Nikah

“Kalau aku nggak boleh kawin dengan Hans, lebih baik aku mati sajaaa…. Huhuhuuu….”

Brakk! Pintu kamar tertutup keras, nyaris menggoncangkan apa saja, termasuk hati setiap manusia yang mendengarkannya. Sarwendah segera menggedor-gedor pintu, sementara Ngatiman hanya sanggup bisu sembari mengisap rokoknya dalam-dalam. Pikirannya sedang tak karuan.

“Bagaimana ini, Pak? Aku sudah kehabisan akal buat ngatasin anak perempuanmu yang keras kepala ini. Rasanya percuma saja kita bersikukuh menentang kemauannya,” keluh Sarwendah pada Ngatiman. Ia sudah di ambang putus asa, karena bahkan membujuk Sari membuka pintu kamar pun ia tak lagi mampu.

“Ah, Bu… Cobalah kau bujuk sekali lagi… Pelan-pelan saja…” timpal Ngatiman, masih kokoh pada pendiriannya. Ia benar-benar merasa gusar karena Sari ngotot ingin kawin dengan Hans, sosok laki-laki yang sama sekali tak dikenalnya, tak jelas asal-usulnya. Padahal ia sudah mempersiapkan seorang calon yang hebat untuk putri semata wayangnya.

“Sari, dengarkan Ibu dulu, Nak… Cobalah kau mengenal Dimas lebih dulu. Dia anak yang baik, mapan, dari keluarga yang terpandang. Kalau kau memang tidak suka, kami tidak akan memaksa. Tapi cobalah dulu temui dia… Kasihan lho, sudah jauh-jauh datang tapi malah tidak kamu temui.” Sarwendah mencoba sekali lagi membujuk rayu dari balik pintu jati yang terkunci rapat.

Kan sudah kubilang, aku tak mau dengan Dimas. Pilihanku hanya Hans, Bu! Hans Hans Hans titik! Kalau Bapak dan Ibu terus memaksa, lebih baik aku bunuh diri sekarang!”

“Wah, NdukNduk… Jangan nekat, Nduk!” Sarwendah panik. Ia terus menggedor-gedor pintu sambil menoleh pada Ngatiman, yang juga mulai tertular kepanikan dan bangkit menghampiri Sarwendah di muka pintu kamar Sari. “Baiklah, Nduk… Kami turuti apa maumu. Dimas akan kami suruh pulang. Sekarang keluarlah. Mari bicarakan masalah pernikahanmu dengan Hans.” Akhirnya Sarwendah dan Ngatiman mengalah.

Tak seberapa lama, pintu kamar terbuka pelan-pelan. Sari muncul dengan muka yang sembab. Sorot matanya hanya berisi penderitaan. Tapi kemudian ia mulai dapat tersenyum sedikit demi sedikit.

“Sebaiknya kau ajak kemari dulu pacarmu yang bernama Hans. Kami ingin mengenalnya terlebih dulu, atau setidaknya membicarakan soal rencana pernikahan,” Kata Ngatiman dengan nada yang lunak. Ia sadar bahwa hati anaknya sedang seperti selembar kaca tipis.

Tiba-tiba Sari merengut. “Tentu saja Hans tidak bisa kemari, Pak. Dia orang Belanda. Tapi Bapak dan Ibu tak perlu khawatir. Kami sudah membicarakan semuanya. Bapak dan Ibu tinggal siapkan hari ijab kabulnya saja. Nanti dia pasti akan datang. Dia sibuk sekali…”

“Tapi, Nak… Kan tidak bisa begitu juga…” Sarwendah merasa keberatan. Bagaimanapun, Menurut Sarwendah, ide Sari tergolong nekat.

“Oke, lebih baik aku bunuh diri saja!” potong Sari sengit.

“Baiklah… Baiklah… Kami akan turuti maumu.” kata Sarwendah lekas-lekas.

***

Seminggu kemudian, di hari ijab kabul yang sederhana dan tampak tergesa-gesa, semua perangkat telah siap. Sementara Sari tampak tersipu-sipu dengan gaun kebaya putihnya, Ngatiman dan Sarwendah justru terserang rasa gelisah.

“Bagaimana? Mana calon mempelai prianya? Sudah jam 11 siang. Apa masih ada di perjalanan?” tanya Penghulu, yang tampak sudah tak sabar.

“Oh ya, tunggu sebentar ya, Pak…” jawab Sari dengan suaranya yang lembut dan riang, seolah-olah ia baru saja teringat sesuatu. Kemudian ia beranjak dan pergi menuju kamarnya.

Selang lima menit kemudian, Sari kembali ke ruang tamu, tempat acara sakral diselenggarakan. Kali ini ia datang dengan membawa laptopnya.

“Sari! Apa-apaan kamu! Masa di acara segenting ini malah mau main laptop!” Hardik Sarwendah setengah berbisik. Ia tampak gusar dengan kelakuan anaknya yang menurutnya tidak pada tempatnya.

“Tapi, Bu… Sari harus membuka laptopnya…” bantah Sari dengan setengah berbisik, membuat Sarwendah semakin tidak habis mengerti.

Di hadapan para hadirin, dengan tanpa merasa canggung, Sari membuka dan menghidupkan laptopnya. “Pak Penghulu, mari kita mulai acaranya. Hans sudah siap. Kami berdua sudah siap,” kata Sari sambil tersenyum pada Pak Penghulu.

Kemudian ia mengaktifkan aplikasi Skype. ***

cyber education silhouette

Tobat

“Te, hari ini rame, ya?” tanya Dahlia alias Darsih, pada Mawar alias Marni. Tapi Dahlia cukup memanggil Mawar dengan sebutan ‘Lonte’; sebuah panggilan akrab yang sudah lazim dan tak memberatkan hati.

“Wah, payahh… Cuma dapet lima buntut! Itupun nawar abis-abisan… Kalau begini terus, bisa-bisa kita cuman makan daun nih…” keluh Mawar. “Kamu sendiri, Rek?” Mawar balik bertanya pada Dahlia, yang biasa dipanggil ‘Perek’.

“Hari ini aku nggak dinas. Biasalah…. periksa ke klinik,” jawab Dahlia sembari mengipas-ngipasi dirinya dengan sebuah kipas plastik. Hari yang begitu panas membuatnya kegerahan teramat sangat.

“Kalau nggak salah baru minggu kemarin kamu ke klinik. Kok sekarang ke klinik lagi? Kamu nggak sampai kena raja singa kan, Rek?” Tanya Mawar penasaran dan antusias. Berbeda dengan Dahlia, Mawar tak lagi merasa terlalu gerah karena ia bahkan hanya memakai kutangnya saja.

“Nggak lah… Steril, tahu….” Kilah Dahlia. “Eh, ngomong-ngomong, mulai minggu depan dinas sosial mau mendatangkan pak kiai dan suruh kita-kita ikut pengajian. Sudah dengar, kan?” Dahlia mengalihkan pembicaraan. Ia menyelonjorkan kedua kakinya di ambin sempit, apek, dan keras yang biasa mereka tiduri berdua.

“Wah… modarrr kita! Bisa kobong nih… Makin lama makin kurang kerjaan amat sih orang-orang dinas sosial itu. Percumaa nggak bergunaaa!!! Kalo cuman mau bikin kita tobat, kenapa nggak sekalian kawinin kita-kita sama pak kiai aja, huh!” Mawar mulai sewot. Raut wajahnya sampai berkerut-merut, tak indah sama sekali. Usia tuanya yang sudah nyaris empat puluh tahun tak lagi dapat ia sembunyikan.

“Ya maklum lah, Te… Harga bensin sekarang sudah selangit. Tapi kabarnya gaji pegawai nggak naik. Makanya, mereka makin sibuk bikin proyek. Yaahh, kayak begini ini nih macam proyeknya. Kita-kita mah cuman bisa pasrah jadi obyek garapan proyek…”

“Memang nasib, Rek… Sekali jadi lonte pasar, selamanya jadi lonte pasar. Biar jaman berubah jadi surga, kita toh tetap cari makan dari selangkangan yang udah basi. Masih untung bisa beli makan, asal nggak ngunyah kutu aja, hahahaa…”

“Iya, kutu kupret yang bisanya cuman ngutang, hahahaa….”

***

Satu bulan kemudian…

“Lho… lho… Mau kemana, Rek? Kok kemas-kemas masukin baju ke koper segala… Mau pulang kampung? Sudah lapor sama mami?” Mawar terkejut saat masuk ke dalam kamar dan melihat Dahlia sedang memasukkan pakaian-pakaiannya di lemari ke dalam koper butut.

“Aku mau hidup di pesantren, Te…” jawab Dahlia singkat, masih sambil memberesi barang-barangnya yang hanya sedikit.

“Heh, kamu nggak sedang ngigau kan? Maksudmu apa? Bener serius?? Apa gara-gara kamu rajin ikut pengajian pak kiai itu? Wah, kamu pasti sudah naksir dan jatuh cinta sama pak kiai itu, ya… Memang sih, dia ganteng. Tapi harusnya kamu ngaca, dong… Eling, hal yang mustahil kalau dia sampai mau ngelirik kamu!” Mawar tampak tidak suka dengan gelagat Dahlia.

“Yaa… siapa tahu dengan hidup di pesantren bisa jodoh sama pak kiai, hihihii…” jawab Dahlia asal, sambil terkikik. “Wong pak kiai sendiri yang nawarin aku buat hidup di pesantren, kok… Janjinya, aku nggak bakal dianiaya. Lagian, aku sudah capek hidup begini-begini terus. Pengen ganti suasana lah…” sambungnya, kali ini sambil menatap serius ke arah Mawar. Ia sudah selesai mengemasi barangnya dan bersiap hendak pergi meninggalkan Mawar yang masih terperangah.

“Eh.. eh.. eh.. tapi nggak bisa begitu juga, dong… Trus, gimana dengan Darman? Masa kamu rela mengkhianati dia? Sudah dua tahun dia jadi pelanggan setiamu. Katanya, minggu depan dia mau ngelamar kamu, lho! Kalau kamu pergi, aku harus bilang apa ke Darman? Aku nggak enak sama dia. Selama ini kan dia selalu baik sama kita…” Mawar mulai merajuk. Ia tampak amat khawatir.

“Bilang aja kalau aku sudah tobat. Gitu aja kok repot,” kata Dahlia tanpa beban. Ia beranjak memeluk Mawar yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar, mencium pipi kanan kirinya, kemudian mengeloyor pergi begitu saja.

“Wahh… Modaarr akuu!!!” ujar Mawar sambil menepuk jidatnya. Ia benar-benar shock dengan kepergian Dahlia, terutama karena teringat dengan segepok uang yang pernah Darman berikan untuk membuat Dahlia mau menerima Darman, duda 60 tahun yang kaya raya dan punya banyak anak buah, sebagai suaminya. Mawar pun teringat sebuah ancaman yang mengincar keselamatannya. Pasalnya, uang itu telah ludes di meja judi.***

Note :
Kobong : Terbakar (bahasa Jawa)
Modar  aku!: Mati aku! (prokem; bahasa Jawa)
Eling : Ingat (bahasa Jawa)

Travel with you…

gambar dari: upload.wikimedia.org

gambar dari: upload.wikimedia.org

 

“I want to travel around the world only with @zhienjie.”

Jie terkaget saat membaca kalimat tersebut di tab mention. Satu kalimat yang cukup membuat darah di sekujur tubuh Jie berdesir dan memberi sensasi hangat di kedua pipinya yang mulai merona. Jie membalas mention tersebut.

“I do too.”
Reply

Beberapa saat kemudian, LED merah berkelap-kelip di sudut kanan atas BlackBerrynya. Bukan mention baru di twitter, tapi satu pesan di BBM.

“So, will you travel around the world only with me?”

Jie hanya tersenyum simpul dan mengetik, “For sure!”

Percakapan di BBM berlanjut, dan Jie semakin terlarut. Ia seakan lupa pada bentang jarak yang memisahkan dirinya dengan Zack. Jie juga mulai mengabaikan kalau Zack hanyalah teman baiknya di dunia maya yang belum pernah bertemu sekali pun di dunia nyata. Ia berpikir bahwa percakapan tersebut hanya sekadar keisengan pengisi waktu luang. Bagaimana mungkin dia dan Zack bisa berkeliling dunia bersama — sementara mereka belum pernah bertemu sebelumnya?

Jam  sudah menunjukkan pukul satu tengah malam, dan Jie baru saja ‘berpamitan’ dengan Zack di BBM. Ia merebahkan tubuhnya, tapi masih memikirkan Zack dan rencana mereka untuk keliling dunia bersama. Apa itu mungkin?Apa Zack sebaik yang kukenal di dunia maya? Bagaimana kalo Zack hanya ingin memperdayaiku? Berbagai pertanyaan dalam benaknya berkelebat, menahan kantuknya.

Tahun 2009, Jie menemukan Zack Wijaya — sosok asing yang meminta pertemanan dengannya di akun Facebook. Dengan sembarangan dan tanpa maksud apa-apa, Jie menerima pertemanan itu. Mulanya mereka sekadar saling menyapa, kemudian saling bercerita, membagi apa saja. Apalagi foto profil Zack terlihat begitu tampan. Jie semakin merasa nyaman dengan kehadiran Zack. Seiring waktu, dan seiring bertambahnya kedekatan mereka di dunia maya, Jie dan Zack tak hanya sekadar dihubungkan oleh Facebook semata, tapi mulai merambah ke Twitter, hingga BBM. Zack pun semakin sering meneleponnya, setidaknya seminggu sekali.

