk menempa pikiran positif pada segala hal — terutama di atas sampah dunia yang bertebaran. Hidup tak pernah memberi banyak, kecuali ketika engkau menjadi lebih baik.

—-

Nah, apakah aku terlihat cukup jengkel padamu?

Terima kasih, tapi kau pun telah meredakan kejengkelanku dengan cukup mengingat-ingat keberadaanmu di sisiku.🙂

Travel with you…

gambar dari: upload.wikimedia.org

gambar dari: upload.wikimedia.org

 

“I want to travel around the world only with @zhienjie.”

Jie terkaget saat membaca kalimat tersebut di tab mention. Satu kalimat yang cukup membuat darah di sekujur tubuh Jie berdesir dan memberi sensasi hangat di kedua pipinya yang mulai merona. Jie membalas mention tersebut.

“I do too.”
Reply

Beberapa saat kemudian, LED merah berkelap-kelip di sudut kanan atas BlackBerrynya. Bukan mention baru di twitter, tapi satu pesan di BBM.

“So, will you travel around the world only with me?”

Jie hanya tersenyum simpul dan mengetik, “For sure!”

Percakapan di BBM berlanjut, dan Jie semakin terlarut. Ia seakan lupa pada bentang jarak yang memisahkan dirinya dengan Zack. Jie juga mulai mengabaikan kalau Zack hanyalah teman baiknya di dunia maya yang belum pernah bertemu sekali pun di dunia nyata. Ia berpikir bahwa percakapan tersebut hanya sekadar keisengan pengisi waktu luang. Bagaimana mungkin dia dan Zack bisa berkeliling dunia bersama — sementara mereka belum pernah bertemu sebelumnya?

Jam  sudah menunjukkan pukul satu tengah malam, dan Jie baru saja ‘berpamitan’ dengan Zack di BBM. Ia merebahkan tubuhnya, tapi masih memikirkan Zack dan rencana mereka untuk keliling dunia bersama. Apa itu mungkin?Apa Zack sebaik yang kukenal di dunia maya? Bagaimana kalo Zack hanya ingin memperdayaiku? Berbagai pertanyaan dalam benaknya berkelebat, menahan kantuknya.

Tahun 2009, Jie menemukan Zack Wijaya — sosok asing yang meminta pertemanan dengannya di akun Facebook. Dengan sembarangan dan tanpa maksud apa-apa, Jie menerima pertemanan itu. Mulanya mereka sekadar saling menyapa, kemudian saling bercerita, membagi apa saja. Apalagi foto profil Zack terlihat begitu tampan. Jie semakin merasa nyaman dengan kehadiran Zack. Seiring waktu, dan seiring bertambahnya kedekatan mereka di dunia maya, Jie dan Zack tak hanya sekadar dihubungkan oleh Facebook semata, tapi mulai merambah ke Twitter, hingga BBM. Zack pun semakin sering meneleponnya, setidaknya seminggu sekali.

Jie semakin merasa bahwa kehadiran Zack memiliki arti yang istimewa dalam mengisi hari-harinya. Saat sedang gundah, Zack adalah orang pertama yang menjadi tempat curahan hatinya. Saat sedang sakit, Zack pun tak segan memberi perhatian intens melalui telepon-teleponnya. Zack seolah memiliki kepekaan yang tinggi saat ia sedang senang ataupun sedih, tanpa Jie perlu memberi tahunya terlebih dulu. Jie merasakan sebuah ikatan batin di antara mereka berdua. Lamat-lamat, muncul keraguan dan kegundahan dalam hati Jie. Apakah ia benar sedang jatuh cinta pada Zack? Perempuan mana yang tidak akan terbuai dengan perhatian berlebihan dari seorang lelaki yang secara intens menjadi bagian dari hidupnya selama lebih dari 3 tahun? Batinnya tak henti-henti bertanya-tanya dan menjawab-jawab sesuai prasangkanya sendiri.



Namun kisah cinta ini seolah begitu sederhana. Gayung bersambut, karena pada akhirnya Zack pun mengungkapkan perasaan cintanya pada Jie.