Jie semakin merasa bahwa kehadiran Zack memiliki arti yang istimewa dalam mengisi hari-harinya. Saat sedang gundah, Zack adalah orang pertama yang menjadi tempat curahan hatinya. Saat sedang sakit, Zack pun tak segan memberi perhatian intens melalui telepon-teleponnya. Zack seolah memiliki kepekaan yang tinggi saat ia sedang senang ataupun sedih, tanpa Jie perlu memberi tahunya terlebih dulu. Jie merasakan sebuah ikatan batin di antara mereka berdua. Lamat-lamat, muncul keraguan dan kegundahan dalam hati Jie. Apakah ia benar sedang jatuh cinta pada Zack? Perempuan mana yang tidak akan terbuai dengan perhatian berlebihan dari seorang lelaki yang secara intens menjadi bagian dari hidupnya selama lebih dari 3 tahun? Batinnya tak henti-henti bertanya-tanya dan menjawab-jawab sesuai prasangkanya sendiri.



Namun kisah cinta ini seolah begitu sederhana. Gayung bersambut, karena pada akhirnya Zack pun mengungkapkan perasaan cintanya pada Jie.

“Bagaimana mungkin kamu bisa jatuh cinta pada seseorang yang belum pernah sekali pun bertatap muka denganmu? Bagaimana jika aku bukanlah seperti yang kamu bayangkan selama ini? Bagaimana kita bisa menjalin hubungan yang absurd?” Berbagai pertanyaan berhamburan dari mulut Jie, sesaat setelah Zack mengakui perasaan cintanya di telepon. Akal sehatnya yang menggiring sikapnya untuk menampik cinta Zack. Jie masih merasa tak siap dengan hubungan yang di matanya terasa absurd.

Tapi rupanya Zack mampu bersikap dewasa. Dia bukanlah lelaki yang memperlakukan Jie sebagai musuhnya ketika cintanya ditolak. Mereka berdua malah bersepakat untuk merasa cukup dengan sekadar menjadi teman baik. Kenyataannya, hubungan pertemanan mereka memang menjadi semakin baik, semakin dekat. Setidaknya sampai malam ini, ketika Zie dibuatnya tak bisa tidur memikirkan keseriusan rencana traveling bersama Zack.

“Kita ke Batam lalu menyeberang ke Singapura dengan kapal ferry. Setelah itu naik sleeping bus ke Malaysia, lalu ke Thailand,” jelas Zack, dalam pembicaraan telepon mereka.

“Kenapa rutenya panjang begitu? Aku bisa mabuk laut loh kalo harus nyebrang ke Singapura naik kapal ferry.”

“Tenang saja, Jie. Kalau di sampingku, kamu pasti nggak bakal mabuk laut. Bahuku ini akan menjadi tempatmu bersandar saat menikmati sapuan ombak di laut.” Zack mulai mengeluarkan jurus rayuannya.

“Ihh apaan sih? Aku memang nggak suka naik kapal. Dulu, waktu SD, aku…”

“Iya, dulu waktu SD kamu pernah mabuk laut parah sampe muntah-muntah kan?”

“Kok kamu tahu sih?”

“Kamu kan udah pernah cerita, Jie. Waktu SMA juga kamu urung ikutan study tour karena harus naik kapal laut. Waktu itu kamu sampai dimarahi wali kelas dan dikasih nilai merah di raport. Hihii…”

Ihh ngeledek! Ngeselin tahu gak?” Jie pura-pura merasa kesal.

“Hahahaha, becanda kok, Jie. Becanda. Lagian udah gede masih aja takut naik kapal laut? Gimana mo ngarungi bahtera rumah tangga bareng aku?”

“Apa? Kamu barusan ngomong apa? Ihh! Aku  delete dari kontak BBM, lho ya…”

“Hihihi… judes banget. Becanda, sayang, eh Jie. Jadi, intinya kamu tenang aja, ntar aku jamin kamu gak bakalan mabuk laut. Bukan traveler namanya kalo maunya naik alat transportasi yang enak-enak aja. Malah dengan merasakan semua jenis alat transportasi, perjalanan itu akan semakin hidup dan berkesan. Don’t you think so?”

“Iya deh iya. Aku mau aja naik kapal laut. Tapi janji yah aku gak bakalan mabuk laut.”

“Yap! Cinta ini jaminannya. Eh..”

“Ihh!”

“Becanda! Bobo gih sana, besok pagi aku telepon, yah. Mimpi indah, Jie. Semoga gak mabuk laut di mimpinya.”

“Iya, kapten!”

Jie masih tersenyum-senyum sendiri setelah membaca lagi kutipan percakapan dengan Zack di BBM.

“Ke Thailand bareng dia, mungkinkah?” — Itulah twit terakhir yang diposting Jie sebelum memutuskan untuk tidur.

“Hooooaaam… Semoga gak mabuk laut di mimpi.” Ucap Jie pelan, mengutip kembali ucapan Zack di BBM, sambil menyelimuti badannya.

Jie terlonjak dari atas kasur saat mendengar handphone berdering. “Sial! Siapa yang sepagi ini udah nelpon? Ganggu orang lagi tidur aja.” Umpatnya dalam hati.
Dengan gerakan malas, diraihnya handphone yang diletakkan di atas meja belajar di sebelah kasur.

***

“Hallo, selamat pagi, Jie. Gimana mimpinya? Gak mabuk laut, kan?” Suara yang tak asing terdengar di ujung telepon.

“Ihh! Masih pagi loh, Zack! Kenapa udah ngajak orang berantem sih?” Jawab Jie ketus sambil menguap.

“Hmm, aku cuma mo minta kepastian aja nih tentang rencana traveling kita. Kalau deal, pagi ini aku bisa atur itinerary-nya supaya ntar gak ribet. Dua minggu lagi kita berangkat.”

“Hah? Dua minggu lagi? Duh, Zack! Aku mikir-mikir dulu, yah. Gak mungkin lah secepat ini aku langsung jawab iya.”

“Oke, kamu mikir-mikir dulu aja yah, Jie. Ntar jam 10 aku telepon kamu lagi dan kepastiannya harus sudah ada. Oke?”

“Iya…iya.”

Percakapan di telepon berakhir seiring hilangnya rasa kantuk Jie. Dia mulai memikirkan tentang rencana traveling ini.
2 minggu lagi? Duh! Apa aku sudah siap? Batin Jie, masih merasa bimbang dengan rencana yang baginya sedikit gila.

***

 

Satu hari sebelum keberangkatan…

Jie kaget karena mendengar dering handphone nyaring di sebelahnya. Pasalnya, ia sedang asyik melamun, membayangkan kisah perjalanan yang menyenangkan bersama Zack.

“Hallo, Jie… Lagi di mana?” Seperti biasa, suara Zack yang menyapanya terdengar lembut di telinga.

“Lagi di rumah aja. Tumben, masih sore sudah nelpon. Biasanya…”

“Sedang sibuk?” Zack cepat-cepat memotong ucapan Jie.

“Nggak, kok. Lagi nonton Korea aja…” Jawab Jie berbohong, karena nyatanya ia sedang tak menonton televisi.

“Oke sip! Kalau begitu, aku tunggu sekarang juga di kafe Waroeng Kopi, ya… Sudah pasti kamu tahu tempatnya, kan? Cepat, ya… SEKARANG!”

“Eh, tapi….” Jie semakin terkejut dan keheranan. Tentu saja ia tahu betul kafe Waroeng Kopi, sebuah kafe yang cukup terkenal di kotanya, terutama di kalangan anak muda. Yang membuat Jie terkejut, bagaimana mungkin Zack tiba-tiba menyuruhnya ke sana? Apakah Zack sedang berada di sana saat ini? Mengapa mendadak sekali? Mengapa tak memberi tahunya lebih dulu? Tapi… bukankah tempat tinggal Zack sangat jauh dari kota tempat tinggal Jie? Berbagai tanda tanya meruapi benak Jie tak sudah-sudah. Namun demi segera mendapat jawaban, akhirnya Jie memutuskan untuk bersiap dan segera meluncur ke tempat yang dijanjikan Zack.

Sosok pria jangkung dengan kepalanya yang nyaris plontos melambai ke arah Jie yang sedang berdiri di tengah deretan meja kursi café sambil celingak-celinguk menyapu ruangan, mencari seseorang. Jie sempat merasa tak yakin, namun toh ia pun melangkah mendekat ke arah lelaki yang melambai itu, yang duduk sendirian di salah satu kursi di deretan utara café, bersebelahan dengan jendela besar. Pancaran keemasan matahari sore membuat siluet tubuhnya tampak kokoh. Jie tersenyum. Ia mulai merasa yakin bahwa sosok tersebut adalah Zack, yang sedang menunggunya.

Detik-detik pertama, Jie sedikit kikuk di hadapan Zack. Namun lekas ia dapat menguasai diri dan segera duduk. Kedua mata mereka sempat bertatap-tatapan, dan dalam hati, Jie merasa sedikit girang. Setidaknya, kini ia tahu bahwa ternyata Zack bukanlah seorang penipu. Foto-foto yang pernah dilihatnya di halaman Facebook Zack tak terlalu jauh berbeda. Penampilan Zack secara nyata tak terlalu buruk, bahkan boleh dibilang cukup tampan. Meski demikian, Jie masih merasa ragu. Seolah-olah Zack menjelma menjadi seorang yang benar-benar asing. Jie merasa, dunia nyata yang sedang dirasakannya kali ini terpisah begitu jauh dengan dunia maya yang telah sekian lama diselaminya.

“Kenapa bengong begitu, Cantik? Ah, jangan-jangan kamu mulai naksir aku, ya… heheee….” Zack yang pertama kali memecahkan keheningan di antara mereka. Dan tak jauh dari dunia maya, ternyata Zack pun masih senang menggodanya. Jie sedikit gugup, terutama setelah Zack melemparkan senyum menggoda ke arahnya.

“Ih, GeeR banget sih, kamu! Siapa yang naksir? Aku cuman kaget aja… Nggak nyangka kalau pertemuan kita begitu mendadak seperti ini… Kamu sengaja ke sini untuk menemui aku atau karena kebetulan ada acara di sini?” Jie mencoba untuk melenturkan kekakuannya, bersikap sewajar mungkin. Bagaimanapun, ia harus menjaga imagenya.

“Tentu saja aku ke sini hanya untuk menemui kamu, Sayang… Aku ingin bersama-sama kamu sejak awal pemberangkatan travelling kita. Besok, kan?”

“Eh, mmm….”

“Kamu mau makan atau minum aja di sini?” Zack tak memberi kesempatan Jie untuk berkata-kata lebih banyak. Inisiatifnya begitu menggebu-gebu, seolah tak peduli pada perasaan Jie.

“Minum saja. Aku nggak lapar, kok.”

“Oke. Setelah itu kita ke mana? Ayo dong! Ajak aku ke tempat paling romantis di kota ini. Duduk-duduk di kafe aja mah nggak seru!” Zack terlihat makin agresif. Ia mengerling ke arah Jie, sambil sebelah alisnya dinaik-naikkan demi menggoda Jie. Senyumnya pun tak ketinggalan.

“Mau kemana?”

“Lha, kok malah nanya aku? Kan kamu yang punya kota…”

“Mmmm… kemana yaa…” Jie mulai berpikir mencari ide. “Oh ya, aku tahu! Bagaimana kalau ke pantai saja? Nggak jauh, kok. Hanya 15 menit. Apalagi sore-sore begini, asyik banget, deh!” kata Jie dengan mata berbinar-binar. Kini, ia mulai terbiasa dengan kehadiran Zack, tak lagi merasa canggung.

“Oke sip! Kalau begitu cepat minumnya, ya… Eh, pelan-pelan, ding… Soalnya nanti bisa berabe kalau kamu pingsan di sini karena kesedak cappuchinno, hahahaa….” Kelakar Zack, yang diakhiri dengan derai  tawanya yang terdengar renyah di telinga Jie.

 

“Kok kamu nggak pernah cerita sih, kalau ada pantai yang indah begini di sini.” Kata Zack, usai mereka berjalan-jalan menyusuri bibir pantai, dan kemudian memilih duduk di atas pasir hitam yang bersih sambil memandangi anak-anak nelayan yang sedang bermain layangan. Tinggi matahari sudah sepenggalah, sehingga mata mereka tak mau beralih dari cakrawala, menunggu saat-saat matahari tenggelam sempurna.

“Abis kamu nggak nanya juga, sih…” jawab Jie asal-asalan.

“Idiih… Masa kamu nggak punya inisiatif untuk mempromosikan kotamu, sih… Payah!”
“Hahahaa… Soalnya aku nggak merasa punya kepentingan untuk mempromosikan keindahan kotaku sama kamu.” Sekarang giliran Jie yang mempermainkan Zack. Tentu saja maksudnya hanya bercanda.

“Oh, gitu! Awas, yaa…! Eh, tapi ngomong-ngomong sejauh mana persiapan kamu besok? Aku sudah bawa ranselku sekalian lho…”

“Oh ya? Di mana ranselmu?”

“Di hotel, lah… Nanti kubuktikan, kalau kamu nggak percaya. Tapi nanti malam kamu temani aku tidur di hotel, ya…”

“Eh, maksudmu apa?” Tiba-tiba Jie mulai merasa was-was. Ia menangkap maksud tak baik dari ucapan Zack.

“Hehee… nggak ada maksud apa-apa. Tapi masa sih, kamu tega biarin aku tidur sendirian di hotel? Orang seganteng aku kalau sendirian bisa diculik, loh… Memangnya kamu mau tanggung jawab, gituh? Jadi, temani aku, ya… Oke, Sayang?”

Setelah berkata demikian, Zack bergeser semakin merapatkan duduknya di samping Jie. Kini, ia bahkan tak segan melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Jie. Redupnya cahaya senja yang memayungi mereka membuat Zack selangkah lebih berani. Ia bermaksud untuk mengecup pipi kanan Jie, namun Jie buru-buru berdiri dan menepis Zack.

“Maaf, Zack… Kurasa kita baru benar-benar saling mengenal meski kita sudah saling berhubungan di dunia maya cukup lama. Jadi, maukah kau menghormatiku?” Jie mulai berkata-kata tegas.

Sejenak Zack tertegun memandangi Jie yang kini sudah berdiri di hadapannya. Namun lekas ia menetralisir keadaan dengan mengukir senyum di wajahnya. Ia berharap sikap Jie sedikit melunak.

“Oh, maaf kalo gitu… Tentu saja aku menghormatimu. Tapi aku mencintai kamu, Jie. Kau kan tahu, sejak awal mula aku mencintai kamu. Dan sampai sekarang kita bertemu, aku juga masih tetap mencintai kamu.” Kali ini, kata-kata Zack terdengar lebih serius.

“Terima kasih atas cintamu, Zack. Tapi please… Sudikah kamu mencintai aku dengan cara yang baik? Bersikaplah yang baik terhadapku. Aku juga akan menghormatimu.”

Sejenak ada jeda kesenyapan di antara mereka. Kemudian Zack bangkit berdiri setelah membersihkan bagian belakangnya dari pasir. Sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, tatapan Zack beralih ke arah cakrawala. Setelah menarik nafas dalam, kemudian ia berkata, “Apakah kalau aku mencintaimu dengan cara yang baik kau akan menerimaku?”

Jie tak segera menjawab. Ia seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu dalam hatinya.

“Terlalu dini untuk memutuskannya, Zack… Tapi, apa kamu akan menyerah kalau aku tak dapat memberikan jawaban itu sekarang?” tanya Jie lirih. “Oh ya, soal rencana travelling kita, maafkan aku, Zack. Sepertinya aku belum bisa… Tapi jika kamu sudah membeli tiket-tiketnya, nanti aku ganti. Jangan khawatir. Memang salahku yang tak memberi tahu kamu jauh-jauh hari…” tutur Jie. Kali ini, Jie merasa lebih mantap membuat sebuah keputusan meski ada sedikit perasaan tak enak di hatinya. Sebuah keputusan spontan yang ia yakin adalah yang terbaik baginya.

Semula Jie menduga bahwa ia akan segera mendapati seraut kekecewaan di wajah Zack. Namun rupanya Zack justru memberikan sikap berbeda.

“Tak apa, Jie… Aku mengerti, kok… Kamu nggak perlu ganti tiketnya.” Kata Zack dengan suara yang lunak. “Aku juga nggak akan menyerah, Jie. Meski ini adalah penolakan kedua darimu, aku tetap nggak akan menyerah. Aku justru mendapat banyak pelajaran darimu. Aku jadi semakin yakin, bahwa kamu adalah sosok perempuan yang harus kukejar hingga penghabisan. Aku janji akan mengikuti semua aturan mainmu asal kau masih memberiku kesempatan.”

Kali ini, Jie menatap lembut ke arah Zack. Ia merasa lega mendengar perkataan Zack. Pelan-pelan, Jie mulai mengembangkan senyumnya. Senyum yang menyaingi pesona jingga keemasan yang sedang ditebar lelangit tak berbatas. “Kesempatan itu selalu ada, Zack… Menjadi teman atau sahabat adalah kesempatan terbaik dari sebuah cinta yang diperjuangkan. Manfaatkanlah kesempatan itu. Lagipula, kau kan suka travelling. Anggap saja bahwa kesempatan kita berteman ini adalah sebuah travelling hati sebelum sampai pada titik cinta, sebagai tujuan akhir.”

I Love you, Jie. I love the way you do… So, let’s travel to the love, Dear…” kata Zack sambil tersenyum. Kali ini, senyumnya bahkan tinggal lebih lama di kedua bibir tipisnya.

“Jie, kau lihat karang yang tinggi di sebelah sana?” kata Zack tiba-tiba sambil menunjuk ke barat, dimana terdapat sebuah batu karang yang menjulang di tengah lautan. “Seperti itulah kamu. Indah, namun kokoh dan kuat. Jie, aku akan menjadi lautan untuk dapat memelukmu dan meluluhkan hatimu.”

“Hahaha…. gombal aja, teruuuusss…” Tawa Jie meledak mendengar kata-kata puitis yang diucapkan Zack.

Seiring cahaya yang makin memudar, mereka mulai beranjak meninggalkan hamparan pantai yang kini hanya diriuhkan oleh suara debur ombak. Anak-anak nelayan itu sudah pulang, burung-burung itu pun tak lagi kelihatan. Namun tawa mereka masih menjadi penawar kesenyapan semesta. Tawa yang tak lagi mengandung beban selain ketulusan. ***

 

 

Cerpen kolaborasi @sindyshaen dan Bintang Berkisah

Editor : Bintang Berkisah

samsara

Cerpen menulis duet @greennsubmarine dan @bintangberkisah 

Katakan padaku, kau tak akan hidup selamanya. Bilang padaku, kau tak akan menjadi baik selamanya. Bilang padaku, kau akan berbuat kejahatan. Berjanjilah padaku, kau akan mengotori lembar putih hidupmu dengan coretan dosa besar. Tak perlu banyak-banyak. Satu saja. Cukup satu dosa besar, sayangku.

Diremasnya surat itu. Tidak cukup sekali, tidak cukup dengan satu tangan. Kedua tangannya meremas kuat-kuat, seolah dengan meremasnya, semua kata dan huruf yang ada di sana akan remuk tak berbentuk. Seolah dengan meremukkannya, peluru dan pecahan granat itu tak jadi menggores paru-parunya. Seolah dengan itu si pengirim surat akan kembali ke dunia fana.

Tentu saja dia akan kembali. Entah kapan dan dimana, dia pasti akan kembali. Mereka berdua percaya itu. Mereka membuai diri sendiri dengan harapan. Mereka menghidupkannya dari hari ke hari. Hingga suatu hari, dia ingin menjadi lembar putih tanpa noda. Tanpa dosa.

Ralat. Itu bukan keinginannya. Itu paksaan perang saudara yang biadab ini.

Tapi kata orang-orang, mereka bukan saudara.  Dua propinsi yang bertetangga belum tentu bersaudara, kan? Bahasanya saja beda. Yang satu tidak mau bicara memakai bahasa tetangganya. Yang satu lagi juga ogah ngomong pakai bahasa yang bukan bahasanya. Padahal mereka sama-sama bisa mengerti bahasa masing-masing.

Saudara atau bukan, perang tetap perang. Tetap biadab dan kejam. Tetap abai pada cinta. Oh ya, jangan sampai kau menyebut-nyebut cinta. Salah-salah kau dianggap gila.

Cinta itu milik masa lalu. Milik bayangan teduh di bawah pohon, di sisi Barat halaman kampus, tempat untuk sembunyi dari silaunya pancaran matahari sore yang enggan pulang. Milik anak-anak muda yang bicara tentang energi kehidupan yang mengambang di setiap molekul senyum, tentang perjalanan roh setelah meninggalkan jasad membusuk, tentang kelahiran kembali, dan tentang keabadian.

**

“Siapa juga mau hidup abadi.”

“Kalau aku hidup abadi, kamu nggak mau ikutan?”

“Pertanyaan bodoh.”

“Jawaban bodoh.”

Dan mereka berdua tertawa berderai-derai.

“Aku yakin kamu dulunya kucing. Di kehidupanmu sebelum ini, kamu pasti kucing yang baiiiik banget. Setia pada tuannya. Lalu setelah mati tertabrak mobil, kebaikanmu selama menjadi kucing membuat kamu menitis ke tubuh bayi perempuan cantik bermata indah.”

“Rayuan gombal dan bertele-tele. Poinmu lima setengah.”

“Jangan pelit-pelit dong, Cinta. Ntar di kehidupanmu selanjutnya, kamu turun pangkat, lho. Menitis jadi binatang lagi. Trus gimana aku bakal mencarimu?”

“Makanya jangan bodoh-bodoh banget dong, Sayang. Ntar di kehidupanmu selanjutnya kamu menitis jadi keledai atau udang.”

“Nggak apa-apa. Selama kamu jadi udang juga.”

“Tapi kalau aku jadi manusia? Jadi koki seafood, misalnya?” godanya. Mata kucingnya mengedip jahil.

“Sebagai udang yang baik, aku mati demi melanggengkan karir sang koki. Maka ketika rohku lepas dari tubuh udang, aku segera menitis ke dalam tubuh bayi tampan. Dan kau koki manis,” dia mengangkat dagu gadisnya dengan lembut, “Jangan buru-buru mati. Tunggu aku. Aku akan datang membawa cinta.”

“Lalu aku, koki setengah baya, pacaran dengan cowok ingusan ini?” katanya sambil mencubit pipi sang kekasih.

“Cinta tidak kenal usia.”

“Cinta itu abadi. Cinta kita abadi.”

Keduanya saling bertukar senyum. Matahari meluncur di ufuk Barat, cahayanya pelan-pelan disedot senja. Tak lama lagi senyum sepasang kekasih itu ditelan pula oleh gelapnya, menyisakan sekedar siluet kelabu. Tak lebih dan tak kurang.

“Gimana kalau kita ganti skenario?”

“Maksudmu?”

Si gadis menoleh ke arah matahari yang lenyap di cakrawala.

“Gimana kalau kita berdua jadi orang baik, suci tanpa dosa, lalu kita tak perlu lahir kembali ke dunia? Kita cari keabadian di nirwana.”

“Kau tahu tingkat kemustahilan skenariomu? Sepuluh dari skala 1 – 10. Kita manusia biasa. Dosa itu wajar buat manusia. Tanpa dosa? Ah …” matanya menelusuri siluet gadis yang dicintainya, “aku mau menanggung dosa apa saja asal bisa bersamamu.”

Kini giliran mata si gadis yang menapaki siluet kekasihnya.

“Kalau begitu, tidak ada cara lain. Kita harus kompak. Jangan ada yang main malaikat di antara kita.”

“Dan jangan ada yang main setan di antara kita. Dosa kita harus sama besarnya.”

“Jangan ada yang coba-coba nyasar ke nirwana.”

“Kita berdua akan abadi di dunia fana.”

“Mati dan hidup lagi, dan mati lagi…”

“… dan hidup lagi…”

“… untuk mencarimu…”

“… untuk bersamamu…”

“… selamanya.”

Tapi adakah hak manusia untuk berkata ‘selamanya’?

Maukah dunia fana menjamin bahwa janji akan ditepati? Perang merusak segalanya tanpa sisa. Tak terkecuali janji yang terucap di bawah pohon kala senja tak bernama. Apalah artinya janji itu dibanding konflik etnis panjang dan sporadis? Sepenting apakah dia dibanding euphoria setelah lepas dari kuasa rezim otoriter? Seberapa berartikah dia dibanding urusan politik propinsi-propinsi yang menjelma menjadi negara-negara merdeka?

Dia menjadi tak lebih berarti daripada debu mesiu. Dan keabadian di dunia fana menjadi utopia.

**

 

Aku tak bisa menghitung berapa kali aku lolos melewati perbatasan dan kembali lagi ke negaraku. Sudah terlalu sering. Penjagaan mereka ketat? Omong kosong. Mereka memang menggeledah barang bawaan dan pakaian setiap orang yang mau lewat, melecehkan wanita-wanita kami di sela-sela penggeledahan, dan menembaki siapa saja yang nekat lari menerobos pagar berduri. Tapi aku bisa berhasil menyeberang. Aku dan belasan pemuda lain selalu lolos.

Awalnya kami cuma ingin melanggar jam malam dan menjajal penjagaan perbatasan mereka. Setelah sampai di negara keparat ini, kami jadi punya ide baru. Kami tulis kebiadaban mereka di dinding-dinding kota dan jalan aspal mereka. Biar mereka tahu kalau kami bukan bangsa rendahan yang bisa seenaknya mereka hina. Bahkan pintu-pintu rumah kami coret dengan tanda X besar-besar. Penghuninya pasti ketakutan, menyangka mereka bakal menjadi korban terror kami. Padahal kami sama sekali tak kenal mereka. Kami tak ada urusan dengan mereka. Kami hanya anak-anak muda bersenjata cat semprot. Kami habiskan isi cat dengan menulis semua kata makian yang kami tahu. Puas sekali rasanya malam itu.

Tentu saja mereka marah. Penjagaan perbatasan diperketat. Penggeledahan dipertegas. Jam malam diperpanjang. Tank-tank wara-wiri dan puluhan tembakan diobral. Kami mendidih.

Kami kembali ke sana. Tak puas hanya dengan mencoret tembok, kami merobek bendera mereka menjadi serpihan-serpihan kecil. Kalian kira kami takut pada peluru dan tank-tank kalian? Puah. Kami bakal bikin kalian seperti sobekan bendera konyolmu itu!

Kami kembali dan kembali lagi. Kami lumuri patung pahlawan mereka dengan tai kambing. Kamu tak pantas disebut pahlawan. Apa jasamu? Kamu menyerah ke rezim setan itu. Kamu bahkan menyeret kami. Kamu yang bikin diktator bajingan itu memerah darah kami. Pahlawan? Kambing kami lebih mulia dibanding kamu. Dan sekarang, anak cucumu tak juga berhenti menembaki kami. Maka terimalah ini.