“Bagaimana mungkin kamu bisa jatuh cinta pada seseorang yang belum pernah sekali pun bertatap muka denganmu? Bagaimana jika aku bukanlah seperti yang kamu bayangkan selama ini? Bagaimana kita bisa menjalin hubungan yang absurd?” Berbagai pertanyaan berhamburan dari mulut Jie, sesaat setelah Zack mengakui perasaan cintanya di telepon. Akal sehatnya yang menggiring sikapnya untuk menampik cinta Zack. Jie masih merasa tak siap dengan hubungan yang di matanya terasa absurd.

Tapi rupanya Zack mampu bersikap dewasa. Dia bukanlah lelaki yang memperlakukan Jie sebagai musuhnya ketika cintanya ditolak. Mereka berdua malah bersepakat untuk merasa cukup dengan sekadar menjadi teman baik. Kenyataannya, hubungan pertemanan mereka memang menjadi semakin baik, semakin dekat. Setidaknya sampai malam ini, ketika Zie dibuatnya tak bisa tidur memikirkan keseriusan rencana traveling bersama Zack.

“Kita ke Batam lalu menyeberang ke Singapura dengan kapal ferry. Setelah itu naik sleeping bus ke Malaysia, lalu ke Thailand,” jelas Zack, dalam pembicaraan telepon mereka.

“Kenapa rutenya panjang begitu? Aku bisa mabuk laut loh kalo harus nyebrang ke Singapura naik kapal ferry.”

“Tenang saja, Jie. Kalau di sampingku, kamu pasti nggak bakal mabuk laut. Bahuku ini akan menjadi tempatmu bersandar saat menikmati sapuan ombak di laut.” Zack mulai mengeluarkan jurus rayuannya.

“Ihh apaan sih? Aku memang nggak suka naik kapal. Dulu, waktu SD, aku…”

“Iya, dulu waktu SD kamu pernah mabuk laut parah sampe muntah-muntah kan?”

“Kok kamu tahu sih?”

“Kamu kan udah pernah cerita, Jie. Waktu SMA juga kamu urung ikutan study tour karena harus naik kapal laut. Waktu itu kamu sampai dimarahi wali kelas dan dikasih nilai merah di raport. Hihii…”

Ihh ngeledek! Ngeselin tahu gak?” Jie pura-pura merasa kesal.

“Hahahaha, becanda kok, Jie. Becanda. Lagian udah gede masih aja takut naik kapal laut? Gimana mo ngarungi bahtera rumah tangga bareng aku?”

“Apa? Kamu barusan ngomong apa? Ihh! Aku  delete dari kontak BBM, lho ya…”

“Hihihi… judes banget. Becanda, sayang, eh Jie. Jadi, intinya kamu tenang aja, ntar aku jamin kamu gak bakalan mabuk laut. Bukan traveler namanya kalo maunya naik alat transportasi yang enak-enak aja. Malah dengan merasakan semua jenis alat transportasi, perjalanan itu akan semakin hidup dan berkesan. Don’t you think so?”

“Iya deh iya. Aku mau aja naik kapal laut. Tapi janji yah aku gak bakalan mabuk laut.”

“Yap! Cinta ini jaminannya. Eh..”

“Ihh!”

“Becanda! Bobo gih sana, besok pagi aku telepon, yah. Mimpi indah, Jie. Semoga gak mabuk laut di mimpinya.”

“Iya, kapten!”

Jie masih tersenyum-senyum sendiri setelah membaca lagi kutipan percakapan dengan Zack di BBM.

“Ke Thailand bareng dia, mungkinkah?” — Itulah twit terakhir yang diposting Jie sebelum memutuskan untuk tidur.

“Hooooaaam… Semoga gak mabuk laut di mimpi.” Ucap Jie pelan, mengutip kembali ucapan Zack di BBM, sambil menyelimuti badannya.

Jie terlonjak dari atas kasur saat mendengar handphone berdering. “Sial! Siapa yang sepagi ini udah nelpon? Ganggu orang lagi tidur aja.” Umpatnya dalam hati.
Dengan gerakan malas, diraihnya handphone yang diletakkan di atas meja belajar di sebelah kasur.

***

“Hallo, selamat pagi, Jie. Gimana mimpinya? Gak mabuk laut, kan?” Suara yang tak asing terdengar di ujung telepon.

“Ihh! Masih pagi loh, Zack! Kenapa udah ngajak orang berantem sih?” Jawab Jie ketus sambil menguap.