Kami kencingi bangku-bangku rumah ibadahmu. Kami robek dan cacah kitab suci agamamu. Dan kau, kalian semua lihat sendiri kan? Tuhan kalian tidak bisa apa-apa. Tuhan kalian yang menyebut kami sesat, kafir, bodoh, lalu membunuhi kami satu per satu itu tidak bisa apa-apa.

Bukan kami yang sesat. Kalianlah yang iblis. Kalian semua iblis!!!

Kecuali dia.

Tanpa setahu teman-teman, aku selalu mengawasi rumahnya. Tapi rumah itu kosong. Perkampungan kecil itu kosong. Ke mana kau pergi, kekasih? Kenapa kau buru-buru pergi? Kenapa kau tak menunggu aku datang menjemputmu? Akan kubawa kau pergi dari negeri biadab ini. Kita berdua akan meninggalkan perang terkutuk ini.

Kita akan mati dan hidup lagi bukan sebagai musuh.

Ah, kenapa kau mesti terlahir dari bangsa mereka? Lima tahun lalu itu tak ada artinya. Kita masih bisa bercanda di halaman kampusmu. Kau masih ingat teman-teman kita yang suka berpuisi panjang-panjang itu? Kita tetap saling memuji meskipun satu-dua dari kita makan rumput. Kita saling ledek meskipun tahu satu-dua dari kita berdarah biru. Kita bicara dengan dua bahasa. Kita lupa kalau kita berbeda bangsa dan agama.

Dan bagian hidup kita yang itu bukan mimpi. Sulit dipercaya memang. Perang ini juga bukan mimpi. Perang ini sangat nyata.

Ia menjadi semakin nyata saat kumasuki rumahmu yang kini dihuni laba-laba. Ke mana kau pergi? Apakah pemerintahmu membunuhi orang-orang sepertimu? Orang-orang yang pernah berjabat mesra dengan bangsaku? Semoga kau terlahir kembali bukan sebagai bayi mereka. Aku telanjur membenci bangsa itu dengan seluruh nafasku. Jangan mati selagi kau masih bayi. Tunggu aku. Aku akan menemukanmu, sayang.

**

Bau anyir dan obat. Anyir darah bisa ada di jalan atau di pematang sawah. Tapi bau obat hanya ada di rumah sakit. Ngapain aku di rumah sakit?

Samar-samar terdengar suara raungan dan jeritan. Di sela-sela itu, samar kudengar suara perempuan. Suara itu seperti kukenal. Tapi telingaku tidak bisa mendengarnya jelas. Mungkin aku harus mencari sumber suara itu.

Aku menoleh ke kanan. Tidak ada perempuan di sana. Yang kulihat adalah seorang lelaki terbaring. Tangannya dibebat perban putih. Rambutnya panjang, kemerahan bekas disengat matahari. Sepertinya aku kenal dia. Tahi lalat besar di daun telinga … ah ya. Dia tetanggaku, temanku melempar bom. Lemparannya sering meleset. Dia cuma pintar melumuri patung dengan tahi kambing dan merobek bendera. Dan sekarang dia cuma pintar merintih dan mengutuki bangsa mereka.

Anehnya, aku tak terlalu ingin mengutuk mereka saat ini. Setidaknya mereka menyerang saat kami benar-benar siap. Paling tidak ada pertempuran sejati, bukan sekedar mereka melempari sawah dan kebun dengan granat atau menembaki wanita-wanita kami. Cukup sepadan dengan bom yang kami lempar selama dua bulan terakhir. Tapi sekarang giliran granat mereka yang menggasak kampung kami.

Aku ingat desisnya di kolong meja. Nyaring seperti ular marah. Aku melompat lewat jendela ketika desisnya habis. Mungkin juga aku tak sempat melompat. Entahlah. Yang jelas, kini sudut bibir dan pipi kiriku perih dan …oh, ternyata hanya satu mataku yang terbuka. Dunia di sebelah kiriku gelap gulita. Kenapa ya? Aku menoleh ke kiri. Perih menyengat leherku seketika. Tak perlu diterangkan. Aku sudah bisa menebak bagian mana yang terkoyak.  Melihat dengan satu mata itu tidak mudah. Tapi aku harus melihat semua yang terjadi di sini.

Disana kulihat teman sekolahku. Wajahnya masih tampan, meskipun kulitnya tergores di sana-sini. Selimut yang bagian bawah tubuhnya tampak menyembunyikan sesuatu di tempat kakinya seharusnya berada. Sesuatu itu tampak gemuk dan … pendek. Pendek bukan kata yang tepat untuk menggambarkan dia. Dari dulu, sejak kami masih kecil, dia pelari tercepat. Apalagi kalau soal mengejar layang-layang putus. Dia juga yang mengenalkan aku pada benang gelasan tertajam di langit. Dia memang jagoan. Dia tak pernah membeli layang-layang, karena yang dia pakai adalah milik lawan-lawan yang ditaklukkannya. Tanda tangannya menari-nari di angkasa. Tiga bulan lalu, dia mengenalkan aku pada benda baru. Bubuk mesiu. Kami pun langsung akrab.

Di samping tempat tidurnya, kulihat gadis berbaju perawat berdiri memunggungiku. Rambut coklatnya diikat asal-asalan, ujungnya menyentuh tengkuk putih. Aku kenal warna rambut itu. Aku pernah kenal tengkuk itu. Itu tengkuk yang dulu kugelitik dengan ujung rumput. Itu tengkuk yang dulu kukalungi lengan setiap aku ingin berbisik, dan pemiliknya mendorongku sambil berkata, “Aku tahu kau mau bilang apa. Tidak perlu bilang lagi, aku sudah percaya kok. Dan nggak perlu bisik-bisik, kan?” Ah, dia selalu bisa membaca pikiranku. Bisakah dia membaca pikiranku sekarang?

Dia berbalik. Tubuh yang dibungkus seragam kedodoran itu menghadap ke arahku. Dengan satu mata, aku berusaha mengingat-ingat logo yang ada di dada seragamnya. Sebetulnya tidak terlalu sulit. Logo itu beberapa kali mampir di ingatanku pada berbagai warna seragam petugas medis yang wira-wiri di sini sejak perang berkobar. Oh ya. Logo Palang Merah Internasional.

Bosan dengan logo itu, mataku menapaki leher, dagu, ke atas, mencari tanda lain yang kukenal. Mau tak mau, mataku berhenti di matanya. Aku kenal mata itu, sangat kenal. Mungkin jauh sebelum aku lahir di sini, di negeri ini, aku telah mengenal mata itu. Mata itu masih seindah dulu. Mata kucing yang sedang mengamati lengan kiriku.

Sekilas kulihat bibirnya bergerak, tapi aku tak bisa mendengarnya dengan jelas. Tak masalah. Aku bisa membaca gerak bibir. Itu warisan tak ternilai dari ibuku yang tuli.

“Sudah saatnya diganti,” kata bibir itu.

Dia menoleh ke samping, ada semacam meja dorong kecil berisi perban dan mungkin obat-obatan. Tangannya sibuk disana. Aku juga kenal tangan itu. Aku kenal tanda lahir di punggung tangan, memanjang dari bawah pangkal ibu jari hingga pergelangan tangan. Dulu aku suka menggambarinya dengan spidol, membuatnya mirip peta kedua propinsi kami.

Pemilik tangan itu bergerak ke arahku. Mata kananku menelusuri lengan putih pucat itu hingga ke wajahnya. Ia melihat senyum di sana. Apakah senyum itu mengenaliku?

Kulihat senyum itu menghilang bersamaan dengan mata indah yang berubah membelalak.

Bibirnya membentuk kata, “Kau?”

“Hai,” jawabku.

**

 

Bintang-bintang tampak menari dengan gemerlapan di atas sehamparan permadani gulita, namun tak juga sanggup menggusur kegalauanku. Meski tubuhku terbaring tengadah di atas rerumputan di bukit ini, sebenarnya aku tak benar-benar merasa rileks. Pikiranku seperti seekor kucing yang bermain-main dengan benang ruwet yang terulur panjang. Kegelisahanku kian menggejolak. Setelah lima hari mendekam di camp perawatan,  menikmati senyumnya, mereguk keramahannya, mendekap kelembutannya, tiba-tiba tadi sore dia berbisik padaku bahwa aku harus segera berkemas untuk pergi. Yang lebih mengejutkan lagi, dia bahkan telah mempersiapkan semuanya; menata perbekalanku, hingga menggambarkan peta ‘jalur aman’ padaku.

“Kamu nggak bisa terus-terusan disini. Kamu bukan bagian dari kami, meski kami adalah netral. Aku mohon, pergilah besok, pagi-pagi sekali, sebelum mereka datang untuk menginspeksi. Jadwalnya besok. Jadi jangan sampai kau diketemukan oleh mereka. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu. Percayalah, dengarkan aku.” Raut wajahnya demikian memelas, seolah-olah tiap katanya adalah permohonan, sementara hanya aku yang sanggup memberi permakbulan.

“Tapi… tapi… aku harus pergi kemana? Aku sudah tak lagi punya tujuan. Kupikir aku sudah menemukan tujuanku, disini. Kamu adalah tujuan hidupku. Aku tak lagi butuh kemana-mana. Biar saja mereka menemukanku, aku tak gentar. Oke?”

“Jangan berkata begitu. Kamu terlalu berharga untuk menjadi mangsa mereka. Kalau memang aku adalah tujuan hidupmu, maka turuti semua kata-kataku,” katanya sembari membeliakkan kedua mata kucingnya, seolah-olah aku adalah anak nakal yang kedapatan membuat keonaran. “Aku sudah menyiapkan semuanya. Pergilah melalui jalur aman yang sudah kutunjukkan padamu, sampai kau tiba di sebuah rumah bercat kelabu, tak terlalu jauh dari peternakan. Disana masih aman. Kau akan menemui Josan disana. Setelah kau menyerahkan suratku padanya, biarkan dia yang mengurusmu. Percayakan saja semua padanya.”

“Tunggu… Siapa Josan?”

Tiba-tiba wajahnya semburat merah. Ia seperti merasa kikuk ketika aku bertanya tentang sebuah nama yang tiba-tiba dia sebutkan, kemudian bergaung-gaung di antara pembicaraan kami. Sejenak ia tertunduk, seperti menyembunyikan kilap perasaannya di hadapanku. Setelah terdiam beberapa lama, baru ia sudi menjawabku.

“Maafkan aku… Tapi kita sudah berpisah sedemikian lama. Aku tak bisa mengelak dari takdir. Tak ada waktu untuk menjelaskan semuanya. Josan adalah suamiku. Tapi percayalah, dia laki-laki yang baik…”

Mendengarnya menyebut kata suami, aku serasa lupa dengan pedihnya serpihan bom molotov yang menggores kulitku, juga lupa dengan segala rasa sakit yang kudapat sepanjang perang berkecamuk. Sebuah luka baru menghunjam tepat di ulu hatiku. Kali ini, rasa sakit yang kurasakan seolah nyaris membunuhku. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh kenyataan pahit yang baru saja kudengar dari mulutnya sendiri. Ingin rasanya aku menghancurluluhkan dia yang telah menghancurluluhkan hatiku. Sudah sekian lama aku mencarinya, berjuang untuk mendapatkannya, namun dia malah mengkhianatiku dengan menikah bersama orang lain. Tapi lagi-lagi aku tak bisa berbuat apa-apa padanya selain diam terpaku dengan rasa terbakar di dalam hati. Rasa cintaku yang mengalahkan kemarahanku.

“Kau… Kau mengkhianatiku…” gumamku lirih. Tapi aku pun tak bermaksud untuk menyalahkannya.

“Apa kau anggap bahwa apa yang kulakukan adalah sebuah dosa? Maafkan aku, kalau begitu…” katanya lagi. Aku sama sekali tak habis pikir, dia dapat mengatakan itu dengan entengnya. “Tapi asal kau tahu, tak sedetikpun aku melupakanmu. Tak sedetikpun aku mengkhianati cinta kita. Keadaanlah yang memaksa… Mengertilah…”

Aku terdiam. Kami terdiam. Bisu menjadi satu-satunya penyelamat kami atas rasa bersalah yang mulai menggerogoti kesadaran kami.

**

Ada alasan yang kuat mengapa pada akhirnya aku mengalah untuk menuruti semua kata-katanya. Pelarianku bukan sekedar untuk penyelamatanku semata. Aku penasaran. Aku ingin melihat seperti apakah sosok Josan, yang sebegitu hebatnya hingga berhasil merebut hati Anna, kekasihku. Jika perlu, aku akan menghabisinya. Dia adalah musuhku. Musuh negaraku. Musuh bagi cintaku. Lagipula, ini jaman perang. Sah-sah saja jika aku membunuhnya, kan? Aku bisa membuat berbagai alasan hingga Anna dapat kembali lagi bersamaku. Cintaku yang telah lama menghilang akan segera kudapatkan.

Jalur aman yang diberikan Anna benar-benar membuat perjalananku terasa aman. Dua hari mengandalkan tapak-tapak kaki, akhirnya sampai juga aku ke tempat tujuan. Rumah tua bercat kelabu yang sangat sederhana itu tampak sepi. Hanya asap membumbung yang kulihat, berasal dari tumpukan sampah daun kering dan jerami yang dibakar di sisi timur pekarangan. Tak ada tanda-tanda keberadaan manusia, sehingga kesenyapan kawasan yang jauh dari perkampungan penduduk itu hanya diramaikan oleh ayam-ayam ternak yang berseliweran di halaman dan membuang kotoran seenaknya di lantai teras yang penuh debu. Kuputuskan untuk melangkah mendekat, mengetuk pintu kayu yang terlihat lapuk dan kusam.

Seorang laki-laki tegap bercambang tipis membuka pintu. Usianya tampak sedikit lebih tua dariku. Ia sembari menggendong seorang bocah berusia sekitar dua tahunan, yang sedikit terisak-isak entah karena apa. Bola matanya yang tajam menatap curiga padaku.  Tapi kubalasi dia dengan senyuman, dan segera kurogoh saku celanaku, mengambil titipan surat untuknya.

“Surat ini untuk Josan…” kataku sambil menunduk memberi hormat.

Dia masih memandangiku dengan curiga meski tangan kanannya meraih surat itu dariku. Segera ia robek amplopnya dengan agak kesusahan, karena tangan kirinya harus menggendong bocah yang masih terisak-isak itu. Setelah membuka lembar surat, ia membacanya dengan singkat. Kemudian kembali menatapku. Kali ini tatapannya sedikit lebih ramah.

“Masuklah…” Ia mempersilakanku.

Hanya ada satu lampu yang tak terlalu terang di rumah itu, terletak di ruang tengah yang tertata serampangan. Suasana di rumah itu benar-benar terlihat muram, seperti telah lama tak mendapat sentuhan perempuan. Begitu kusam, hingga terlihat kawanan laba-laba mendekam di beberapa sudut ruangan. Aku duduk di sofa usang yang telah dihiasi beberapa lobang hingga busanya mencuat keluar. Meja di hadapanku tak tertutup taplak, dan hanya ada sebuah mangkuk bekas makanan balita di atasnya. Dia pamit sejenak, berlalu meninggalkanku menuju ruang belakang, kemudian kembali sembari membawakan segelas teh hangat untukku.

“Nyamankan dulu dirimu, aku akan menyiapkan makanan terlebih dulu,” ujarnya sambil tersenyum. Kemudian lagi-lagi dia meninggalkanku, masuk ke sebuah kamar. Tak lama, beberapa menit kemudian, ia keluar sambil mendorong hati-hati seorang lelaki tua yang kurus dan pucat di kursi roda. Mereka menuju kamar mandi.

Baru setelah menyelesaikan segala urusan ‘rumah tangganya’, lelaki yang kuduga bernama Josan itu kembali menemuiku, mengajakku makan siang dengan menu ala kadarnya. Setelah itu kami bercakap-cakap sambil berharap kantuk segera datang. Sembari mengobrol, dia kembali meraih bocah yang semula bermain-main di atas ambin di pojok ruangan. Dipangkunya bocah itu sambil menyodorkan sebotol susu. Bocah itu menghisap dot dengan rakus. Susunya tandas tak bersisa. Kemudian tak lama, kulihat mata bocah itu sudah mulai mengantuk.

“Siapa anak itu?” tanyaku, dengan nada sedikit kaku.

“Oh, tentu saja dia anakku dengan Anna,” jawabnya sambil tersenyum tipis. “Dia adalah anak paling tabah karena harus berpisah dengan ibunya yang sibuk menjalankan tugas,” jelasnya. Tak ada rasa sesal sedikitpun dalam tiap katanya, sehingga aku hanya bisa mengangguk-angguk.

“Lantas, siapakah lelaki tua yang duduk di kursi roda itu?” selidikku, masih dengan rasa penasaran.

“Dia adalah ayah Anna. Kedua kakinya pernah menginjak ranjau sehingga beliau tak lagi bisa berjalan. Padahal beliau hanya sekedar peternak yang hendak menghalau kambing-kambingnya. Tapi demikianlah perang, tak pandang bulu pada siapapun. Tak ada yang bisa disalahkan meski aku terpaksa harus berjauhan dengan istriku. Apapun bisa terenggut sewaktu-waktu.”

Setiap penuturan lelaki sederhana di hadapanku ini membuatku terhenyak. Pengetahuan baru yang kuketahui bahkan membuatku lupa dengan tujuan awal mulaku – ingin menghabisinya. Bagaimana mungkin aku dapat membunuh lelaki yang memilih berjuang dengan caranya sendiri untuk menghidupi istrinya – yang adalah kekasihku? Benar kata Anna, dia adalah laki-laki yang baik. Tak seharusnya aku memupuk dendam padanya. Apapun alasan pernikahan mereka, kenyataan sekarang membuatku bertekuk lutut pada kemanusiaan. Aku merasa malu pada diriku sendiri. Josan memang lebih tepat bagi Anna ketimbang diriku. Setidaknya, dia tak egois sepertiku. Aku hanyalah seorang tak berguna, pecundang perang, budak nafsu, manusia iblis, generasi terkutuk. Seharusnya aku mati saja tertembak. Seharusnya Anna tak perlu menyelamatkanku, mengobatiku. Tapi Andai aku punya kesempatan menitis kembali ke kehidupan selanjutnya, aku akan memperbaiki semuanya. Aku takkan membiarkannya pergi meninggalkanku dan hidup menderita. Persetan dengan segala jenis perang dan kemunafikan.

Dua hari kemudian, bahkan sebelum fajar menyingsing, aku memutuskan pergi diam-diam. Tak ada gunanya bagiku menjadi beban bagi Josan, meski dia berjanji hendak mengantarkanku ke perbatasan dengan selamat. Aku tak lagi butuh keselamatan. Aku tak lagi berhasrat dengan misi awalku. Satu-satunya yang kuinginkan adalah segera menemui Anna, membawanya pergi dari daerah rawan itu, dan mempertemukannya kembali dengan keluarganya.

Namun alangkah terkejutnya aku ketika akhir perjalananku justru mempertemukanku dengan keadaan camp medis yang telah hancur berantakan, porak poranda. Barak-barak yang dulu kujumpai telah roboh, sekadar menyisakan puing-puing kayu dan batu bata yang berserakan. Debu-debu kotor membumbung memenuhi udara senja, seolah mengabarkan banyak tangis dan kematian yang sempat kulewatkan. Ini sungguhan biadab. Bukankah seharusnya camp ini netral? Jika mereka sampai merusak tempat ini, berarti mereka adalah pihakku.

Tulang-tulang lututku seperti terlepas dari persendian. Yang bisa kulakukan sekedar menggigit bibirku hingga berdarah. Mataku serasa terbakar oleh pedihnya amarah yang kutahan-tahan. Nafasku bahkan terasa sesak, aku tercekik oleh kenyataan pahit. Tak ada seorangpun yang dapat kutemui untuk menjelaskan semua ini. Aku hanya dapat terpekur menatap langit yang kemerahan, menghitung kawanan burung yang pulang ke sarang dengan pikiran kosong. Hari beranjak malam, tapi aku tak lagi peduli dengan suasana yang mulai terasa mencekam. Aku telah kehilangan semuanya. Aku telah mati rasa. Tapi kesadaranku segera pulih saat tiba-tiba kudengar suara peluru berdesingan menyerbuku. Refleks aku lari terbirit-birit menyelamatkan diri. Sialnya, salah satu peluru itu menyerempet pelipisku, juga menghunjam dada kiriku. Aku tak lagi kuat bertahan. Perlahan aku roboh. Aku akan mati. Pergi. Siapa tahu akan hidup lagi. Menjumpai dia yang tersemat di hati. Mati. Mati. Ma ti.

**

picture taken from : fineartamerica.com

picture taken from : fineartamerica.com

Tapi aku hidup lagi. Atau sepertinya tak jadi mati. Saat pertama kali membuka mata, suasana di sekitarku masih mengembalikan ingatan terakhirku. Deretan ranjang darurat yang berisi pasien perang, mangkuk-mangkuk aluminium berisi bubur beras dan sebutir telur rebus, hilir mudik petugas medis dengan langkah kaki terburu-buru, bau penicilin bercampur amoniak, tempat sampah yang penuh dengan perban-perban bernoda darah, namun tak sekalipun kulihat Anna. Dimanakah dia berada? Bukankah seharusnya dia ada disini?

Seorang petugas medis perempuan dengan raut wajahnya yang manis datang menghampiriku. Ia bermurah hati menyediakan sesungging senyuman untukku. Tapi aku bahkan tak sanggup membalasnya. Bibirku kaku demi menahan luka yang hampir mengering.

“Ah, rupanya kau sudah sadar… Bersyukurlah karena ternyata kau selamat. Ketika kami menemukanmu, kami pikir kau takkan selamat. Keadaanmu sangat kritis. Tapi dokter bekerja keras untuk menolongmu mengeluarkan peluru yang sempat bercokol di dadamu. Kau akan segera baik-baik saja.”
Tatapan petugas medis itu begitu lembut, namun aku seolah kehilangan kewarasan untuk sekedar membalas sikap baiknya. Ingatan-ingatan dalam kepalaku berloncatan, membuatku merasa sedikit pusing dan tak bisa berpikir lebih banyak.

“Hei, kau masih ingat semuanya, bukan? Apa kau masih mengenalku? Aku adalah sahabat Anna, dan aku tahu bahwa kau pun adalah teman Anna… Kau pernah dirawat di camp sana, bukan?” katanya lagi, kali ini terlihat sedikit khawatir karena aku tak juga merespon seperti yang diharapkannya. Mungkin dia pikir kejiwaanku telah terganggu.

Mendengar nama Anna disebut, aku nyaris terlonjak. Bahkan namanya saja membuat jantungku berdetak-detak, dan nyaris tersedak oleh nafasku sendiri.

“Anna… Dimana dia?” Tanyaku tergesa, dengan suara parau.

Perempuan itu tak segera menjawab, melainkan malah diam sejenak sembari menghela nafas berat. Seketika firasatku merasa tak enak.

“Rupanya Anna tahu bahwa harinya akan segera tiba. Dia pun seperti punya firasat bahwa kau akan kembali kesini. Maafkan, Anna telah lebih dulu pergi ke surga. Dia tak terselamatkan saat peristiwa mengerikan itu terjadi. Mereka benar-benar membabi buta. Anna sempat sekarat, tapi dia sempatkan pula menuliskan surat untukmu, yang kemudian dia titipkan padaku. Tunggu sebentar, aku akan segera mengambilnya.”

Setelah mengatakan kabar duka yang merobek-robek harapanku, perempuan muda itu segera berlalu dari hadapanku. Tak lama, ia kembali lagi sambil membawa sepucuk surat yang segera diserahkannya padaku. Lekas kubaca surat dengan beberapa baris tulisan tangan Anna. Selanjutnya, aku tak lagi ingat semuanya. Dunia ini tiba-tiba senyap, gelap, sementara aku terjerembab dan hanya mendengar suaraku sendiri yang melolong-lolong. Aku tahu ini bukan akhir dari segalanya. Anna akan hidup kembali. Saat ini, jiwanya pasti sedang mencari tubuh baru untuknya menitis, supaya kami dapat bertemu kembali. Bukankah demikian janji kami?

Seketika itu juga, aku tahu apa yang harus segera kulakukan. Aku tak lagi sudi menyia-nyiakan waktu. ****

 

 

Cinta Lelaki Pencangkul Batu

Jika aku tak punya kelamin, apakah ia akan tertarik untuk mencintaiku?

Dada lelaki itu bergemuruh meski raut wajahnya tampak tegar dan baik-baik saja. Hatinya dirundung gundah gulana lantaran kebimbangan yang menggelayuti pikirannya. Ia sedang mencintai. Namun ia menemukan bahwa mencintai seperti bertahan menggenggam belati, ketika menyadari hal pahit yang menjadi aral rintangan untuknya mendapatkan cinta dari sang pujaan hati.

Lelaki itu terlahir cacat karena tak punya kelamin. Ayah ibunya miskin, sehingga tak mampu merawat kandungan sedemikian rupa, seperti layaknya ayah ibu lain yang mengharapkan bayi sepenuh hati. Dulu, ibunya bahkan sempat berusaha untuk menggugurkan kandungannya, meski gagal. Maka lahirlah ia dengan kondisi yang memprihatinkan. Tabib hebat yang baik hatinya telah berhasil membuatkan saluran pembuangan di bagian tubuhnya. Meski demikian, ia divonis tak dapat melakukan proses pemenuhan kebutuhan biologis, apalagi menghasilkan keturunan. Kecacatannya adalah aib bagi keluarganya. Namun mereka semua berhasil merahasiakannya dari kuping dan bibir yang senantiasa haus pergunjingan.

Hidup lelaki itu sangat sederhana. Ia mencangkul batu di bukit sebelah selatan hutan, yang kemudian ia jual pada mereka yang sedang mendirikan bangunan. Saat senja, ia menyudahi pekerjaannya, menuruni bukit dan menuju ke pasar. Disanalah ia mengistirahatkan raga lelahnya, membaringkan tubuh perkasanya di salah satu dipan di sudut pasar yang biasanya dipergunakan untuk berjualan sayur pada pagi hari. Menjelang malam, pasar begitu sepi tanpa penghuni. Hanya terdapat lapak dipan kosong yang berjajar dalam kegelapan, dan kucing ataupun anjing kampung yang berkeliaran atau tidur melingkar di beranda toko-toko yang tutup.

Namun sejak lima belas tahun belakangan, ia tak lagi mudah memejamkan kesadaran supaya lekas mendarat di alam mimpi. Angan dan pikirannya masih berkelana, membayangkan sosok perempuan yang dicintainya, namun tak sudi disentuhnya. Acapkali linangan airmata mengiringi lamunannya. Suatu saat, ia pasti akan dapat menyentuh hati perempuan itu, yang barangkali saat ini masih menjadi batu di hadapannya. Lamat-lamat, ia tertidur di antara gumam bibirnya yang merapal doa, menerjemahkan keyakinan.