“Hmm, aku cuma mo minta kepastian aja nih tentang rencana traveling kita. Kalau deal, pagi ini aku bisa atur itinerary-nya supaya ntar gak ribet. Dua minggu lagi kita berangkat.”

“Hah? Dua minggu lagi? Duh, Zack! Aku mikir-mikir dulu, yah. Gak mungkin lah secepat ini aku langsung jawab iya.”

“Oke, kamu mikir-mikir dulu aja yah, Jie. Ntar jam 10 aku telepon kamu lagi dan kepastiannya harus sudah ada. Oke?”

“Iya…iya.”

Percakapan di telepon berakhir seiring hilangnya rasa kantuk Jie. Dia mulai memikirkan tentang rencana traveling ini.
2 minggu lagi? Duh! Apa aku sudah siap? Batin Jie, masih merasa bimbang dengan rencana yang baginya sedikit gila.

***

 

Satu hari sebelum keberangkatan…

Jie kaget karena mendengar dering handphone nyaring di sebelahnya. Pasalnya, ia sedang asyik melamun, membayangkan kisah perjalanan yang menyenangkan bersama Zack.

“Hallo, Jie… Lagi di mana?” Seperti biasa, suara Zack yang menyapanya terdengar lembut di telinga.

“Lagi di rumah aja. Tumben, masih sore sudah nelpon. Biasanya…”

“Sedang sibuk?” Zack cepat-cepat memotong ucapan Jie.

“Nggak, kok. Lagi nonton Korea aja…” Jawab Jie berbohong, karena nyatanya ia sedang tak menonton televisi.

“Oke sip! Kalau begitu, aku tunggu sekarang juga di kafe Waroeng Kopi, ya… Sudah pasti kamu tahu tempatnya, kan? Cepat, ya… SEKARANG!”

“Eh, tapi….” Jie semakin terkejut dan keheranan. Tentu saja ia tahu betul kafe Waroeng Kopi, sebuah kafe yang cukup terkenal di kotanya, terutama di kalangan anak muda. Yang membuat Jie terkejut, bagaimana mungkin Zack tiba-tiba menyuruhnya ke sana? Apakah Zack sedang berada di sana saat ini? Mengapa mendadak sekali? Mengapa tak memberi tahunya lebih dulu? Tapi… bukankah tempat tinggal Zack sangat jauh dari kota tempat tinggal Jie? Berbagai tanda tanya meruapi benak Jie tak sudah-sudah. Namun demi segera mendapat jawaban, akhirnya Jie memutuskan untuk bersiap dan segera meluncur ke tempat yang dijanjikan Zack.

Sosok pria jangkung dengan kepalanya yang nyaris plontos melambai ke arah Jie yang sedang berdiri di tengah deretan meja kursi café sambil celingak-celinguk menyapu ruangan, mencari seseorang. Jie sempat merasa tak yakin, namun toh ia pun melangkah mendekat ke arah lelaki yang melambai itu, yang duduk sendirian di salah satu kursi di deretan utara café, bersebelahan dengan jendela besar. Pancaran keemasan matahari sore membuat siluet tubuhnya tampak kokoh. Jie tersenyum. Ia mulai merasa yakin bahwa sosok tersebut adalah Zack, yang sedang menunggunya.

Detik-detik pertama, Jie sedikit kikuk di hadapan Zack. Namun lekas ia dapat menguasai diri dan segera duduk. Kedua mata mereka sempat bertatap-tatapan, dan dalam hati, Jie merasa sedikit girang. Setidaknya, kini ia tahu bahwa ternyata Zack bukanlah seorang penipu. Foto-foto yang pernah dilihatnya di halaman Facebook Zack tak terlalu jauh berbeda. Penampilan Zack secara nyata tak terlalu buruk, bahkan boleh dibilang cukup tampan. Meski demikian, Jie masih merasa ragu. Seolah-olah Zack menjelma menjadi seorang yang benar-benar asing. Jie merasa, dunia nyata yang sedang dirasakannya kali ini terpisah begitu jauh dengan dunia maya yang telah sekian lama diselaminya.

“Kenapa bengong begitu, Cantik? Ah, jangan-jangan kamu mulai naksir aku, ya… heheee….” Zack yang pertama kali memecahkan keheningan di antara mereka. Dan tak jauh dari dunia maya, ternyata Zack pun masih senang menggodanya. Jie sedikit gugup, terutama setelah Zack melemparkan senyum menggoda ke arahnya.