Sebelum fajar menyingsing, lelaki itu harus membuka matanya supaya tak didahului oleh para pedagang yang tiba di pasar. Biasanya, ia terbangun saat mendengar gemerincing lonceng di leher sapi dan derit roda pedati yang mengangkut bahan-bahan pokok para pedagang melewati jalanan yang masih lengang. Segera ia meraih sapu korek dan membersihkan lapak-lapak yang berceceran remah dan sisa-sisa tulang ikan, bungkus-bungkus makanan, ataupun debu-debu jalanan. Nanti, ia akan menerima upah dari para pedagang yang berbaik hati padanya. Beberapa keping uang, atau sekedar nasi dan lauk pauk untuk kebutuhan perutnya dalam sehari.

Usai dengan kegiatannya di pasar, lelaki itu berangkat menuju bukit, menjinjing cangkul dan linggisnya. Namun sebelumnya ia mampir sebentar ke sebuah kedai yang menjual bunga-bunga segar. Si pemilik kedai sudah hapal betul dengan kedatangan dan permintaannya. Setangkai mawar putih telah dipersiapkan untuknya meski hanya membayar separuh harga.

Dengan hati-hati, dibawanya setangkai mawar putih itu menuju sebuah rumah tua di salah satu sisi perkampungan. Disanalah tempat tinggal perempuan yang dipujainya. Seorang perempuan yang dulunya cantik dan cakap menari. Diletakkannya mawar putih di depan pintu, di beranda rumahnya. Kemudian ia pergi melanjutkan perjalanannya menuju bukit, tempat ia mencangkul batu. Demikianlah kebiasaannya setiap hari. Tak ada yang menahannya, tak ada yang menggubrisnya, tak ada pula yang mempergunjingkannya. Perjalanan waktu mengantar semua orang melupakannya. Tapi perjalanan cintanya tak pernah mengantarnya pada pilihan untuk melupakan.

 

Kisah cintanya bermula ketika ia menemukan sosok perempuan yang sedang berlatih menari di tanah lapang di pinggir sungai tepi hutan. Melalui semak-semak, ia mengintipnya sedang berputar-putar, melentingkan tungkai-tungkai kakinya yang panjang ramping, meliukkan jemari tangannya yang lentik, menata tatap matanya yang bersinar. Tiap gerakannya menyalakan gairah. Bibir mungilnya menyiulkan melodi yang bahkan membuat burung-burung ikut berdendang. Baju yang dipakainya tampak basah oleh keringat, sementara anak-anak rambutnya menghiasi pelipis dan lehernya yang jenjang. Ia menjadi bercahaya di mata lelaki itu.

“Keluarlah! Aku tahu kau mengintipku sedari tadi.”

Tanpa dinyana, perempuan itu berteriak ke arahnya. Lelaki itu jadi tersipu, namun akhirnya ia memutuskan untuk menampakkan diri di hadapan perempuan itu, memperkenalkan diri.

“Siapakah kamu?” tanya perempuan itu penuh selidik.

“Aku hanyalah pencangkul batu di bukit sana yang kebetulan lewat dan melihat kau menari dengan indahnya…” jawab lelaki itu sambil menunjuk ke arah selatan, letak bukit tempat ia mencangkul batu. “Maaf jika aku mengganggumu…” ucapnya lirih.

“Takkan mengganggu jika kau tidak mengintipku diam-diam. Duduklah disana, kau boleh melihatku menari.”

“Terima kasih… Tarianmu indah sekali. Aku tak pernah melihat seorang perempuan menari sehebat itu. Gerakanmu seolah berpadu dengan keindahan alam di sekitar.” Ujar lelaki itu dengan berbinar.

“Aku sedang berlatih menari untuk mempersiapkan pertunjukanku pekan depan. Aku harus menghibur banyak tamu penting yang datang dari berbagai penjuru negeri,” jelasnya tanpa terkesan sombong.

“Semoga pertunjukanmu sukses… Beruntung sekali aku dapat berkenalan dengan penari hebat negeri ini…”

Perempuan itu hanya melempar senyum sekilas, kemudian melanjutkan gerakan tariannya. Sementara lelaki itu duduk di atas batu tak jauh dari perempuan itu, menikmati setiap gerak dan keindahan yang tersaji di hadapannya.

 

Hari berganti, bulan berselang, tahun bergulung, lelaki dan perempuan itu menjadi sepasang kawan yang cukup menyenangkan, saling pengertian, dan penuh penghargaan. Lelaki itu dapat merasakan gelora dalam dada perempuan itu, yang dipenuhi impian untuk menjadi satu-satunya pengindah dunia.

Namun siapa yang mengetahui suara hati sebenarnya di balik permukaan yang tersembul? Jauh di lubuk hati, lelaki itu menyimpan perasaan yang istimewa terhadap perempuan itu.

“Engkau telah menjadi satu-satunya yang terindah dalam semesta diriku…” kata suara hati yang tak dapat disangkalnya. Kegelisahannya bergemuruh dalam dadanya sendiri.

Ia ingin memeluk impian perempuan itu, namun akal sehatnya senantiasa menyampaikan realita pahit mengenai kemungkinan-kemungkinan yang membuatnya bermuram durja. Akhirnya, lelaki itu sekedar membumbung kegalauannya ke atas langit-langit imajinasinya, kemudian menangkapnya kembali dengan kedua tangannya yang kasar dan kekar.

“Sampaikan rasa cintamu dengan baik. Jadilah lelaki yang kuat dengan cara tegar menerima resiko apapun,” nasehat nuraninya.

“Andai saja aku benar-benar kuat…” gumam akal lelaki itu.

“Apa yang kau takutkan? Apakah kau khawatir perempuan itu menolakmu karena kemiskinanmu?” sanggah nurani.

“Andaikan dapat sesederhana itu… Jika ia membenci kemiskinanku, aku masih memiliki tenaga dan seribu cara untuk memperkaya diri supaya ia mencintaiku. Tapi aku adalah manusia cacat. Manusia yang terlahir tanpa kelamin seperti normalnya para lelaki atau perempuan…”

Lelaki itu hampir menangis. Kenyataan menjelma sembilu yang mengiris-iris nadi harapannya.  “Dengan keadaan seperti ini, apakah aku masih memiliki kemungkinan diinginkan oleh perempuan itu?” ratapnya menghiba.

 

Keesokan harinya, lelaki itu telah membulatkan tekad. Maka berangkatlah ia menemui perempuan itu demi menyatakan segenap perasaan cintanya. Ia pun bertekad untuk membeberkan kejujuran tentang keadaannya. Segala kemungkinan yang terjadi sudah tak membuatnya gentar.

Namun sejak peristiwa itu, sikap perempuan itu mulai berubah. Ia menjauhi lelaki itu, enggan bersua, tak lagi sudi saling bicara. Lelaki itu mahfum dengan perubahan tersebut. Tapi tak dapat dipungkiri bahwa hatinya pilu, rautnya sedih, perasaannya senantiasa resah. Kendati demikian, ia tak pernah gamang dan menyerah untuk menghidupkan cintanya pada perempuan itu. Ketabahannya melebihi batu karang yang bertahan dari terjangan ombak. Hanya usia yang terkikis, sedang kecintaannya tak pernah bergeming. Wujud kesetiaannya tercermin dari bertangkai-tangkai mawar putih yang ia persembahkan untuk pujaan hatinya selama lima belas tahun lamanya.

“Akulah lelaki yang drama cintanya melebihi Majnun ataupun Shah jahan. Oh Bulan, jika kau hendak limpahkan kesengsaraan karena mencintainya, maka biarlah aku mereguk siksa abadi …”  sesumbar lelaki itu saat mata sayunya memandang bulan dalam remang malam.

“Dia lelaki gila. Seharusnya ia cukup tahu diri bahwa aku takkan pernah menjadikannya kekasih. Aku tidak mencintainya. Hanya itu satu-satunya persoalannya, namun juga yang paling besar dan utama. Bagaimana aku bisa bergairah dengan manusia yang tak punya kelamin? Aku hanya manusia biasa yang masih ingin mengecap kenikmatan, juga memperoleh keturunan. Lagipula, banyak sekali pria normal yang memikat yang menginginkanku. Mudah bagiku mendapatkan benih terbaik. Sementara dia hanya akan menjadi aib bagiku. Kupikir saat ini dia hanya menyiksa dirinya sendiri. Kalau dia mau mati, aku takkan peduli…” Perempuan itu berkata dengan mimik masam disertai cibiran.

Kebesaran namanya sebagai penari hebat seantero negeri membuatnya senantiasa dilimpahi senyum dan tawa. Kekasih-kekasih yang membanggakan datang dan pergi bak cuaca dalam satu musim, menawarkan pelukan dan kenikmatan yang menjadi candu. Kekayaannya bertumpuk-tumpuk, menjadikannya tak pernah kekurangan, tak pernah kelaparan. Bibirnya telah kesat mereguk anggur dari berbagai penjuru negeri. Daging-daging anak domba hanya menjadi makanan para pelayannya. Dan sutera-sutera warna-warni terus saja berdatangan memenuhi gudang dan almari pakaiannya.

awesome-art.biz Man Digging

Sementara lelaki itu masih setia mencangkul batu di bukit, masih setia membersihkan pasar sebelum terbit fajar, dan juga masih setia mengiriminya mawar putih yang ia letakkan di beranda rumahnya. Waktu tak jua menggerakkan roda nasibnya kemanapun.

 

Berbeda dengan nasib perempuan itu, yang berputar bak gasing bertenaga penuh. Keadaan cepat berubah. Ternyata kejayaannya tak selamanya berada dalam genggaman. Sepuluh tahun berselang mengantarnya pada gerbang kegelapan. Tubuhnya renta dengan cepat karena terkikis sebuah penyakit langka yang datang tiba-tiba. Tak ada yang mampu menyembuhkannya, padahal kekayaannya semakin terkikis habis, dan kemampuan menarinya sekedar menjelma menjadi kenangan. Ia tak berdaya. Tak lagi ada yang mempedulikannya, yang menyanjung-nyanjungnya. Kemiskinan datang bersuka ria menjadi selimutnya.

Namun laki-laki itu, tak jua berubah perasaannya, kebiasaannya. Ia masih menaruh bunga mawar putih di beranda rumah perempuan yang telah menjadi buruk dan dilupakan. Kesetiaannya ini lambat laun mulai mencairkan hati perempuan itu. Ia mulai dapat mengalirkan air mata dari mata air nuraninya. Linangan yang meremas-remas hati kecilnya, yang menciptakan bergunung-gunung penyesalan dalam lembah kesadarannya.

“Sesungguhnya aku tak lagi peduli apakah ia punya kelamin atau tidak… Tapi, mampukah ia menerima dan memaafkanku yang telah tercoreng cela dan aib, yang telah terbungkus oleh renta usia dan kekalahanku pada semesta?”

***

 Januari 2013

KEJUTAN

Maria nyaris terlonjak kaget saat matanya menangkap sosok lelaki jangkung berkacamata dan berparas wajah baik-baik duduk manis di pojok kafe. Sosok itu tampak sedang menunggu seseorang setelah melalui perjanjian yang dibuat sematang-matangnya. Sejenak Maria ragu, apakah ia akan mendekat atau menghindarinya. Namun ia pun telah terlanjur membuat janji dengan seseorang di kafe itu, seseorang yang sudah sangat lama dinantikannya. Seseorang, yang kemudian mulai ia ragukan lamat-lamat jati dirinya.

Dulu, lelaki yang sedang duduk di bagian pojok kafe itu amat dikenalnya. Ah, siapa yang tak mengenal luar dalam mantan kekasih sendiri? Sandy memiliki goresan kisah menarik di hatinya. Namun itu dulu, ketika mereka belum memutuskan hubungan, menyudahi untuk bersayang-sayangan. Tepatnya, Maria lah yang meminta putus. Tanpa alasan. Tanpa belas kasihan.

Kisah cinta Maria dan Sandy telah berlangsung dua tahun lamanya. Bosan, tentu saja. Tak lagi ada kejutan yang membuat hatinya riang berbunga-bunga. Tak lagi ada sengatan gairah dalam tiap perjumpaan. Mereka terlanjur terbiasa satu sama lain, sampai-sampai tak lagi merasakan beda ketika ada ataupun tiada. Jenuh, itulah ungkapan sesungguhnya. Apalagi, saat itu Maria mulai tergoda oleh sosok lain yang lebih memacu hasratnya. Ia punya insting bahwa lelaki baru yang sedang diincarnya akan menjadi sosok yang berpotensi meruapkan kembali semangat hidupnya. Maria yang sudah bosan sekaligus merasa bersalah, memutuskan untuk memutus hubungan. Sandy, biarlah menjadi sekedar masa lalunya, mencari sendiri kebahagiaan tanpa perlu melibatkan dirinya lagi.

Sudah lama sekali mereka tak lagi saling berhubungan. Sandy memang masih berusaha beberapa kali menghubunginya. Bagaimanapun, masih ada sisa cinta dan kesetiaan di hati pria nestapa itu. Namun Maria telah merasa enggan. Pikirnya, lebih baik menyudahi setuntas-tuntasnya daripada meninggalkan sisa-sisa akar yang nantinya malah membelitnya. Pikirnya, ia tak mau memberi harapan palsu pada Sandy, yang pikirnya, tak punya harapan untuk masa depannya. Maria semakin menjauh, tanpa pernah menyadari bahwa Sandy menjadi semakin rapuh.

Waktu bergulir setapak demi setapak. Merajut dan menghabisi hubungan cinta seperti membalik telapak tangan bagi Maria, yang punya sejuta pesona. Lelaki tampan nan menawan itu telah ia dapatkan, telah pula ia campakkan. Kisah cintanya berganti-ganti, namun tak jauh berbeda, melulu menuangkan warna yang sama.

Namun yang ini, yang sekarang, agak berbeda. Seseorang yang semula ia kenal secara asal di media sosial ternyata cukup mampu membetikkan rasa penasarannya. Bahkan diam-diam, hasratnya berdesir tiap kali mereka bertukar sapa tanpa perlu kehadiran. Rasa ini jauh berbeda dari yang sudah-sudah. Maria tertarik bukan karena ketampanan, bukan karena kejantanan. Ia terpesona oleh sebuah pembawaan yang tumbuh dalam imajinasinya.

Prasetya. Sedemikian sederhana nama akun yang mampu membuatnya berbunga-bunga. Sosok misterius itu hanya punya kata-kata, hanya punya pancaran semangat dan sedikit banyak keramahan yang mampu membuat kejenuhannya meleleh. Terlebih, ia sangat rendah hati meski banyak hal yang mampu membuatnya meninggikan diri. Kata-katanya adalah sumber inspirasi bagi jiwa-jiwa pencari. Karya-karyanya bahkan telah terbit berulang-ulang. Sungguh, ia sosok yang sangat layak dikagumi.

Namun satu hal yang membuat Maria teramat girang, teramat beruntung. Usahanya yang spekulatif membuahkan hasil yang menggembirakan. Posisinya bukan lagi sekedar seorang pengagum biasa. Mereka telah berteman lebih dekat, bersikap lebih akrab. Demikianlah anggapan Maria. Media-media yang lebih pribadi mulai menjadi pilihan. Surat-surat elektronik mulai kerap berbalas-balasan. Sekiranya, banyak hal yang mereka ceritakan. Mulai dari cara menulis yang baik, dukungan berimajinasi, kisah-kisah cinta, kompleksitas persahabatan, kesenjangan orang tua, masalah pendidikan, pemerintahan, hingga ternak peliharaan.

Pesan-pesan singkat pun mulai kerap berdatangan, memberi jeda pada kesibukan. Senyatanya, keintiman di antara mereka bukan tercipta dari bibit-bibit kemesuman, melainkan dari banyak tanya yang terlontar, banyak cerita yang tersiar. Diam-diam, Prasetya telah mengisi relung-relung imajinasi Maria sebagai sosok yang menerbitkan harapan cintanya. Sosok yang diharapkan mampu menggenapi jiwanya. Memang terlalu dini untuk mengatakan bahwa Maria jatuh cinta pada sosok Prasetya. Namun ia tak kuasa mangkir, bahwa perasaan kagum itu mulai sedikit berlebih. Memang, perempuan umumnya lebih mudah larut. Emosinya seperti air. Perasaannya seringkali berloncatan dan menari kesana-kemari. Maria adalah seorang matador yang gagal. Cinta dan kekaguman yang menyeruduknya hingga menjadi puing-puing berserakan.

Hingga tibalah saat pertemuan. Pada akhirnya, ide ini menuntut untuk dilontarkan. Maria setengah memaksa, setengah merayu, bahwa pertemuan itu akan menjadi sebuah peristiwa penting baginya.

“Ada hal yang sedikit kukhawatirkan, bahwa pertemuan akan membawa perubahan, atau perbedaan kedekatan kita yang sudah terjalin sedemikian manis dan tulus. Tak ada yang berani menjaminku…”  kata Prasetya melalui surat terakhirnya.

“Aku yang menjamin. Takkan ada yang berubah meski kita bertemu untuk pertama kali atau seribu kali ke depan. Apa kau dapat mempercayaiku?” balas Maria melalui pesan singkatnya.

“Aku yang seharusnya bertanya, apakah aku dapat mempercayaimu?” Prasetya mengembalikan pertanyaannya.

Namun detik-detik pertemuan itu justru memaparnya pada sebuah kejadian yang sama sekali tak terduga. Bukan Prasetya, sosok dalam imajinasinya, yang duduk di tempat yang telah disepakatinya. Maria tak habis pikir mengapa Sandy, mantan kekasihnya, yang justru mewujud nyata di hadapannya. Sempat ada keraguan, bahwa kejadian itu hanya sekedar kebetulan belaka. Barangkali Sandy memang kebetulan sedang berada di kafe tersebut, dan Prasetya kebetulan sedikit terlambat. Namun beragam pembuktian melemahkan prasangkanya. Sandy, yang memakai baju dengan warna yang Maria dan Prasetya sepakati. Sandy, yang meletakkan novel terbaru bertanda-tangan Prasetya pesanan Maria di atas meja, bersebelahan dengan secangkir kopi yang telah setengah dingin. Dan Sandy pula yang melempar senyum penuh arti ke arahnya saat menyadari kedatangannya.

Mari terpaku. Kakinya terasa begitu berat, seolah tak lagi punya kendali untuk bergerak ke arah tertentu. “Oh, apa yang harus kulakukan?” batin Maria menjerit. Ia mulai merasa panik. Maria salah tingkah, juga sedikit gelisah. Sungguh tidak mudah menghadapi kenyataan yang tiada disangka-sangka. Apalagi ia terlanjur melabuhkan hati pada sosok Prasetya, sosok imajiner yang selama ini hadir memenuhi relung hati dan jiwanya.

Maria masih berputar-putar dengan pikirannya sendiri, tak menyadari bahwa Sandy berjalan mendekat ke arahnya. Ia tak kuasa menggerakkan tubuhnya — bahkan sekedar untuk tersenyum menunjukkan keramahan. Ia tak kuasa. Gugupnya luar biasa. Perasaan dan emosinya bergolak — antara merasa malu sekaligus merasa sangat bersalah. Emosinya berkecamuk. Ingatannya tentang segala hal buruk yang pernah dilakukan di masa lalu terhadap Sandy mulai menyeruak. Maria ragu, Sandy mampu memaafkannya. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa ngeri dengan kemarahan dan kekecewaan Sandy.

Sandy sudah berada tepat di hadapannya, menatapnya yang sedang diliputi kekalutan. Sesungguhnya sorot mata itu tak terlalu tajam dan bersifat garang, melainkan sayu, penuh keteduhan. Namun Maria tak kuasa menantangnya. Ia menundukkan kepalanya, seperti prajurit yang kalah sebelum mengadu senjata. Tangan Sandy lah yang menegakkannya kembali.  Jemari kokoh itu menyentuh lembut dagunya. Beberapa detik kemudian, kedua mata mantan sepasang kekasih itu sempat saling beradu. Jiwa masing-masing berusaha saling menyelami melalui pancaran cahaya di kedua bola mata yang mencerminkan riuhnya rahasia kalbu.

“Kau masih mengingatku, kan?” sapa Sandy lembut. Kemudian ia menggamit perlahan tangan Maria, mengajaknya ke kursi yang telah dipesan dan mempersilakan duduk. Sandy memanggil seorang waitress. Tanpa pikir panjang, ia memesan cappuccino kesukaan Maria.

“Jadi, ternyata kamu Prasetya?” tanya Maria hati-hati, sedikit kikuk.

Sandy tak lekas menjawab, melainkan justru melempar senyum penuh arti.  Ia cukup menyadari bahwa terselip gurat kekecewaan di hati Maria.

“Jadi itu sebabnya kau tak pernah sekalipun mengizinkanku melihat fotomu?” Maria kembali mencecarnya, namun lagi-lagi, Sandy hanya membalasnya dengan senyuman.

“Apa kau kecewa setelah mengetahui bahwa ternyata Prasetya adalah Sandy? Kini kau mengetahui kenyataan yang sesungguhnya. Meski kau sudah berjanji bahwa takkan ada yang berubah setelah kita bertemu, tapi aku tak berhak mengendalikan perasaanmu. Marahlah, jika kau ingin marah padaku.”  Sandy terlihat pasrah, namun sekilas intonasinya  terdengar seperti melemparkan tantangan pada Maria.

“Aku hanya….”

“Aku minta maaf karena yang kau temui adalah aku, yang tak sesuai dengan harapanmu…” potong Sandy.

“Bukan begitu. Dengarkan aku dulu…”

“Aku tahu bahwa aku hanyalah masa lalu untukmu. Yang kau harapkan adalah Prasetya, yang sedang mengisi relung-relung imajinasimu. Prasetya berhasil menarik hatimu, tapi kini kau menemukan kenyataan bahwa Prasetya adalah Sandy. Sementara Sandy adalah yang mati-matian kau hindari. Sekarang terserah padamu, dengan apa yang akan kau lakukan setelah ini. Ah, seharusnya aku tak perlu menurutimu untuk menciptakan pertemuan ini. Andai saja begitu, barangkali kita akan tetap bahagia di tempat masing-masing…” Sandy melemparkan pandangannya ke arah lain, demi mengucap hal-hal yang memedihkan hatinya.

Maria terdiam, membiarkan Sandy meluapkan segenap isi hatinya. Hal seperti itu tak pernah dilakukannya di masa lalu. Dulu, Maria yang terlampau cerewet, terlalu menuntut. Egonya menindas kepasrahan Sandy, yang lebih senang memilih bungkam.

Hingga Sandy mulai sedikit rileks, dengan hati-hati Maria mengatur diplomasi.

“Aku yang seharusnya meminta maaf, bukan kamu… Maafkan masa lalu kita… Barangkali aku memang bodoh sekaligus egois…” Sejenak Maria merasa mengambang, mencipta jeda. Ia menyadari bahwa keputusannya ada di ujung lidahnya. “Namun Prasetya ataupun Sandy, hal itu takkan mengubah sikap dan perasaanku. Bukankah aku sudah berjanji? Takkan ada yang berubah meski kita bertemu untuk pertama kali atau seribu kali ke depan. Jujur saja, ketika mengetahui bahwa ternyata Prasetya adalah kamu, sebenarnya aku justru merasa lega.  Takkan kupungkiri bahwa aku mengagumi sosok Prasetya hingga sangat penasaran dan ingin menemuinya. Namun ternyata aku menemukanmu. Separuh hatiku berharap engkau telah melupakan masa lalu dan memaafkanku. Tapi sepertinya itu sulit… Aku mengerti… Maafkan aku, Sandy… Maaf telah membuat luka yang dalam di hatimu…”

Sandy terdiam. Perasaannya berkecamuk, namun ia pu tak hendak mengamuk. Bagaimanapun, ia masih mencintai Maria. Rasa cinta itulah yang membuat mati rasa sakit di hatinya. Sejujurnya, Sandy masih senantiasa berharap bahwa cinta yang menghilang itu dapat hadir kembali dan terajut dengan lebih indah. Kala menatap Maria, harapannya terbit. Sandy tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas, kehilangan Maria untuk yang kesekian kali. Inisiatifnya yang menuntunnya berlutut di samping gadis itu. Tangannya meraih jemari gadis mungil itu, kemudian mendekap dan menciumnya dengan lembut.

“Aku mencintaimu Maria… Selalu begitu. Meski demikian, aku tak akan memaksamu untuk mencintaiku. Tapi aku pun tak bisa berpura-pura mengatakan bahwa aku bukan Prasetya. Aku Prasetya, sekaligus Sandy. Jika lebih baik bagimu memisahkan antara Sandy dan Prasetya, kumohon, kita hentikan saja semuanya. Itu akan membuat segalanya lebih baik untuk kita.”

Kemudian Sandy bangkit dan meraih novel yang ada di atas meja, menyerahkannya pada Maria. Sejenak ia memuaskan diri memandangi sosok Maria yang masih terpaku. Ia melihat air mata yang mengalir di pipi mantan kekasihnya. Namun Sandy tak hendak berbuat banyak. Ia memilih meninggalkan Maria yang tengah mengusap bulir-bulir bening di pelupuk mata dengan jemarinya.

Pandangan Maria beralih pada novel yang diberikan Sandy. Lamat-lamat ia membaca judul besar yang terpampang pada cover.

“Sandy..!”

Sandy menghentikan langkahnya, memberikan waktu pada Maria untuk meneruskan ucapannya. Hatinya semakin bergemuruh.

“Aku akan menerima novel ini jika kau melakukan hal yang sama…”

Sandy membalikkan tubuhnya.

“Maksudmu?”

“Ya, aku akan dengan senang hati menerima novel ini jika kau memberiku kesempatan kedua,” kata Maria lirih. Senyumnya terbit, sementara Sandy mencoba menangkap kedalaman makna di balik ucapan Maria. Seperti bisa membaca senyuman Maria, Sandy pun tersenyum bahagia, kembali menuju ke arah Maria. Lekas ia mendekap gadis mungil itu dengan pelukan hangat. Hanya lega yang tersisa di dadanya.

Ada yang berbeda di hati Maria. Perasaan indah yang membuatnya merasa sangat riang, berloncat-loncatan bak kupu-kupu di musim bunga. Perasaan yang sempat menghilang dalam dirinya, namun kini tiba-tiba hadir kembali dalam hatinya. Tak pernah terbersit sekalipun dalam pikiran, bahwa semesta akan membawanya kembali ke pelukan Sandy. Namun ia hanyalah mahluk kecil tak berdaya yang tak mampu menolak kejutan. Kejutan manis, demikian ia memaknainya dalam hati.