“Ih, GeeR banget sih, kamu! Siapa yang naksir? Aku cuman kaget aja… Nggak nyangka kalau pertemuan kita begitu mendadak seperti ini… Kamu sengaja ke sini untuk menemui aku atau karena kebetulan ada acara di sini?” Jie mencoba untuk melenturkan kekakuannya, bersikap sewajar mungkin. Bagaimanapun, ia harus menjaga imagenya.

“Tentu saja aku ke sini hanya untuk menemui kamu, Sayang… Aku ingin bersama-sama kamu sejak awal pemberangkatan travelling kita. Besok, kan?”

“Eh, mmm….”

“Kamu mau makan atau minum aja di sini?” Zack tak memberi kesempatan Jie untuk berkata-kata lebih banyak. Inisiatifnya begitu menggebu-gebu, seolah tak peduli pada perasaan Jie.

“Minum saja. Aku nggak lapar, kok.”

“Oke. Setelah itu kita ke mana? Ayo dong! Ajak aku ke tempat paling romantis di kota ini. Duduk-duduk di kafe aja mah nggak seru!” Zack terlihat makin agresif. Ia mengerling ke arah Jie, sambil sebelah alisnya dinaik-naikkan demi menggoda Jie. Senyumnya pun tak ketinggalan.

“Mau kemana?”

“Lha, kok malah nanya aku? Kan kamu yang punya kota…”

“Mmmm… kemana yaa…” Jie mulai berpikir mencari ide. “Oh ya, aku tahu! Bagaimana kalau ke pantai saja? Nggak jauh, kok. Hanya 15 menit. Apalagi sore-sore begini, asyik banget, deh!” kata Jie dengan mata berbinar-binar. Kini, ia mulai terbiasa dengan kehadiran Zack, tak lagi merasa canggung.

“Oke sip! Kalau begitu cepat minumnya, ya… Eh, pelan-pelan, ding… Soalnya nanti bisa berabe kalau kamu pingsan di sini karena kesedak cappuchinno, hahahaa….” Kelakar Zack, yang diakhiri dengan derai  tawanya yang terdengar renyah di telinga Jie.

 

“Kok kamu nggak pernah cerita sih, kalau ada pantai yang indah begini di sini.” Kata Zack, usai mereka berjalan-jalan menyusuri bibir pantai, dan kemudian memilih duduk di atas pasir hitam yang bersih sambil memandangi anak-anak nelayan yang sedang bermain layangan. Tinggi matahari sudah sepenggalah, sehingga mata mereka tak mau beralih dari cakrawala, menunggu saat-saat matahari tenggelam sempurna.

“Abis kamu nggak nanya juga, sih…” jawab Jie asal-asalan.

“Idiih… Masa kamu nggak punya inisiatif untuk mempromosikan kotamu, sih… Payah!”
“Hahahaa… Soalnya aku nggak merasa punya kepentingan untuk mempromosikan keindahan kotaku sama kamu.” Sekarang giliran Jie yang mempermainkan Zack. Tentu saja maksudnya hanya bercanda.

“Oh, gitu! Awas, yaa…! Eh, tapi ngomong-ngomong sejauh mana persiapan kamu besok? Aku sudah bawa ranselku sekalian lho…”

“Oh ya? Di mana ranselmu?”

“Di hotel, lah… Nanti kubuktikan, kalau kamu nggak percaya. Tapi nanti malam kamu temani aku tidur di hotel, ya…”

“Eh, maksudmu apa?” Tiba-tiba Jie mulai merasa was-was. Ia menangkap maksud tak baik dari ucapan Zack.

“Hehee… nggak ada maksud apa-apa. Tapi masa sih, kamu tega biarin aku tidur sendirian di hotel? Orang seganteng aku kalau sendirian bisa diculik, loh… Memangnya kamu mau tanggung jawab, gituh? Jadi, temani aku, ya… Oke, Sayang?”

Setelah berkata demikian, Zack bergeser semakin merapatkan duduknya di samping Jie. Kini, ia bahkan tak segan melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Jie. Redupnya cahaya senja yang memayungi mereka membuat Zack selangkah lebih berani. Ia bermaksud untuk mengecup pipi kanan Jie, namun Jie buru-buru berdiri dan menepis Zack.

“Maaf, Zack… Kurasa kita baru benar-benar saling mengenal meski kita sudah saling berhubungan di dunia maya cukup lama. Jadi, maukah kau menghormatiku?” Jie mulai berkata-kata tegas.

Sejenak Zack tertegun memandangi Jie yang kini sudah berdiri di hadapannya. Namun lekas ia menetralisir keadaan dengan mengukir senyum di wajahnya. Ia berharap sikap Jie sedikit melunak.

“Oh, maaf kalo gitu… Tentu saja aku menghormatimu. Tapi aku mencintai kamu, Jie. Kau kan tahu, sejak awal mula aku mencintai kamu. Dan sampai sekarang kita bertemu, aku juga masih tetap mencintai kamu.” Kali ini, kata-kata Zack terdengar lebih serius.

“Terima kasih atas cintamu, Zack. Tapi please… Sudikah kamu mencintai aku dengan cara yang baik? Bersikaplah yang baik terhadapku. Aku juga akan menghormatimu.”

Sejenak ada jeda kesenyapan di antara mereka. Kemudian Zack bangkit berdiri setelah membersihkan bagian belakangnya dari pasir. Sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, tatapan Zack beralih ke arah cakrawala. Setelah menarik nafas dalam, kemudian ia berkata, “Apakah kalau aku mencintaimu dengan cara yang baik kau akan menerimaku?”

Jie tak segera menjawab. Ia seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu dalam hatinya.

“Terlalu dini untuk memutuskannya, Zack… Tapi, apa kamu akan menyerah kalau aku tak dapat memberikan jawaban itu sekarang?” tanya Jie lirih. “Oh ya, soal rencana travelling kita, maafkan aku, Zack. Sepertinya aku belum bisa… Tapi jika kamu sudah membeli tiket-tiketnya, nanti aku ganti. Jangan khawatir. Memang salahku yang tak memberi tahu kamu jauh-jauh hari…” tutur Jie. Kali ini, Jie merasa lebih mantap membuat sebuah keputusan meski ada sedikit perasaan tak enak di hatinya. Sebuah keputusan spontan yang ia yakin adalah yang terbaik baginya.

Semula Jie menduga bahwa ia akan segera mendapati seraut kekecewaan di wajah Zack. Namun rupanya Zack justru memberikan sikap berbeda.

“Tak apa, Jie… Aku mengerti, kok… Kamu nggak perlu ganti tiketnya.” Kata Zack dengan suara yang lunak. “Aku juga nggak akan menyerah, Jie. Meski ini adalah penolakan kedua darimu, aku tetap nggak akan menyerah. Aku justru mendapat banyak pelajaran darimu. Aku jadi semakin yakin, bahwa kamu adalah sosok perempuan yang harus kukejar hingga penghabisan. Aku janji akan mengikuti semua aturan mainmu asal kau masih memberiku kesempatan.”

Kali ini, Jie menatap lembut ke arah Zack. Ia merasa lega mendengar perkataan Zack. Pelan-pelan, Jie mulai mengembangkan senyumnya. Senyum yang menyaingi pesona jingga keemasan yang sedang ditebar lelangit tak berbatas. “Kesempatan itu selalu ada, Zack… Menjadi teman atau sahabat adalah kesempatan terbaik dari sebuah cinta yang diperjuangkan. Manfaatkanlah kesempatan itu. Lagipula, kau kan suka travelling. Anggap saja bahwa kesempatan kita berteman ini adalah sebuah travelling hati sebelum sampai pada titik cinta, sebagai tujuan akhir.”

I Love you, Jie. I love the way you do… So, let’s travel to the love, Dear…” kata Zack sambil tersenyum. Kali ini, senyumnya bahkan tinggal lebih lama di kedua bibir tipisnya.

“Jie, kau lihat karang yang tinggi di sebelah sana?” kata Zack tiba-tiba sambil menunjuk ke barat, dimana terdapat sebuah batu karang yang menjulang di tengah lautan. “Seperti itulah kamu. Indah, namun kokoh dan kuat. Jie, aku akan menjadi lautan untuk dapat memelukmu dan meluluhkan hatimu.”