Maria tak ingin melepaskan Sandy, seperti halnya Sandy tak ingin melepaskan dekapannya pada Maria. Mereka tak menyadari ketika novel itu terjatuh di lantai. Novel berjudul ‘Kesempatan Kedua’ yang dipesan Maria pada Prasetya — atau Sandy. ***

 

 

Karya duet Bintang Berkisah & Rini Adhiatiningrum (@riniebee) #kisahkejutan

Editor naskah: Bintang Berkisah

Perjumpaan

There’s a lady who’s sure all that glitters is gold
And she’s buying a stairway to heaven
When she gets there she knows, if the stores are all closed
With a word she can get what she came for
Ooh, ooh, and she’s buying a stairway to heaven

Lelaki tua itu memetik gitar usang di sela-sela siang yang sedang mengandung mendung. Matanya terpejam, memberi kesempatan sekelebat angan berkelindan pada dimensi ruang dan waktu yang tanpa batas. Namun masa silam membentang lebih lebar di hadapan. Pintu kenangan berderit pelan, mempersilakan masuk langkahnya yang tersaruk. Kelebat bayangan kisah kejayaan menyeruak, menjelma menjadi nada-nada ritmik dalam tiap petikan akustiknya. Melodi yang menyayat itu mengalahkan hembusan angin dan rintik hujan yang tampak sedang berusaha mencumbunya.

**

“Aku dipromosikan menjadi redaktur senior!” kabarnya sumringah sembari melepas jaket kulit hitamnya. Sementara Miranda sekedar bersikap cuek, seperti biasa. Gadis mungil berkaki jenjang itu masih bergelung di atas kasur bersprei kumal yang telah teracak kemana-mana. Ia tak memejamkan mata, sibuk menjentikkan kuku-kukunya yang terlapisi warna kelabu, yang telah mengelupas beberapa.

“Bangun, Sayang… Kau sudah mendekam disini dua hari. Ayo, aku akan mengantarmu pulang. Tak enak jika ibu kos sampai tahu…”

“Hmm… Mentang-mentang mau jadi redaktur aja sudah sok ngusir-ngusir…”

Miranda pura-pura merajuk. Tapi bukannya segera bangkit, ia malah menggeliatkan tubuh rampingnya saat Yudha tiba-tiba merangsek ke arahnya, menghujaninya dengan cumbuan ringan. Sejenak mereka kembali larut dalam hiburan paling sederhana dan instan yang sanggup mereka upayakan dalam sekejab.

“Aku belum mau pulang… Masih dua hari, belum tiga. Layaknya orang sakit, ijin harus tiga hari. Masih tersisa satu hari lagi, dan aku ingin menghabiskannya disini saja. Aku janji akan membersihkan kamarmu, ya…” bisik Miranda manja. Ia bahkan nyaris menggigit cuping telinga Yudha, namun segera menggantinya dengan ciuman kecil.

“Tak bisa… Nanti malam aku mau liputan investigasi,” kata Yudha, beringsut duduk di tepi pembaringan. “Badanmu tak panas lagi, kan? Kau hanya pura-pura sakit saja supaya bisa membolos, hahaa…”

“Kau sendiri saksinya, kemarin lusa badanku seperti berada di atas panggangan. Sekarang sih sudah baikan… Kau mau liputan kemana?”

“Ke Romeks…”

“Ah, pasti esek-esek lagi! Hobi sekali kamu bergaul dengan lonte-lonte. Huh, dasar wartawan esek-esek, inspirasinya melulu seputar selangkangan. Awas aja kalau kamu pulang bawa penyakit, ya!”

Yudha tersenyum tipis. Ia pun menganggap bahwa ucapan Miranda adalah sebuah paradoks hidupnya.

“Aku hanya main aman, Sayang…” katanya, sembari bangkit berdiri dan merapikan setelan kemeja dan jeans yang dipakainya. “Apa kamu pikir aku sebegitu bahagia meliput ke tempat-tempat gituan?! Nope! Tempat-tempat itu kering. Payah! Asal kamu tahu, uang di dompetku tinggal beberapa lembar saja. ATMku pun sudah ludes.”

Kondisi klise. Soal kehabisan uang selalu menjadi tajuk permasalahan tiap menjelang pertengahan bulan. Lagipula, apa yang bisa diharapkan dari gaji yang cuma dapat memuaskan rasa sekelebatan? Yudha dan Miranda sama-sama wartawan. Namun meski Yudha lebih senior, tak juga dapat dikatakan lebih makmur ketimbang Miranda. Cinta, yang membuat mereka bersekutu untuk menyiasati keadaan, saling menutup lubang dan kekurangan. Juga kesenangan.

“Apa hari raya besok kamu jadi pulang kampung?”

“Pulang kampung pakai daun! Ini adalah hari raya yang menyedihkan untukku. Jauh dari keluarga, pun masih diberondong tugas-tugas liputan yang melelahkan dan menyita waktu.” Yudha bersungut-sungut. Sangat terlihat, ia tampak sedang kesal betul.

“Ya sudah, masih ada aku, kan? Kutemani kamu merayakan hari rayamu. Let’s have fun together, hahaha!”

Have fun apaan? Kamu sama-sama kere…” Yudha melengos.

“Aha, sepertinya aku masih punya uang. Kita bisa makan soto di tempat favoritku itu.”

“Hahaa…. Sudahlah. Aku masih trauma nganterin kamu ke ATM tapi ternyata uangmu bahkan kurang untuk dapat diambil di mesin sialan itu. Dan sepanjang perjalanan, kamu hanya  cengengesan saja, padahal aku sudah terlanjur ngiler membayangkan soto dengan kuah panasnya… huh!”

“Oh, hahahaa… ternyata kamu masih ingat peristiwa itu, ya… hahaha… Sungguh, kasihan sekali kita waktu itu, ya.. hahahaa…”

Keduanya tertawa, atau tepatnya saling menertawakan. Pada akhirnya, mereka menyadari bahwa hidup yang terlalu singkat ini tak sepatutnya dihiasi oleh tangis dan kemurungan melulu. Adakalanya, tawa adalah ekspresi paling tepat saat hidup dirasa semakin rumit dan tak terjangkau. Tawa hadir ketika manusia tak lagi tahu apa yang harus diungkapkan, ketika tangis dan rutukan telah tandas tanpa bekas.

Miranda meraih sekantung kacang  yang  sempat ia beli kemarin. Ia menyorongkan makanan ringan tersebut ke arah Yudha yang sedang duduk di lantai bersandar pada lemari pakaian. Sejenak dua anak manusia itu sibuk dengan kacang dalam genggaman masing-masing. Setelah habis tak bersisa, tak ada lagi yang dilakukan selain kembali menggembala angan dalam ladang keheningan.  Yudha memilih menghibur diri dengan meraih gitarnya, menyenandungkan satu atau beberapa lagu yang terpotong-potong. Kadang ia ingin sekedar membuat Miranda, yang senantiasa tergila-gila pada lelaki yang piawai bergitar, terpesona.

**

Dulu Yudha tak seperti itu. Yang terekam baik dalam ingatan Miranda, Yudha adalah seorang pria yang sungguh menggoda. Kharismanya memikat banyak gadis jelita. Selain itu, ia adalah pria cerdas dengan cara pikir yang kritis dan gagasan yang seringkali cemerlang. Kepekaannya pada intelektualita mengagumkan, meski tak jarang berpendapat sinis. Di samping itu, pembawaannya selalu percaya diri. Sisi positif itulah yang membuat Miranda begitu menyukainya.

Semenjak musim pemilihan kader-kader partai politik, beberapa halaman di koran tak pernah sepi. Yudha selalu bersemangat menulis kisah dan intrik politik dari sudut pandang berbeda. Kadang-kadang ia memberi kejutan yang membuat beberapa pembaca terbeliak atau mengernyitkan dahi. Investigasinya yang mendalam seringkali mengagumkan. Tak heran jika ia kerap menjadi momok bagi para pejabat di dewan ataupun pemerintahan. Maklum, pada masa itu, penyelewengan-pengelewengan kekuasaan yang dilakukan sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan begitu marak. Setiap kesempatan dalam lobi kekuasaan menjadi peluang untuk memperkaya dan memperkuat diri demi kepentingan individu atau kelompok. Hiruk-pikuk peperangan di kancah politik acapkali lebih menarik daripada balada manusia-manusia yang mati karena lapar.

Di sisi lain, bagi orang-orang semacam Yudha, rentetan peristiwa itu bak durian yang jatuh pada musimnya, tinggal memunguti buah-buahnya yang tergeletak begitu saja di atas tanah. Yudha pun tak pernah kekurangan akal dan siasat untuk menyudutkan para penyeleweng dan oknum penguasa yang kalap melalui tulisannya yang tajam menebas. Tak heran jika pamornya sebagai seorang redaktur senior jadi kian cemerlang, meski menuai banyak ancaman.

Sudah lima belas tahun Miranda tak lagi bertemu Yudha. Ia sempat mendengar kabarnya secara samar. Tapi ia harus pandai-pandai menjaga sikap dan menyembunyikan perasaannya. Bukan semata karena suaminya akan berang bukan kepalang jika mengetahui bahwa ia mencoba menghubunginya. Pun demi keselamatan Yudha, yang selalu ia khawatirkan setiap saat.

Yudha memang tak pernah berubah. Kadangkala sikap angkuhnya begitu menjengkelkan. Ia tak pernah gentar menghadapi siapa saja, sulit untuk kompromi. Idealismenya menggebu dan menyakitkan. Beberapa yang tersakiti akan menganggapnya sebagai intimidator sejati.

Suami Miranda adalah salah satu korban. Tuduhan korupsi dan suap-menyuap bukanlah persoalan sepele. Ditambah dengan rumor skandal tak sedap mengenai seks dan perempuan. Yudha berhasil mengungkap gundik-gundik simpanan yang dipelihara di beberapa tempat kos mewah melalui sejumlah liputan khusus. Atau barangkali Yudha pun berhasil meniduri salah satu dari mereka.

Hanya Miranda yang benar-benar mengetahui kebenaran berita tersebut. Mungkin dia memang telah banyak tahu. Namun keberadaan Miranda pun tak lantas membuat Yudha berpikir dua kali untuk mengurungkan niat, menelanjangi suaminya. Barangkali karena Yudha terlanjur membenci Miranda.

Suami Miranda seorang politikus, punya jabatan di kursi dewan. Ia dapat melakukan apa saja dengan segala daya dan kemampuannya. Dulu ia terkenal bersih. Sebab itu yang menjadi pertimbangan Miranda untuk pada akhirnya bersedia menikah dengannya, meninggalkan Yudha. Namun masa lalu pun punya banyak kemungkinan berubah di masa depan. Dunia telah dengan buas mempermak suami Miranda menjadi manusia berhati  keras bagai cadas. Uang dan kekekuasaan telah memperbudaknya untuk  tega melakukan segala cara. Apa yang dapat dilakukan Miranda yang kini hanya sekedar menjadi ibu rumah tangga? Sekedar menangisi pilihan takkan dapat merubah apa-apa.

Dengan beberapa pengaruh dan upaya, suami Miranda berhasil menghabisi Yudha melalui pisau dalam lipatan. Jabatan Yudha tergeser, tak lagi punya kewenangan dengan berita-berita yang berpotensi riskan. Keputusan pimpinan benar-benar tak dapat ia gugat. Suaranya lebih lemah. Bahkan Miranda pun tak punya kuasa apapun yang mampu mengubah nasib mantan kekasihnya. Tangisnya hanya menyeruak dalam gelap, sementara ia harus senantiasa menyajikan senyuman di tempat-tempat terang bersama suami yang pura-pura ia sayangi.

Namun Yudha tak pernah sudi diperlakukan semena-mena. Ia tak sudi menulis artikel-artikel mengenai tips memilih furniture atau sekedar tentang perawatan kecantikan. Ia yang merasa didholimi memilih hengkang dan bergabung dengan sebuah perusahaan media yang lebih kecil yang memiliki jumlah oplah yang menggelikan, yang seringkali sekarat karena kesulitan mencari iklan. Sayangnya, nasib baik tak jua berpihak padanya. Perusahaan kecil yang mengalami kemunduran sedikit demi sedikit itu kian suram nasibnya, hingga berakhir gulung tikar.

Waktu telah menggilasnya dalam keputusasaan. Yudha telah lelah dengan perjuangan. Tampaknya ia pun lelah mengatai Miranda sebagai pengkhianat yang telah berkhianat tak hanya pada cintanya, namun juga pada bangsa tercinta.

Masa-masa tuanya ia nikmati saja dengan bersama petikan gitar, secangkir kopi, dan sebungkus rokok di teras depan kantor sebuah harian kecil yang sudah tak lagi menerbitkan apapun.

***

Genangan air mata tak lagi bisa ditahan pelupuk mata Miranda. Tapi Yudha yang telah menua tetap mengabaikannya, tak lagi hirau dengan perasaan perempuan yang sedang duduk di bangku sampingnya. Sampai kapanpun, Miranda tak pernah mampu menjelaskan keputusan-keputusan yang pernah ia ambil dalam hidupnya, pada Yudha. Ia hanyalah seorang perempuan yang seringkali kesulitan memecah cangkang kemisteriusan jalan pikirannya sendiri.

Miranda melirik arloji. Jarumnya menujuk pukul 11.00 siang. Ia harus segera bergegas. Jam besuk Lapas akan segera dibuka, pun terbatas. Miranda tak ingin mengaburkan kesetiaannya menunggu kebebasan sang suami yang tinggal beberapa bulan lagi. Ia mencoba untuk tak goyah meski saat ini, secara tak dinyana, bertemu Yudha kembali — setelah lima belas tahun saling menghilang, saling melupakan.

Meski demikian, kesetiaan Miranda tak ada hubungannya dengan kasih sayangnya yang tak pernah lekang untuk pria tua dengan gitar akustik yang sedang melantunkan lagu yang ia tahu, khusus untuknya. ***

smalldrawings.blogspot.com