“Hahaha…. gombal aja, teruuuusss…” Tawa Jie meledak mendengar kata-kata puitis yang diucapkan Zack.

Seiring cahaya yang makin memudar, mereka mulai beranjak meninggalkan hamparan pantai yang kini hanya diriuhkan oleh suara debur ombak. Anak-anak nelayan itu sudah pulang, burung-burung itu pun tak lagi kelihatan. Namun tawa mereka masih menjadi penawar kesenyapan semesta. Tawa yang tak lagi mengandung beban selain ketulusan. ***

 

 

Cerpen kolaborasi @sindyshaen dan Bintang Berkisah

Editor : Bintang Berkisah

Surat Balasan untuk Ramu (Pemenang #SCUK)

Inilah surat balasan untuk Ramu dari Pemenang 1 lomba SCUK, Siti Andriana Rahmayanti, seorang siswi SMA dari Surabaya – Jawa Timur.

Twitter : @yanandr     Facebook : S Andriana Rahmayanti     Blog : http://siandra.tumblr.com/

——————————————————————————————

 

Assalamu’alaikum, Sahabat Kecilku…

Alhamdulillah, aku di sini baik-baik saja bersama putriku, tanpa kurang sesuatu pun. Bagaimana kabarmu di sana? Semoga Allah memberikan waktu untukmu agar dapat membaca surat balasanku ini. Terima kasih telah mengirimkan surat-suratmu, Ramu. Aku selalu menunggunya. Aku selalu antusias membaca kisah yang kau torehkan pada kertas-kertas putih yang kau layangkan padaku. Terima kasih karena kau selalu mengingatku dan merindukanku. Maaf jika aku tidak pernah membalas surat-suratmu. Aku takut jika aku membalasnya, maka rindumu akan terkikis dan kau berhenti menuliskan surat untukku.

Aku tak pernah melupakanmu, Sahabatku. Aku selalu merindukanmu. Aku merindukan saat kita bermain bersama di pantai, di bukit, dan di mana pun itu. Aku tak pernah melupakan kenangan masa kecil kita yang begitu bahagia. Kenangan itu aku simpan rapat-rapat di relung hatiku, tidak terusik dan tidak tergantikan. Tersenyumlah, Kawan. Aku rindu senyum dan tawamu saat kita bermain bersama. Ingin rasanya seperti dulu, namun keadaan sudah tak sama lagi. Waktu telah memakan usia. Sudah seharusnya kita tidak berandai-andai dan menghadapi realita. Aku sering menceritakan kenangan kita kepada putri-putriku. Mereka sangat ingin bertemu denganmu. Salammu pun selalu aku sampaikan pada matahari kecilku.

Oh iya, terima kasih atas niat tulusmu, Ramu. Izinkan aku menggunakan uang yang kau beri untuk kepentingan anak-anak yang masih membutuhkannya. Bukan aku tidak mau menerimanya untuk pengobatan putriku, melainkan putriku sudah lama tiada bahkan sebelum surat pertama kau layangkan padaku.

 

Sahabat yang selalu aku rindukan di mana pun kamu berada…

Sejak kau pergi, aku jadi jarang bermain di pantai ataupun di bukit tempat kita sering bercengkrama. Aku merasa kehilangan yang amat sangat, tak ada yang dapat menggantikanmu di sisiku. Semua terasa berbeda saat kau tak ada. Aku jadi lebih pemurung. Ibu selalu menegurku agar aku tidak larut dalam kesedihanku. Pada akhirnya, aku harus menjalani hidup walaupun tanpa kamu, Ramu. Tak ada yang dapat menggantikanmu, tak ada yang dapat menjadi sebaik dirimu. Tapi, aku tetaplah orang yang ceria, Ramu. Tak perlu kau khawatir. Aku tetap seperti yang engkau kenal dulu.

Maafkan aku, Ramu. Aku tak pernah peka terhadap perasaanmu terhadapku. Aku tak pernah peduli padamu. Tapi, kau selalu ada di dekatku, mendengarkan kisah cintaku, menjadi penghubung antara aku dan Andrea dulu. Maafkan aku. Aku berterima kasih atas perasaan cinta tulusmu terhadapku. Namun, aku menyayangimu tak lebih sebagai seorang sahabat yang telah bersama sejak kecil. Sampai sekarang pun begitu.

Maafkan aku, Sahabat. Salam hangatmu kepada ibuku dan ayahku tak dapat aku sampaikan. Tak lama setelah kepergianmu, ayahku meninggal karena kecelakaan kerja. Ibuku menelepon salah seorang saudaranya dan ibu mengajakku pindah ke luar kota, tempat saudaranya tinggal. Walaupun aku tidak ingin, aku tetap mengikuti ibuku, aku tidak dapat membiarkan ibuku sendiri tanpa ada yang menemaninya. Kami pindah setelah aku lulus dari SMP. Sekaligus menjawab rasa penasaranmu, setelah itu, aku tak lagi satu sekolah dengan Andrea.

Dua tahun kemudian, ibuku meninggal karena sakit yang dideritanya tak kunjung sembuh. Trombositnya terus-menerus turun dan akhirnya menyebabkan pendarahan. Beliau tidak dapat ditolong lagi. Kemudian aku diasuh oleh paman dan bibiku. Mereka telah menganggapku sebagai anaknya. Mereka memang tak dikaruniai anak, sehingga begitu senang dengan kedatanganku dan ibuku saat itu. Mereka menyekolahkanku hingga aku lulus kuliah.

Setelah lulus, aku bekerja di perusahaan periklanan. Di sanalah aku bertemu dengan calon suamiku. Dia meminangku dan memintaku berhenti dari perusahaan agar dapat fokus pada pekerjaan rumah jika kelak kami menikah. Aku menurutinya, mengajukan surat pengunduran diri. Kemudian aku masuk Islam dan aku mempelajari ajaran Islam dengan tekun. Aku sekarang telah muslim, Ramu. Berbahagialah engkau.

 

Sahabat yang teramat kurindukan…

Pilu rasanya membaca surat-suratmu yang penuh luka. Aku seperti dapat merasakannya. Bersabarlah, Sahabatku. Allah pasti akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya yang senantiasa setia mengingat-Nya. Perjalananmu ke Gaza, pengorbananmu untuk mereka, dan berbagai penderitaanmu di sana, semoga menjadi jihad di jalan-Nya, semoga menjadi amalmu untuk meraih surga-Nya. Amiin.

Memang, terkadang kesedihan dan berbagai permasalahan membuat kita tidak bisa berpikir jernih. Kebencian timbul tenggelam di antara emosi yang meluap-luap. Oleh karena itu, kita haruslah senantiasa berhati-hati dalam mengambil langkah.

Aku turut senang akan kesuksesanmu, Ramu. Sungguh, aku sangat senang. Tapi, di saat yang bersamaan aku sedih karena engkau mengambil langkah yang keliru. Tak seharusnya engkau ikut andil dalam kasus itu, Sahabatku. Aku percaya, kau orang yang baik. Oleh karena itu, Allah selalu menunjukkan jalan kepadamu dengan cara-Nya sendiri. Allah masih mau menyadarkan tindakanmu. Aku salut padamu, Ramu. Langkah akhir yang engkau ambil sungguh berani. Kau berani menyerahkan dirimu. Semoga dosa-dosamu diampuni oleh Yang Maha Pengampun. Amiin. Aku bangga memiliki sahabat sepertimu, Ramu.

Akhir kata, aku berterima kasih atas semuanya, Sahabatku. Terima kasih atas kedatangan surat-suratmu yang membuat rinduku sedikit terobati. Terima kasih atas kenangan yang masih engkau simpan rapat, tak terlupakan, walaupun waktu telah berlalu begitu lama. Terima kasih atas perasaan yang kau simpan untukku. Terima kasih atas rindumu padaku. Terima kasih atas niat tulusmu untuk membantu putriku jika saja matahari kecilku itu masih ada di sini bersamaku dan seorang putri kecilku yang lain. Terima kasih atas berbagai pengorbananmu yang pernah kau berikan padaku.

Tersenyumlah, Sahabatku. Karena dengan tersenyum perasaan menjadi lapang dan segala permasalahan menjadi ringan. Percayalah, selalu ada Allah di sisimu yang senantiasa akan membantumu. Aku bangga padamu, Ramu.

 

Wassalamu’alaikum

Yang selalu merindukanmu,

Kisha